RAJA UNTUK RATU - RAJA'S DARKSIDE

1239 Kata
Kelima pentolan sekolah itu sedang duduk santai dikantin yang masih sepi karena seluruh murid masih belajar. Setelah kejadian semalam, Raja nampaknya sangat murung dengan tatapan lurus kebawah. "Btw, Alfii masih di UGD. Dia kritis karena lukanya parah." Ucap Geo tiba-tiba untuk membuka percakapan. "Kalau Bastomi, di- dia koma. Nggak tau masih bisa hidup atau nggak." Ucap Geo lagi dengan mimik wajah takut saat melirik Raja. Semua pasang mata tertuju pada sosok yang senantiasa diam tersebut tanpa peduli dengan apa yang teman-temannya katakan. "Ja, sebenarnya ada apa, sih?" Sahut Alex yang memang tidak mengerti tentang apa yang terjadi semalam. Raja menggeleng sebagai jawaban. "Emang yang ditunjukkin Alfi sama lo itu video apa? Kok lo sampe semarah itu?" Imbuh Alex yang duduk dipaling ujung. Masih tidak ada jawaban yang membuat keempat cowok itu hanya saling pandang dan menghela nafas kasar. "Jujur, kita nggak ngerti sama kejadian semalam. Semua berantakan karena masalah yang kami sendiri nggak tau." Ucap Alex lagi dengan menaikkan satu oktaf nada suaranya. "Gue nggak bisa jelasin, please pahami gue lagi." Jawab Raja seraya menatap sahabatnya satu-persatu. "Kingster bukan sekedar geng, tapi juga rumah buat kita yang merasa diabaikan. Tapi dikeluarga ini, lo nggak akan merasa sendirian, lo punya kita semua yang siap jadi benteng lo depan belakang." "Baginda, kapanpun lo butuh, kita selalu ada buat lo. Jangan terlalu lama dipendam sendirian, bisa-bisa yang lo sembunyiin nanti bakal jatuhin lo perlahan." Sahut Nicho sedikit dramatis dengan menepuk pundak Raja pelan seakan memberikan cowok itu kekuatan. "Thanks." Suara derap langkah terdengar memenuhi koridor, terlebih saat tiba dikantin suara langkah itu kian nyaring dengan sang pemilik yang bersenandung ria, sontak membuat kelima most wanted itu mengalihkan pandangannya. Iris cokelat milik Raja langsung bertubrukan dengan netra abu-abu milik Ratu yang membuat gadis itu menghentikan langkahnya sesaat. Tatapan yang awalnya teduh dilemparkan oleh Ratu kini berubah menyipit seakan tengah menyelidiki sesuatu. Perlahan kaki itu kembali melangkah, berjalan mendekat kearah kumpulan Cowok inti Kingster. "Muka lo kenapa?" Tanya Ratu yang tanpa sadar mengusap pelipis Raja yang lebam. "Nggak kenapa-napa." Jawab Raja singkat. "Lo habis berantem, ya?" Tanya Ratu lagi yang kali ini sambil mendudukkan dirinya dikursi tepat disamping Raja. Tidak ada jawaban, Ratu yang masih saja meneliti setiap inci wajah Raja tanpa sadar bahwa posisi keduanya sangat dekat. Merasa masih diabaikan, Ratu langsung beranjak berdiri dan menarik tangan cowok itu agar ikut dengannya. Kedua sejoli itu kini telah tiba di UKS, dengan sigap Ratu langsung mengompres luka Raja secara perlahan. "Nggak usah sok jagoan, deh, ntar lo patah tulang bisa-bisa gue kembali jadi babu lo." Ucap Ratu dengan sinis seraya menekan lebam diwajah Raja hinggak cowok itu meringis. "Mending lo simpan ceramah lo untuk diri lo sendiri." Celetuk Raja tak kalah sinis. Ratu memutar bola matanya malas, sebaiknya gadis itu diam dari pada berdebat dengan Raja yang bisa dipastikan membutuhkan kesabaran extra. ••• Di jam istirahat ini tak hanya hawanya saja yang panas namun perkelahian dilapangan sekolah milik Sriguna itu lebih menyengat membakar kedua sosok yang tengah beradu ketangkasan disana. "Apa maksud lo dengan berpura-pura menjadi anak sekolah sini, HAH?!" BUGHH! Luka yang tadi pagi baru saja diobati oleh Ratu, kini kembali terbuka dengan darah yang sudah mengalir dipelipis Raja. Cowok dengan kilatan amarah yang terpancar dimatanya itu terus saja menghajar sang lawan yang sudah terbaring lemah tak berdaya. "Jawab, Anjing!!" Teriak Raja lagi dengan murka. BUGHH! BUGHH! Kreeeek! Seragam yang dikenakan Raja sudah berlumuran dengan darah lawan maupun darahnya sendiri, tidak ada yang berani menghentikannya tiba saja disaat Nicho dan Alex ingin melerai Raja malah dirinya mendapat tonjokan gratis dari sang Raja. "Siapa yang nyuruh lo? Siapa yang udah nyuruh lo buat lukain dia?!" Raja kembali mencengkram kerah baju sosok tak berdaya itu seraya menunjuk seorang gadis yang sedang terduduk dilapangan yang tidak jauh darinya dengan pundak bergetar serta kedua telapak tangan yang menangkup wajahnya. "Jawab! Apa bastard Alfi? Manusia yang udah mau mati itu masih berani sama gue?!" "Mana dia mana?! Sini gue habisin biar langsung ke neraka!" Bentak Raja tepat didepan wajah sang pelaku lalu menghembaskannya kasar kepalangan. Perlahan langkah itu berjalan mendekat lalu berjongkok tepat didepan gadis yang masih saja menangis sesenggukan sejak tadi. "Ayoo, gue antar pulang."Ucap Raja lembut yang berubah seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya. "Gu- Gue ke UKS aja, gue nggak mau buat El cemas."Cicit gadis itu pelan yang langsung diangguki oleh Raja, kemudian tangan kekar itu menggendongnya menuju UKS Sriguna. "Alex, kurung dia digudang belakang, jangan sampai lolos! Setelah itu lo cabut dari sana." Bisik Raja pada Alex yang langsung dipatuhi oleh sang wakil. Setelah dari UKS, Raja langsung berjalan mentusuri koridor yang sudah sepi karena beberapa menit yang lalu bel masuk sudah berbunyi. Seringai yang sejak tadi ia sunggingkan itu seolah dirinya akan mendapatkan hadiah special yang sudah dinantikan. Mata itu terus menatap lurus dengan langkah kaki yang membawanya kegudang belakang sekolah. Braaak! Suara tendangan pintu yang cukup kuat telah membuat seseorang yang terduduk dengan tali yang mengikat kaki dan tangannya itu, sontak terkejut. Raja mendekat seraya mengeluarkan benda titanium tajam miliknya dengan santainya. "Lo mau mode apa? Easy, medium, atau hard?" Tanya Raja dengan seringai seolah ini adalah sebuah permainan. Raja lalu mendudukkan dirinya pada sofa lumus tepat didepan pemuda itu. "Gue nggak akan mau bilang! Bunuh aja sini, gue sampai kapanpun nggak akan mau bilang sesuatu sama sampah seperti lo!" Teriak sosok didepannya dengan mata memerah. "Yakin?" Taak! "ARGHHH!" Sesuatu yang mungil itu telah terlepas dari tempatnya, jari kelingking itu menggelinding melewati kedua kaki Raja yang membuat darah segar mengucur dengan bebas. "Bunuh gue! Jangan siksa gue seperti ini b*****t!" Teriak sosok itu lagi dengan menahan rasa sakit pada tangan sebelah kanannya. "Cepet bilang!" Sreeeet! "Arghhhh!" Teriak sosok itu lagi yang kembali merasakan sakit karena lehernya yang tersayat terasa perih akibat perbuatan dari Raja. "Gu-ggueh nggak akan.... arghhh! Pernah, hah.... mau bilang apapun sama lo!" Sosok itu masih keukeuh hingga membuat Raja semakin murka. "Katakan atau lo mat--!" "Aaaa!" Sontak keduanya menoleh kearah pintu gudang yang tertutup. Dengan cepat Raja langsung keluar karena mata elangnya tak sengaja menangkap sepatu seseorang yang berusaha lari menghindar. Raja berhasil mengejar sosok itu dan dilihatnya seorang gadis yang berjalan dengan kaki gemetar juga tergopoh-gopoh. "Mau kemana?" Suara dingin itu telah menginteruksi Ratu dan membuat gadis itu takut menggigil hingga ketulang. Ratu membalikkan badannya dengan ragu, expresi gadis itu tak terbaca antara ingin menangis, takut, ataupun ingin berteriak. Bukan menjawab, Ratu malah nampak memegang kepalanya seraya mengacak-acak rambutnya sendiri dengan kasar. Nggak, Nggak mungkin tadi itu Raja. Batin Ratu dengan nafas naik-turun juga dengan mata netra yang masih menerawang wajah didepannya. Belum sempat Ratu ingin lari dari sana, namun tangan kokoh itu sudah lebih dulu menahan bahunya dan langsung menubrukkan badan mungil itu secara kasar pada dinding-dinding sekolah. "Lo mau kemana?" Ulang Raja dengan suara yang melembut? "Gu-gue, gue ma-mau.... pergiiiii!" Pekik Ratu tepat diujung kalimatnya "Hust! Jangan teriak nanti ada yang dengar." Ucap Raja lagi dengan mengusap bibir Ratu pelan menggunakan jari jempolnya. "Lo bu-bukan Raja, lo psikopat." Ucap Ratu gemetar dengan ekspresi ingin menangis. "Lo bilang gue orang baik." Raja mengeluarkan smirk andalannya yang kian membuat Ratu bergidik ngeri. "Lo bukan orang baik." "Kenapa lo nggak konsisten?" Tanya Raja seraya menepuk pipi gadis itu sedikit kasar. Ratu tertunduk dengan nafas berat, gadis itu sudah tidak mampu berkata apa-apa. Dengan posisi Raja yang masih mengurung tubuhnya dengan kedua tangan yang bertumpu pada dinding, semakin membuat atmosfer disekitaran Ratu menipis. "Kenapa nunduk?" Tanya sosok itu dengan santai yang terasa tidak pernah terjadi apa-apa. "Gu-gue takut."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN