RAJA UNTUK RATU - TERJEBAK

1054 Kata
Hampir satu jam lebih berlalu, membuat Ratu muak saat masih berkutat dengan buku-buku yang sangat asing baginya. Gadis jelita itu terus saja menghela nafas kasar, ketika dirinya hanya bisa menuruti dan tak berkesempatan membantah. "Jaa, lo serius nyuruh gue ngelakuin ini semua?" Fokus Ratu kini teralih pada Raja yang sejak tadi duduk berdiam didepannya dengan telinga yang tersumpal oleh earphone. "Jaa, gue minta maaf, deh, ya, atas kesalahan gue waktu itu. Sekarang gue bisa pergi, kan?" Tutur Ratu lagi. Netra elang Raja terangkat, menatap lurus sosok didepannya juga tak lupa dengan seringai andalannya. "Janji gue waktu itu adalah tak membiarkan lo bernafas tenang." Ratu memutar bola matanya malas," Sekarang gue minta maaf, gue malas nambah drama, soalnya hidup gue udah ribet." "Nggak semudah itu memperbaiki kesalahan yang lo buat." Sinis Raja. "Bodo amat, ah, gue mau pulang." Ratu beranjak dari tempat duduk yang sangat pengap tersebut lalu tangan mungilnya mulai meraih gagang pintu perpustakaan yang.... "Terkunci?!" Panik Ratu seraya menaik-turunkan gagang pintu yang tengah digenggamnya itu dengan gerakan cepat dan sesekali menggedor-gedornya. "Tollong! Siapapun diluar, bukain dong pintunya!" Teriak Ratu sekencang mungkin. Raja yang sejak awal mendengar kegaduhan tersebut, langsung berjalan mendekat dan menampilkan sosok Ratu yang masih berada didepan pintu dengan keringat memenuhi dahinya. "Kenapa, Nyet?" "Lo buka!" Titah Ratu yang membuat Raja melakukan hal yang sama seperti yang Ratu lakukan. "Terkunci, kok bisa?" Raja melayangkan tatapan bingungnya pada Ratu. Ratu diam sejenak, sepertinya gadis itu tengah berpikir. "jam! Lihat jam berapa sekarang!" Celetuk Ratu tidak santai. Raja melirik jam tangannya, sedetik kemudian tatapan datarnya berubah melotot. "Jam setengah empat." Ucap Raja pelan namun mampu membuat Ratu histeris. "Ini semua gara-gara lo! Kenapa, sih, lo harus buat hidup gue susah?!" Kesal Ratu dengan beberapa kali mengepalkan tangannya. "Tenang, kita cari jalan keluar." "Tenang, tenang, nenek lo melayang. Mana bisa tenang gue sekarang!" Ucap Ratu masih ngegas. Raja memijit pelan pangkal hidungnya, sepertinya cowok itu juga dilanda bingung. Tatapan cowok itu kini tertuju pada jendela, seakan segera mendapatkan jalan keluar, Raja langsung menggandeng tangan Ratu mendekati jendela tersebut. "Apaa?" Tanya Ratu masih jutek. "Lompat!" Bukannya bergerak, Ratu malah menatap Raja dengan tatapan ingin memenggal leher pemuda tersebut. "Cukup hidup gue yang lo buat sengsara, jangan sampe lo buat nyawa gue pulang lebih cepat. Raja mengernyit tidak mengerti, "Lo ngomong apa, sih?" Sabar, Ratu, sabarr.. Lo harusnya mengerti kalau sedang berhadapan sama gue. Batin gadis itu semakin ingin mencakar wajah menawan didepannya. "Lo lupa ya, kalau gue phobia ketinggian?" Raja mengangguk-anggukkan kepala seolah mengerti, namun sedetik kemudian sosok itu tersenyum senang. "Yaudah, lo tetap disini sampai ada yang buka pintu dan gue mau pulang." "Kok lo jahat banget, sih, sama gue." Ratu mencekal tangan Raja yang sudah membuat gerakan ingin meloncat dengan wajah memelasnya. "Yaudah loncat." Pengen banget, ya, lo, sehabis pulang dari sini gue ngesot karena patah tulang?" Raja menghembuskan nafas kasarnya. Bolehkan Raja disadarkan sedikit bahwa ini semua kesalahannya walaupun tidak disengaja? Lebih tepatnya ini adalah kecelakaan. Lalu bolehkah Raja membela diri bahwa dirinya melakukan kesalahan namun bukan kejahatan? Untuk sekarang memang benar, namun untuk hal lainnya yang dia buat secara sengaja, mungkin suatu pilihan untuknya menjadi salah dan bukan lagi ketidak sengajaan. Ratu merogoh semua sakunya dan langsung berlari menuju tempat awal dimana mereka tadi sedang duduk, gadis itu terlihat kelimpungan saat sesuatu yang ia cari tak kunjung ditemukan oleh dirinya. "Duhh, ponsel gue mana ya?" Tanya Ratu pada dirinya sendiri. Gadis itu masih menelusuri tempat dimana saja yang telah ia lalui didalam ruang perpustakaan, mungkin saja ponselnya terjatuh disana. Namun semua itu nihil, Ratu tetap saja tidak bisa menemukan benda pipih tersebut, sepertinya ponselnya turut melarikan diri dan membiarkan Ratu harus terjebak disana. "ponsel lo mana? Coba telpon temen-temen lo!" Teriak Ratu pada Raja disudut ruangan. Raja tak membuat gerakan apapun, namun ekpresi cowok itu semakin menimbulkan helaan kasar pada nafas Ratu. "Ponsel gue lowbat." "Whatt!! gimana, sih lo, Seandainya gue terjebak disini sama menu makanan yang banyak, gue ikhlas, dah." Ratu terduduk lemas disalah satu bangku perpustakaan, sepertinya gadis itu mulai pasrah dengan keadaan. Disekolah memang memiliki dua perpustakaan, yang satunya terdapat dilantai satu dan yang kedua terdapat dilantai tiga, tepat koridor kelas sebelas yang sekarang telah menjadi saksi pertemuan diantara keduanya. Sore pun sudah semakin gelap dan malam semakin larut, keduanya hanya ditemani lampu remang-remang milik perpustakaan dan suara tetesan air dari kamar mandi yang juga terdapat didalam ruang perpustakaan membuat suasana kian horror karena lengkap ditemani oleh sosok misterius disampingnya. Tanpa sengaja, tangan Raja menyentuh tangan Ratu yang terasa dingin, sontak pemuda itu menolehkan pandangannya dan menatap terkejut wajah Ratu karena bibirnya yang pucat pasi. "Ratuu?!" Raja menepuk pelan pipi gadis disampingnya yang sedang tidur dengan meletakkan kepalanya pada tumpukan tangan diatas meja. Ratu tidak menjawab, membuat Raja merasa panik. Dengan sigap Raja membaringkan gadis itu diatas meja dan meraih jaket kebanggaannya untuk dijadikan bantalan oleh Ratu. "Ratu? lo baik-baik saja, kan?" Tanya Raja yang hanya dibalas tatapan sendu gadis didepannya. "Tenang, lo pasti akan baik-baik saja." Ucap Raja lagi dengan kedua tangannya yang menggosok kedua tangan milik Ratu berupaya menghangatkan gadis pongah tersebut. Raja mendongak menatap langit-langit perpustakaan, entah mengapa tiba-tiba perasaannya menjadi lsedikit sesak, sebelumnya ia tidak pernah khawatir seperti ini terhadap orang asing. Mungkinkan semua ini karena rasa bersalah yang terlalu dalam atau tentang hal lainnya? Entahlah, Raja belum memiliki jawaban atas hal tersebut, "badan lu dingin banget." Raja terus berusaha menghangatkan makhluk yang seharusnya berperilaku sopan padanya itu seraya sesekali menyentuh keningnya. "Eh, lo ada riwayat penyakit apa?" Tanya Raja yang hanya mendapat gelengan dari Ratu. "Lo nggak tau sama penyakit lo?" "Kalau badan gue nggak mendapatkan kehangatan yang cukup, maka akan terjadi seperti ini." jawab Ratu akhirnya dengan tubuh gemetar. Raja semakin mempercepat gosokkan pada tangan Ratu, kemudian dengan ragu cowok itu merangkul tubuh lemah di depannya karena sudah tidak ada lagi cara lain untuk menghangatkan. "Sekarang lebih baik?" Tanya Raja yang mendapat anggukan pelan. Raja bernapas lega, setidaknya cowok itu masih bisa memberikan pertolongan pertama. Namun setelah itu terjadi, pikiran cowok itu kembali mengusiknya. Buat apa gue memegang tangannya? buat apa gue merangkul tubuhnya? Dan, untuk apa gue khawatir? Raja membatin dengan netranya yang turun menatap wajah polos didekapannya yang kini telah tertidur lelap. Bolehkan Raja terlarut dalam pikirannya untuk mencerna ini semua? karena sekarang dia merasa ada sesuatu yang aneh tengah mengobrak-abrik perasaannya, sangat kacau, seperti hutan yang terserang angin ribut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN