Bab 8

1483 Kata
"Orang yang ingin kalian keluarkan dari sini dengan alasan yang tidak jelas," Jawab Sean dengan tegas. Kali ini Sean membuka siapa Asry sebenarnya. "Kembali ke kelasmu, Asry." Perintah Sean pada Asry. "Tapi, Pi..." "Papi bilang kembali, Asry. Biar papi yang mengurus masalah ini," Sean berkata tegas kali ini. Mau tidak mau Asry melangkahkan kakinya keluar dari ruang guru. Asry yang melihat Aditya berada di luar ruang itu pun menatap dengan tatapan horornya. Bughh... "Kau pasti mengadu pada papi, kan?" Asry memukul lengan Aditya dengan kuat. "Auuhh... kenapa kau memukulku?" ucapnya tidak terima mendapat pukulan dari sang kakak. "Aku bilang jangan katakana pada papi, kau kenapa bandel sekali." Omelnya pada Aditya. "Mana mungkin aku membiarkanmu di keluarkan begitu saja." Ucap Aditya. "Kau ini," Asry ingin memberikan bogeman pada sang adik tapi dia urungkan. Dia memilih kembali ke kelas dari pada berbicara dengan Aditya. Kembali ke ruang guru... "Bagaimana bisa kau mengeluarkan putriku yang tidak bersalah? Apa kau mengeluarkannya hanya bisa dekat dengan putraku, nona. Perlu kau tau, orang yang selalu kau ganggu dan usik adalah putriku. Kakak dari Aditya." "Sebelum kau berbuat, sebaiknya kau mencari tahu siapa lawanmu. Sekarang kau menerima dari akibatmu sendiri dan ingin mengeluarkan putriku, begitu?" ucap Sean panjang lebar. Semua yang di sana terkejut jika ternyata Asry adalah anak dari Sean, kakak dari Aditya. Bahkan Cindy pun memucat mendengar fakta itu. "Anda jangan berbohong, tuan Sean. Anda hanya berbohong agar anak itu tidak di keluarkan dan di tolak di manapun, bukan?" Papa Cindy masih tidak percaya. "Jika aku berbohong, untuk apa aku jauh-jauh ke mari?" "Tuan, tenangkan diri anda, ini pasti ada kesalahpahaman." Lerah guru itu yang sebenarnya juga merasa takut. "Jika itu memang putrimu, harusnya kau mengajarkan sopan santun tuan. Jangan biarkan juga dia seperti berandal. Kau lihat apa yang sudah dia lakukan putrimu itu pada putriku?" Ucap papa Cindy. "Aku sudah cukup mengajarkan sopan santun pada putriku, tuan. Dia tau orang seperti apa yang harus dia berikan sopan santun, putriku juga tidak akan melakukannya jika putrimu tidak mengganggunya," jawab Sean. "Ajari juga putrimu itu untuk tidak selalu bersifat meninggi tuan," sambung Sean. "Harusnya putrimu itu tidak perlu berbuat seperti ini, tuan William. Dia sampai mematahkan tangan putriku," kekeh papa Cindy. "Itu adalah akibat dari putrimu sendiri, dan aku tidak perlu untuk bertanggung jawab atas apa yang di lakukan oleh putrimu sendiri," jawab Sean. "Aku rasa sudah cukup permasalahan ini, aku akan kembali. Dan ingat, jangan pernah mengganggu putriku," ujar Sean dengan tegas lalu melangkahkan kakinya keluar. Cindy dan teman-temannya tidak bisa berkata-kata kali ini. Mereka mati kutu mendengar fakta itu. "Ayo kita pulang, Cindy. Kau membuat papa malu saja, bagaimana bisa kau mencoreng wajah papamu." Ajaknya lalu menyeret Cindy keluar dari sana. Teman-teman Cindy mengikutinya dari belakang. "Apa kita tidak jadi mengeluarkannya, pi?" "Sudah diam. Jangan di bahas, bagaimana bisa kau berurusan dengan keluarga William. Kau membuat papa malu," bentaknya pada Cindy. Cindy a pun hanya menurut dengan ajakan sang papi untuk pulang. Jika orang-orang tahu, mungkin dirinya juga akan malu dengan masalah ini. Asry dan Aditya kembali ke kelas bersamaan. Di saat mereka baru saja duduk, tapi waktu sudah menunjukkan jam pelajaran selesai. Semua yang ada di sana keluar meninggalkan bangku masing-masing, kecuali Asry yang seperti biasa akan duduk menyendiri di kelas. "Asry, bagaimana? Kau tidak akan keluar dari sini kan ?" Celine mendekat ke arah Asry. "Kata siapa aku akan keluar dari sini?" bukannya menjawab, Asry justru kembali bertanya. "Semua orang kan berbisik-bisik seperti itu Asry, aku takut saja jika dirimu akan di keluarkan. Padahal dirimu tidak bersalah." Jawab Celine di sana. "Tidak, kau tenang saja." Jawab Asry santai. "TUAN PUTRIIII...." Teriaknya dengan suara cempreng yang membuat siapa saja menutup telinganya. Siapa lagi kalau bukan Angela yang setiap hari mendatangi kelas Asry dan berbincang-bincang di sana. la mendekat ke arah Celine dan Asry dengan wajah cengengesan. "Apa kau tidak bisa sekali saja tidak teriak, Angel?" Asry sepertinya jengah mendengar teriakan Angela. "Hehehe...," Cengir Angela di sana. "Kantiin yuukkk." Ajaknya merengek. "Kau saja yang pergi," jawab Asry malas dengan ajakan Angela. "Kau ini, tidak lapar apa setiap jam istirahat berdiam mulu di ruangan?" "Tidak." Jawab Asry singkat. Sedangkan di sisi Aditya.... "Bagaimana dengan Asry tadi, Aditya?" tanya teman Aditya yang waktu itu memberikan mobilnya pada Asry. "Kau tenang saja, dia aman. Tadi papi ke sini, kau sepertinya sangat khawatir sekali dengannya. Kau suka kaannn..." Aditya menaik turunkan kedua alisnya menggoda temannya itu. "Aku Cuma tanya, kenapa kau berfikiran yang tidak-tidak?" sengalnya pada Aditya. "Kalau suka yaudah bilang aja kali Bert, Gak usah bohong, nanti keburu di tikung orang. Kan sayang tuh Asrynya cantik. Aditya pasti merestui kok. Ye kan Adit?" sahut salah satunya. "Tidak, aku tidak merestuinya." Celetuk Aditya. "Eh... busset Aditya.... To the point sekali." Ucapnya lagi. Jika di gymnasium, Aditya memiliki tiga orang teman. Yang pertama bernama Reynold, Marcus dan Reiner. Jika di mension, dirinya berteman dengan Nathan dan Angela. "Sabar, ya . Minta restu ke tuan dan nyonya William nanti. Biarkan apa kata Aditya, yaahh." Ujarnya kembali pada Richard. "Kau ini kenapa sih?" ketus Richard menyingkirkan tangan Reiner dari pundaknya. Memang dialah yang sebelas dua belas dengan Aditya. Kabar Asry kakak dari Aditya pun menyebar di sana, semua orang terkejut dan tidak percaya jika ternyata Asry adalah kakak Aditya. Semua di sana sedang berbisik-bisik mengenai Asry di sana. Aditya yang mendengar ucapan mereka semua pun hanya mencebikkan bibirnya, kemarin saja banyak yang berbisik tidak suka. Entah setelah ini bagaimana sikap mereka pada Asry. Kembali ke sisi Asry... "Ayolah tuan putri, kau tidak kasihan apa? Nathan sedari tadi menunggu di luar tuh." Dirinya membawa nama Nathan di sana. Asry hanya menaikkan sebelah alisnya. "Kalau gitu, kau pergi saja dengannya." Ketus Asry pada Angela. "Gak ah. Gak asik, ayolaahh.... Yah... .yahh..." bujuknya pada Asry. "Sudahlah, ayo Asry. Kau jarang sekali makan siang aku lihat." Sahut Celine di sana. "Kau pun juga sama sepertiku." Jawab Asry. Celine cengengesan mendengar jawaban Asry, karena dirinya memang tidak pernah pergi ke kantin. Sejak kenal dengan Angela dan Asry, dia sedikit-sedikit mulai terbuka. "Huuft... yasudah." Asry pasrah dengan ajakan kedua orang itu. Angela tersenyum penuh kemenangan karena Asry terima ajakannya. "Ayo, Land." Ajak Angela saat di luar. "Kenapa kau mau menunggu anak ini? Jika aku jadi dirimu aku sudah ogah menunggunya." Ketus Asry lagi. "Dia selalu mengancamku, kalau aku tidak mau dia akan memberitahukan pada mama." Jawab Nathan. "Kenapa kau takut dengannya, kau itu lelaki." "Kau seperti tidak tahu dirinya saja, nona. Dia kan ratu drama, mama pernah memarahiku karena dirinya." Keluh Nathan pada Asry di sepanjang perjalanan. "Memangnya apa yang sudah dia lakukan?" Asry mengernyitkan alisnya. "Waktu lalu aku membawa bekalku sendiri karena tidak sempat sarapan, dia yang menghabiskan semuanya. Dia juga yang bilang ke mama kalau aku menghabiskan makananku di depannya tidak berbagi dengannya. Sudah aku lapar, di tambah mama marah." Ungkap Nathan dengan sedikit kesal mengingat itu. "Kau memang selalu buat ulah." Angela hanya cengegesan merasa tidak bersalah sama sekali dengan Nathan. Jika di sandingkan dengan Aditya mungkin sama, sama-sama membuat ulah. Mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju kantin, banyak dari mereka yang menyapa Asry setelah mendengar kabar siapa dirinya sebenarnya. Asry merasa aneh dan rishi tiba-tiba saja mereka seperti terlihat akrab. Padahal sebelum-sebelumnya mereka diam saja saat Asry melintas. Asry tidak memperdulikan itu, dirinya terus saja fokus ke depan. Setelah di kantin, mereka mendekat gumbulan Aditya seperti biasanya. "Permisi-permisi... orang cantik mau duduk." Ujar Angela. "Wajah pas-pasan gitu di bilang cantik. Cantik apanya?" ketus Aditya yang memang selalu saja sewot dengan adanya Angela. "Aku doakan kalian jodoh." Celetuk Reiner di sana. "Heh, diam kau." Sentak Angela pada Reiner. "Ogah aku berjodoh dengan dia," sambung Aditya di sana. "Biasanya yang ogah-ogah itu berjodoh nanti." Sahut Marcus yang sedari tadi diam. Aditya bergidik menolak keras menjadi pasangan Angela nanti. Asry menaikkan sebelah alisnya karena semua orang memandang dirinya dan tersenyum ramah. "Kau kenapa?" tanya Aditya melihat reaksi Asry di sana. "Tidak, kenapa mereka tiba-tiba banyak yang menyapaku dan tersenyum seperti itu." Jawab Asry merasa tidak nyaman. "Mereka tahu kalau kau itu saudara Aditya, nona. Makanya mereka seperti itu." Jawab salah satu teman Aditya. "Huuhh... inilah yang aku tidak suka. Semuanya penjilat," jawab Asry karena dirinya memang sangat tidak suka jika semua orang mengetahui dirinya. Pasti banyak para penjilat yang akan mendekatinya. "Apa? Asry saudara Aditya?" tanya Celine yang memang belum tahu siapa Asry. "Iya, cantik... apa kau tidak tahu?" sahut Reiner pada Celine. Celine hanya menggelengkan kepalanya, karena dirinya saja yang belum tahu. Waktu itu dirinya tidak ikut teman-teman Aditya ke mensionnya. Padahal Angela sudah memaksanya untuk ikut. "Sama, kita juga baru tahu kemarin waktu ke mension Aditya." Jawabnya pada Celine. Mereka pun melanjutkan makan mereka, tapi beda dengan Asry yang memang benar-benar tidak nyaman dengan semuanya. Asry jengah lalu dia memutuskan untuk menyudahi makannya. "Aku kembali dulu, kalian lanjutkan saja." Ucapnya yang sudah tidak mood di sana. "Kau mau kemana, kak? Makananmu belum habis." Sahut Aditya. "Kelas, terlalu ramai di sini." Jawab Asry lalu melangkahkan kakinya pergi dari sana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN