8. Berita dari Teh Sari

1113 Kata
"Katanya, akhir-akhir ini Aa jarang di rumah, ya? Boleh cerita sama kami, Aa kemana aja seharian. Apa, sih, yang buat Aa betah di luar rumah lama-lama." Aa mematung di tempat. Tubuhnya sedikit bergetar. Peluh keringat menetes di pipinya yang tirus. Tampaknya sedang ketakuan. Kenapa Aa? Padahal pertanyaan Bapak tak terkesan marah. Aku, Ibu dan Bapak mematung menunggu Aa membuka suara. Salah satu hal yang paling kusenangi dari Bapak dan Ibu. Jika mereka bertanya sesuatu yang serius kepada anak-anaknya selalu meminta izin terlebih dahulu. Pun kalau sedang dalam keadaan marah atau anak-anaknya berbuat salah Bapak selalu bertanya menggunakan etika. Bertabayun lebih dulu sebelum menyalahkan. Jarang sekali kami mendengar cercaan dari mulut Bapak. Meski begitu, aku dan Aa tetap takut pada Bapak. Tetap tegas tapi tidak galak dan kasar. "Aa, jawab atuh pertanyaan Bapak teh," timpalku yang sebal karena seharian lelah bantu Ibu. Ingin sekali kumaki Aa sekarang juga. "Arya tadi disuruh sama Kang Firza, udah itu pergi ke rumah teman buat baca buku. Malu kalau bukunya dibawa ke rumah, takut rusak. Jadi Arya suka berlama-lama di sana," jawab Aa gugup. "Seharian di rumah teman?" Bapak tak yakin dengan jawaban Aa. "Enggak, dari zuhur. Paginya Arya bantuin Kang Firza ngangkat padi dari sawah ke rumahnya." Kang Firza adalah guru mengaji di kampung kami. Lelaki yang bergelar Ustadz itu lebih familiar dipanggil Akang oleh murid-muridnya. Istrinya, Teh Aina juga ikut mengajar anak-anak TK bersama Kang Firza. Bapak memang mengajarkan kepada aku dan Aa untuk selalu takzim kepada guru, apalagi guru mengaji. Selalu taat akan perintah guru. Karena disitulah letak keberkahan ilmu seorang murid dari gurunya. Saat seorang murid menghormati dan menghargai guru serta seluruh keluarga guru. Jangan pernah sepelekan jasanya walau hanya mengajari alif ba tsa saja. Dari kecil, aku dan Aa dititipkan kepada Kang Firza. Sampai besar, hingga aku dan Aa bisa melantunkan Al-Qur'an dengan baik. Karena kesibukan Ibu dan Bapak yang berjualan untuk menafkahi, jadi mereka tak bisa mengajariku langsung dalam memperbaiki bacaan Al-Qur'an. Kalau Kang Firza yang menyuruh, pasti Bapak tak pernah melarang. Apapun permintaan Kang Firza, selalu Bapak penuhi. Hanya saja, Bapak tak mampu secara materi. Jadi, Bapak sering sedekah tenaga kepada Kang Firza. "Kalau gitu, biar nanti Bapak tanyakan sama Kang Firza, ya. Dan jangan lama-lama di rumah orang. Malu, Satria. Walaupun rumah kita sederhana dan rumah teman kamu itu bagus, tetaplah tempat pulang terbaik adalah rumah sendiri." Obrolan itu cukup menutup percakapan sebelum makan. Aa hanya menunduk saja saat dinasehati Bapak. Ibu tak berbicara sepatah kata pun. Ia sibuk menuangkan nasi dan lauk ke dalam piring Bapak. Lalu, beralih pada piringnya sendiri. ----- "Aljannatu tahta aqdamil ummahat. Surga itu ada di bawah telapak kaki Ibu. Kenapa gak berada di bawah telapak kaki Bapak. Ada yang tahu?" Tanya Kang Firza di sela-sela ceramahnya malam ini. Aku mengacungkan jemari, lalu menjawab pertanyaan Kang Firza, "Karena Ibu yang hamil dan melahirkan kita, bukan Bapak, Kang. Kebayang kalau Bapak hamil, kira-kira keluarnya dari mana, ya." Celetukanku berhasil membuat teman-teman tertawa serempak. Juga Kang Firza sendiri yang menggeleng kepala di mimbarnya. "Nah, benar sekali jawabannya. Bukan hanya hamil dan melahirkan. Menyusui, membesarkan, mengurus. Semuanya Ibu lakukan. Jadi, letak surga yang paling dekat itu sebenarnya bukan sedekah yang banyak kepada yatim, bukan salat sunnah ratusan rakaat yang rajin, tetapi ada di rumah kita sendiri. Yaitu, ibu yang melahirkan kita. Janganlah jauh-jauh cari surga ke Kakbah, sementara Ibu kita sendiri tak dihormati..." Begitulah cuplikan ceramah yang Kang Firza paparkan saat ini. Aku mendengarkannya dengan saksama. Di seberang arah, kulihat Aa yang tampak menahan tubuhnya agar tak jatuh. Matanya merem melek menahan suatu keinginan tubuh yang tak bisa dikontrol. Aa mengantuk. Sepertinya ia kelelahan karena sudah keluyuran seharian. Temanku, Teh Sari, yang juga teman satu kelas Aa terkekeh melihat Aa yang oleng dengan kantuk yang menerpanya. Setelah acara pengajian selesai, tiba-tiba mata Aa kembali terbuka. Setelah keluar dari masjid, aku memanggil Teh Sari untuk bertanya sesuatu. Aa benar-benar harus diwaspadai. Aku harus mengawasinya lewat Teh Sari. "Teh Sari, Teteh tahu gak kenapa Aa suka telat ke sekolah?" Tanyaku berbisik agar tak terdengar sesiapa. Takut jika Aa tiba-tiba muncul di hadapan. Teh Sari memainkan bibirnya. Mengingat sesuatu yang samar dari pikirannya. "Alasan pada guru, sih, dia banyak kerjaan di rumah. Membantu Bapak dan Ibu untuk berdagang. Tapi..." Teh Sari menjeda ucapannya. Seperti ragu menyampaikan sesuatu. "Kenapa teh?" Tanyaku tak sabar dengan jawabannya. Sebelum menjawab Teh Sari mengedarkan pandangan. Memastikan tak ada Aa di sekitar kami. "Tapi waktu aku pergi ke pasar sama Mama kemarin, aku sempat melihat Arya di kerumunan. Em, Arya.. Arya tampak sedang bersama A Edi. Entah benar Arya atau bukan, karena situasinya ramai jadi aku gak terlalu jelas melihatnya. Eh, tapi, kamu jangan bilang tahu dari aku, ya. Aku takut disalahkan sama Arya." Teh Sari tampak cemas jika nanti Aa marah dia terbawa-bawa. "Iya, aku gak akan bilang siapapun. Hatur nuhun infonya, ya, teh. Kalau ada info lain, kasih tahu aku, ya. Aku jaga rahasia, kok," ucapku membuat Teh Sari bernapas lega. Jadi benar yang kulihat saat Aa dibonceng seorang lelaki. Itu adalah A Edi, orang yang dikenal sebagai preman pasar. Sebenarnya A Edi berasal dari orang berada, tetapi karena orangtuanya bercerai, jadi ia lebih sering berada di pasar bersama pengamen dan jajaran preman. Akhirnya, A Edi jadi terbawa-bawa. Tubuhnya jadi penuh tato. Terpasang anting pula di hidungnya. Setelahnya, aku kembali ke dalam masjid untuk mengajak Aa pulang. Setelah jamaah isya, Aa sibuk dengan sebuah kitab suci di tangannya. Panggilanku membuat Aa mengakhiri bacaannya. Sepanjang perjalanan, Aa merangkul bahuku. Sesekali mengusili memencet hidung. Dicubitnya pipiku yang bulat. Kucubit lengan Aa sebagai balasannya. "Aa, Linza mau nanya. Tapi jawabnya serius, ya." "Apa?" "Kalau sekolah Aa kan suka berangkat sangat pagi. Terus, kalau libur Aa juga suka keluar rumah sedari subuh. Pulang sore, bahkan petang. Sebenarnya, Aa kemana, sih?" Aku berlagak tak curiga apapun. Agar Aa terbuka dan berterus terang. Kutunjukan wajah manisku pada Aa. "Anak kecil banyak nanya!" Aa mengacak-acak kerudung yang kupakai. "Ih, Aa. Linza nanya serius!" "Kamu mau tahu?" "Iya, beneran, ih. Saat Aa gak ada, Ibu kecapekan, tahu. Apalagi pas Bapak sakit. Aku juga habis tenaga membantu Ibu. Kok, aku jadi mikir kenapa Aa kelayapan mulu." Aku berterus terang mumpung suasana hati Aa terlihat baik malam ini. Aa mendecak. Enggan menjawab pertanyaanku dengan serius. Ia terus bercanda dan mengusiliku sampai rumah. "Bayar dulu dong kalau mau tahu," usil AA memencet hidungku sampai benyek. Lalu, Aa berlari menghindar dari balasanku. Aa memang menyebalkan. Selalu membuatku kesal. Awas aja! Nanti pasti kubalas. Aku membiarkan Aa berlari lebih dulu untuk sampai rumah. Malam ini tubuhku kelelahan untuk membalasnya. Tapi, tenang saja. Aku tak akan lepas memata-matai Aa. Apapun yang Aa sembunyikan pasti akan cepat ketahuan juga. Jangan sampai lengah jika Aa pergi. Sekali-kali aku harus mengikutinya. BERSAMBUNG...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN