Pada saat itu suasana sekolah, belum bisa membuat mata sang gadis itu membuka sempurna. Rasa ngantuk yang kini tengah dialami sang Ratu diakibatkan oleh kemauannya sendiri.
Sosok gadis jelita pemilik anugrah cantik itu sengaja tidur larut malam agar dirinya terlambat pergi kesekolah dan berujung bersantai dirumah. Namun keberuntungan seperti sedang menjauhinya, disaat yang sudah direncanakan, ponselnya berdering dan mendengarkan suara seseorang yang tengah mengancamnya.
"Ingat, Turuti atau tidak ada kesenangan sama sekali."
Sosok penelpon bicara seperti itu.
Santai dengan kedua tangannya yang terlipat rapi diatas meja, Ratu menelungkupkan wajahnya disana. Baru saja ingin memasuki dunia mimpi, sebuah tarikan kasar membuat Ratu terkejut kaget dan meringis kesakitan.
Ratu mendongak, ditatapannya Raja yang sedang berdiri angkuh dengan bersedekap d**a.
"Lo ada urusan apa sama gue, hah?"
Tanpa basa-basi dan tidak membutuhkan waktu lama untuk mengalihkan perhatian jika sudah bersangkutan dengan seorang Raja yang memang tampilannya sudah dikenal, apalagi suara Ratu dengan tidak santainya bukan seperti melemparkan pertanyaan namun sebuah bentakan.
"Idihh, kalem dong, okay... tarik napas dikit, buang... huh..." Intruksi Novela yang membuat Ratu turut melayangkan tatapan pada gadis itu.
"Ayoo, cepat!" Tanpa menunggu lama lagi, Raja langsung menarik lengan sang Ratu yang membuat gadis itu kelimpungan.
"Mau kemana, sih?" Tanya Ratu.
"Bawel lo."
Dan selepas mengatakan hal tersebut, Raja kembali fokus pada langkahnya yang akhirnya membawa gadis itu menuju taman belakang sekolah.
Setelah itu ratu dipaksa agar gadis itu duduk dibangku taman, dengan gerakan tak terbaca, Raja langsung melemparkan buku yang tertulis kepada Ratu tanpa menoleh, disaat Ratu ingin memprotes, tiba-tiba ponsel yang berada didalam saku celana Raja berdering, membuat cowok dengan jambul itu segera merogoh ponselnya.
Terlihat nama Alex disana, Raja melirik Ratu sejenak sebelum cowok itu pergi dengan meninggalkan sebuah pesan pada Ratu.
"Ingat, kerjain! Jangan pergi sebelum selesai."
Ratu yang ingin membuka suara, harus mengurungkan niatnya karena cowok menyebalkan itu sudah lebih dulu meninggalkan tempat itu.
"Ogah, dah, dikata gue pinter apa. Gue kerjain asal-asalan aja biar nilainya jelek tu orang." Ratu nyengir disertai senyuman jahat.
"Ada apa?" Tanya Raja saat mereka berdua sudah ada digudang kosong milik sekolah.
"Alfi ngajak kita bertemu digudang tua hari ini." Jawab Alex yang juga tidak basa-basi.
"kapan?"
"Pulang sekolah."
Raja pun mengangguk dan menyetujui pertemuan tersebut, sorot matanya mulai menajam menatap kesembarang arah dengan guratan urat dilehernya yang tercetak jelas.
"Gue masih bingung dengan apa yang lo omongin sama Alfi waktu itu." Celetuk Geo dengan pandangan penuh tanya kepada Raja.
"Bener, sekali. Sebenarnya lo ada dendam kesumat ape, sih, sama Alfi?" Imbuh Nicho.
"Ya kan, kita semua tahu kalau anak-anak Kingdom itu memang suka cari masalah sama kita, tapi gue rasa ada yang lain diantara lo sama Alfi." Lanjut Nicho.
"Setidaknya itu bukan urusan kalian." Sarkas Raja dingin.
Geo dan Nicho hanya saling pandang, keduanya sama-sama menggidikan bahu tidak mengerti.
"Boss, kalau misalnya lo punya masalah, bisakah cerita sama kita-kita semua." Boby nampak menyentuh pelan bahu sosok sang ketua Kingster itu.
"Bener, itu, kita disini kan sahabat yang selalu ada buat lo. Jangan dipendam sendiri, nanti kalau ada apa-apanya kita semua yang bakal repot." Tutur Geo, cowok yang sangat konyol itu akan berubah serius ketika sudah menyangkut dengan perasaan.
Kingster disekolah itu terkenal dengan perkumpulan anak-anak kejam yang tidak punya nurani, namun itu hanya kedok semata yang menutupi betapa hancurnya perasaan dari beberapa anggotanya tersebut. Kingster seperti rumah yang tidak terlihat namun mampu menghangatkan semua orang-orang didalam anggotanya, saling berbagi dan bekerja sama itu sudah menjadi pedoman dikelompok Kingster.
Tidak ada orang yang boleh menilai jika hanya baru mendengar namanya sebelum mereka berani menyelami. Terkadang dalam pertarungan jati diri mereka, diri kita sendirilah yang memang menjadi petarungnya, dan support orang tua adalah motivasinya, entah itu bagus atau tidak, entah mereka bangkit lagi sendiri dan mencari pelatih yang tak kunjung terlihat.
"Semuanya baik-baik saja, Lo semua aja yang terlalu ambisi berlebihan." Jawab Raja mutlak dan berharap tidak ada lagi pertanyaan yang mengusik hidupnya.
Saat itu Bel pulang sekolah milik SMA swasta Sriguna sudah berbunyi beberapa menit yang lalu, membuat semua anggota Kingster itu keluar dengan langkah keren nya dari penampilan masing-masing mereka.
Ratu yang sejak tadi ditinggal Raja tanpa pamit, tiba-tiba netra gadis itu berbinar saat melihat Raja yang baru saja melangkah turun dari tangga menuju lapangan.
"Ehh, stop!" Cegah Ratu dengan merentangkan kedua tangannya menghalangi jalannya sang ketua Kingster.
"Nihh, buku lo." Ucap Ratu lagi dengan menyodorkan sebuah buku pada Raja.
"Lo bawa pulang aja, sekalian jadiin PR." Ujar Raja yang kembali melanjutkan langkahnya.
"Lohh! Tunggu dulu, enak aja kalo ngomong main pergi aja." Cegah Ratu lagi yang membuat Raja menatapnya malas.
Ratu mengulurkan tangan kosongnya dan berbicara keras, "Mana imbalan lo ke gue?!"
"dihh, itu gadis imut sangar banget." Celetuk Geo tiba-tiba.
"Sangar-sangar pale lo! Itu calon pacar gue bisa kena masalah sama Raja." Imbuh Boby dengan menatap tidak mengerti pada sekitarnya.
"Dahh, diemin aja, omongan si Geo." Sahut Nicho yang ikut menambah keributan suasana.
"Perasaan gue yang dikatain, kenapa jadi gue yang didiemin?" Tanya Geo sewot.
Kembali kepada kedua netra yang sedang beradu pandang tersebut, tidak ada tatapan kebencian dari sang Raja, namun dalam hati ketua Kingster itu sudah menyimpan alasan tersendiri untuk kesenangan. Membuat hari-hari Ratu sengsara, itu adalah kesenangan terbaik menurut Raja untuk balas dendam dari pada harus beradu mulut dengannya.
"Kan gue yang nyelametin lo kemarin, apa upahnya?" Balas tanya Raja.
Ratu terlihat memutar bola matanya malas, "Emang lo kan yang bikin gue jatuh, harusnya lo yang ganti rugi."
"Ohh, jadi begitu." Raja mengangguk-anggukan kepalanya.
"Oke, yaudah, kalau begitu anggap aja lo sedang ganti rugi karena udah maki-maki gue dilapangan." Jawab Raja dengan santainya.
"Untuk apa kita membersihkan wajah, namun jika airnya sangat kotor." Sinis Ratu, seolah semua ini adalah kesalahannya.
"Sadar diri dong, kan emang lo yang buat masalah gimana, sih?"
"Dikerjakan yang bener, nanti baru nuntut hak." Putus Raja akhirnya yang kembali melanjutkan langkahnya yang tertunda.
"Ehh, lo mau kemana?" Mau lari dari kenyataan?! Sahut Ratu kesal.
"Anda tidak perlu tahu." Jawab Raja tanpa menoleh sedikitpun.
Datang-datang seperti, jelangkung datang tak dijemput pulang tak diantar, itulah Raja Justin, menyisakan penampilan yang membuat tanda tanya pada siapapun yang tidak paham dengan jalan pikirannya.
••••••
Kalau mau kelanjutannya, kasih vote dong dan komen sebanyak-banyaknya:)