Bab 2 Pindah Sekolah

1481 Kata
"Siapa, miss? Pasti dia cewek cantik? Kann...kann..." ucap Adit yang memang tidak pernah ada habisnya kalau begini. Semua orang memandangnya tajam tanpa terkecuali. "Kalian santai saja doong. Kenapa serius sekali?" ujarnya yang merasa dirinya akan menjadi santapan hewan-hewan buas. Guru pengajar itu pun hanya menggelengkan kepala karena sikap Adit. Untung saja dirinya anak dari Sean, jika saja tidak dirinya pasti sudah di keluarkan dari sana. Beda lagi dengan Asry, dari dulu dirinya memang tidak mau menyebutkan nama marganya. Dia tidak mau jika nanti akan berteman dengan penjilat. Dia paling tidak suka jika ada penjilat dalam hidupnya, dia persis dengan Aiden. "Ayo masuk," pintah guru pengajar. Asry pun segera masuk dengan masih menggunakan masker yang menutupi sebagian wajahnya. Adit meletakkan dengannya di meja dan menjadikannya tumpuan dagunya. "Kenapa aku seperti mengenal orang itu?" ujarnya dengan menunjukkan wajah sedikit songong. "Kau kenapa, Adit?" tanya teman di sebelahnya. "Aku sepertinya mengenal orang itu. Tapi di mana, ya?" gumamnya mengingat-ingat. Asry yang ada di depan itu pun pandangannya tertuju pada sang adik. "Kenalkan dirimu." "Hai semua, salam kenal. Aku Asry, senang bertemu kalian," ujar Asry memperkenalkan diri. "Asry?" Aditya mengucapkan ulang nama itu. "Coba di buka maskernya doong. Biar kita tau," ucap Adit. Memang dirinya sendiri yang paling petakilan di sana. sampai-sampai teman-temannya Asrygah dengan tingkahnya. "Iya, buka saja. Biar kita nanti bisa mengenalimu," sahut salah satu dari mereka yang ada di kelas dan di ikuti oleh yang lainnya. Asry hanya memandang tajam ke arah sang adik. Yang di tatappun merasa ngeri, "Ehh busseet, kenapa tatapannya kayak kenal," ujarnya lagi. Semua masih riuh menyetujui ucapan Adit yang memerintahkan untuk membuka masker. Mau tidak mau Asry membuka maskernya. Dan wallaahh.... Semua terkagum dengan Asry. Apa lagi dengan kaum pria di sana, mereka terperangah melihat kecantikannya. Bak bidadari yang turun dari langit. Tapi, banyak juga dari mereka memandang sinis ke arah Asry. Mereka tidak suka jika ada yang menyaingi kecantikan dan ketenaran mereka karena datangnya Asry. Tapi, bukan Asry namanya kalau dia memperdulikan omongan atau tatapan tidak suka dari orang lain. "Hai.. k-..." sebelum Adit melanjutkan ucapannya, Asry sudah memandang tajam ke arahnya. Adit mengurungkan niatnya melihat tatapan tajam sang kakak yang menurutnya paling horror dari pada tatapan sang papi. Awalnya dia sangat semangat dan gembira melihat sang kakak berada di sana tapi itu tidak bertahan lama. Dia lebih takut dengan tatapan sang kakak. "Ada apa, Adit? Apa kau mengenalnya?" tanya temannya yang ada di sampingnya. Adit memandang kembali sang kakak yang masih menatapnya tajam. Adit pun menggelengkan kepala pada temannya karena takut dengan sang kakak. Dia menggeleng kepala bukan menjawab temannya, tapi dia tahu arti tatapan sang kakak. Temannya yang ada di sampingnya itu hanya mengangguk krena ia mengira jika itu jawaban Adit yang di berikan untuknya. Ternyata Adit yang sangat jahil dan petakilan bisa takut dengan sang kakak. Padahal dengan Diva dia tidak ada takut-takutnya. Mungkin sang kakak yang mewarisi sikap dan sifat sang papi, sehingga membuat dirinya sedikit takut dengan melihat wajah garang Asry. Guru pengajar pun memerintahkan Asry untuk duduk di bangku yang masih kosong. Asry fokus menghadap kedepan. Aditya sedari tadi memandang ke arah Asry, Asry yang merasa di tatap pun menoleh ke arah Aditya. Dia mengkode Aditya untuk menghadap ke depan dengan kepalanya tanpa mengeluarkan suara sepatah kata apapun. Aditya menurut dengan perintah Asry, dari pada nanti dirinya akan di bantai dengan kakaknya. Seusai jam pelajaran selesai, semua orang memutuskan keluar dan menuju ke kantin untuk makan siang. Asry pun juga beranjak berdiri dari duduknya lalu berjalan keluar. la ingin melihat situasi dan suasana dengan sekolah barunya. Aditya menyusul kepergian sang kakak sedikit berlari, hingga teman-temannya yang masuk dalam gengnya itu pun dia tinggal. "Laahh... itu anak kenapa?" tanya salah satu di antara mereka yang melihat Aditya tiba-tiba saja berlari keluar. "Mana aku tahu, dia sedari tadi sedikit aneh setelah melihat anak baru itu," jawabnya. "Yasudah ayo kita keluar, kita susul dia," ajaknya menyusul Aditya. Sedangkan Aditya... Dia mengejar Asry dengan antusias, "Haii kakakku .Kenapa kau pindah kesini? Kenapa kau tidak mengatakannya dulu padaku? Kalau begitu aku bisa menjemputmu ke rumah grandma," cerocos Aditya di depan Asry yang sedang berjalan. Aditya berjalan mundur karena menghadap sang kakak. Semua orang melihat tingkah Aditya yang sudah seperti biasa dengan kejahilannya, jadi mereka tidak kaget. Asry yang tidak peduli dengan semua ucapan Aditya itu pun terus melangkahkan kakinya. "Ayolah kak, kenapa kau diam saja. Apa kau juga akan tinggal di mension lagi?" ujarnya lagi. Dia memang tidak pernah ada capeknya berbicara panjang lebar. Asry menghentikan langkahnya dan menatap ke arah sang adik. "Bisa tidak kau tidak memanggilku kakak ?" Aditya yang mendengar ucapan sang kakak itu pun bingung bertanya-tanya. "Memangnya kenapa? Kau kan memang kakakku," ujar Aditya. "Aku tidak mau semua orang tahu kalau aku saudarimu, aku tidak mau mereka semua berteman denganku hanya karena tahu siapa aku sebenarnya. Aku tidak suka dengan para penjilat," ujar Asry pada Aditya. Untung saja di sana sudah mulai sepi karena semua orang pergi beristirahat di kantin. "Tapi..." "Sudah tidak ada tapi-tapian," ketus Asry pada Aditya. Aditya pun di buat kicep. "Aaahhh.... Tuan putriiii.... Kau ada disini?" teriaknya cempreng berlari memeluk Asry dengan eratnya. Siapa lagi dia kalau bukan Angela, Aditya hanya memincingkan bibirnya melihat tingkah Angela yang alay menurutnya. Asry hanya tersenyum melihat Angela di sana, baginya Angela sudah seperti adik sendiri. "Hai nona muda, apa kau pindah kesini?" tanyanya menyusul Angela. "Jangan panggil aku begitu, panggil saja seperti biasa saat di sini," terang Asry padanya. "Aahh..., sesuai dengan permintaanmu, nona," jawabnya. Asry menatap tajam kearahnya, "eh... iya-iyaa... Asry," jawabnya takut melihat tatapan Asry padanya. Siapa lagi orang itu jika bukan Nathan, tadinya dia ingin pergi ke kantin bersama Angela dan ikut bergabung dengan geng dari Aditya seperti biasa. Setelah melihat Asry berada di sana, mereka mengurungkan niatnya. Mereka berbincang akrab hingga ada segumbulan ciwi-ciwi yang menatap mereka sinis tidak suka. Asry yang tahu tatapan tidak suka mereka itupun menatap balik, tapi mereka tidak ada takut-takutnya. Justru mereka menatap sinis Asry, tidak lama kemudian mereka melangkahkan kakinya kembali menuju arah lain. Asry hanya memandang kepergian mereka sampai mereka tidak terlihat lagi. Juga menggilai ketampanan Aditya. Siapa sih yang tidak jatuh hati sama anak paling berpengaruh se Eropa nan tampan itu. Orang itu juga yang sedari tadi memandang Asry sinis saat berbicara dengan Aditya, Angela dan Nathan. Tapi, meskipun Aditya terkenal jahil dan petakilan itu pun tidak bisa sembarangan memilih wanita. "DIAM." Bentaknya pada temannya. Mungkin dia sedang PMS, sampai-sampai dia membentak temannya yang tidak ada salah. Untung saja temannya tidak mempunyai riwayat sakit jantung yang tiba-tiba mendapat bentakan darinya. Dia adalah Cindy, dia juga termasuk anak orang berpengaruh di kotanya. Dirinya belum tahu jika Asry adalah kakak kandung dari Aditya, yang banyak dia tahu adalah Diva. Mension.... Aditya dan Asry sudah tiba di mension, mereka turun dari motor sport lalu berjalan masuk bersamaan. "Sepadaaa...." Teriak Aditya seperti biasanya jika dirinya pulang. "Hilangin kebiasaan mu teriak-teriak." Sungut Asry karena Aditya terbiasa selalu berteriak. "Kalo gak gitu nanti gak ada yang tau kalau kita sudah pulang," jawab Aditya. "Yang sopan dikit," ujar Asry lalu melenggang pergi menuju ke kamarnya meninggalkan Aditya yang masih berdiam diri. Aditya memanyunkan bibirnya setelah mendengar teguran dari sang kakak. Kalau saja itu Diva yang berbicara, mungkin dirinya masih berani, tapi tidak dengan Asry. "Kenapa dengan bibirmu itu?" tanya Diva yang baru saja sampai di mension. "Tidak apa-apa," jawabnya lalu melenggang pergi menuju kamarnya. Diva hanya memandang kepergian Aditya sambil bertanya-tanya. "Kenapa dengan anak itu?" gumamnya. Tidak lama kemudian, Asry keluar dari kamarnya. "Asrykuu... kau sudah pulang?" ujar Diva antusias melihat Asry sudah berada di mension. Asry hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum. la ikut bergabung dengan Diva yang sedang menikmati cemilannya di ruang berkumpul. "Bagaimana kabar grandma dan grandpa, Asry?" tanya Diva. "Mereka baik," jawab Asry dengan singkat. "Kita keluar yuk, kak," ajaknya pada Diva. Diva hanya menaikkan sebelah alisnya mendengar ajakan Asry. "Sekali-kali kita ke mall," ujarnya lagi. Diva berfikir-fikir terlebih dahulu sebelum menjawab. "Emm... oke deh. Ayo," Diva beranjak dari duduknya langsung saja berdiri. Asry tersenyum senang Diva menyetujui ajakannya. Aditya yang melihat kedua kakaknya berjalan ke luar itu pun buru-buru mengejarnya. "Ehh... ehh.... Kalian mau kemana?" Aditya menghadang jalan keduanya sambil merentangkan kedua tangannya. "Kita mau ke mall. Awas, minggir sana," ketus Diva padanya. "Tega sekali kalian tidak mengajakku?" ujarnya dengan menunjukkan wajah melasnya. "Kondisikan wajahmu itu. Kau tidak pantas menunjukkan wajah melasmu di wajah jahilmu itu," sengal Diva pada Aditya yang wajahnya di buat-buat. "Aku ikutan yah... Yah... yah..." bujuknya menunjukkan wajah yang sumringah. "Hmm..." Asry menjawab dengan deheman. Aditya terlihat sangat senang karena di perbolehkan ikut. "Jangan malu-maluin kalau di sana. Awas saja kau," belum juga pergi, Diva sudah mengancam Aditya agar tidak bertingkah jika di sana nanti. Mereka bertiga berjalan keluar dengan bersamaan. Asry menggunakan mobil sport miliknya bersama Diva, sedangkan Aditya seperti biasa akan mengendarai motor sportnya.dan tak lupa juga Asry memakai masker untuk menutupi wajahnya. Keduanya langsung saja pergi meninggalkan pelataran rumah dan menuju ke tempat tujuan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN