Hari ini keadaan kantin memang bisa dibilang tidak terlalu ramai, namun kedatangan sosok Ratu dan kedua sahabatnya mampu membuat suasana kantin yang awalnya sunyi menjadi ricuh dalam sesaat, karena orang-orang disana tengah mengintrogasi atas kejadian tadi pagi, itu karena mereka mengira bahwa Ratu ingin bunuh diri karena tidak sanggup berurusan dengan sosok ketua kingster.
Kehadiran Ratu tentu tak luput dari sorotan mata milik seseorang, yang kini tengah dusuk dipojok kantin dengan menampilkan pesona tatapan tajamnya pada Ratu, yang ditatap hanya biasa saja, bersikap seolah tak pernah terjadi apa-apa.
"Nih Ratu mau makan apa?" Tanya Novela pada Ratu yang sedang bermain dengan ponselnya.
"Ngikut aja, Terserah." jawab Ratu cuek.
"Jangan terserah, nanti kalau salah gue yang diomelin."
Sang Ratu menghela nafas sesaat, netranya yang ingin memandang Novela malah beradu dengan mata tajam yang sejak tadi senantiasa masih menatapnya.
Ratu terdiam, mulutnya yang ingin terucap tiba-tiba berhenti, entah perasaan apa yang sedang merasuk kedalam hatinya, namun sorot yang berubah teduh itu berhasil menghilangkan fokus Ratu. Semakin aneh dan semakin dalam, perlahan masuk menyebarkan gemuruh tersendiri.
"Heehhh!! Malah ngelamun. Hati-hati kesambet lo nanti.
Omongan Novela, lagi-lagi mengganggu momen yang telah Ratu buat, gadis itu terlihat kembali menghela nafas kasar.
"Bubur aja, dehh." Jawab Ratu cuek.
"Ratu mau bubur apa? bubur ayam kan?"
"Yaa jelaslah."
"Yaudah lah, gue pesen dulu."
Novela menghentakkan kakinya dan melenggang pergi dari hadapan Ratu dan Grabilla, namun gadis itu masih sempat mencibir Ratu atas kekesalannya.
"Ehh... Ratu, Rambut gue bagus nggak?" Baru gue warnain, nihh." Tanya Grabilla dengan menaikkan kedua alisnya secara bergantian.
Posisi Ratu yang sejak awal masih menatap layar ponselnya, berganti meneliti obyek didepannya dengan kening tertekuk.
"Sejak kapan lo ganti warna rambut?"
"Kemarin. Gimana, bagus nggak?" Ulang Grabilla lagi seraya memilin-milin ujung rambutnya.
"Lo kelihatan cantik, njirr."
"Kalau muji jangan sambil ngatain dong, Ratu." Grabilla mengerutkan bibirnya kesal.
"Serius, cantik banget, malah."
"Ya tau, sama-sama!"
Kemudian Ratu terkekeh pelan, menjahili temen-temennya adalah hal yang memang harus ada didalam kehidupan Ratu. Gadis itu cukup kesepian, mungkin ini cara terbaik intuk menutupu hingga membuat orang lain menyangkanya tidak sopan.
Terkadang, mereka yang sering menertawakan hal sepele adalah mereka yang sedang kesepian.
Sosok Ratu hanya gadis biasa dengan jutaan pesona yang meninggalkan jejak, menjadi pejuang cinta didalam diam, membuat Ratu terus merasakan rasa sakit yang kian menghantam perasaan dihidupnya.
Mungkin lelah hati dan fisik.
Ratu Grethavia adalah pecundang yang tidak berani mengungkapkan, namun tidak semua rasa mudah diutarakan, semua memiliki keterbatasan tertentu.
Ketakutan mungkin telah mengajarkan Ratu untuk diam dan menjadikannya seorang pengecut yang tersiksa. Maka dari itu, mulai sekarang Ratu tidak akan membiarkan atas dasar ketakutan yang membuat dirinya kembali menjadi lemah.
Sebagai, apapun itu.
"Boss, lo liatin apa, sih?" Celetuk Geo tiba-tiba yang membuat pusat perhatian Raja teralihkan.
"Hayyoo, liatin gadis imut, ya?" Imbuh Geo lagi.
"Itu calon istri gue, main imut-imut aja lo." Sahut Boby yang duduk tepat disamping Geo.
"Tau diri dong, ya. lo kan nggak punya nyali gue saranin lo mundur aja, deh." Imbuh Geo.
"Hahaha, maap nii, ya! Meskipun gue nggak punya nyali, Harta gue buat tujuh turunan kaga bisa habis-habis." Sahut Boby lagi yang tidak mau mengalah seraya membusungkan d**a.
"Idihh, bacot lo. Utang sama gue aja belum bayar-bayar."
"Ada pepatah mengatakan, Barang siapa yang mempersilut temannya ntar bakal dipersulit saat presentasi.
"Brisikk, ya lo!"
Satu kata yang keluar dari mulut sang Raja kingster itu mampu membungkam mulut keduanya yang brisik. Raja langsung beranjak pergi dan melangkah mendekat kearah dimana tempat Ratu tengah menyantap makan siangnya dikantin.
Merasa ada yang menghalangi cahaya dari belakang, Ratu mendongak dengan mulut yang masih mengunyah makannya, membuat gadis imut itu kian menggemaskan.
"Ikut denganku!"
"Heh?" Ratu terlihat beberapa kali mengerjap, gadis itu tidak mengerti dengan apa yang sosok didepannya itu katakan.
Tidak basa-basi dan tanpa persetujuan apapun, Raja langsung menarik tangan sang Ratu yang membuat gadis itu terperanjat kaget.
"Hah, lo mau ngapain, sih?" Tanya Ratu tidak santai dengan mulut yang masih terisi penuh oleh makanannya.
"Dikunyah dulu baru ngomong." Ucap Raja datar masih dengan menggandeng Ratu menuju kesuatu tempat.
"Ehh, lo bisa sabar dikit, nggak?" Kesal Ratu saat Raja telah menghentikan langkah panjang mereka di ujung koridor yang sepi.
"Gue mau nagih." Raja terlihat santai, bahkan merasa tak terusik dengan kekesalan Ratu.
"Nagih apaan lo? Emang gue punya utang sama lo?"
"Janji lo yang tadi."
Ratu melirik Raja sesaat,
Diihhh, ini cowok masih ingat aja. Batin Ratu yang dongkol sendiri.
"Gue nggak punya uang, gue cuma punya nyawa." Jawab Ratu sambil cuek.
"Jadi pembantu gue."
Ucapan Raja barusan itu telah membuat Ratu membuka mulutnya lebar-lebar tidak percaya, nampaknya Raja benar-benar memiliki dendam sangat pada Ratu.
"Ogah, Banget!" Sok kuasa banget main perintah gue jadi babu lo seenaknya!!
"Gue nggak mau!" Tolak Ratu mentah-mentah.
"Nurut aja, karena itu lebih baik untuk masa depan lo, Ratu Grethavia." Raja tersenyum sinis dengan mata elangnya yang terus menusuk Ratu, seolah memperingatkan dirinya tidak sedang bercanda.
"Gue sering melihat penjahat, tapi nggak ada yang seperti lo kayak gini."
"Gue juga sering mendengar orang berkata sepatah, tapi nggak ada yang seperti lo."
Raja menirukan asosiasi Ratu yang membuat gadis pongah dengan surai panjang tergerai itu kian memanas dengan tangan yang mulai gatal ingin menjambak jambul milik Raja.
"Mulai besok, Pagi-pagi lo harus udah datang disekolah." Tutur Raja lagi dengan tepukan kasar pada pipi Ratu sebelum dirinya beranjak menjauh.
"Ogah, bodo amat, gue nggak mau!" Teriak Ratu yang tak diindahkan oleh Raja.
Bukan hanya Ratu saja yang merasa kesal , namun barang-barang disekitarnya pun seolah dapat mendengar pembicaraan keduanya dan turut berduka.
Ingin rasanya Ratu kembali memutar waktu, yang dimana ia belum pernah dan tidak akan mau untuk bertemubdengan sosok menjengkelkan, keras kepala seperti Raja.
Sialnya, ia telah terjebak sekarang.