Bab 7 Di panggil Ke Ruang Guru

1513 Kata
"Tidak pantas sekali kau bertingkah genit seperti itu," protes Aditya. "Itu bukan genit, tapi cute. Cute Aditya cute..." Asry kembali mengedipkan kedua matanya seperti tadi. "Terserah kau lah, kak. Aku kembali ke kamar, ngantuk," ucap Aditya. "Kau harus janji padaku jangan beritahu papi," Asry kembali mengucapkan itu. "Iyaa...iyaa..." Aditya mengiyakan saja dengan ucapan Asry lalu keluar dari sana. "Maaf, kak. Aku tidak akan membiarkan hal ini, papi harus tau akan ini," gumam Aditya yang menutup kembali pintu kamar Asry. Aditya yang sudah merasa kantuk itu pun memilih ke kamarnya, ia akan memberitahukan ini pada sang papi besok. Keesokan harinya... Asry kali ini pergi ke sekolah menggunakan mobil miliknya sendiri, tidak bersama Aditya. Asry memarkirkan lalu keluar dari dalam mobil sportnya. la melangkahkan kakinya menuju ruang kelasnya tanpa peduli dengan banyaknya orang yang berbisik-bisik. Di saat dirinya sedang asik berjalan, Cindy dan teman-temannya menghadang jalannya. Tangan Cindy di pasangkan gips dan di berikan penyanggah untuk mengurangi rasa sakitnya karena mengalami patah tulang akibat ulahnya yang bermain-mein dengan Asry kemarin. "Heh, anak baru tidak tahu diri. Bersiaplah hari ini, kau akan di keluarkan dari sini," Cindy berkata demikian pada Asry. Sepertinya, dirinya tidak merasa kapok walau tangannya sudah di patahkan oleh Asry. "Benarkah? Aku akan menunggu hal itu," Asry pun berlalu dengan tersenyum sinis pada Cindy. "Dasar, sudah tidak tahu diri sombong sekali dia," ucap salah satu teman Cindy yang melihat kepergian Asry. "Heh, biarkan saja. Hari ini adalah hari terakhir dia menginjakkan kakinya di sini," Cindy tersenyum jahat membayangkan bagaimana Asry nanti yang akan menangis di keluarkan dari sekolah. Mereka pun berlalu pergi menuju kelas. Mereka sebenarnya seangkatan dengan Aditya dan Asry, hanya saja ruangan yang berbeda. Aktifitas mereka sedari tadi di saksikan oleh Aditya dari jauh, Aditya pun mengepalkan tangannya kuat. Beberapa saat kemudian, kelas pun di mulai. Semua murid di sana langsung saja masuk ke dalam ruangan kelas masing-masing. "Apa di sini ada yang bernama Asry?" tanya seorang guru di kelas. Asry yang merasa namanya di sebut itu pun mendongakkan kepalanya dan mengangkat tangannya tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun. "Bisa ke ruang guru sekarang? Ada yang menunggumu di sana," ucapnya. Asry mengangguk lalu melangkahkan kakinya keluar. Teman-teman Aditya dan Celine yang berada di sana merasa was-was dengan apa yang akan terjadi dengan Asry. "Aditya, bagaimana jika saudaramu di keluarkan?" bisiknya di telinga Aditya. "Kau tenang saja," jawab Aditya. "Sir, saya izin ke belakang sebentar," pamit Aditya yang di iyakan oleh guru pengajar. Aditya mengikuti langkah Asry secara diam-diam dari kejauhan. Aditya pun merogoh ponselnya dan menghubungi seseorang, "halo, Pi. Papi cepat ke sini," ujar Aditya melalui sambungan telfonnya. Benar sekali jika Aditya menghubungi sang papi, pagi tadi dirinya sudah berbincang dua mata dengan sang papi. Melihat saat Aditya berbincang dengan sang Papi... "Pi, Aditya mau bicara sama papi. Berdua saja," ucap Aditya yang membuat Sean bertanya-tanya. "Memangnya ada apa, boy?" tanya Sean. "Penting sekali," jawabnya. "Yasudah, kau tunggu papi di ruang kerja dulu," jawab Sean. Aditya pun mengangguk dan segera menuju ruang kerja sang papi. Tidak berselang lama, Sean pun membuka pintu ruang kerjanya dan mendekat ke arah Aditya yang sudah menunggunya. "Ada apa, boy? Sepertinya serius sekali?" "Aditya mau cerita sama papi mengenai kak Asry," jawabnya. Sean pun menaikkan sebelah alisnya. "Memangnya ada apa?" "Sebenarnya, kak Asry ada masalah pi. Kak Asry di ancam akan di keluarkan dari sekolah." "Bagaimana ceritanya, boy? Tidak mungkin jika tiba-tiba kakakmu bisa di keluarkan," nada suara Sean tidak bisa santai kali ini. "Ternyata Kak Asry selama ini di usik oleh Cindy, Pi. Anak orang yang berpengaruh di kota ini itu looh, papi pasti tau kan. Dia selalu mengganggu kak Asry, kemarin dia mengguyur kak Asry dengan air di kantin waktu makan siang. Dia juga menjambak rambut kak Asry, langsung saja kak Asry mematahkan tangannya sampai menangis dia," cerita Aditya panjang lebar dengan menunjukkan wajahnya yang sebentar-sebentar serius, sebentar-sebentar dengan komuk menjengkelkan. Sean yang mendengar cerita dari Aditya itu pun menunjukkan wajah marahnya, tapi dia masih berusaha untuk menahannya. "Bukan itu saja, Pi. Dia pernah datang ke kelas memarahi kak Asry dan Angela, dia meminta kak Asry dan Angela untuk menjauhi Aditya. Di situ kak Asry sudah melintir tangannya, tapi dia tidak kapok," sambung Aditya. "Dan hari ini, mungkin orang tua Cindy datang ke sekolah pi. Dia mengatakan itu kemarin, dia mengatakan akan mengeluarkan kak Asry dari sana." "Apa orang yang di sebut kakakmu pacarmu itu adalah dia orangnya?" tanya Sean. "Nahh itu, pi. Tapi dia bukan pacar Aditya kali, pi. Ya kali Aditya sama orang seperti itu," jawabnya dengan bergidik jika mengingat Cindy. Memang Aditya tidak pernah bisa serius, dia sama seperti Diva. Di saat serius-seriusnya dia masih bisa bersikap random. "Nanti kabari papi. Papi akan ke sana, papi ke perusahaan sebentar mengurus sesuatu," ujar Sean. "Papi jangan bilang kak Asry kalau Aditya yang memberitahu papi, oke," Sean mengangguk dengan ucapan Aditya. Dia tahu jika Asry pasti akan marah pada sang adik jika memberitahukan hal ini padanya. "Bye, Papii..." Aditya berpamitan lalu melakukan kiss jauh. Aditya yang melihat tingkah putranya itu hanya bisa menggelengkan kepala. Dia juga sebenarnya heran, bagaimana bisa Aditya dan Asry memiliki sifat yang jauh berbeda. Kembali lagi ke sisi Aditya saat ini... "Tunggu papi, boy. Papi akan kesana," jawab Sean di seberang sana. Aditya pun mematikan sambungan telfonnya. Aditya melihat sebentar ke ruang guru untuk melihat di sana. Sedangkan di dalam sana, sudah ada papa dari Cindy, serta Cindy dan teman-temannya. "Duduk, Asry," Asry pun duduk. "Sebenarnya, apa yang sudah terjadi? Bagaimana bisa kau mematahkan tangan temanmu, apa kau tau dia siapa?" ucap guru tersebut dengan sedikit lembut. "Kenapa anda tidak bertanya pada orangnya sendiri ?" Asry bersikap santai di sana. "Hai, nak. Kau pasti tau siapa aku, bukan?" ucap papa Cindy di sana. Asry hanya menaikkan sebelah alisnya. "Apa itu penting untuk saya? Anda kesini sebagai wali murid, tuan. Bukan sebagai orang berpengaruh di kota ini," jawab Asry. "Asry, tolong jaga sifatmu," ucap guru di sana karena takut dirinya ikut terseret dan di keluarkan di sana. Asry tidak peduli dengan hal itu. "Kau cukup berani, nak. Tapi aku tidak yakin setelah ini kau masih bisa berani setelah ini," ucap papa Cindy meremehkan Asry. "Katakan saja, aku tidak suka berbasa-basi," ucap Asry dengan penuh keberanian. "Apa kau bisa bertanggung jawab dengan apa yang kau lakukan pada putriku? Kau pasti tau akibatnya bukan, jika kau melukai putriku?" Cindy tersenyum di sana. Ia berfikir jika Asry akan memohon untuk tidak di keluarkan. "Kenapa anda tidak bertanya dengan putrimu terlebih dahulu sebelum datang ke sini, tuan," Asry membalikkan ucapan papa Cindy. "Jika anda sebagai orang tua, harusnya anda mencari tahu sebab dan akibat apa yang sudah putrimu itu lakukan," Asry kembali membuka suara. "Asry..." selah guru yang menangani masalah ini. "Jika tidak ingin putrimu seperti ini, harusnya ajari putrimu itu untuk tidak seenaknya sendiri dan mengganggu orang lain tuan," sambung Asry. "Asry, tolong jaga sifatmu." "Bukankah anda juga seorang guru? Harusnya anda juga bisa bersikap adil dan tau mana yang benar dan mana yang salah. Jangan hanya karena uang anda ikut menghakimi orang yang tidak bersalah," sarkas Asry pada guru itu. Asry benar-benar menunjukkan sifatnya yang seperti Sean. "Coba kau jelaskan permasalahan yang sebenarnya, nona Cindy," Asry menantang Cindy untuk menjelaskan apa yang terjadi. "Kenapa harus aku jelaskan? Sudah jelas-jelas kau yang salah sudah mematahkan tanganku hanya karena lelaki," ucap Cindy yang membalikkan fakta. "Kau memang pintar membalikkan fakta." "Apa kau tau tuan, aku tidak akan mematahkan tangan anakmu jika tanpa ada sebab. Siapa saja yang mengusikku, harus menerima akibatnya," jawab Asry. "Tidak pa, yang dia ucapkan bohong. Dia bahkan mengancam ku jika nyawa papa berada di tangannya," selah Cindy di sana. "Sir, saya meminta keluarkan anak ini dari sekolah ini," ucap papa Cindy. Cindy tersenyum puas karena dia pasti bisa dekat dengan Aditya. "Tuan, tolong pertimbangkan lagi," bujuk guru itu. "Saya meminta anda untuk mengeluarkan dia dari sini, dia sudah mengancam putri saya. Dan anda sudah melihat sendiri bukan, apa yang sudah dia lakukan pada putri saya. Dia harus di keluarkan," ucapnya dengan menggebu. Cindy tersenyum kemenangan. "Siapa yang berani mengeluarkannya dari sini?" suara berat itu tiba-tiba hadir di tengah-tengah perbincangan mereka. Asry yang mengenal suara familiar itu pun menoleh seketika, "papi," gumamnya pelan melihat kehadiran sang papi. Semua orang yang berada di sana terkejut melihat kehadiran Sean secara tiba-tiba. "Tuan Sean, ada perlu apa anda kemari, tuan?" sapa guru itu dengan ramah pada Sean. Sebisa mungkin dia bersikap baik di depan Sean. "Siapa yang berani mengeluarkannya dari sini?" Sean mengulangi perkataannya. "Tentu saja anak ini, tuan. Lihat apa yang sudah dia lakukan, dia sudah mematahkan tangan putriku dan mengancamnya," sahut papa Cindy pada Sean. "Apa kau tidak bertanya pada putrimu apa yang sudah dia lakukan?" wajah Sean terlihat marah di sana. "Kau Cindy, bukan?" Sean menatap Cindy dengan tatapan tajamnya. "I-iya, tuan," jawab Cindy sedikit gugup. "Di sini kau yang bersalah. Kau sudah mengganggu ketenangan dan menyiram putriku tanpa alasan yang jelas. Kenapa justru putriku yang kau keluarkan, harusnya dirimulah yang keluar dari sini," Sean memojokkan Cindy di sana. "Apa maksud anda, tuan? Siapa yang kau sebut putrimu?" sahut papa Cindy di sana. Tap Love ya Readers jangan follow authornya jga ya
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN