RAJA UNTUK RATU - SULIT DIPAHAMI

1146 Kata
"Dengan apa lo berikan hak gue, dan kita nggak akan lagi bermusuhan." Ucap seseorang misterius yang sedang mengenakan jaket Hoodie. "Hah!" Decih Raja menatap rendah seseorang yang berada didepannya. "Atau lebih baiknya nggak ada kata teman diantara lo dan gue, dari pada gue jadi orang yang nggak tahu malu kayak lo." Sengit Raja dengan bersedekap d**a. Terdengar pembicaraan yang hanya terlibat antara dua orang itu tidak setenang yang biasa dipikirkan. Masing-masing dari keduanya memiliki sifat dan watak dingin tersendiri yang mampu membuat keadaan sunyi saat suasana ramai. "Kesalahan terbesar gue waktu itu adalah diam disaat gue di rendahkan, tapi sekarang lo nggak bakal ketemu lagi dengan orang itu, karena orang itu sudah lahir dan beradaptasi dengan jiwa yang baru. "Dengan jiwa yang kapan saja membuat lo bakal hancur berkeping-keping." Raja menyunggingkan seringai yang jarang orang lain lihat, cowok dengan jabatan sebagai ketua Kingster itu nampak selalu siap untuk menyiksa lawan didepannya sampai tidak berdaya dan tunduk kepadanya. Untuk menunggu waktu yang tepat, dan batu kali ini Raja mau mentoleransi maut seseorang. "Eh, lo ingat, lo nggak bakal bisa menyakiti gue. Karena kejadian itu sudah menyebar disetiap tangan anak Kingdom. Sekali sentuh, sedetik kemudian akan menyebar, Darrr!!!" Alfi tersenyum dengan kemenangan. "Lo bangga berpijak dengan benda mati yang kapan saja pemiliknya bisa merengut itu? Emang sepecundang ini, kah, anda?" "Mungkin terserah apa kata lo, pada intinya, sebelum keinginan gue terpenuhi, semuanya akan tetap sama." "Lo hanya bisa melihat tanpa bisa masuk didalam. semua sama, lo nggak bisa masuk merusak apapun, dan walaupun itu akan terjadi, dan gue nggak bakal biarin lo bernafas tenang!" Raja membalikkan badannya, bersiap pergi dari sana. "Saat sebelum semuanya terlambat, lebih baik lo akhiri." Peringatan Raja lagi sebelum ia benar-benar pergi dari sana. kedatangan Raja dan teman-temannya membuat cowok itu mendapatkan tatapan penuh tanya. Alex, Geo, Boby, dan Nicho kelompok cowok itu hanya menunggu Raja dari luar gedung bersama beberapa dari anggota kelompok Kingdom yang juga tengah menunggu pimpinan mereka. "Boss, ada apa? apa yang sedang terjadi?" Tanya Geo yang sudah sangat penasaran. "Ngak kok, cuma masalah kecil." Jawab Raja seenaknya. "Lo anggap kami ini apa, sih, sampai lo nggak ingin jujur dengan kita semua?" Sahut Nicho dengan wajah mungkin agak kesal. Ketua Kingster itu hanya diam membisu, cowok itu lebih memilih mempalingkan wajahnya. Merasa paham, Alex sebagai wakil Kingster pun ikut membuka suara. "Kami siap dengerin apapun yang ingin lo katakan disaat lo siap mau bicara nanti, jangan larut sendirian, karena kita bukan sekedar dari sahabat." Ucapan Alex mampu membuat Raja menatap satu-persatu teman-temannya dengan hembusan nafas kasarnya. "Terima kasih, ya." •••• "Eh, Ratu, kemarin ketua Kingster ngomong apaan, sih?" Tanya Novela penasaran, karena gadis itu harus menunggu semalaman baru bisa bertanya pada sang Ratu. "anjirr, gue baper masak saat tangan lo dipegang sama dia, terus diajak pergi berdua gituu." Ucap Grabilla histeris dengan kedua tangannya menopang dagunya. "Emang lo baper disuruh jadi pembantu?" "Hah?!" Keduanya kaget dan menoleh cepat menatap Ratu. "Gue kira lo berdua paham, ternyata nggak. Masa dijadiin pembantu secara paksa bukannya sedih malah baper." Ucap Ratu balik menatap kedua sahabatnya yang tidak mengerti. "Hah, WHAT?!" Tolong ingatkan Ratu agar sepulang sekolah nanti untuk pergi ke dokter telinga, mungkin telinga gadis itu bukan lagi mendengung, namun hampir tuli saat mendengar ucapan suara dari sisi kiri dan kanannya. "Apa tadi lo bilang?" Tanya Novela memastikan jika pendengarannya tidak salah. "Yang bener, Lo disuruh jadi pembantu?" Imbuh Grabilla dengan raut wajah tidak percaya. "Hmm, sslalu nggak percaya." Jawab Ratu jutek. "Kan harusnya lo jadi pacarnya, eh malah dijadiin pembantu." Ucap Grabilla lagi. "Tapi ini semua gara-gara lo berdua!" Kesal Ratu yang kembali mengingat awal masalah ini adalah ulah mereka yang memberikan tantangan. "Yaa... kan kita nggak tahu bakal jadi seperti ini." Sesalnya Novela. Belum sempat Ratu melayangkan kemurkaannya lagi pada Novela dan Grabilla, namun sosok lain sudah lebih dulu memotong ucapannya. "Ayoo, ikut gue!" Lagi-lagi suara itu berhasil membuat suasana menjadi sunyi seketika. "Waduhh, mendadak jadi angker, nih sekolah." Bisik Novela dan Grabilla yang hanya dibalas gadis bergingsul itu dengan tatapan ' diem lo berdua.' Ratu Grethavia, sosok pongah itu seolah menulikan pendengarannya. Raja yang merasa tidak dianggap langsung merasa kesal karena tidak dihiraukan. "Silahkan pilih, mau jalan sendiri atau gue seret?" Titah Raja yang memang harus dituruti. "Maaf, nih, yaa Raja. Biasanya pertanyaannya itu, mau jalan sendiri atau gue gendong, bukan malah diseret." Celetuk Novela yang beberapa hari ini terheran-heran dengan kedua sosok keras kepala didepannya. "Ayo, lo mau digendong kan beb? Sini, dah, gue gendong dengan senang hati." Balas celetuk Geo pada Novela. "Eh, asal ngomong aja, bab.. beb! Ogah banget gue digendong sama lo yang jarang mandi." penolakan Novela membuat beberapa orang yang sudah tak kuat membendung tawa, akhirnya meledak begitu saja karena penuturan gadis itu. "Hahaha, Kocak. dasar jarang mandi makanya jijik." Boby terbahak-bahak sampai mata mengeluarkan air. "Diem lo Bobb!" Sarkas Novela tajam. "Kenapa lo sewot!" "Bacot lah anda." "Udah?" Suara dingin dari sosok yang lain itu sontak membuat mereka kembali bungkam, seakan-akan telah menyadarkan satu-persatu dari mereka bahwa mereka sedang berada dititik menegangkan yang tidak sepatutnya untuk dibuat bercanda. "Ayoo, sekarang lo ikut gue!" Lagi-lagi, Raja menarik kasar pergelangan tangan Ratu yang membuat gadis itu mau tak mau harus beranjak dari tempat duduknya. Ratu menoleh kebelakang menatap semua sahabatnya berniat untuk meminta bantuan, namun yang didapat Ratu hanya gelengan pelan dan wajah yang begitu pasrah. Begitupun pada teman-temannya Raja yang Ratu tatap seolah meminta pertolongan pada mereka, dan hal serupapun terjadi pada semua kelompok Kingster tersebut. Sang Ratu mulai berdecak pelan saat Raja mendudukkan paksa dirinya dibangku ruang perpustakaan sekolah, netra menyala dan gadis itu masih menatap Raja tidak suka. Seandainya penyesalan itu terjadi saat diawal, pasti Ratu tidak akan pernah berpikir untuk ikut masalah seperti ini. "Noh, lihat!" Surai tergerai gadis itu beterbangan karena hembusan angin yang diciptakan oleh Raja saat dirinya melemparkan buku tulis itu secara kasar. "Bikin ulah ya lo, kerja gimi minta imbalan?" Tanya murka Raja, seakan Ratu adalah seseorang yang sudah melakukan kesalahan fatal. Perlahan, jari mungilnya menggapai buku tulisnya tersebut dan menatapnya dengan sumringah seolah dirinya sedang berkesempatan mendapatkan uang kaget. "Emang kenapa, ya salah lo sendiri, udah tau gue adik kelas lo, ya mana gue bisa paham ngerjain soal yang belum gue pelajari." Ucap Ratu dengan santainya. Dan kini bergantian Raja yang tersenyum miring, lalu cowok itu berjalan mendekat kearah rak buku yang membariskan berbagai macam buku pelajaran milik kelas ketua Kingster tersebut dan mengangkat satu demi satu pelajaran yang ada didalamnya. Ratu pun masih mengamati setiap pergerakan yang ketua Kingster didepannya itu lakukan. Merasa cukup dimengerti, Raja kembali dengan tangan yang menggendong banyak buku pelajaran. "Mulai sekarang, lo akan belajar penuh." Sang Ratu membulatkan matanya menatap manusia menyebalkan didepannya yang sedang berdiri tanpa urat malu tersebut dengan tatapan tidak percaya. "Yang bener aja kali, Lo pikir gue manusia apa, anjirr?!" Sarkas Ratu tepat didepan wajah Raja dengan sekali gebrakan meja yang mungkin serasa ngegas. "Mungkin otak lo mulai nggak jelas! nurani lo dimana? Sebanyak ini gue harus ngelakuin semua, lo pikir hidup gue banyak kurang kerjaan gitu?" Lanjut Ratu lagi. "Ya, saran gue, sih, lebih baik nurut jangan membantah." Raja tersenyum lembut seraya mengusap pelan ujung kepala Ratu. Tetapi ini tidak selembut yang kalian duga. Sorot mata itu seperti menyimpan makna tertentu yang mungkin tidak akan mudah dimengerti saat kalian melihatnya. Tampilan senyuman itu, terlihat tulus namun seiringan ingin mengikis Ratu secara perlahan. Wajah ini tidak bisa dipercaya, entah tampilan apa yang sedang Raja sembunyikan, baik itu buruk ataupun baik, Sang Ratu harus waspada sebelum sesuatu yang tidak diinginkan bakal terjadi. ••••
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN