6. Beban Ibu

1185 Kata
"Linza lapar. Boleh ambil makanan sekarang, ya? Hehe," kekehku membuat semuanya tertawa. Setelahnya, kami saling bertukar cerita tentang hari ini seraya menghabiskan kudapan yang telah dingin. Meski begitu, semuanya terasa lezat dan nikmat. Sampai kami tertidur di ruang tengah karena asyik menghabiskan malam bersama hingga lilin pun habis membakar dirinya. ------ Usai pulang dari jamaah subuh, Ibu pergi ke rumah Pak Asep untuk meminta maaf jika ada sebagian tanaman padinya yang rusak akibat Bapak jatuh tak sengaja. Untungnya, Pak Asep tak mempermasalahkan. Malah, dia ikut berduka dengan kabar tersebut. Menjenguk Bapak untuk memastikan Bapak baik-baik saja. Tiga hari setelah kejadian itu, Bapak belum bisa berdagang. Tubuhnya masih lemah untuk bekerja. Tulang-tulangnya masih terasa sakit bahkan saat dibawa bergerak. Gerobak Bapak pun nyaris rusak. Banyak mur yang terlepas dan bagian kayu untuk mendorongnya patah. Untungnya bagian kaca hanya retak sedikit di ujung. Jadi, tak terlalu perlu banyak keluar uang untuk perbaikan. Hanya perlu mencari kayu untuk mengganti pendorong. Hasil dari dagang terakhir, Bapak membawa uang tak lebih dari lima puluh ribu. Tak cukup untuk menggantikan dagangan Bapak yang telah bercampur lumpur. Hanya jeruk nipis dan kecap dalam botol saja yang masih utuh. Siomay, bakso tahu, kol, kentang, telur rebus, bumbu kacang dan cabai tak ada sedikit pun yang tersisa. Terdengar dari bilik kamar, Bapak menyesali keteledorannya. "Maaf, ya, Bu. Gara-gara Bapak dagangan kita habis semua. Bukannya untung, malah buntung," sesal Bapak menggoreskan perih di hatiku. Aku semakin mendekatkan telinga ke dinding kamar. Merapatkan badan untuk menguping pembicaraan mereka. Meski Ibu telah mengajarkanku untuk jangan menguping pembicaraan orang lain, tapi aku tak bisa menahannya. Aku penasaran apa yang Ibu dan Bapak bicarakan. "Namanya celaka, siapa yang tahu, Pak." Ibu pasrah dalam kepedihan. Cobaan apa lagi yang Allah berikan pada Ibu. "Bapak bingung, besok mau jualan modalnya dari mana." "Kita bisa pinjam dulu ke warung Teh Ika. Pasti dia meminjami, kok," saran Ibu membuat Bapak mengerutkan alis. "Berhutang lagi, ya." Bapak, seseorang yang enggan meminjam uang pada orang lain. Khawatir tak bisa membayar, atau lupa hingga terbawa ke akhirat. Baginya, utang hanya akan mempersulit diri sendiri. Tapi, dalam keadaan darurat begini, ia harus mengenyampingkan ego. "Lagian kita hanya sesekali meminjam ke Teh Ika. Kalau pun pinjam, kan, kita selalu bayar. Gak apa-apa, lah, Pak. Teh Ika kan tahu Bapak habis jatuh. Ia pasti ngerti," tambah Ibu membuat Bapak berpikir ulang. Meskipun kami hidup kekurangan, tapi Ibu tak pernah meminjam uang ke orang lain atau berutang lauk dan sayuran ke warung. Kalau beras, Alhamdulillah selalu ada. Jika Ibu sedang tak masak, garam atau kerupuk saja cukup untuk mengisi perut keluarga. Terkadang, bakso tahu dagangan Bapak menjadi lauk untuk kami semua. Atau kami makan saat benar-benar tak ada stok makanan. "Apa gak ada jalan lain?" Bapak masih bersikeras tak mau berutang. Ibu mengambil napas panjang. Mengelus d**a sebelum menjawab pertanyaan Bapak. "Pak, mau dari mana lagi? Celengan Ibu telah habis dipakai makan tiga hari dan bayar listrik." Kali ini nada bicara Ibu agak tinggi. Kesal dengan Bapak yang menurut Ibu menyulitkan diri sendiri. Ibu keluar dari kamar meninggalkan Bapak yang mematung sendirian. Bapak melihat wajah Ibu yang cemas. Kasihan sekali paras cantiknya selalu murung. Padahal, dulu Ibu termasuk wanita yang paling jelita di desa. Menikah dengan Bapak, tak ada kesempatan untuk Ibu merias wajahnya sendiri. Teringat lima belas tahun yang lalu saat Bapak meminangnya pada kakek dan nenek yang kini telah tiada. 'Arlin yang cantik. Rambutnya tertutup hijab panjang. Meski hidungnya masuk ke dalam, ia tetap memesona dengan matanya yang mirip orang China disertai bibir tipis. Mata itu diwariskan pada buah cinta yang kedua. Pada Linza. Jua bibir yang bentuknya sama.' Tapi kini, wanita yang dipinangnya lima belas tahun lalu berwujud berbeda. Tetap cantik meski tanpa balutan makeup. Namun, tubuhnya kering digerogoti nelangsa. Bukan blush on yang menempel di pipinya, tapi cipratan minyak dan terigu yang menjadi teman setia sehari-hari. Bapak membatin sendiri. Merasa gagal memberikan nafkah lahir pada istri dan anak-anaknya. Lebih, bentakan Ibu baru saja menyadarkan bahwa selama ini Ibu tak pernah terpenuhi nafkahnya. "Maafkan Bapak, Bu," rintih Bapak sekali lagi. Terpaksa, Ibu pergi ke warung Teh Ika meminjam bahan baku untuk dagangan. Aku meneteskan air mata mendengar percakapan mereka. Sebegitu sulitkah hidup Ibu dan Bapak? Sementara aku dan Aa, tak pernah Ibu libatkan dalam kesusahannya. Tak pernah Ibu dan Bapak bertengkar di depan anak-anaknya. Aku selalu tahu dari caraku sendiri, menguping diam-diam. Sementara, Aa, akhir-akhir ini seperti tak peduli keadaan di rumah. Keluyuran dari pagi hingga petang. Menghabiskan libur panjang kenaikan kelas dengan dunia luar. Aku menenggelamkan diri ke atas kasur busa yang telah usang. Kutarik selimut tipis yang belum pernah diganti dari kelas satu SD. Biarlah bantal yang kutindih kuyup dengan hujan deras yang jatuh dari mataku. Membentuk bekas yang berjejak menambah ketidakelokan rupanya. Membanjiri tempat ternyaman tanpa suara. Setengah jam berlalu, terdengar suara pintu berderit. Tanda Ibu sudah pulang dari warung Teh Ika. Segera kuusap wajahku yang basah. Terlihat Ibu menenteng satu keresek hitam besar berisikan belanjaan untuk bahan dagangan Bapak besok. Di tangan kirinya, tampak satu plastik jengkol, sayap ayam dan bumbu dapur yang dibungkus oleh plastik putih. "Ibu habis belanja?" Tanyaku keluar kamar. "Iya, besok Bapak mau jualan lagi. Linza bantu Ibu, ya. Sepertinya hari ini Ibu bakalan keteter," pinta Ibu menyimpan keresek besar yang membebani tangannya. Untuk belanja bahan dagangan, memang sudah terlalu siang. Mungkin, karena perdebatan dengan Bapak Ibu baru bisa belanja jam segini. "Ibu baru beli jengkol sekarang. Kemarin, kan, Bapak masih sakit. Jadi Ibu repot kalau harus masak dan ngurus Bapak." "Iya, gak apa-apa, Bu. Padahal kan ada Linza. Kenapa gak nyuruh Linza aja," bantahku pada Ibu. "Takut masakannya gak enak," canda Ibu membuat bibirku mengerucut. "Ih, Ibu!" "Ini jatah kamu buat beli es krim sama Aa." Ibu menyodorkan uang berwarna ungu padaku. Lantas, langsung kuterima. Tak sabar rasanya membeli es krim cokelat yang bercorong itu. Gak apa-apa walaupun yang kecil ukurannya, yang penting keinginanku terpenuhi. Sekali lagi Ibu keluar rumah. Mengambil sesuatu dari teras. Sebuah keranjang besar berbahan plastik ditentengnya. Seperti keranjang tempat baju kotor. Apa ibu membelinya? "Ibu bawa apalagi?" Tanyaku memastikan benda yang dibawanya. Mengembus napas lelah, Ibu meletakan benda tersebut ke dekat pintu dapur. "Ini cucian punya Teh Ika. Ibu bayar belanjaan bahan dagangan buat Bapak dengan buruh cuci. Jadi, nanti kalau ada uang tinggal bayar sisanya saja." Dadaku kian sesak mendengar penjelasan Ibu. Wanita itu seperti tak pernah lelah. Apapun pekerjaan kecil yang menghasilkan selalu digarapnya. Sesekali, menjadi buruh cuci dan buruh setrika panggilan. Hari ini banyak yang harus Ibu kerjakan. Memasak jengkol dan ayam untuk keluarga. Mengolah bakso tahu dan siomay buat dagang besok. Mencuci pakaian milik Teh Ika. Belum lagi, beberes rumah dan mengurus Bapak. Ah, Ibu. Adakah orang yang lebih sabar dari seorang Ibu di dunia ini? Terbuat dari apa tubuhmu. Meski kerontang, mampu memikul pekerjaan yang begitu banyak. Terbuat dari apa jiwamu? Saat keadaan terhimpit pun, Ibu masih mampu tersenyum menutupi kesedihan. Apa sebenarnya kau bidadari dari surga yang Allah turunkan ke dunia? Tenang saja, Bu. Aku akan membantu pekerjaanmu hari ini sampai tuntas. Kalau bisa, biarkan aku mengerjakannya sendiri. Aku tak akan bermain dengan teman saat Ibu kesusahan. Aku siap menemani Ibu, membantu Ibu, meringankan beban Ibu bersama-sama. BERSAMBUNG...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN