Tenang saja, Bu. Aku akan membantu pekerjaanmu hari ini sampai tuntas. Kalau bisa, biarkan aku mengerjakannya sendiri. Aku tak akan bermain dengan teman saat Ibu kesusahan. Aku siap menemani Ibu, membantu Ibu, meringankan beban Ibu bersama-sama.
Pekerjaan yang menumpuk membuat Ibu membagi tugasnya denganku. Saat ia mengerjakan cucian milik Teh Ika, aku mengupas jengkol, membersihkan sayap ayam dan menyiapkan bahan-bahan sambal terasi untuk makan. Hanya itu yang bisa kulakukan sekarang. Untuk terjun langsung pegang katel di atas kompor aku memang belum bisa. Ibu belum mengajarkan sampai sejauh itu. Bukan dimanja ataupun malas, sebab saat Ibu memasak biasanya aku sedang berada di sekolah.
"Bu, ini sudah. Apalagi, ya?" Teriakku mengarahkan suara ke arah kamar mandi yang bersebelahan dengan dapur.
"Kupas aja kentang buat dagang Bapak. Sudah direbus kentangnya sama Ibu. Kalau udah, rebus telur, ya. Tapi, cuci dulu takut ada najisnya," pesan Ibu mengeraskan suara.
Segera kulaksanakan perintah Ibu. Mencuci telur lebih dulu agar bersih dari kotoran ayam. Selagi merebus telur, kukupas kentang yang sudah matang. Menyusunnya di atas baki besar.
Sebelum Aa memakai seragam putih biru, Aa pun sering membantu pekerjaan dapur. Aa tak merasa gengsi walau ia pria. Terkadang ikut mencuci bekas dagangan Bapak dan mengepel lantai. Aku jadi kesal saat ingat Aa. Sedang sibuk-sibuknya di rumah, ia malah kelayapan. Saat kutanyakan pada Ibu, jawaban Ibu selalu sama.
"Biarlah Aa mengetahui dunia luar. Dia itu laki-laki, Lin. Selama tak melakukan sesuatu yang aneh, gak masalah buat Ibu. Perihal pekerjaan di rumah, Ibu masih sanggup ngerjain, kok."
Tanpa sadar, kuremas kentang yang telah kukupas. Lalu memakannya dengan rakus. Mengutuk Aa yang membiarkan Bapak dan Ibu kesusahan di rumah. Kalau pulang, biar Aa kukasih pelajaran.
Ibu memerhatikanku yang tengah memandang kentang dengan membara. Ia mengernyitkan dahi. Mungkin, di pikirannya sekarang sedang bertanya-tanya, apa yang sedang dilakukan anak gadisnya.
"Lho, kamu ngapain, Lin? Lapar?" Tanya Ibu seraya mengeluarkan satu ember besar dari dalam kamar mandi.
Mendengar suara Ibu, wajahku menengok. Pipiku membulat penuh dengan kentang. Menelannya secara paksa untuk menjawab pertanyaan Ibu.
"Enggak," jawabku mengerutkan wajah.
"Ada apa, Nak? Kenapa gak seceria biasanya? Apa ada keinginan Linza yang belum terpenuhi?"
Aku mengembuskan napas. Menghentikan aktivitas sejenak. Semenjak libur sekolah, belum pernah main sekalipun dengan teman-teman. Sementara Aa, dengan bebasnya keluyuran tanpa tahu waktu.
Seharian ini memang mulutku irit berbicara. Jika biasanya aku yang paling menghamburkan suara, kali ini aku lebih banyak diam. Terlebih, setelah mendengar percakapan Ibu dan Bapak tadi pagi. Rumah serasa senyap.
"Nggak, Bu," jawabku menjaga perasaan Ibu.
"Ibu tahu, lho, mana Linza yang bohong, mana Linza yang jujur." Ibu mendekatiku. Melihat mataku yang terus menunduk ke lantai ubin.
Aku memutar kepala mencari alasan. Mengunci mulut beberapa saat hingga tak tega membiarkan Ibu terus merayu untuk berbagi cerita.
"Aa kemana, ya, Bu? Dari pagi belum pulang, lho."
Akhirnya kukeluarkan apa yang ada dipikiranku. Kukira, Ibu bakal marah atau mencari. Tapi, ia terlihat biasa saja. Padahal, sebentar lagi matahari hendak naik ke puncak tertinggi.
"Tumben, nanyain Aa," sahut Ibu datar.
Aku menghela napas. Kembali mengambil butiran kentang yang masih tertutup kulit. Kukuliti perlahan hingga bajunya lepas. Tak mau memperpanjang obrolan tentang Aa dengan Ibu. Biarlah, aku sendiri yang akan mencari kemana Aa selama ini. Bahkan, saat Bapak sakit dan Ibu kewalahan, Aa enak-enakan di luar. Berangkat subuh pulang petang.
Alasannya selalu sama pada Ibu. Sedang belajar banyak hal buat persiapan menuju SMA. Dikarenakan tak ada buku di rumah, jadi ia pergi ke rumah teman atau ke perpustakaan umum.
-----
Menu makan malam telah tersaji di atas tikar. Semur jengkol kesukaan Bapak. Sambal terasi dan sayap ayam goreng. Syukurku terukir sebab hari ini kami bisa makan enak. Tampak mata Ibu berbinar melihat sajian makanan. Parasnya begitu berkilau oleh keringat. Bagaimana tidak, seharian Ibu menggunakan tubuhnya untuk beraktivitas. Waktu istirahatnya hanyalah saat salat zuhur, ashar dan maghrib.
Bapak keluar kamar dengan langkah tergopoh-gopoh. Ia berusaha kuat karena esok akan berdagang kembali. Awalnya, Ibu melarang sampai Bapak sudah benar-benar sembuh. Tapi, Bapak menyangkal. Kalau Bapak tak jualan, mau makan apa?
"Ibu, Linza dan Satria bukan tanaman yang cuma cukup disiram air aja. Kalian itu manusia yang perlu asupan makanan. Kalau Bapak berleha-leha karena sakit yang tak seberapa, bagaimana kalian makan?" Bantah Bapak saat Ibu menyuruhnya untuk beristirahat sampai pulih.
Walau dengan jaminan Ibu yang akan menggantikan sementara peran Bapak. Menjadi kuli harian cuci baju dan setrika. Bapak tetap tak setuju. Itu bukan tugas Ibu, katanya. Tapi, kalau Ibu tetap mau melakukan, Bapak tak melarang. Namun, tetap saja yang berkewajiban menafkahi adalah Bapak.
Setelah duduk, Bapak menyadari makanan yang tersedia. Ia mendekatkan bibir menuju telinga Ibu yang bersebelahan dengannya.
"Semua ini, Ibu ngutang?" Tanya Bapak seraya melirik makanan yang sedang dibuka tutup sajinya oleh Ibu.
Ibu melempar senyum pada Bapak, kemudian ke arahku.
"Ini dari gadis kecil kita, Pak. Karena dia menjadi bintang kelas, seperti biasa, wali kelasnya kasih uang," jawab Ibu tersenyum.
Mendengar penjelasan Ibu, senyumku mengembang. Entah kenapa, aku selalu senang saat dipuji Ibu. Bapak membulatkan bibir tanda mengerti. Membuat benih-benih bangga hendak mekar dalam dirinya. Sekali lagi Bapak bertanya sesuatu.
"Satria mana, Bu?"
"Gak tahu, Pak. Mungkin masih di rumah temannya," jawab Ibu santai.
"Rumah teman?" Bapak menautkan kedua alis. Sebentar lagi matahari berganti bulan, tetapi Aa belum juga pulang.
"Aa mah udah biasa ngelayap kayak gitu, Pak. Kesel Linza mah, apalagi sejak liburan. Bukannya diam di rumah, malah kelayapan. Lihat, tuh, Ibu kecapekan," laporku pada Bapak.
Bapak berganti menoleh pada Ibu yang masih sibuk menyiapkan alat makan. Menuang air putih dari teko ke dalam gelas.
"Ibu gak tanya Satria kemana aja?" Bapak mulai menginterogasi Ibu.
"Sering, Pak. Arya cuma belajar di rumah temannya yang punya perpustakaan pribadi. Kalau gak salah di desa sebelah rumahnya. Wajarlah, di rumah dia gak punya koleksi buku. Kadang, dia juga pergi ke perpustakaan umum yang ada di alun-alun Cicalengka."
"Ibu percaya begitu aja?" Bapak terlihat tak yakin dengan alasan Aa.
Tak ada sahutan dari Ibu. Sebenarnya, Ibu pun kurang yakin dengan alasan Aa. Tapi, selama ini tak ada hawar-hawar Aa merusuh atau berbuat aneh di luar rumah. Jadi, Ibu tak terlalu mempermasalahkan. Lebih, hari-hari Ibu sudah sangat melelahkan. Jadi, tak ada tenaga untuk berdebat dengan Aa.
Pikiran Bapak melayang. Aa, anak sulungnya. Bagaimana kalau ia salah pergaulan karena seling di luar rumah. Bergabung dengan anak-anak yang malas sekolah. Penyalahgunaan n*****a atau minuman keras. Nauzubillah. Semoga saja Aa dijauhkan dari pikiran buruk yang bergelindai di benak Bapak.
Aku menambah fakta kepada Bapak, agar Ibu tak terlalu mengiyakan seluruh perkataan Aa.
"Aa juga sering telat datang ke sekolah, lho, Pak, Bu. Padahal kan berangkat dari sini pagi sekali."
Sekelumit topik tentang Aa menjadi bahan pembicaraan sebelum kami mengalas nasi ke dalam piring. Sesuai kebiasaan keluarga, kami menunggu Aa pulang sebelum makan malam. Aduh, Aa, kemana, sih? Perutku sudah demo minta jatah.
"Coba, Satria Ibu perhatikan lagi, ya, Bu. Bapak cuma takut anak kita terbawa pergaulan bebas kalau terlalu betah di luar rumah," ungkap Bapak lembut pada Ibu.
Aku mengingat, tadi pagi Bapak dan Ibu sedang beradu mulut gata-gara Bapak enggan mengutang. Tapi, secepat itu mereka berbaikan kembali. Terlihat tak ada masalah sama sekali. Atau mereka hanya pura-pura di depan anaknya saja?
Mendengar nasihat Bapak, Ibu cuma mengangguk pelan. Percakapan pun.berakhir saat sosok yang ditunggu datang juga. Dari balik jendela terlihat Aa turun dari sebuah motor. Entah punya siapa. Tapi, orang yang membonceng Aa aku tahu pasti siapa orangnya. Seseorang berambut ikal panjang dikuncir satu. Memakai baju hitam bergambar tengkorak dipadu bercelana jins bolong-bolong bagian lututnya.
Kenapa Aa bisa bersama dia? Dia kan dikenal sebagai preman pasar. Apa jangan-jangan.. Aa sudah berubah lingkar pergaulannya? Pura-pura tak melihat, aku berusaha bersikap biasa saat Aa membuka pintu. Masuk ke dalam lalu menyalimi Bapak dan Ibu. Bau keringat tercium dari bajunya yang lusuh sedikit basah. Saat Aa menyodorkan tangannya untuk kusalimi, segera ku julurkan lidah padanya. Tak menghiraukan tangan Aa yang masih mengambang.
Wle.
Sebal dengan Aa, kubiarkan Aa dan tangannya yang tak kuraih. Lantas, Aa mencubit pipiku yang bulat. Aku membalas memencet hidung yang serupa perosotan itu.
Bapak dan Ibu hanya menggeleng melihat kelakuan kami yang sering bertarung. Seperti kucing dan anjing.
Beberapa menit berlalu, aku dan Aa spontan berhenti saat pertanyaan Bapak terlontar di tengah kehangatan kami.
"Satria, boleh Bapak bertanya," izin Bapak membuat Aa mengakhiri usilnya
Sigap, Aa menatap Bapak seraya mengangguk kecil.
"Katanya, akhir-akhir ini Aa jarang di rumah, ya? Boleh cerita sama kami, Aa kemana aja seharian. Apa, sih, yang buat Aa betah di luar rumah lama-lama."
Aa mematung di tempat. Tubuhnya sedikit bergetar. Peluh keringat menetes di pipinya yang tirus. Tampaknya sedang ketakuan. Kenapa Aa? Padahal pertanyaan Bapak tak terkesan marah. Aku, Ibu dan Bapak mematung menunggu Aa membuka suara.
BERSAMBUNG...