"Nah Adit.... Kau pasti kena banting sama tuan putri." Angela mulai memanas-manasi situasi.
"Kenapa kau menyalahkan ku?" Aditya sewot tidak terima.
"Pasti kau sudah mengatakan pada tuan Sean kan?" tebak Angela. Kalau tidak, bagaimana bisa mereka semua tahu jika Asry adalah kakak Aditya.
"Jelas saja aku mengatakan pada papi, mana bisa aku membiarkan dirinya nanti di keluarkan. Sekali-kali biar orang-orang itu tidak sombong." Ketus Aditya.
"Kau benar juga, tapi kenapa kau tidak mengajakku bekerja sama?" sambung Angela.
"Tidak, bisa-bisa rumit karenamu," jawab Aditya dengan ketus. Angela mencebikkan bibirnya dengan jawaban Aditya.
Malam hari....
Seusai makan malam, seperti biasa keluarga Sean dan semua pasukannya berkumpul sejenak menikmati waktu kebersamaan. Aditya sedang menjauh dari amukan Diva, sedangkan Ana, dirinya kini duduk berjauhan dengan Sean. Hanya Asry sendiri yang tenang di sana.
Sean yang melihat Ana duduk jauh darinya itu pun mendekat, saat Sean duduk di sampingnya, Ana kembali mencari tempat duduk yang kosong. Sean terus saja mengikuti kemana Ana duduk, sepertinya ada yang tidak beres di antara kedua orang tersebut.
"Papi sama mami kenapa, sih? Heran deh Aditya lihatnya," kesal Aditya yang melihat mami dan papinya seperti ada masalah.
"Kau tanyakan sama mamimu ini," jawab Sean.
"Mamiku yang cantik, mami kenapa sih?" tanya Aditya.
"Kau tanyakan saja pada papimu itu," ketus Ana.
Aditya menyipitkan kedua matanya ke arah sang papi. "Hayolohhh Papi.... Mami ngambek, siap-siap nanti tidur di luar," bukannya membantu sang papi, dia justru memanas-manasi suasana.
Sean melototkan matanya ke arah putranya, bisa-bisanya nanti sang istri menuruti apa yang di ucapkan oleh Aditya. "Papi kalau lihat Aditya biasa aja deh, ya. Tahu kok kalau Aditya tampan," bukannya takut dengan tatapan sang papi Aditya justru bersikap narsis di sana.
"Uncle sama unty kalau bertengkar jangan di sini deh, tidak baik loh di lihat anak-anak," sahut Diva yang mengatakan jika mereka masih anak-anak. Padahal dari mereka sudah cukup dewasa. Aditya mengangguk setuju dengan ucapan Diva.
"Kalian bukannya membantu, malah memanas-manasi suasana," Sean kesal dengan kedua orang yang ada di depannya itu.
"Memangnya apa yang harus kami bantu, papi. Kan papi dan mami yang ada masalah, Aditya gak mau ikut-ikutan deh, ya. Dari pada nanti uang jajannya di potong," jawab Aditya memilih aman.
Ana terlihat cuek di sana tanpa peduli dengan ucapan-ucapan mereka. "Mami kenapa sih, Mi. Papi genit ini pasti," Aditya semakin memanas-manasi. Ekspresi Sean semakin pucat mendengar kata-kata Aditya. Bisa-bisa dia akan tidur di luar jika begini.
"Papi potong beneran nanti uang jajan kamu," ancam Sean pada Aditya.
"Sayaang... sudah doong, jangan ngambek. Cantikmu bisa hilang," bujuk Sean pada Ana.
"Sudah jangan dekat-dekat denganku, kau urus saja wanita itu," ketus Ana membelakangi Sean yang ada di sampingnya.
"Udahlah, Mi. Mami kan punya leopard itu, kalau papi berani macam-macam sama perempuan lain kasihkan saja ke sana. Sama perempuannya, biar mereka hidup abadi," sahut Asry yang menohok.
"Kau betul, kak. Aku setuju," celetuk Aditya di sana.
"Kenapa kalian tega sekali sama papi?" Sean memelas di sana.
"Kami tidak tega, papi. Tapi kita Cuma kasih saran sama mami," jawab Asry.
"Kalau nanti mami jadi single parent juga masih banyak laki-laki yang ngejar mami, mami kan cantik," cetus Aditya yang membuat Sean melototkan matanya kembali pada Aditya. Bisa-bisanya putranya itu mengatakan hal itu.
"Memangnya, kau mau jika mamimu menikah lagi?" tanya Sean.
"Yaa mauu... tapi ada syaratnya. Laki-laki itu harus lebih kaya dari papi, kalau tidak lebih kaya dari papi Aditya tidak mau. Nanti uang jajan Aditya kepotong lagi," jawabnya yang terdengar konyol.
"Kau itu hanya uang saja yang kau pikirkan," sahut Diva. Aditya memicingkan bibirnya pada Diva.
"Big no. Papi tidak akan membiarkan mami menikah dengan laki-laki lain. Meskipun orang itu lebih kaya dari papi," jawab Sean dengan wajah kesalnya mendengar jawaban Aditya.
"Diva enggak ikut-ikutan deh yaaa... mau balik ke kamar aja," Diva melenggang pergi dari sana.
"Aditya juga, mau ke kamar. Kau mau di sini apa ke kamar kak? Tidak baik melihat orang berantem," ujar Aditya pada sang kakak. Asry pun mengangguk lalu beranjak dari sofa lalu melangkah ke kamar masing-masing.
Saat ini, hingga hanya ada Ana dan Sean yang ada di sana. Sean pasrah karena tidak ada yang membantunya untuk membujuk sang istri yang sedang ngambek akut itu.
Dirinya harus memikirkan cara untuk bisa membujuk sang istri. "Sayaang... dengarkan aku dulu."
"Apa yang mau kau jelaskan, hah? Aku tidak perlu penjelasanmu itu. Kau pasti lebih tertarik pada karyawanmu itu bukan? Dia lebih cantik dari pada aku, di juga lebih mudah dariku. Hah," cerca Ana yang tidak bisa berhenti.
"Bukan, sayang. Kau tetap yang paling cantik di mataku," jawab Sean membujuk Ana. "Kau pasti berbohong, kan? Kalau aku yang tercantik bagaimana bisa kau memandang wanita, hah?" Ana benar-benar merasakan cemburu pada suaminya.
"Tadi dia menjelaskan pekerjaannya padaku, sayang. Tidak sopan kalau pandangan kita tertuju ke arah lain. Dia juga tahu kalau aku suamimu," jawab Sean menjelaskan yang ada di kantornya tadi.
Memang saat siang tadi Ana berkunjung ke perusahaan karena merasa bosan di mension sendiri. Saat di sana Ana melihat salah satu karyawan wanita yang sedang berbicara dengan Sean.
"Kau itu pintar sekali beralibi," ketusnya pada Sean.
"Istriku, sayangku, cintaku... aku berani bersumpah padamu. Aku tidak tertarik dengannya, mana mungkin aku mengkhianati istri sepertimu. Kau sempurna untukku dan anak-anak kita. Aku hanya persikap professional saat di kantor," jelas Sean panjang lebar di sana.
"Kau berbohong kan. Sudah sana, jauh-jauh dariku. Aku tidak suka laki-laki pembohong," sengal Ana.
"Astaga, sayang. Aku tidak berbohong padamu, kau bisa lakukan apa saja kalau aku berbohong padamu," ucap Sean. Dia senang jika Ana merasa cemburu, tapi terkadang cemburu Ana sangat membuatnya frustasi. Dia jadi serba salah.
"Kau terlihat menggemaskan jika seperti ini," Sean mencoba merayu Ana.
"Jangan merayuku, rayuanmu itu tidak mempan untukku."
"Sayaang...."
"Sudah diam, kau tidur di luar malam ini." Ana berbicara tegas dengan Sean.
"Sayang, kenapa kau tega sekali. Aku...."
"Sudah diam. Jangan protes, semakin kau protes satu bulan kau tidur di luar," ucap Ana lalu beranjak berdiri menuju kamarnya yang ada di lantai atas di ikuti oleh Sean yang juga membujuk rayu Ana.
Twin A dan Diva yang sedari tadi sembunyi melihat Sean yang tidak di perbolehkan tidur bersama Ana cekikikan di sana.
Mereka pun keluar dari persembunyiannya dan mendongak ke atas bersama sama. "Sayang... jangan seperti ini. Aku tidak bisa tidur sendiri," bujuk Sean pada Ana.
"Diam, jangan banyak alasan. Sebelum menikah denganku kau juga tidur sendiri," ketus Ana tidak peduli.
"Itu beda lagi, sayaang."
"Sudah diam, pergi sana," Ana menutup pintu dengan kencang di depan muka Sean.
Sean menggedor-nggedor pintu supaya Ana membukakan pintu untuknya.
"Sayaang, buka pintunya. Maafkan aku. Sayaang... tolong buka pintunya." Teriak Sean dari luar.
"Tidak, aku tidak peduli denganmu. Jangan ganggu aku, aku mengantuk," sahut Ana dari dalam.
Ana pun melangkahkan kakinya menuju tempat tidur dengan menggerutu tidak ada hentinya. "Dasar laki-laki, memang sama saja. Semua mata keranjang, ada yang cantik dikit pandangannya tidak berkedip. Rasakan kau, tidak ada tidur berdua kali ini," gerutunya lalu menutupi tubuhnya dengan selimut tidak menghiraukan teriakan dan gedoran Sean di luar sana.
Sedangkan Diva dan Twin A, mereka tertawa keras melihat Sean yang mendapat hukuman dari Ana malam ini. Mereka mengikuti Sean dan Ana ke lantai atas dan mengintip dari jauh. "Nah papi.... Makanya jangan genit, tidur di luar kan jadinya," sahut Aditya yang menggoda sang papi.
"Diam, kalian. Uang jajan kalian nanti potong masing-masing," kesal Sean karena mereka semua menertawakan dirinya.
"Eehh... enak aja uncle. Tidak bisa dooong, nanti kita aduin ke aunty biar uncle tidur di luar selama satu tahun," Diva menggertak tidak terima karena di ancam jika uang jajan mereka akan di potong.
"Ooohh... jadi kalian mengancam," Sean berkacak pinggang pada mereka berdua.
"Papi, kalau papi marah nanti Aditya aduin sama mami," sahut Aditya.
"Kalian benar-benar, ya," ucap Sean melangkahkan kakinya ke arah mereka bertiga. Mereka bertiga yang melihat Sean berjalan ke arahnya itu segera berlari terbirit-b***t menuju lantai bawah.
Sean mendengus kesal mala mini, Ana ngambek dengannya dan dirinya di tertawa kan oleh anak dan keponakannya. Sean memandang pintu kamar yang biasa ia tempati dan Ana dengan ekspresi wajah yang sangat memelas. Dirinya pun menuju ke kamar lain yang masih kosong untuknya tidur, percuma saja membujuk Ana, itu tidak akan mempan.
Saat berada di kamar lain, Sean membaringkan tubuhnya memandang langit-langit kamar. Dia berfikir-fikir sejenak lalu terbangun begitu saja. "Aaahh... kenapa aku tidak memikirkannya dari tadi," ucapnya lalu melangkahkan kakinya keluar dengan terburu-buru.
Sean mencari sesuatu yang akan ia gunakan, tidak perlu waktu lama Sean menemukan yang ia cari.
"Nah ketemu, untung saja ada kunci cadangan ini," ucapnya lalu dirinya mencoba membuka pintu dengan pelan agar Ana tidak mendengarnya.
Sean melihat-lihat ternyata sang istri sudah tidur dengan lelapnya. Sean kembali menutup pintu kamar dengan sangat pelan agar tidak menimbulkan suara.
Sean pun melangkahkan kakinya dan menyusul Ana ke tempat tidur dengan sangat hati-hati agar Ana tidak terbangun karena pergerakan Sean.
"Akan banyak cara untuk selalu bersamamu, sayang," Sean mencium pucuk kepala istrinya lalu menyusul Ana ke dalam mimpi panjangnya. Ia memeluk erat tubuh Ana seakan-akan tidak ingin berjauhan dengan sang istri walau sedetikpun.
Karena Ana sudah tertidur dengan sangat lelap, dirinya tidak terganggu dengan apa yang di lakukan oleh Sean. Sean pun memejamkan matanya dan tidak lama dia juga sudah menuju pulau mimpi seperti Ana.