RAJA UNTUK RATU - MENGHAKIMI

1368 Kata
Setelah kejadian digudang waktu itu, seharian ini Ratu terus menghindar dari Raja. Entah mengapa bayang-bayang sosok menakutkan itu terus saja menghantui pikirannya yang semakin membuat Ratu gemetar. Raja? psikopat? dia psikopat? Nggak, nggak mungkin, deh! Ratu terus saja membatin dengan dialog bersautan yang ia buat sendiri didalam pikirannya. "Ratuu." Panggil seseorang yang langsung membuat Ratu terhenti kaku seolah tubuhnya telah membeku. Gadis itu tidak berani menoleh lantaran rasa takut yang kembali menyelimuti disaat cowok itu datang. "Lo kenapa menghindar dari gue?" Ratu menggeleng cepat. "Gue ada tugas, gue cabut dulu." Pamit Ratu tanpa menoleh. Raja yang melihat gadis itu akan segera melangkah, dengan cepat tangan kokohnya bergerak untuk menahan. "Lo nggak bisa giniin gue!" Sentak Raja dengan menaikan satu oktaf suaranya yang membuat tangan Ratu kian dingin. "Gue minta lo pergi dan jangan usik gue lagi." Ratu mendongak, berusaha mengumpulkan keberanian untuk membalas tatapan tajam dari Raja. Jika orang lain diposisi Raja mungkin gadis itu tidak akan setakut ini, lebih tepatnya tidak akan merasa terpukul seperti ini. Sosok itu adalah Raja, orang yang sering membuatnya melayang bak diambang awan. "Lo nggak percaya sama gue?" Raja menaikan sebelah alisnya. "Emang apa yang harus gue percayain?" Balik tanya Ratu dengan sorot mata memerah. "Lo lakuin ini untuk siapa? Kenapa lo sekejam itu?" Lanjut Ratu lagi sambil menggoyang-goyang kan tubuh Raja dengan menarik kerah baju cowok itu. Ratu memang sudah melihat semuanya, mulai dari kejadian dilapangan hingga kejadian digudang, gadis itu hanya tidak mengerti tentang alasan dibalik itu semua. Apakah 'dia' yang terduduk dengan tangis dilapangan waktu itu yang merupakan alasan dari kemarahan seorang Raja Justinn? "Siapa dia?" Tanya Ratu masih dengan sorot tajamnya. "Bukan siapa-siapa." "Bohong!" "Lo nggak berhak tau." "Fine! Sekarang lo pergi jauh-jauh dari hidup gue!" Ratu melepaskan cekalan Raja dengan kuat lalu pergi meninggalkan sosok itu yang terdiam. Seandainya Ratu sedikit merasakan hal yang lebih pada sang ketua Kingster, apakah salah? Jika semua terjadi begitu saja, apakah salah? Perasaan yang datang tanpa permisi dan membuat sang pemilik hati merasakan gejolak yang beragam pada seseorang yang ia jatuhi rasa, apakah itu dosa sang pecinta? Yang terpenting, saat itu Ratu pernah mengatakan bahwa ia lemah tentang rasa, maka ingatlah jangan memaksa untuk menghancurkan benteng yang sudah ia buat. Jika sudah begini, siapa yang harus disalahkan? Tidak ada. Ratu pernah mencintai namun tidak terbalas, cukup lama ruang kosong dihati itu usang tak berpenghuni. Hingga tiba dimana detak cinta itu kembali berdenyut, namun ternyata untuk orang yang salah, orang yang hampir merusaknya. •••• Semilir angin menerpa wajah tampang milik seseorang yang kini tengah mengepulkan asap diudara. Raja tisak duduk sendirian, melainkan ditemani oleh keempat intin Kingster lainnya. "Baginda, kalau boleh nanya, sebenarnya lo itu jadian nggak, sih, sama dedek gemesh?" Tanya Geo dengan menyesap teh kotaknya. Raja nampak berpikir sejenak sebelum cowok itu menjawab. "Lo nggak tau." Jawab Raja datar. "Sebenarnya hubungan lo sama cewek dilapangan itu apa? kita nggak pernah tau kalau lo sama dia itu dekat." Imbuh Nicho sambil menopang dagu menatap serius kearah Raja. "Adik lo ya? atau sepupu lo?" Celetuk Boby yang turut melontarkan pertanyaan. "Gue bilang kalian nggak perlu tau!" Raja menggebrak meja didepannya, yang membuat keempat cowok itu terperanjat kaget. "Udah-udah! Mungkin ada beberapa privasi yang nggak bisa kita bahas bersama-sama." Ucap Alex yang menengahi. "Gue cuma minta, Kingster dan persahabatan kita jangan sampai hancur jika ada masalah, apalagi kalau soal cewek." Imbuh Alex lagi seraya menatap satu-persatu wajah didepannya yang beberapa dari mereka ada yang membuang muka. "Dan kalau ada masalah, kita bisa bicarakan baik-baik. Jangan pada emosi semuanya." Lanjut tutur sang wakil itu bijak. "Yaudah cabut, gue mau kekantin." Geo beranjak yang turut disusul oleh orang yang lainnya. "Lo nggak ikut, Baginda?" Tanya Geo saat tidak melihat pergerakan apapun dari Raja. "Kalian saja, gue lagi mau disini." Semuanya mengangguk dan langsung melenggang menjauh. Di kesunyian ini, semua pikiran berkecamuk Raja kembali bebas bergelut. Cowok itu kembali menyalakan sebatang rokok dang menyesapnya penuh perasaan. Bayangan tentang Ratu kembali muncul saat kepalan asap itu telah menghilang, yang semakin membuat Raja gerah seolah hatinya telah melakukan kesalahan. "Semua muncul karena gadis itu." Ucap Raja tiba-tiba. "Harusnya gue biarin dia pergi." "Harusnya..." Raja mengacak rambutnya frustasi. Dilain tempat, Ratu dan kedua sahabatnya tengah mengerjakan tugas di perpustakaan sekolah. Usai percakapan tidak mengenakan dengan Raja tadi telah membuat Ratu kian murung, Novela dan Grabilla yang menyadari akan perubahan sikap sahabatnya itu hanya saling pandang dan bergidik bahu satu sama lain. "Kanjeng, lo ada masalah apa?" Tanya Novela hati-hati. Ratu sedikit tersentak dan menggeleng cepat kearah kedua sahabatnya. "Apa soal Raja?" Imbuh Grabilla dengan tatapan menebak. Ratu menghela nafas pelan, "Harusnya dari awal gue nggak pernah kenal sama Raja." "Lohh, loh. Ratu udah putus emang sama dia?" Imbuh Novela dengan memasang ekspresi bingung. Ratu menggeleng, "Gue emang nggak pernah jadian sama dia." "Hah?!" Pekik keduanya yang sontak membuat Ratu menutup telinga. "Loh, loh! Tunggu sebentar! Bukannya Raja waktu itu bilang kalau kalian pacaran?" Ucap Novela dengan membulatkan mata. "Alibi dia doang." "Terus, apa yang buat lo gelisah sekarang?" Tanya Grabilla yang kembali serius. "Apa rasanya saat orang yang kalian anggap baik tapi punya darkside tersendiri yang mungkin buat kalian jadi down?" "Emmm.... Punya sisi jahat atau sisi kelam kek gitu, ya?" Gumam Novela dengan netra yang menatap langit-langit bangunan seraya berpikir. "Kalau jadi gue, sih, gue pasti kaget dan down pastinya. Cuma ya terkadang memang ada masa dimana kita harus mengerti. Mereka yang kek begitu nggak bisa diceramahi melainkan dipeluk dan dengarkan semua keluh kesahnya. Intinya kita nggak boleh menghakimi, ya walaupun kita juga harus mengingatkan dan membawa dia agar tidak melangkah terlalu jauh sama kehancuran. Jadi gitu, Kanjeng." Jawab Novela tenang yang kedengaran masuk akal. "Biasanya, sih, orang yang kayak begitu karena dia punya masalah yang rumit dalam hidupnya terus nggak bisa mengendalikan diri sampai-sampai sisi jahat yang menguasai dirinya." "Hmmm, bener tuh." Celetuk Grabilla yang membenarkan ucapan Novela yang tumben kali ini otaknya berfungsi benar. "Orang yang gitu biasanya orang yang terancam atau orang yang sering di- bully." Sambung Grabilla lagi. "Paling itu cuma orang-orang yang kurang iman, kurang bersyukur, sampai-sampai Tuhan aja kabur." Celetuk seseorang dari belakang tempat mereka duduk. Ketiga gadis itu kompak menoleh, menatap sosok yang tidak asing tengah bersiri pongah didampingi antek-anteknya. "Bener, kan kata gue ?" Tanya Sherly lagi seraya berjalan mendekat kearah Ratu. "Lo ngomong begitu karena lo belum pernah ngerasain diposisi terendah." Sarkas Grabilla dengan tatapan tidak suka. "Karena lo orang yang suka mem- bully dan nggak masu disalahkan, mana bisa lo ngerasain pain dari anak-anak yang lo sakiti." Imbuh Novela dengan sedikit mendorong bahu Sherly agar sedikit menjauh dari hadapannya. "Gue emang nghak pernah salah, dan itu faktanya." Sherly kembali maju dan langsung menjambak kuat rambut Novela sehingga gadis itu terhuyung kearah antek-anteknya. "Kita dulu emang segan sama lo karena lo kakel kita, tapi kalau kelakuan lo kurang ajar begini, kita juga bisa balas sepadan dengan apa yang lo lakuin." Imbuh Grabilla dengan amarah yang malah membuat Sherly tersenyum miring. "Itu Ratu lo kenapa? Lagi nggak dapet duit dari Raja? Makanya dia nggak bisa buka suara, hah?" Sherly tertawa berbahak-bahak yang disusul teman-temannya. Ratu yang sejak tadi bungkam turut semakin menajamkan tatapannya pada Sherly. Ia diam bukan berarti dia takut, hanya saja ada hal lain yang sedang gadis itu pikirkan dan turut mencerna dengan baik ucapan yang keluar dari mulut teman-temannya. "Lo kalau nggak tau apa-apa mending diem, Dan soal Raja, lo nggak berhak ngomong begitu." Ucap Ratu akhirnya yang dibalas tepuk tangan dari Sherly. "Wow.....Bukannya lo dulu pernah ngerendahin Raja?" Sherly menaikkan sebelah alisnya menatap Ratu remeh. "Setiap orang bisa marah, namun untuk menghakimi keyakinan seseorang itu juga salah dan nggak sepatutnya lo ngomong begitu." "Apa hak lo ngatur gue? Mulut-mulut gue, ya, suka-suka gue." "Hidup-hidup Raja, ya, suka-suka Raja. Kalau lo suka mendekat, kalau lo benci menjauh. Jangan masang tampang palsu untuk baik didepan orang lain." "Wihh..... lo dihina Sherr." Sahut gadis lain yang merupakan anak buah dari seorang Sherly Octha yang turut memprovokasi keadaan. "Yaudah cabut, kita kasih pelajaran sama tiga cecurut ini di next time." Titah Sherly yang langsung pergi menjauh. Tanpa mereka sadari, seseorang yang sejak tadi mendengar perdebatan mereka telah mengulas senyum tipis. •••• How gaess?? Vomment yang banyak dong biar author kembali up setiap hari :)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN