* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Sepulang Aya dari toko roti Althaf Bakery tempatnya bekerja, dia memang sengaja segera pulang. Bahkan sekalipun dia tahu tidak ada makanan yang bisa dia konsumsi untuk makan malam hari ini, dia tidak peduli. Dia tidak menyempatkan untuk mampir kemana-mana barang sedetik. Saking khawatirnya, tadi saat di tengah jam kerja, Aya berkali-kali mengecek ponsel, berkali-kali mengirimi pesan singkat kepada Agas. “Gas, kalau ada apa-apa langsung telepon aku, oke? Hapeku gak aku silent.” “Gas, tidur, ya? Jangan main hape.” “Gas, air putihnya aku siapin di nakas, loh, tadi. Kalau bisa banyak minum air putih, ya.” “Gas, demamnya mendingan, gak?” “Gas, aku uda

