Bab 10

1493 Kata
Keesokan paginya... Ana mengerjapkan kedua matanya karena hari sudah menunjukkan pagi, ia merasa ada benda berat di atas tubuhnya. Ana melihat jika ada tangan yang melingkar di atas perutnya, saat menoleh ke arah samping, kesadarannya pun penuh melihat siapa yang berada di sampingnya. Buugh... Ana reflek menendang orang itu hingga terjatuh dari atas tempat tidur. "Auuwh... sayaang. Kenapa kau menendang ku?" rintihnya karena di tendang oleh Ana. Mata Ana melotot lebar, "apa yang kau lakukan di sini, hah? Bagaimana bisa kau masuk?" sengal Ana yang melihat Sean tiba-tiba saja berada di kamar. "Apa kau lupa, ini mensionku. Aku punya banyak kunci cadangan, memangnya apa yang salah? Aku kan suamimu," ujarnya dengan wajah melasnya. Ternyata sang istri masih marah dengannya. "Memangnya, siapa yang mengijinkanmu tidur di sini, hah? Kau sedang aku hukum," ketus Ana yang masih ngambek dengan sang suami. "Ahh... ayolah, sayang. Jangan seperti ini, aku tidak betah jika dirimu ngambek seperti ini," rayu Sean. "Itu hukumanmu karena sudah berani melihat wanita lain. Sudah sana keluar," usir Ana. Dirinya benar-benar tidak ada ampununtuk Sean. "Sayang, kenapa kau tega sekali? Aku melihatnya karena dia menjelaskan pekerjaannya padaku, tidak mungkin aku menunduk menghadap lantai di saat lawan bicaraku berbicara," jelas Sean. Melihat lawan bicara itu termasuk etika, apa lagi itu dalam hal pekerjaan. Tidak mungkin kita melihat dan fokus ke arah lain. "Banyak alasan saja, aku tidak mau mendengar alasanmu," Ana memilih pergi keluar dari kamar tersebut lalu menutup pintu dengan kencang. Braakk... Bunyinya terdengar sangat keras, Sean mengacak-acak rambutnya karena sang istri masih tidak bisa luluh. Ana berjalan ke kamar yang lain untuk membersihkan tubuhnya, jika dirinya tidak keluar pasti Sean mengikutinya masuk. "Dassar, lelaki. Banyak sekali alasan yang dia buat, bilang saja kalau kau menyukai yang lebih muda dan cantik dariku," gerutu Ana di sepanjang jalannya. Sean yang berada di kamar itu pun segera beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya karena dia harus cepat pergi ke kantor, ada pertemuan penting hari ini. Meja makan... Di sana Ana menyajikan makanan untuk twin dan Diva, dia tidak memperdulikan Sean di sana. Sean terlihat sangat memelas karena sang istri cuek dengannya. "Papi yang sabar, ya. Nanti Aditya bantu papi cari mami baru," ucap Aditya pada sang Papi, Sean melototkan matanya mendengar Aditya berkata seperti itu. Ia mengira jika dirinya akan di bantu untuk membujuk sang mami, tapi ternyata salah. Justru Aditya membuat situasi semakin panas. "Aditya, diam. Habiskan sarapanmu," sengal Ana pada Aditya. Aditya pun kicep melihat sang mami yang masih dalam mode marah pada sang papi. Dari pada dirinya terkena semprot sang mami lebih baik dia diam saja dan menghabiskan sarapan miliknya. "Papi, Asry nanti ke markas, ya?" Asry meminta izin pada sang papi. Sean mengangguk memberikan izin pada putrinya," datanglah sesukamu, sayang. Itu juga akan menjadi milikmu," jawab Sean pada sang putri. Mereka pun akhirnya melanjutkan sarapan masing-masing dengan khitmad tanpa bersuara. Selama di sekolah, Asry jengah karena hampir semua orang tiba-tiba seperti sangat akrab dengannya. la hanya bisa menghela nafasnya kali ini, inilah yang dirinya tidak suka ketika banyak yang tahu siapa sebenarnya dirinya, ingin rasanya dirinya kembali ke sekolah tempatnya dulu sebelum pindah. "Hai, Asry. Aku datang ke sini ingin berdamai denganmu. Maafkan aku," ujarnya tiba-tiba datang menghampiri Asry. "Memangnya, kau siapa?" Asry menaikkan sebelah alisnya dengan tersenyum sinis padanya. "Sorry, waktu itu aku ganggu, aku gak tau kalo..." "Gak tahu kalau aku kakak dari Aditya? Begitu?" belum juga dirinya menjawab Asry sudah memotong ucapannya. "Apa begini sikapmu pada orang-orang selama ini? Kau selalu memandang rendah orang-orang. Orang yang kau pandang rendah itu belum tentu jika orang itu rendah, masih ada langit di atas langit," jelas Asry lalu melanjutkan membaca bukunya. "Aaahh... ayolah Asry, maafkan aku. Aku janji akan menjadi lebih baik," ucapnya membujuk Asry. "Kenapa kau harus berjanji padaku? Kalau kau memang mau menjadi baik mulai dari dirimu sendiri? Memang apa pengaruhnya padaku?" skak Asry padanya. "Kau bertingkah seperti ini agar kau bisa dekat dengan adikku, bukan?" Asry kembali membungkam orang itu. Siapa lagi kalau bukan Cindy, dia benar-benar seperti tidak ada malu. "Sorry, keluargaku tidak membutuhkan orang-orang sombong sepertimu," tegas Asry lalu meninggalkan kelas dengan membawa tas miliknya. Sudah cukup bosan dirinya berada di sana, sebaiknya dia pulang lebih awal pikirnya. "Ck, menyebalkan," kesalnya saat Asry tidak peduli dengan dirinya. "Sabar dulu, La. Kenapa kau tidak meminta bantuan papamu untuk bisa dekat Aditya?" ucap salah satu dari mereka. "Loh... loh... kemana tuan putri? Kenapa tidak ada di kelas, ya?" ucap Angela datang ke sana bersama Celine. Mereka berdua pergi ke kantin dan kembali membawakan Asry makanan, saat dirinya kembali Asry sudah tidak ada di kelasnya. Yang mereka lihat hanya ada Cindy dan gengnya. "Cih... pantes saja tuan putriku tiba-tiba tidak ada. Ada penyihir ternyata di sini," ujar Angela dengan memicingkan bibirnya. "Heehh... tunggu kalian," Cindy berteriak melihat Angela dan Celine yang ingin kembali ke kantin. "Mau apa kau?" ketus Angela pada Cindy. "Aku hanya meminta bantuanmu, bujukkan Asry untuk memaafkan ku. Kau tidak keberatan bukan?" ujarnya pada Angela. "Kau memang tidak tahu malu sekali, kemarin saja meminta papamu mengeluarkannya. Sekarang tahu kalau tuan putriku kakak Aditya kau mendekatinya? Kalau aku jadi dirimu aku sudah pindah dari sini karena malu," jawab Angela yang tidak pernah merasa takut pada siapapun itu, sekalipun dengan Cindy. "Kalau kau meminta maaf itu yang tulus, bukan karena ada maksud tertentu," ketusnya kembali pada Cindy. Angela mengajak Celine untuk kembali ke kantin dari pada harus berhadapan dengan Cindy di sana. Cindy kembali menunjukkan wajah kesalnya. Dia memang sangat berambisi sekali bisa mendapatkan Aditya. Beberapa menit kemudian, Asry sudah sampai di markas. Tadinya dirinya akan datang ke sana seusai kelas, tapi karena dia sudah tidak nyaman dengan situasinya dia memutuskan untuk ke sana lebih awal, Kedatangannya di sambut oleh anak-anak buah sang papi. la berjalan masuk dengan elegannya. "Kau tidak sekolah, nona?" tanya Riko saat melihat kedatangan Asry di sana. "Aku sangat bosan di sana, uncle. Mereka semua penjilat," jawabnya. "Hahaha... kau memang seperti papimu, nona muda. Dia tidak berbeda denganmu," jawab Riko di sana. "Memangnya ada apa? Coba ceritakan," ujar Riko pada Asry. Asry pun menceritakan dari awal saat Cindy mengganggunya dan akhirnya papa Cindy datang kesana. Asry menceritakan secara rinci pada Riko, Riko mendengarkan cerita Asry dari awal hingga akhir. "Emmm jadi begitu? Jangan memarahi adikmu, nona. Memang tidak semua permasalahan kau bisa mengatasinya sendiri. Jika aku jadi Aditya pasti juga akan bertindak yang sama," tutur Riko. "Aku tidak memarahinya, uncle. Tapi aku tidak suka dengan mereka semua, mereka semua penjilat," jawab Asry yang terlihat sangat kesal. "Sebaiknya kau pergilah latihan untuk menghilangkan rasa kesalmu itu," usul Riko agar Asry kembali mood. "Apa kak Diva sering datang kemari?" Asry sepertinya ingin memancing Riko. "Dia hampir setiap hari datang ke sini," jawabnya dengan jujur. "Kapan kau akan menikahinya? Kau itu sudah bujang lapuk, uncle," ujar Asry yang sangat frontal. "Kata-katamu kejam sekali, nona," Riko hanya bisa berdesis mendengar Asry yang mengatakan dirinya bujang lapuk. "Memangnya apa yang salah dari ucapanku? Kau kan memang bujak lapuk." "Kau memang sangat dingin, tapi sekali berbicara sangat kejam. Bisa pakai bahasa yang lebih halus lagi?" ternyata Asry dan Aditya tidak ada bedanya. Bedanya kalau Aditya orangnya petakilan dan suka jahil, ucapannya pun suka ceplas ceplos seperti Diva. Beda dengan Asry, dia dingin, irit bicara. Tapi sekali berbicara sangat menohok. "Aku tunggu dirimu menjadi keluargaku, uncle. Aku ingin berlatih dulu, byee..." Asry memberikan lampu hijau pada Riko dan Diva. Meskipun umur mereka terpaut jauh belasan tahun, tapi itu bukanlah penghalang untuk cinta mereka berdua. Umur bukanlah satu-satunya patokan dalam cinta, tapi bukti nyatalah yang akan di lihat nanti. Bugh... Bughh... Bughh... Asry berlatih dengan salah satu anak buah Sean di sana. Kemampuannya sudah tidak bisa di ragukan lagi, bela diri dan pembawaan senjata tajam dia sudah menguasai karena ajaran sang papi. Riko yang melihatnya dari kejauhan pun bangga dengan Asry, meskipun dia perempuan, tapi dia cukup tangguh untuk hal seperti ini. "Jangan bersikap lemah, anggap aku musuhmu. Jangan memandangku sebagai anak majikanmu," ujar Asry pada anak buah Sean. Jelas saja mereka pasti takut jika akan melukai nona mudanya. Jika Asry tidak berkata seperti itu, maka dia tidak bisa merasa kepuasan pada dirinya karena mereka selalu mengalah pada dirinya. "Aku beritahukan pada kalian semua yang ada di sini. Jika berlatih, anggaplah yang di depanmu adalah musuh. Jangan berpatok dia teman, atau orang yang ada di depan kalian adalah atasan dari kalian. Apa kalian semua mengerti," ucap Asry pada semua anggota papinya yang berada di sana. "Kami mengerti, nona," jawab mereka serentak. "Ayo, lawan aku lagi," Asry kembali mengajak anak buah Sean untuk berlatih. "Kau memang mewarisi sikap Papimu, nona," ujar Riko yang melihat Asry persis dengan Sean. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celananya melihat bagaimana Asry dan semua anak buah Sean berlatih di sana. Sedangkan di sisi seberang... Sean frustasi karena sang istri masih ngambek dengan dirinya. Penampilannya terlihat kusut, dasi yang melonggar. Kemeja yang di keluarkan dan rambut acak-acakan saat ini. James yang melihat penampilan Sean itu pun bingung dan bertanya-tanya. Kenapa bisa Sean berpenampilan seperti itu di kantor.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN