RAJA UNTUK RATU - MULAI BALAS DENDAM
Ketua kingster ini memiliki penampilan luar biasa, terukir wajah itu dengan sempurna tanpa salah, membuat gadis-gadis manapun akan menoleh berkali-kali untuk mengucapkan kagum disaat melihatnya. Ketua kingster itu juga dikenal sebagai sesosok pria dengan jutaan misteri yang kehadirannya akan ditakuti, namun itu semua mungkin belum berlaku untuk gadis imut mata abu-abu yang terkenal dengan sifat keras kepalanya tersebut.
Belum bukan berarti tidak mungkin.
Langkah sosok Raja berjalan menyusuri koridor milik kelas duabelas tersebut dengan seorang diri, dan entah untuk apa, namun ketua kingster itu sengaja menampakkan diri karena alasan tertentu.
Dengan senyum misterius itu telah terukir sejak dirinya melihat sosok gadis yang telah mengusik hidupnya, membantah ucapannya, dan yang telah menatapnya tanpa ada rasa takut sedang berada diluar kelas.
"Ratu Grathavia, jangan duduk disitu, nanti lo jatuh kebawah." Ujar Novela sambil menatap was-was sahabatnya itu yang tengah duduk diatas pagar pembatas koridor yang berada di lantai tiga sekolah.
"Bentar aja kok, fotoin gue dong." Bantah Ratu seraya memberikan ponselnya pada Novela.
"Ingat ya Ratu, jiwa berani lo nggak akan bikin lo slamet kalau jatuh dari sini. Lagian lo juga phobia ketinggian, jangan macem-macem, deh." Peringat Grabilla lagi.
"Bawell, deh, lo berdua. Cepet fotoin mumpung gue berani, nih sekalian gue pas pake celana olah raga.
"Udah jangan bacot, buruan!" Imbuh Ratu lagi.
mau gimana lagi, dengan hembusan nafas pasrah, Novela hanya menurut dan segera memasang posisi untuk memotret Ratu.
Takk!
Menemani Ratu artinya sama dengan mencari masalah baik itu yang disengaja ataupun tidak disengaja. ketiga mata gadis itu terbelalak lebar saat sampah botol air mineral yang dilempar oleh Ratu itu bukannya mendarat di tempat sampah melainkan mengenai kepala seseorang.
Raja justin.
Matanya tajam langsung mengintimidasi Ratu tanpa ampun, membuat nyali gadis itu tiba-tiba menciut.
"ehh, gue nggak sengaja." Ucap ratu terbata dengan senyum kakunya.
"apaa, nggak sengaja?" Tanya Raja pelan, namun terlihat menyeramkan.
Dan masih dengan tatapan yang sama, Raja melangkah mendekat kearah Ratu yang masih terduduk diatas pagar sambil berpeganggan tiang disebelahnya. Nafas Ratu mulai memburu, antara takut dan entahlahh... dirinya hanya merasa bahwa jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya.
Semakin lebih dekat, hingga Ratu dapat mencium dengan jelas aroma pewangi yang dipakai oleh sosok Raja didepannya tersebut, semakin membuat Ratu mencengkram kuat tiang disampingnya.
"Tolong, jangan mendekat." Ujar Ratu namun tak dihiraukan oleh sosok Raja.
"Jangan mendekat!"
Cepp !
Tangan yang kokoh itu dengan sigap langsung menangkap tangan gais yang tergelantung dibawah sana, membuat setiap pasang mata yang menyaksikan hal tersebut dibuat terkejut. Ratu semakin histeris saat Raja hanya menggapai tangannya namun tak membuat gerakan menarik disana.
"Ratuu!" Pekik Novela dan grabilla bersamaan.
Kaget keduanya langsung berlari mendekat dan melihat keadaan Ratu yang bergelantungan dengan harapan tangan kekar Raja.
"Ratu." Pekik Novela lagi yang semakin khawatir karena mengingat sahabatnya tersebut itu takut ketinggian.
"Rajaa, Please, Tarik tangannya Ratu, kenapa lo diem aja?" Tanya Grabilla yang tepat disamping sosok Raja tersebut.
"Nanti biar dia tau bahwa gue bukan hanya penyelamat, namun juga mampu menghakimi nyawa." Raja tersenyum sinis, merasa menang dihantinya.
"Mohonn, Please, bantuin gue." Ratu mendongak keatas, menatap penuh harap kepada sosok Raja tersebut.
Masih sama, tidak ada pergerakan sama sekali, membuat mereka semua heboh dan semakin membuat Novela dan Grabilla panik sampai uring-uringan.
"Gue nggak kuat, gue takut pada ketinggian." Ucap Ratu lagi.
"Turutin kemauan gue, atau gue lepas." Ucap Raja masih dengan senyum sinisnya.
Rasa pusing yang sudah mulai menyeruak beserta tangannya yang sudah semakin sakit, tanpa sadar Ratu mengangguk untuk Raja.
"Iyaa, tapi bantuin."
Terdengar suara gadis itu kian mengecil, sorot mata sendunya kini kian meredup, seakan keberaniaannya tengah meninggalkan dirinya sendirian. Dan tanpa basa-basi, Raja langsung menarik tangan Ratu yang semakin lemah itu dan. mendekapnya saat gadis itu sudah terselamatkan.
Tatapan mata abu-abu terang milik Ratu perlahan naik menatap sang ketua kingster dengan pandangan sulit diartikan. Tatapan keduanya tersorot dengan perasaan bergejolak masing-masing apalagi netra coklat milik Raja itu turut menatapnya teduh.
Bolehkan Ratu jujur? Entah mengapa saat diposisi ini ia merasa nyaman dan tenang, seakan dirinya sudah mendapatkan gambaran tentan dimana ia akan bersandar. Namun semua pikiran itu buyar, saat suara sahabatnya yang lain memecah keheningan mereka.
"Ratuu, lo nggak papa, kan?" Tanya Grabilla yang masih terlihat cemas.
Ratu tersenyum lemah, Gadis itu setidaknya sudah menampilkan senyuman manisnya sebelum semuanya gelap.
••••
Ratu mengejapkan matanya perlahan, gadis itu langsung memegang kepalanya yang berdenyut nggak karuan.
"Udah sadar lo?" Ucap seseorang dengan datar yang kembali terdengar seperti sedang menghakimi sang Ratu.
Ratu melihat sosok didepannya, dengan indahnya langsung menangkap sosok tampan yang menjadi incaran para gadis dilingkungan sekolahnya.
"Menurut lo gimana?" Balik tanya Ratu dengan sinis.
"Gue kesini cuma mau ingetin, kalau lo ada utang sama gue "
Ratu kembali menatap Raja, gadis itu seperti tidak mengerti.
"Lo lupa yaa?" Tanya Raja yang membuat Ratu nampak berpikir keras terlihat dari gerutan-gerutan tipis didahinya.
"Mau turutin kemauan gue, atau gue lepas."
"Iyaaa."
Ratu teringat sesuatu, yang membuat gadis itu melayangkan pandangan tidak suka pada Raja.
"Lo kan yang buat gue jatuh, ya harusnya gue yang minta ganti rugi!" Ucap Ratu ngegas.
"ehh, Jangan jadi pecundang yang lari dari kenyataan." Jawab Raja untuk terakhir kalinya karena pria itu kini telah melenggang keluar dari ruang UKS yang merupakan tempat dimana Ratu terbaring.
"hmmm! Sialan!" Ratu menggepalkan tangannya, pria itu kini kembali merendahkan dirinya.
"Kenapa Ratu ?" Tanya Grabilla yang mendengar ucapan Ratu saat kedua gadis itu ingin masuk kedalam ruang UKS.
"Gue laper nihh, kita kekantin yuk." Ucap Ratu yang langsung beranjak pergi tanpa menunggu jawaban dari sahabatnya tersebut.
Saat itu suasananya berbeda, kini kelima dari kelompok kingster itu tengah menyantap makanannya di tahta yang biasa mereka duduki. Seperti biasa, jika tidak beradu mulut, maka hidup mereka akan terasa hambar.
"Sebel banget gue, masa gue ngerjain tugas semaleman tanpa tidur pas paginya dikumpulin nggak dapat nilai bagus, cuma dapat paraf doang, mana buriq lagi." Ucap Geo dengan mengunyah makanan dimulutnya.
"Makanya, kalau kata gue janji jam sebelas itu tandanya jam sebelas udah sampe ditempat janjian, bukan jam segitu lo baru nongol." Celetuk Boby yang juga merasa kesal.
"Emang lo nggak ngeliat, noh jalanan macet semua." Imbuh Geo sedang membantah.
"Itu sih, kata lo yang sengaja bikin macet jadi alasan." Celetuk Alex yang semakin menyudutkan Geo.
"Ehh, lo semua ada dendam apa, sih, sama gue?" keliatan banget pengen gue sengsara.
"Ribut terus ini anak." Ucap Nicho dengan santainya sambil menikmati makanan didepannya.
Pandangan Alex tertuju pada sosok yang sejak tadi diam menatap pepohonan sekolah yang seakan sedih karena musim kemarau panjang akan datang. Perlahan cowok dengan lesung pipi itu menyentuh bahu Raja pelan yang membuat gerakan terkejut dari Raja.
"Kenapa sama gadis itu?" Tanya Alex yang membuat bingung kelompok itu namun tidak dengan si Raja.
"Itu kan urusan gue." Ucap Raja dengan tatapan sulit diartikan pada Alex.
"Tapi jangan jadikan dia mangsa lo, dia cuma gadis somplak yang nggak tau pijakan.
Raja pun terkekeh, "Seharusnya dia sadar diri kalau dia salah berpijak dari awal, bukan malah memilih untuk melawan gue."
"Apa mungkin dia hanya bercanda."
"Bukannya bercanda dengan merendahkan itu kata yang berbeda, namun punya postur yang sama. Dia bergurau sekalian menilai gue.
"Tenang, kendalikan emosi." Ucap Alex lagi yang terdengar seperti terus membujuk.
" justru dari itu, tidak tahu jangan menghakimi!"