RAJA UNTUK RATU - KHAWATIR

1032 Kata
Malam yang sunyi semakin gaduh di saat hari mulai menjelang pagi, dimana sekolahan kembali aktif dengan siswa dan siswinya yang kembali berangkat ke sekolah. Disaat pintu yang mengurung Raja dan Ratu itu telah terbuka lebar, sosok dingin dan misterius itu langsung menggendong ratu keluar ruangan yang meninggalkan sejuta pertanyaan bagi setiap orang yang melihatnya, hal tersebut pun tak luput dari penglihatan Novela dan Grabilla yang baru saja tiba di parkiran sekolah bersamaan dengan anak Kingster lainnya. Niat awal yang ingin menuntut ilmu, kini harus berputar arah dan membuat mereka kembali pada kendaraan nya masing-masing, lalu menyusul Raja ke rumah sakit terdekat saat ketua Kingster itu sempat mengucapkan tempat mana yang akan ia tuju. Dan disinilah, di dalam ruangan yang berdominasi berwarna putih nan berbau obat-obatan tersebut, kini memperlihatkan sesosok gadis jelita yang sedang berbaring lemah bersama dengan dokter dan beberapa suster yang menanganinya. Raja sejak tadi hanya duduk termenung di bangku tepat di depan kamar dimana Ratu dirawat dan ditemani oleh anggota inti Kingdom lainnya beserta kedua sahabat Ratu. "Jaa, ada apa ini?" Tanya Alex yang memecah keheningan. Raja nampak tak punya jawaban, lebih tepatnya ia bingung untuk mengatakanapa, cowok itu hanya menggeleng pelan. Dengan masih berbalutkan seragam sekolah, mereka semua terlihat cemas. terlebih pada sahabat Ratu keduanya seolah khawatir akan terjadi hal yang buruk pada sahabat baiknya tersebut. Derap langkah tergesa-gesa membuat siapa saja yang mendengarnya akan menjadi semakin tegang, apalagi di dalam situasi yang bisa dibilang darurat seperti saat ini, tak heran membuat jantung berdetak lebih cepat. "Ratu kenapa?" Tanya sesosok wanita paruh baya pada Novela dan Grabilla dengan raut cemasnya. "kita juga belum tahu, tante." Jawab Novela seadanya. Terdengar suara knop pintu terbuka, membuat seluruh pasang mata menatap seorang pria yang baru saja keluar dengan jas putih yang membalut tubuhnya. Kedua orang tua ratu beranjak berjalan mendekat ke arah dokter tersebut dan langsung menghujam nya dengan pertanyaan yang pastinya siapa saja pun turut penasaran. "Putri saya kenapa, Dok?" Tanya Mony, ibu dari Ratu. "Tidak ada yang serius, namun tidak boleh disepelekan, mungkin phobia dari anak bapak dan ibu yang membuat tubuhnya gemetar ataupun mungkin faktor lingkungan karena tubuhnya yang rawan, sehingga dengan mudah merasa kedinginan," Tutur Dokter tersebut dengan sopan. Masing-masing dari mereka akhirnya bisa menarik nafas lega, terutama pada Raja kening yang sejak tadi terus tertekuk akibat turut merasa khawatir, kini terlihat memudar perlahan. "Boleh saya masuk ke dalam?" Tanya Mony lagi. "Silahkan." Ucap dokter itu ramah lalu beranjak pergi. Satu-persatu dari mereka sudah masuk untuk membesuk dan kedua orang tua Ratu pun telah pulang untuk sekedar mengganti pakaian. Kini hanya giliran Raja yang belum menjenguk Ratu, cowok itu masih duduk terdiam di tempatnya dengan perasaan campur aduk. "Boss, mau sampai kapan duduk di situ? Nunggu neneknya Geo muda lagi?" Ujar Boby yang kembali keluar dari ruang rawat Ratu saat pemuda itu menyadari ketidakberadaan Raja disana. "Lo duluan aja." Jawab Raja pelan tanpa menoleh. Raja mengepalkan tangannya kuat-kuat saat rasa yang aneh kembali mengacak ruang kosongnya di saat cowok itu kembali ingin berhadapan dengan seorang Ratu Grethavia. Apakah itu semua adalah rasa bersalah? Tidak, tidak. Tidak ada yang mampu membuat merasa seperti ini, seorang Raja tidak akan pernah merasa bersalah disaat ia melakukan tindakan yang benar, seharusnya... Knop pintu kembali berputar, menampilkan sosok Raja yang berdiri di sana. Ratu yang sedang makan disuapi oleh Grabilla, dengan perlahan indra penglihatannya terangkat menatap lurus Raja di depannya. "Hari ini lo libur, tapi besok lanjut kerja lagi." Ucap Raja santai dengan langkah mendekat kearah brankar. Gadis itu melirikan matanya kesamping, kemudian beralih kembali menatap Raja sinis. "Lo punya hati nggak, sih?" Otak lo dimana? gue lagi sakit masih aja lo babuin." "Otaknya lagi di rentalin kali, Neng." Celetuk Geo tiba-tiba. Kini giliran geo yang mendapatkan tatapan menghunus dari Raja, "Mau kaki lo yang bilang atau tangan lo?" Tanya Raja yang membuat Geo bergidik ngeri. "Maaf, Boss. Kadang mulut gue suka bener, ehh." Geo langsung nyering kuda, kemudian cowok itu mengatupkan kedua telapak tangannya bermaksud meminta ampun. "Whait! Gue kok herman, deh. kok kalian bisa terkunci di dalam perpus? Emang kalian ngapain ke perpus? Tanya Novela yang menimbulkan pertanyaan di benak masing-masing dari mereka yang ada. "Lagi jogging." Celetuk Ratu asal. "Idihh, Ratuu, cakep-cakep otaknya gesrek. yakali ke perpus mau jogging." Heran Novela. "Novela yang ogeb, yang mukanya polos kek anak desa tapi kelakuannya yang kek anak setan, sini gue pacul gigi lo!" kesal Ratu yang merasa kesabarannya terus teruji. "Novela mah bukan anak desa, tapi anaconda." Celetuk Geo yang langsung mengundang tawa teman-temannya. "Geoo! Sini gue caplok mata lo." Berganti menjadi Novela yang kesal lalu membuat gerakan seolah ingin mencakar Geo. "Kenapa nggak sekalian caplok mke bibir aja?" "Ew najis, najong banget gilak." "Udah-udah, biarin Ratu istirahat, mending kita semua pulang dan ganti pakaian." Lerai Alex pada teman-teman nya tersebut. "Yaudah, Ratuu. Gue sama Novela pulang dulu, entar siangan dikit kita balik lagi ke sini." Pamit Grabilla yang mendapat anggukan singkat dari Ratu. "Permaisuri yang cantik, dan calon masadepannya Geo, kekasihmu juga pamit pulang." Ujar Geo dengan wajah idiotnya. Ratu tersenyum simpul," Hati-hati semuanya." "Jaa, lo harus tetap stay disini temanin Ratu sampai nanti sahabat atau temennya datang,." Ucap Alex pada Raja saat mereka di luar ruangan. "Lah, kok gue?" Tanya Raja seolah ia menolak. " Biar bagaimana pun, ini semua perbuatan lo,." Ucap Alex lagi sebelum ia benar-benar pergi dari hadapan Raja. Perkataan Alex barusan saya akan mencubit pelan ego Raja, cowok itu menghela nafas sebelum ia kembali masuk ke dalam ruangan di mana Ratu sedang dirawat. "Lo ngapain masih disini? Minta sedekah?" Tanya Ratu santai. "Gimana keadaan lo? Perlu sesuatu yang bisa gue bantu?" Bukannya menjawab, namun Ratu tampak mengerutkan keningnya bersamaan tatapan curiga. "Lo enggak lagi memperpanjang masa gue jadi babu lo, kan?" Tanya Ratu yang masih dengan tatapan menyelidik pada Raja. "Gue jahat salah, baik juga salah." "Baru nyadar kalau Anda jahat? Cihh!" Sinis Ratu. "Makhluk lemah, tahunya nyusahin orang." Guman Raja namun cukup jelas terdengar di telinga Ratu. "Mending lo tidur, biar gue jagain." Lanjut Raja lagi yang dibalas keterdiam Ratu namun gadis itu tetap melakukan hal yang dititahkan oleh Raja. Untuk kedua kalinya, Raja menjadi pengamat wajah tenang di depannya, sosok yang sama arogan seperti dirinya, dan sosok yang mungkin satu-satunya dapat menarik simpati Raja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN