Bab 11

1510 Kata
"Tuan... kenapa anda berantakan seperti ini? Apa nyonya marah padamu?" tanya James. "Huuuhh... Ana ngambek denganku. Dia cemburu karena kemarin salah satu karyawan datang ke sini untuk menjelaskan semua pekerjaannya," jawab Sean pada James. "Sabar, tuan. Wanita memang susah di mengerti," jawabnya, karena kadang dirinya juga di buat frustasi oleh Rika. "Apa istrimu juga seperti itu?" Sean bertanya pada James. "Istriku malah lebih parah, tuan. Bahkan aku pernah sampai memasak sendiri karena dia tidak memasakkan untukku," saat ini boss dan anak buah sedang bercerita bagaimana nasib mereka masing-masing. "Kau kan memang dari dulu kan memasak sendiri untuk dirimu," jawab Sean. "Itu beda lagi, tuan. Waktu dulu kan aku masih lajang, kalau tidak memasak sendiri siapa lagi yang memasakkan untukku," jawabnya pada Sean. "Aku bahkan di tendang oleh Ana tadi pagi," jawabnya dengan lesu. "Waahh... ternyata nyonya hebat. Hanya dia yang berani menendang anda tuan," jawab James memuji Ana. "Kau itu berpihak pada siapa sebenarnya?" sengal Sean. "Aku tidak berpihak pada siapa-siapa, tuan," jawab James. "Aahh.. terserah kau saja," Sean frustasi lalu kembali melanjutkan membolak-balikkan berkas dengan tampilan yang acak-acakan. Kembali ke sisi Asry Bughh... Buuggh... Asry terjatuh karena mendapat pukulan di sana. Anak buah Sean pun menolongnya untuk berdiri. "Maafkan saya, nona. Apa anda tidak apa-apa?" tanyanya membantu Asry. "Tidak, lupakan untuk itu. Aku adalah musuhmu," ucapnya lalu Asry kembali memberi serangan. Setiap pukulan berhasil Asry halau dan tangkis menggunakan tangannya, ia juga berhasil menghindar dari serangan demi serangan. Buugh... Bugh... Buughh... Akhirnya anak buah Sean pun terjatuh karena mendapat tendangan dari Asry. "Lain kali jangan lengah, tetap fokus. Kita akhiri untuk hari ini," ucapnya lalu melenggang pergi dari sana. Asry mengakhiri latihan hari ini yang memakan waktu sedikit lama. Malam hari.... Sean sudah pulang dari perusahaan, kali ini ia membawa rangkaian bunga yang cantik dan harum untuk membujuk Ana agar tidak marah lagi padanya. "Dia pasti akan suka kali ini," gumamnya melangkahkan masuk ke dalam dan membawa bunga itu. "Ciee papi... mau bersikap romantis sama mami," sahut Aditya melihat sang papi pulang membawa rangkain berbagai bunga di sana. "Papi berdoa yang banyak, supaya mami mau menerima bunga pemberian papi. Kalau mami tidak mau, nanti papi bisa kasihkan itu buat Aditya," ujar Aditya yang senang sekali menggoda sang papi. "Kau jangan macam-macam, Aditya. Papi potong nanti uang jajan kamu," ancam Sean pada sang putra. "Ahh papi, dikit-dikit uang jajan mulu. Aditya doakan nanti mami tidak menerima bunga itu dari papi," Aditya tidak mau kalah dengan sang papi. "Kau memang benar-benar, ya. Bukannya mendukung papinya, justru mendoakan yang tidak-tidak," ujar Sean yang merasa geram dengan putranya. Mata Sean melebar mendengar ucapan Aditya. "Makanya, papi jangan suka ngancam Aditya. Nanti papi sendiri yang kena batunya loh," Aditya terus mengajak berdebat dengan sang papi. Sean hanya bisa memejamkan matanya dan menahan kekesalannya pada sang putra. Jika dia buka putranya mungkin Sean sudah mengusirnya keluar. "Aditya, anak papi. Sebaiknya masuk saja, ya. Siap-siap makan malam," ucap Sean yang geram dengan kejahilan Aditya. "Ini kan Aditya sudah di dalam, papi. Mau masuk ke mana lagi?" Aditya memang persis dengan Diva yang pandai sekali menjawab setiap ucapan orang-orang. Sean sampai tidak bisa berkata-kata lagi dengan Aditya. Mereka yang di luar bisa takut dengannya, tapi tidak saat di rumah. Anak dan keponakannya sering sekali membuatnya naik darah. "Sebaiknya Aditya bantu para maid menyiapkan makanan, dari pada membuat papi naik darah." "Makanya papi jangan suka marah-marah, nanti cepat tua. Kalau sudah tua nanti mami enggak cinta lagi sama papi," ujarnya. Semakin lama, Aditya semakin membuat sang papi darah tinggi. "Iya terserah kamu aja, papi mau ke atas," jawab Sean yang sudah kehabisan kata-kata karena putranya. Sean juga tidak habis fikir, bagaimana bisa putra memiliki sifat yang seperti itu. Dulu dia sangat berharap jika putranya bisa mewarisi sikapnya, justru hanya Asry yang sangat terlihat seperti dirinya. Untung saja Asry tidak seperti Aditya, meskipun sekali berbicara Asry juga tidak kalah menohok. Sean terus saja melangkah menaiki tangga menuju kamar yang biasa ia tempati bersama Ana. la masuk membuka pintu kamar dan melihat jika Ana sedang beberes kamar yang mereka tempati. Sean melangkah selangkah demi selangkah mendekat ke arah Ana. "Maafkan aku, sayang," ujar Sean memeluk dari belakang dan memberikan rangkaian bunga itu pada Ana. Ana sedikit terjinggat karena Sean datang tiba-tiba dan memeluknya. "Apa kau ingin menyogok ku dengan bunga ini?" ucapnya pada Sean. "Aku tidak menyogok mu, sayang. Ini hadiah dariku spesial dariku," jawab Sean. "Apa bedanya?" Ana menaikkan sebelah alisnya. "Sejak kapan kau tau masalah seperti ini? Biasanya kau juga tidak seperti ini," ketusnya pada Sean. "James yang memberitahuku." "Maafkan aku, maaf sudah membuatmu cemburu seperti ini. Aku tidak ada niatan sedikitpun untuk berpaling darimu, kau adalah satu-satunya wanita kesayangan dari Sean," Sean mencium pipi Ana dengan lembut. "Aku juga sudah memindahkan dirinya ke devisi lain, aku tidak mau jika ada kesalahpahaman lagi nanti," sambung Sean menjelaskan pada Ana. Ana pun membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Sean. "Apa aku berlebihan?" tanya Ana yang sedikit merasa tidak enak. "Tidak, sayang. Kau tidak salah, wajar jika kau merasa cemburu. Karena aku suamimu," ujar Sean tersenyum pada Ana. "Tapi kenapa kau harus memindahkannya?" "Biar dia juga belajar menghadapi lingkungan baru." "Apa kau masih marah denganku?" Sean kembali bertanya pada Ana. "Sedikit," jawab Ana singkat. Sean yang merasa gemmas dengan wajah sang istri itu pun mencium seluruh wajah Ana. "Sudah, bersihkan dulu tubuhmu. Setelah itu makan malam," perintah Ana pada Sean. "Tidak mau, aku masih ingin seperti ini denganmu," Sean memeluk erat tubuh Ana. Dia tidak membiarkan Ana pergi begitu saja. Di sisi lain... "Papa, Cindy mau berbicara dengan papa," ujarnya pada sang papa. "Ada apa?" tanyanya pada sang putri. "Papa... sebenarnya Cindy menyukai putra dari tuan William. Tapi Cindy sangat kesulitan mendekatinya, Cindy ingin bantuan dari papa," ucapnya menyampaikan maksud pada sang papa. "Huuhh... sebaiknya kau cari lelaki lain saja, papa tidak mau lagi berurusan dengan keluarga mereka," sang papa pun pergi meninggalkan putrinya kembali ke tempat kerja. Sepertinya, papa Cindy sudah cukup malu jika berhadapan dengan keluarga William. "Paa... paa..." teriaknya memanggil sang papa. "Ck, menyebalkan," decaknya karena sang papa tidak mau membantunya. "Ada apa sih, sayang?" tanya sang mama menghampirinya. "Ma... Cindy menyukai putra dari keluarga William. Tapi Cindy sulit sekali mendekatinya, apa lagi dengan kakaknya. Dia sangat cuek dan tidak peduli dengan Cindy," rengeknya mengadu pada sang mama. "Kakaknya sangat menyebalkan untukku, dia sudah menolak Cindy mentah-mentah, Ma," adunya lagi pada sang mama. Ia berharap jika sang mama akan membantunya. "Benarkah? Beraninya dia sudah menolakmu mentah-mentah. Mama tidak akan membiarkan hal itu," ucap sang mama yang terhasut dengan putrinya. "Kau tenang saja, sayang. Kau juga berhak mendapatkan apa yang kau mau, mama akan membantumu," ucap sang mama pada Cindy. Cindy yang mendengar itu pun terlihat sangat bahagia. "Apa mama beneran?" ucapnya antusias. Sang mama pun menganggu dengan ucapan Cindy. "Memangnya, apa yang akan mama lakukan pada kakak Aditya?" tanyanya penasaran. "Ada saja, kau tenang saja. Pasti dia akan menerimamu nanti," jawab sang mama yang sepertinya mempunyai rencana yang akan ia gunakan. Keesokan paginya.... Kali ini, Cindy kembali mendatangi Asry ke kelasnya. Dia tahu jika Asry jarang sekali untuk keluar kelas waktu jam makan siang. "Hai, Asry," sapanya. Asry tidak memperdulikan kedatangan Cindy. "Maafkan aku, Asry. Aku ke sini hanya meminta maaf padamu, sungguh. Bahkan aku juga ingin mengajakmu untuk makan di luar sebagai tanda maafku," ucapnya dengan nada sedikit lesu agar Asry meu menerima ajakannya. "Kenapa kau tidak mengajak teman-temanmu, saja?" ucap Asry yang tanpa melihat ke arah Cindy. "Aku ingin mengundangmu sebagai permintaan maafku, pliisss," Cindy memohon pada Asry. dia menunjukkan wajah seriusnya agar Asry percaya padanya. "Aku mohon padamu, mau yah," ajaknya dengan memelas. "Aku sibuk, gak bisa di ganggu," cuek Asry pada Cindy. "Cuma sekali ini saja, oke," ujarnya lagi masih memaksa Asry. Asry yang sudah Asrygah mendengar ocehan Cindy itupun meletakkan buku yang ia baca di atas meja dengan kesal. "Di mana tempatnya?" tanyanya dengan ketus karena sudah merasa sangat Asrygah dengan Cindy yang terus saja mengganggunya. "Di restoran A nanti setelah pulang dari sekolah," jawab Cindy. "Aku cuma punya waktu setengah jam," jawabnya dengan singkat padat jelas. "Baiklah tidak apa, aku senang jika kau menerima ajakan aku," ujar Cindy terlihat sangat senang. "Nan..." "Kau bisa keluar sekarang," usir Asry sebelum Cindy melanjutkan ucapannya. Cindy pun melangkahkan kakinya keluar dengan segera setelah di usir oleh Asry. Asry memandang kepergian Cindy dengan tersenyum misterius, "heh, dasar bod*h," ucapnya lalu kembali membaca buku yang ia baca sedari tadi. Sepulang sekolah... Sesuai yang di katakana oleh Cindy tadi, ia mengajak Asry untuk makan di luar. Tapi, kali ini di sana Cindy mengajak sang mama. Sepertinya, sang mama memiliki rencana untuk Asry sesuai yang di katakan semalam. Mereka berada di ruang khusus yang sudah di pesan oleh mama Cindy tadi. "Makanlah, Asry," pinta Cindy pada Asry untuk memakan hidangan yang ada di sana. "Cepat katakan, apa tujuan kalian sebenarnya?" cetus Asry yang seolah-olah tahu dengan tujuan Cindy dan sang mama untuk memintanya datang ke sana. "Kau sepertinya sangat tahu dengan maksud tujuan kami memintamu untuk datang ke sini," sahut mama Cindy padanya. "Aku tidak sebod*h putrimu, nyonya. Gerak gerik kalian saja aku tahu," ejek Asry pada mama Cindy.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN