Asry menaikkan kecepatan mobilnya di atas rata-rata. "Asry... kau bisa pelankan mobilmu. Aku belum siap mati," ujar Diva yang sepertinya takut dengan gaya menyetir Asry yang seperti pembalap.
"Kalau mati nanti tinggal di kubur," jawab Asry dengan enteng.
"Astaga, Asry," pekiknya mendengar jawaban Asry. Asry yang sudah lama tidak mengendarai mobil sportnya itu pun terus saja melajukannya dengan cepat. Tanpa peduli dengan Diva yang berkomat-kamit di dalam sana.
Setelah beberapa menit, mereka sampai di mall yang biasa. Mereka pasti akan datang ke mall milik keluarga William. Aditya pun juga sudah sampai di sana berbarengan dengan Asry. Mereka bertiga langsung saja masuk ke dalam. "Mau cari apa?" tanya Diva.
"Tidak ada, mau cari makan saja," jawab Asry.
"Astaga, kau ini. Kenapa tidak makan saja di mension," sengalnya pada Asry.
"Cari suasana baru," jawabnya dengan singkat. Asry pun melangkahkan kakinya lebih dulu ke salah satu resto ternama yang ada di sana.
Mereka segera duduk dan melihat daftar menu yang tertera, Aditya yang memang suka sekali dengan urusan makanan itu pun sangat antusias. Ia melihat dari awal sampai akhir. Aditya memesan banyak makanan yang ia inginkan.
Entah muat atau tidak nanti perutnya. Kedua kakaknya hanya bisa menggelengkan kepala. "Kalian di sini dulu, kakak mau ke toilet," pamit Diva pada mereka berdua.
Asry membuka maskernya lalu bermain dengan ponsel miliknya. "Oh ya, kak. Kenapa kau tiba-tiba saja pindah sekolah? Apa di sana tidak ada wajah tampan sepertiku?" tanyanya dengan tingkat kepedean yang sangat tinggi.
"Aku hanya ingin saja," jawabnya singkat padat jelas.
"Kau itu, kenapa bicaramu itu irit sekali?" ucap Aditya.
"Aku tidak sepertimu," jawabnya yang lagi-lagi singkat.
"Ah, kau itu. Tidak asyik sekali," gerutu Aditya. Asry tidak peduli dengan ucapan sang adik. Dia masih saja fokus dengan ponsel miliknya.
"Aku ke toilet bentar, oke. Jangan habiskan makananku," pamitnya yang tidak lupa dengan makanan miliknya. Asry jengah mendengar sang adik yang memang lebih cerewet darinya.
Aditya pergi, hingga menyisahkan Asry seorang diri di sana menunggu pesanan mereka datang.
"Ehh, La. Bukankah itu anak baru tadi, ya? Dia sendiri di sana," ucap salah satu orang sedikit jauh yang melihat Asry duduk seorang diri.
Tanpa berbicara sepatah katapun, dirinya melangkahkan kakinya menuju tempat duduk Asry. "Hai, bukankah kau anak baru tadi," sapanya yang langsung mendudukkan dirinya tanpa seizin pemiliknya. Asry yang fokus dengan ponselnya mengalihkan pandangannya menuju pada orang yang tiba-tiba saja menduduki tempat duduk milik adiknya.
Tanpa menjawab apapun, Asry kembali fokus dengan ponsel miliknya. "Apa kau tidak memiliki attitude? Ada orang yang mengajakmu mengobrol. Kenapa kau hanya bermain dengan ponselmu?" kesalnya karena Asry yang terkesan cuek dengan dirinya.
Asry kembali menatapnya lalu menaikkan sebelah alisnya. "Turunkan alismu itu," sengal orang tersebut melihat Asry yang menaikkan sebelah alisnya.
"Kau anak baru tadi, bukan? Bagaimana bisa kau pulang bersama Aditya? Apa kau sedari tadi menggodanya? Heh, tidak aku sangka orang sepertimu penggoda lelaki," ungkapnya dengan mengejek Asry.
"Aku tidak ada urusan denganmu. Sebaiknya kau dan temanmu pergi dari sini," ujar Asry dengan tegas.
"Kau sombong sekali," celetuk salah satu temannya.
"Apa pedulimu?" Asry kembali membuka suaranya dengan nada santainya.
"Aku ingatkan padamu, kau hanya anak baru. Kau tidak pantas dengan Aditya, dia hanya milikku. Kau jauhi dirinya," jelasnya pada Asry.
"Benarkah? Apa kau yakin dengan apa yang kau ucapkan?" Asry tersenyum remeh pada orang itu.
Orang tersebut terlihat sangat kesal dengan Asry yang meremehkan dirinya. Siapa lagi orang itu jika bukan Cindy dan beberapa temannya yang juga berada di sana untuk shopping.
"Awwas, kau... kalau kau berani, aku akan membuatmu di keluarkan dari sekolah," ancamnya pada Asry.
Asry hanya tersenyum remeh mendengar ucapan Cindy. Cindy yang sudah sangat geram ingin sekali menjambak rambut Asry. "Ehh sudah, Cin. Sebaiknya kita kembali, di sini banyak orang," cegah salah satu temannya.
Cindy pun akhirnya meninggalkan tempat tersebut dengan perasaan dongkol dan kesal, beda lagi dengan Asry yang hanya menunjukkan wajah datarnya. la kembali fokus dengan ponsel miliknya. Tidak lama kemudian, makanan yang mereka pesan pun sudah tiba. Satu persatu makanan itu di jejer dengan rapi. Sesaat kemudian, Diva dan Aditya juga tiba di sana bersamaan. Aditya yang melihat semua makanan di depannya langsung saja menyantapnya dengan lahap.
Satu minggu kemudian...
Satu minggu sudah Asry bersekolah di sekolah yang sama dengan Aditya. Selama itu, Asry tidak terlalu bergumul dengan yang lainnya. Dengan Aditya pun tidak sesering mungkin, biasanya Angela yang menghampiri dirinya.
Asry sendiri juga tidak memiliki banyak teman di sana, mungkin karena dia yang terlalu dingin dan cuek pada sekitar. Meskipun begitu, Asry tidak mempermasalahkan. Baginya, lebih baik berteman dengan satu orang tapi berkualitas dari pada memiliki banyak teman tapi tidak mengetahui arti teman yang sesungguhnya. Apalagi mereka berteman hanya karena memandang dirinya dari keluarga berpengaruh, Asry tidak akan suka.
"Tuan putrikuuu, kenapa kau tidak ikut dengan Aditya? Kau selalu sendiri," ungkap Angela padanya.
"Aku lebih nyaman sendiri, Angel," jawab Asry sambil membolak-balikkan buku yang ia baca.
"Tapi, apa kau tidak bosan sendiri dalam kelas seperti ini?" tanya Angela.
"Tidak," jawab Asry singkat. Angela hanya diam lalu pandangannya tertuju pada salah satu orang yang juga berada di sana seorang diri. Dia tidak jauh dengan Asry yang juga membaca buku, di lihat dari penampilan dan tingkahnya, dia seorang pemalu dan juga tidak mempunyai teman.
"Dia siapa?" tanyanya pada Asry. Asry yang mendengar pertanyaan dari Angela pun menoleh ke arah seseorang tadi.
"Tidak tahu, kau tanya saja sendiri."
"Kenapa kau cuek sekali?" sengal Angela karena sifat Asry yang terlihat sangat bodo amat.
Angela mencoba mendekat ke orang tersebut lalu mendudukkan dirinya di kursi depan orang itu. "Hai, kakak," sapa Angela dengan wajah cerianya.
Orang itu menoleh lalu tersenyum kepada Angela yang sedang menyapanya. "Kenapa kau tidak bergabung dengan temanmu, kak?" tanya Angela.
"Aku tidak punya teman, temanku hanya ini," jawabnya sambil menunjukkan buku yang ia baca tadi.
"Memangnya kenapa?" tanyanya Kepo. Dirinya seperti Rika yang akan selalu bertanya apapun itu.
"Emm, mungkin menurut mereka aku terlalu membosankan," jawabnya dengan santai.
"Sepertinya, kau orang pemalu dan pendiam," tebak Angela.
Orang itu tersenyum sebelum menjawab ucapan,"tidak juga," jawabnya ramah.
"Namaku, Angela. Dari kelas sebelah, aku di sini datang menemui tuan putriku. Kakak siapa?" ucapnya panjang lebar sambil mengeluarkan tangannya.
Orang itu tersenyum lalu menerima jabatan dari Angela, "Celine." Jawabnya singkat.
Setelah berkenalan, Angela mengajak Celine untuk mendekat ke arah Asry di sana. Dengan sedikit keraguan Celine ikut dengan Angela karena dirinya di paksa dengan Angela. "Tuan putriii... apa kau tidak ingin mengajak temanmu ini berbicara?" ujar Angela.
Asry mendongakkan kepalanya melihat keduanya.
"Kau Asry, kan? Aku Celine," ujarnya ragu-ragu mengulurkan tangannya pada Asry. Asry pun menerima jabatan Celine. Celine terlihat senang jika uluran tangannya di terima oleh Asry.
Celine memandang lekat wajah Asry yang sepertinya ia kenal. "Maaf jika aku lancang, wajahmu terlihat mirip dengan Aditya," ujarnya hati-hati.
Angela hanya memandang ke arah Asry di sana. Belum juga Asry menjawab ucapan Celine, sekumpulan beberapa ciwi-ciwi datang dan memukul pintu dengan kuat. Angela dan Celine terlihat terkejut hingga dirinya terjingkat, Asry hanya memandang tenang ke arah sumber suara.
Salah satu di antara ciwi-ciwi itu terlihat kesal memandang benci pada Asry. "Apa kau tidak pernah mendengar ucapan ku? Jauhkan dirimu dari Aditya," bentaknya pada Asry.
Dia terlihat sangat kesal pada Asry karena tadi dirinya berangkat bersama Aditya. Terkadang mereka berbarengan, terkadang juga pergi sendiri-sendiri.
Asry hanya memandang orang itu dengan tatapan tenangnya. Siapa lagi orang itu jika bukan Cindy. "Memangnya kau siapa melarang tuan putriku dekat dengan Aditya?" sahut Angela di sana.
"Diamlah, kau juga harus jauhi Aditya. Jangan terlihat sok akrab padanya dan teman-temannya..." sentaknya pada Angela. Celine hanya bisa terdiam di sana karena dia tidak tahu permasalahan apa, di tambah dirinya juga jarang sekali berbicara dengan orang-orang.
Angela yang memang tidak ada takutnya itu menautkan sebelah alisnya seperti menantang Cindy di depannya. "Kau tidak ada hak melarangku berteman dengannya, kau bukan siapa-siapa. Tuan Sean saja tidak melarangku berteman dengannya, kenapa kau melarangku?" sewot Angela di sana.
"Apa kau tidak tahu siapa aku? Aku bisa saja mengeluarkan dirimu di sini," sombongnya pada Angela dan lainnya di sana.
"Apa peduliku? Tidak penting siapa kau di sini untukku," jawab Angela yang memang berani. Wajahnya sedikit meremehkan Cindy dan beberapa temannya di sana. Cindy yang tidak terima di remehkan itupun terlihat kesal dan geram.
Selagi dirinya tidak bersalah, Angela tidak akan pernah takut dengan siapapun itu. Termasuk dengan Cindy. "Dasar kau, ya," Cindy ingin menjambak rambut Angela. Sebelum tangannya menyentuh Angela, Asry sudah lebih dulu mencekal tangan Cindy dengan menatap tajam.
"Pergi atau ku patahkan tanganmu," ucap Asry mengancam Cindy yang ingin menjambak Angela. Asry mencekal kuat tangan Cindy hingga sang empunya meringis kesakitan.
"Aauuw... lepaskan tanganmu dariku," pintanya merasa sakit. Asry melepaskan kasar cekalannya pada Cindy, semua teman Cindy syok melihat bekas merah dari Asry yang ada di tangan Cindy.
"Berani sekali kau melakukan ini pada temanku," bentak salah satu dari gerombolan Cindy. Angela yang melihat hasil karya dari Asry itu pun hanya berkata wow. Asry memandang tajam pada orang yang membentaknya, orang itu pun langsung menciut melihat tatapan Asry yang terlihat seperti ingin memangsanya.