5. Lusuh

1333 Kata
Saat pintu terbuka, kami semua melebarkan mulut melihat kondisi Bapak saat ini. "Bapak!" Teriak Ibu ambruk memeluk Bapak. Refleks, aku mengikuti gerak Ibu. Menjatuhkan diri menghampiri Bapak yang kondisinya diluar dugaan. Ternyata firasatku salah. Bapak tidak baik-baik saja. Seolah lupa dengan hujan deras, Ibu ikut-ikutan basah. Menyadari hal itu, aa segera mengambil payung yang tergeletak di kursi. Memayungi kami yang masih berjongkok. Menerangi kelam dengan seutas cahaya lilin. "Astaghfirullah, Bapak. Apa yang terjadi?" Histeris Ibu membantu Bapak berdiri. Baju kaos dan celana komprang yang dipakai Bapak sangat kotor berselimut lumpur. Di pelipisnya yang mengerut, ada lebam berwarna hijau. Aku dan Ibu memapah Bapak yang berjalan gontai. Handuk yang sedari tadi kupegang langsung kulapkan pada wajah Bapak yang tah kuyup. Tak ada bagian kecil di tubuh Bapak yang selamat dari basahnya air hujan. Napas Bapak melemah. Tangan dan kakinya membeku seperti baru keluar dari dalam kulkas. "Ambil air hangat, Lin," titah Aa yang saat itu sibuk menambah nyala lilin di setiap sudut rumah. Aku segera berlari ke dapur. Mengambil wadah besar lalu menuang air dari termos ke dalamnya. Tak lupa, dicampur dengan air dingin dari ember agar suhunya hangat. Sebuah kaos tipis milikku, kuambil dari lemari. Untuk mengelap tubuh Bapak yang penuh lumpur. Sekejap saja, aku sudah kembali menghampiri Ibu, Bapak dan Aa. Ibu mengambil wadah yang sudah kusiapkan. Memasukan kaos, lalu memeras airnya. Dilapnya penuh kasih rambut hitam yang kini berubah cokelat karena gundukan tanah basah. Tangan dan kakinya dibersihkam oleh Ibu sampai tak ada yang tak terlewat. "Apa perlu Linza siapkan air hangat buat mandi?" Tanyaku disela-sela suara Bapak yang mendesis kedinginan. "Gak usah, Lin. Tubuh Bapak sedang drop, biar dilap aja. Siapkan makanan dan minuman hangat aja buat Bapak," suruh Ibu yang langsung kukerjakan pada saat itu juga. Kulihat Aa sedang menghangatkan air jahe yang telah dingin. Setelah panas, ia memberikannya pada Bapak. "Aduh, Bapak. Kenapa bisa begini, apa yang terjadi?" Tanya Ibu sambil terus menelusuri bagian tubuh Bapak yang kotor. Belum ada jawaban dari Bapak. Badannya masih lemah untuk menjawab pertanyaan Ibu. Tubuh ringkihnya bergetar hebat. Ibu beranjak menuju kamar, mengambil satu setel baju tidur hangat untuk Bapak. Setelah tubuh Bapak dibersihkan, Aa mengambil handuk miliknya untuk dipakai Bapak. "Ini, Pak, buat ngeringin tubuh Bapak," ujar Aa menyodorkan handuk tipis miliknya. Bapak menerima handuk dan satu set pakaian yang telah disiapkan Ibu. Ia berjalan menuju kamar masih dipapah oleh Ibu. Aku mendekati Aa yang saat itu berkaca melihat keadaan Bapak. Tangan kiri Aa mendarat di bahuku. Ia merangkulku erat. Kutatap wajah Aa yang sebenarnya membuatku sebal, tetapi ada kasih yang tersembunyi di sana. "Kasihan Bapak, A," lirihku pada Aa. "Doakan saja semoga Bapak baik-baik saja," jawab Aa pelan seraya melembutkan usapan tangan di bahuku. Menyalurkan ketenangan dan kedamaian. Ah, Aa, aku rindu sekali dimanja seperti ini. Terkadang, aku tak suka saat kau tumbuh remaja. Seperti lupa pulang, seringnya di luar terus. Lima menit kemudian Bapak sudah kembali ke luar kamar. Hujan mulai mengecil. Suara sambaran petir sudah tak lagi menyetrum gendang telinga. Lilin membakar dirinya sendiri sampai habis. Aa dengan sigap menggantinya dengan lilin baru. Aku dan Aa menyalimi Bapak yang tampak kelelahan. Telapak tangannya masih terasa beku. Kerutan di setiap telapak jemarinya menandakan Bapak terlalu lama kedinginan. Aa menyuguhkan segelas air jahe yang langsung Bapak teguk sampai tandas. Di tengah-tengah kami satu lilin menjadi pelita dalam gulita. Walaupun cuaca malam ini terasa menusuk tulang, tetapi dengan kepulangan Bapak suasana menjadi hangat seketika. Netra Bapak menangkap gorengan yang masih menggunung di sebuah piring besar. Ia menatap lekat piring itu, kemudian menoleh ke arah Ibu, aku dan Aa. "Kami sengaja belum memakannya, nunggu Bapak pulang," ucap Ibu membuat bibir Bapak terangkat. "Makanlah dulu, kalian pasti lapar," suruh Bapak melihat wajah kami yang terlihat lemas. Sebenarnya, bukan lapar yang sedari tadi kami rasakan. Justru, kecemasan pada Bapaklah yang membuat energi terkuras. Tak menghiraukan suruhan Bapak, Ibu langsung bertanya. "Sebenarnya apa yang terjadi, Pak?" Masih ada gurat kekhawatiran yang besar di wajah Ibu meski Bapak sudah berada di depan mata. "Tadi, gerobak Bapak jatuh ke sawah Pak Asep, Bu." Bapak menjeda ucapannya sekejap. Terdengar embusan napas pasrah dari hidungnya. "Dagangan Bapak semuanya jatuh bercampur lumpur. Saat Bapak mau menarik kembali gerobaknya, malah Bapak yang ikut terseret ke bawah karena licin. Karena keadaan gelap, Bapak jadi kesulitan naik ke atas dan membetulkan dagangan. Menunggu orang membantu mana mungkin. Keadaan sedang hujan besar dengan gelegar petir yang menakutkan. Akhirnya Bapak berusaha sekuat tenaga untuk bangkit dari kubangan lumpur sawah. Mencari senter di atas gerobak. Ketemu sih, tapi, tak lama senternya mati karena kehujanan. Ya, jadi Bapak seperti ini." Bapak masih berusaha tenang. Tak menunjukan kesedihan depan anak dan istrinya. Padahal, seluruh badannya seakan tertimpa besi. Kepalanya berdenyut. Badan menggigil. Tulang-tulang seperti diterobos es. "Astaghfirullah, Bapak, kami semua khawatir sama Bapak. Tadi Ibu mau cari Bapak, tapi anak-anak melarang," sahut Ibu cepat. Merasa bersalah karena tak ada di samping Bapak saat tertimpa musibah. Bapak tersebut seraya meraih tangan Ibu. Tatapan matanya hangat menyalurkan kedamaian di jiwa Ibu. "Baguslah, anak-anak berarti sayang sama ibunya," kata Bapak lalu mendesah pelan. "Maafin Bapak, ya, Bu. Dagangannya belum laku semua. Malah jadi rezeki cacing dalam tanah sawah. Bapak juga yang teledor. Sudah tahu hujan petir, masih nekat untuk berkeliling," sesal Bapak di ujung kalimatnya. Ya Allah, Bapak. Hanya karena dagangan masih menumpuk, beliau rela menembus hujan dan angin malam yang membahayakan bagi dirinya sendiri. "Lagipula, kalau hujan begitu siapa yang mau beli, Pak? Biasanya habis gak habis, Bapak jam sembilan sudah pulang," protes Ibu tak terima. Senyuman Bapak mengembang. Melemparnya ke arahku dan Aa yang serius mendengarkan percakapan mereka. "Bapak tadinya mau belikan hadiah buat A Satria dan Linza. Tapi, ya, sudahlah. Belum waktunya. Maafin Bapak, ya, Satria, Linza," papar Bapak sambil meringis memegangi keningnya yang lebam. Genangan air di pelupuk mata tak bisa kubendung. Lantas, aku langsung berhambur menuju pelukan Bapak. Sementara, Aa tampak berkaca-kaca. Betapa mulia keinginan Bapak untuk membahagiakan anaknya. Padahal, aku tak pernah meminta hadiah yang macam-macam. Ya, kalau ada, Alhamdulillah. Kalau gak ada, gak usah memaksakan. Ujung-ujungnya, kan, Bapak yang celaka. Itulah salah satu alasan kenapa aku tak banyak meminta pada Bapak dan Ibu. Takut jika akhirnya jalan yang ditempuh Bapak dan Ibu untuk mengabulkan keinginan anaknya membuat diri mereka tersiksa. "Bapak, terima kasih, ya. Bapak gak perlu memaksakan. Hadiah tadi pagi dari Bapak sudah sangat istimewa buat Linza." Air mataku membasahi baju Bapak yang baru diganti. Bapak mendekap erat tubuhku. Matanya melihat ke arah Aa yang memandang iba sang ayah. "Pak, Arya sudah besar. Tak perlu juga, lah, kayak gitu. Bapak cukupi kita semampunya aja. Jangan nyiksa diri," peringat Aa sedikit tegas. Mendengar ucapan Aa, Bapak melepas dekapanku. Ibu yang terenyuh mendengar niat Bapak hanya mampu terpaku di tempat duduknya. "Ya, tadinya kan Bapak juga mau membahagiakan anak-anak Bapak seperti ayah yang lain. Memberi hadiah atau ngajak jalan-jalan. Ya, minimal ke alun-alun, makan-makan bersama." Ibu menyela ucapan Bapak, "Pak, anak-anak sudah bahagia memiliki ayah seperti Bapak. Begitu pun Ibu, sangat bersyukur memiliki suami seperti Bapak. Benar, kan, Linza? Arya?" Aku dan Aa mengangguk cepat. Siapa yang tega melihat bapak sendiri celaka. Ah, bapak. Bertambah besarlah rasa sayang ini. "Tak perlu aneh-aneh, lah. Itu mah nanti kalau ada uang lebih. Yang penting sekarang Bapak pulang dalam keadaan sehat. Utamakan kesehatan dan keselamatan Bapak, ya," peringat Ibu membuat Bapak tersenyum tulus. Sudah lewat pukul dua belas malam. Tak ada lagi irama rintik hujan yang jatuh ke tanah. Ah, kenapa gak dari tadi saja redanya? Aku mengingat sedari sore perutku belum terisi. Saat perutku berbunyi, semua memandang ke arahku. Menyadari hal itu, aku terkekeh sendiri. Mataku memutar ke arah gorengan yang berjejer rapi di atas piring. Masih lengkap, belum ada yang menyentuhnya. Lalu, kutatap Ibu, Bapak dan Aa secara bergantian. Mengangkat kedua alis dan tersenyum lebar. "Linza lapar. Boleh ambil makanan sekarang, ya? Hehe," kekehku membuat semuanya tertawa. Setelahnya, kami saling bertukar cerita tentang hari ini seraya menghabiskan kudapan yang telah dingin. Meski begitu, semuanya terasa lezat dan nikmat. Sampai kami tertidur di ruang tengah karena asyik menghabiskan malam bersama hingga lilin pun habis membakar dirinya. BERSAMBUNG...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN