4. Bapak Belum Pulang

1138 Kata
Gemuruh petir menyambar semesta Paris Van Java. Tak terkecuali bagian ujung daerah yang menjadi perbatasan Garut dan Bandung. Tak ada listrik yang mengalir kala langit dihiasi kilat. Kemungkinan tersambar atau korsleting listrik menjadi alasan utama PLN mematikan aliran listrik. Jam terus berdenting. Semakin jarum jam naik ke atas, suasana pun kian gulita. Ibu menyalakan lilin putih di ruang keluarga. Untung saja ada uang dari Bu Safia, sehingga di saat suasana mencekam begini ada camilan yang menjadi penghangat badan. Empat gelas ramuan jahe bercampur gula kawung. Satu piring besar gorengan yang terdiri dari bakwan, karoket, gehu dan goreng pisang. Di pinggirnya berjejer cabai hijau rawit yang menjadi pelengkap. Tapi, di saat seperti ini keadaan kami semua benar-benar tak tenang dikarenakan Bapak belum juga pulang. Jarum jam sudah menunjuk angka sepuluh. Biasanya, habis atau tak habis Bapak selalu pulang sebelum jam sembilan. Apa Bapak memaksakan dagangannya untuk habis dulu? Atau sedang berteduh di tempat aman. Bukannya berprasangka baik, justru kekhawatiran Ibu kian menggunung. Tak ada yang berani menyentuh makanan sebelum Bapak pulang. Kalau sedang mendapat rezeki tak terduga, kami selalu menikmatinya sama-sama. Satu orang saja tak ada, maka jangan harap bisa menyantapnya saat itu juga. "Jangan mau enak sendiri. Sesama keluarga kita harus saling mengisi dan saling berbagi." Begitulah kurang lebih pesan Bapak yang selalu melekat di ingatan. Berkali-kali Ibu melirik jam dinding yang remang karena hanya bercahayakan lilin. Hampir jam setengah sebelas. Ia bangkit dari tempat duduknya. Aku dan Aa melihat gerak-gerik Ibu yang semakin tak keruan. "Ibu mau kemana?" Aa bertanya saat Ibu meraih selendang yang tergantung di paku. "Ibu mau cari Bapak dulu. Kalian tunggu di sini, ya," sahut Ibu penuh gelisah. Aku dan Aa saling berpandangan. Di luar sedang hujan deras. Ditambah suara petir terus menggelegar. Hanya bermodalkan niat, payung yang telah rusak sebagian kerangka besinya dan senter kecil yang Ibu bawa di tangannya. Lantas, Aa cepat mencegahnya. Bagaimana kalau malah Ibu yang celaka? Di antara kami tak ada yang memegang ponsel. Hanya Bapak yang punya. Itu pun masih ponsel zaman dulu. Ya, lumayan bisa buat telepon seluler kalau sedang darurat. Jadi, ponsel yang dibawa Bapak satu untuk semua. "Bu, menurut Arya mending kita tunggu aja. Di luar cuacanya sedang gak baik. Gimana kalau nanti Ibu yang sakit gara-gara masuk angin kena angin malam?" Dengan hati-hati Aa mengingatkan. Khawatir pada Ibu jika terjadi sesuatu yang tidak-tidak. "Enggak, Ibu pasti baik-baik aja. Lihat, sudah jam segini Bapak belum juga pulang. Ibu takut Bapak kenapa-kenapa," sahutnya seraya sibuk melipatkan celana bagian bawah agar tak terendam air hujan. Aku ikut menyahut pembicaraan mereka. Tak mungkin juga membiarkan Ibu keluar tengah malam demi mencari Bapak. "Bener kata Aa, Bu. Di luar licin. Jalan gak kelihatan. Kita hanya takut ibu kenapa-kenapa. Kita tunggu aja Bapak, ya, Bu." Sebenarnya aku pun memiliki kegelisahan yang sama. Ingin rasanya aku menangis mengingat Bapak yang berusaha menafkahi anak istri. Terik surya siang tak menjadi hambatan. Bahkan, saat hujan mungkin risikonya lebih besar. Tapi, aku tak pernah mendengar Bapak mengeluh soal itu. Jika sedang ramai dan habis, Bapak selalu pulang dengan wajah ceria. Kalau sedang diuji Allah dengan kurangnya peminat, Bapak tetap pulang dengan perangai tabah. "Kalau Ibu tetap ngebantah, Arya juga ikut cari Bapak," sanggah Aa bangkit dari tempat duduk. Menghampiri Ibu, merebut payung yang Ibu pegang. "Jangan, Arya. Di luar bahaya. Jaga Linza saja di sini. Biar Ibu yang cari Bapak," nasihat Ibu tak mau kalah. Benar-benar telah kehilangan rasa takut saat mengingat Bapak belum pulang. Beberapa saat Aa dan Ibu adu mulut. Di antara mereka saling melarang untuk pergi keluar rumah malam-malam begini. Aku duduk memeluk kaki. Terus melangitkan doa agar Bapak cepat pulang dengan selamat. Teringat kata Kang Ustadz, bahwa salah satu doa yang akan diijabah adalah doa yang diurai saat hujan turun. "Allahumma shayyiban nafian. Semoga hujan ini hujan berkah. Semoga Bapak pulang dengan selamat tanpa suatu kurang apapun, Ya Rabb.." Di tengah perdebatan dua orang yang kucinta, aku terus memejamkan mata. Menengadah tangan ke atas meminta. Tak kubiarkan angin mencuri waktuku untuk terus mengurai bait doa. Sementara, di antara Aa dan Ibu tak ada yang mau mengalah. Suara mereka saling bersahutan dengan irama katak di kamar mandi yang sedang mencari tempat nyaman. Gemuruh hujan semakin deras. "Ibu lebih khawatir kalau kamu kenapa-kenapa, Ya. Satria, anak sulung Ibu. Nurut sama Ibu, ya. Diam di sini. Ibu cari Bapak keluar." "Ibu! Ibu yang diam di rumah! Jangan ngeyel!" Bentak Aa kehilangan kontrol. Pertama kalinya aku mendengar Aa berbicara dengan Ibu bernada tinggi. Semangat Ibu yang membara saat hendak mencari Bapak seketika luruh. Aku menatap mereka yang saling pandang. Ada luka di hati Ibu saat Aa berteriak begitu keras. Namun, aku tahu maksud Aa itu baik. Aa yang kalap karena Ibu sulit sekali dilarang. Aa takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan pada Ibu. "Ma-maaf, maafkan Arya, Bu," lirih Aa perlahan mendekati Ibu. Detik berikutnya, Ibu sudah berada dalam dekapan Aa. Hal yang sangat jarang terjadi. Sejak masuk SMP, ini pertama kalinya Aa mengekspresikan kasih lewat pelukan. Pandangan Ibu kosong. Ada nyeri di ulu hati. Tapi, dekapan Arya mampu meredam itu semua. Setetes bening di pelipisnya jatuh. "Arya cuma takut kehilangan Ibu. Arya takut Ibu kenapa-kenapa," ungkapnya merendahkan suara. Dekapan itu dilepas Aa perlahan. Aa menatap dalam bola mata Ibu yang menunduk melihat ubin putih kusam yang sebagiannya sudah retak. Namun, senyuman Ibu tiba-tiba menghiasi wajahnya yang sayu. "Ibu mengerti. Ibu senang kalau Aa khawatir sama Ibu. Kalau begitu, kita cari Bapak sama-sama, ya," jawab Ibu tetqp bersikeras dengan niatnya. Merasa tak setuju, aku langsung menyahut. Bagaimana mungkin mencari orang lain saat keadaan gulita dan hujan deras. Teriakan sekencang apapun saat memanggil-manggil nama orang, mungkin tak akan terdengar. "Gak boleh. Kita tunggu aja Bapak, Bu. Nanti, aku sama siapa di sini?" Pungkasku membuat Aa dan Ibu menoleh. Firasatku mengatakan Bapak baik-baik saja. Mungkin ia kehujanan hingga harus berteduh sampai hujan sedikit reda. Akhirnya, Ibu mengalah. Menyandarkan diri di atas kursi peninggalan nenek. Aa kembali menemaniku menjaga lilin. Meskipun Aa sedikit cuek pada Ibu, tapi aku tahu kasih sayangnya begitu besar. Hanya saja, cara mewujudkannya berbeda. Dengan perasaan yang tak keruan kami menunggu hingga setengah jam berlalu. Sudah mau puncak malam. Namun, hujan masih enggan pergi dari langit khatulistiwa. Menahan kantuk, samar-samar aku mendengar suara gerobak Bapak datang. Suara khas yang membuat seisi rumah tersenyum saat ia pulang. "Bu.. Ibu.." Benar, itu suara Bapak. Kami bertiga segera beranjak dari tempat masing-masing. Membuka pintu yang tak dikunci karena menunggu kepulangan Bapak. "Ibu, aduh.." Suara Bapak kali ini tampak berbeda dari biasanya. Ibu membuka pintu dengan sigap. Sementara, aku mengambil handuk kering untuk dipakai Bapak, pasti ia kehujanan. Di tangan kanan Aa, sebuah gelas berisi air jahe buatan Ibu yang sudah dingin tersaji untuk Bapak minum. Bapak pasti kedinginan. Sebelah tangan kiri Aa memegang lilin untuk menerangi ruang. Saat pintu terbuka, kami semua melebarkan mulut melihat kondisi Bapak saat ini. "Bapak!" Teriak Ibu ambruk memeluk Bapak. BERSAMBUNG...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN