Dua hari berlalu setelah kedatangan mereka dikota bersejarah ini, kini hari terakhir telah membawa langkah demi langkah mereka menyusuri kota lama di Semarang, membuat beberapa manik mata mengerjap kagum dengan keindahannya. Ratu yang baru saja ingin berdiri selepas mengikat tali sepatunya yang terlepas, sontak gadis itu mudur karena terkejut atas kehadiran Raja secara tiba-tiba didepannya.
"Ngapain lo?" Tanya Ratu judes.
"Jagain lo, takut mati ditengah jalan." Jawab Raja tak kalah judes.
"Nggak usah bermuka dua, ntar jerawat lo nambah banyak."
"Gue bukan tipe yang berbuat salah langsung pergi." Raja tersenyum miring, seolah menyinggung Ratu.
Nihh anak merasa bersalah, ya, gara-gara buat gue sakit kemari? Tanya Ratu dalam batinnya dengan tatapan menyelidik kedalam mata Raja.
"Emang lo punya hati?"
"Punya, tapi udah lama nggak di pake." Jawab Raja singkat lalu berjalan mendahului Ratu.
Gadis itu menatap heran sembari melangkahkan kakinya kembali dan mengekor Raja dari belakang.
"Aseekk! Berduaan mulu." Sahut seseorang dari samping keduanya.
Geo beserta ketiga inti Kingster lainnya datang menghampiri Raja dan Ratu.
"Loh, Grabilla dan Novela mana?" Tanya Ratu dengan pandangan mengedar.
"Disini, Kanjeng!" Teriak Novela seraya berlari kearah Ratu disusul oleh Grabilla dibelakangnya.
"Lo berdua dari mana?"
"Harusnya kita yang nanya, lo tadi dari mana?" Balik tanya Novela dengan nafas ngos-ngosan.
"Soryy kanjeng, powerbank gue ketinggalan dihotel." Sahut Grabilla yang membuat Ratu menatapnya malas.
"Ehh, cewek biasanya kalau ngomong terserah itu artinya apa?" Tanya Boby tiba-tiba yang mengalihkan pandangannya dari ponsel kearah teman-temannya.
"Pengen sesuatu." Jawab Novela.
"Kalau cie?" Tanya Boby dengan menatap Grabilla.
"Cemburu itu mah." Jawab Gadis bergingsul itu juga.
"Nahh, kalau temenan aja artinya apa?"
"Lo jelek, miskin, dekil euy, sampah!" Sarkas Ratu diujung sana.
"Jahat banget pemikiran cewek." Boby mengerucutkan bibirnya sedih yang berhasil mengundang tawa bagi teman-temannya.
"Haii! Boleh pinjem powerbank lo nggak?" Tanya seseorang tepat disamping Raja, sontak seluruh perhatian tertuju pada sosok itu.
Raja yang menyadari tatapan tidak suka dari Ratu langsung menutup kedua mata gadis itu dengan telapak tangannya.
"Gue nggak bawa."Jawabnya singkat yang langsung menarik tangan Ratu berjalan menjauh dan meninggalkan teman-temannya.
"Ja, dia itu siapa?" Pertanyaan yang sudab Ratu ingin ungkapkan sejak lama, kini akhirnya meluncur bebas dengan sendirinya.
Raja menatap Ratu sesaat, "Bukan siapa-siapa."
Ratu mengerutkan dahinya tidak percaya, "Tapi kek deket banget sama lo."
"Lo nggak berhak tau." Tutur Raja lagi yang langsung membuat Ratu bungkam.
Entah mengapa, perasaannya saat ini terasa aneh. Dari awal mula Ratu memang tidak menyukai Raja, namun kali ini berbeda. Mendengar jawaban dari sang Raja yang memperjelas statusnya bersama dirinya, membuat hati Ratu tercubit kecil.
Raja terlihat berhenti sembari mencari sesuatu dari tas kecil yang sejak tadi nagkring dibahu kanannya dengan santai, setelah menemukan benda yang ia cari sontak tangan cowok itu terulur memberikan sesuatu pada Ratu.
"Nihh, Ucap Raja dengan sesuatu ditelapak tangannya.
"Powerbank?" Ratu mendongak, menatap Raja bingung.
"Hp lo lowbat, kan? Nih, pake." Ucap Raja lagi.
"Bukannya tadi lo bilang nggak bawa?" Ratu masih belum mengambil alih benda tersebut.
"Udah pake aja jan bacot."
Perasaan yang awalnya kurang menghidupkan kebahagiaan di dirinya, kini Ratu tampak tersenyum simpul atas apa yang cowok jangkung disampingnya itu lakukan.
"Thanks." Ucap Ratu sembari mengambil alih powerbank tersebut dari telapak tangan Raja.
"Hemm"
Keduanya kembali melanjutkan langkah seraya menikmati suasana pagi dikota tua ini, Ratu sejak tadi masih mengembangkan senyumnya, entah mengapa ada rasa bahagia lain yang menyeruak kedalam hati kecilnya. Namun tidak lama setelah itu, senyum yang sejak tadi ia sunggingkan kini berubah menjadi ringisan kecil yang keluar dari mulutnya.
"Awsssh..." Ratu tiba-tiba memegang pucuk kepalanya yang berdenyu, perlahan cairan kental berwarna merah pekat itu mengalir pelan dari lubang hidungnya.
"Ehh, lo kenapa?!" Tanya Raja panik.
"Nggak, nggak kenapa-napa." Jawab Ratu sembari mengusap darah dihidungnya dengan tissur yang ia bawa.
Raja menggiring Ratu duduk dikursi yang tidak jauh dari mereka berdiri, cowok itu dengan sigap membantu Ratu untuk membersihkan bercak darah dihidungnya.
"Tangan lo dingin." Ucap Raja cepat dan langsung menyentuh pelan dahi Ratu untuk memeriksa suhu badan gadis itu.
"Kita pulang sekarang!" Raja yang ingin membopong Ratu kembali karena penolakan dari gadis itu.
"Jangan." Jawab Ratu lemah.
"Please, jangan hentikan gue seperti waktu itu." Ucap Raja tajam.
"Gue nggak mau buat orang lain khawatir.
"Tapi lo mau buat gue khawatir Tanya Raja tanpa sadar.
Ratu tersenyum singkat, "Disini aja, cuma sebentar, kok."
"Tapi kalau dibiarkan lo bisa makin parah, Rat!" Nada suara Raja kini kian meninggi, lantaran cowok itu merasakan gelisah dihatinya.
Nggak, disini aja."
Raja menghela nafas lelah, cowok itu langsung memberikan jaketnya untuk menghangatkan tubuh Ratu seraya menggosok kedua telapak tangan gadis itu untuk mengurangi rasa dingin yang terus merambat.
•••
Malam ini Ratu pulang diantar oleh Raja dari sekolah mereka, bus kembali tiba di Jakarta tepat pukul tujuh malam. Tidak ada percakapan, hanya keheningan yang tercipta, semuanya masih larut dalam pikiran masing-masing.
"Makasih." Ucap Ratu singkat untuk memulai percakapan.
"Untuk apa?" Tanya Raja tanpa menoleh.
"Untuk semuanya."
Cowok itu menampilkan senyum miring, "Lo anggap gue baik?"
Ratu nampak berpikir atas pertanyaan itu, "Setiap orang punya sisi baik. Kalau pun lo jahat, itu artinya lo lagi tersesat, tapi bukan berarti lo nggak bisa pulang.
"Udah sampai." Raja langsung menghentikan mobilnya secara mendadak, membuat dahi Ratu hampir saja menubruk dashboard jika tidak ditahan oleh cowok itu.
"Belajar dulu duduk yang benar, baru ceramah." Ucap Raja sinis.
"Siapa aja yang lo begituin pasti bakal nyungsep kali." Ratu langsung keluar dari mobil Raja dengan wajah tertekuk dan berlalu dari hadapan cowok itu tanpa mengucapkan apapun.
Merasa cukup, Raja langsung pergi dari depan perkarangan rumah Ratu dan melaju menuju kesuatu tempat yang dimana saat ini ia sedang ditunggu.
Decitan ban mobil yang sangat nyaring itu telah mengundang semua pasang mata tertuju pada sosok dibalik mobil tersebut. Raja keluar dengan angkuhnya, mendatangi keempat inti Kingster yang sejak tadi sudah tiba dengan ditemani oleh beberapa anggota Kingster yang lain yang juga turut bergabung.
"Baginda, ini kunci motor lo." Geo melemparkan kunci dengan tulisan merek motor tersebut kepada Raja yang ditangkap sempurna oleh sang pemilik.
"Woww, bukan Raja namanya kalau tidak ditunggu." seseorang datang membawa senyum sinis kepada Raja.
"Kalau lo kalah malam inj, gue mau hak gue lo balikin." Sarkas Alfi tajam.
"Lo nggak akan bisa rampas itu."Balas Raja sengit.
"Lo lihat ini." Alfi menunjukkan ponselnya yang berisi rekaman seseorang disana, membuat rahang Raja mengeras.
"Gue bisa kapanpun sebarin ini kalau gue mau." Ucap Alfi lagi disusul dengan kekehannya.
"Coba aja!" Sertak Raja, dan.....
BUGHH!
bogeman keras tak terprediksi dari Raja kini telah mendarat dipipi Alfi, membuat cowok dengan iris mata berwarna hitam itu tersungkur dengan kasar mecium aspal jalanan.
"SINI LO, MAJU! LAWAN GUE KALAU BERANI, BASTARD!" Teriak Raja sambil menarik paksa kerah baju Alfi agar cowok itu berdiri.
"Anjing, lo mainnya ngancem, BIADAP BABI!"
BUGH!
BUGH!
Jalanan yang awalnya akan menjadi area balapan liar kini telah terjadi pertumpahan darah dari kedua kubu yang saling menyerang. Raja terus menghajar Alfi tanpa ampun, sepertinya emosi yang sudah sejak dulu ia kendalikan kini telah meluap diujung tanduk, bahkan dirinya tidak peduli bahwa Alfi sudah tidak berdaya dengan luka dimana-mana, Raja terus saja menghajarnya, menendangnya kuat dengan emosi tak terkontrol.
Melawan Kingster artinya siap tiada, karena Kingster akan menggiringmu ketempat yang tidak bisa dibayangkan, bahkan mangsanya saja akan lupa dimana mereka sedang berpijak.
Jika ada yang mengatakan bahwa Raja adalah pecundang karena masih saja menghajar musuh yang tak berdaya, maka akan ku perjelas, bahwa Raja tidak peduli akan hal itu.
Jika dia sudah marah besar, lebih baik kalian lari.
Atau mati.
Raja mengeluarkan pisau lipat yang dibuat khusus dengan logo 'KING' dibagian ujung mata pisau nya dan juga dibagian tengah genggaman nya, yang selalu cowok itu bawa kemanapun ia berada.
Pisau itu akan menembus siapa saja yang berani menentang dan memberikan tanda bahwa tusukan itu milik Kingster. Kingster yang kejam dan pembunuh.
SREEET!
Ujung pisau itu sudah melukai pipi kiri Alfi yang membuat cowok itu meringis kesakitan. Kedua tangannya ditahan oleh anggota Kingster lainnya yang membuat cowok itu tak bisa berkutik.
"Lo tau, menikmati wajah kesakitan seperti sekarang ini sangat menyenangkan bagi gue. Aromanya, suasananya, rintihannya, itu luar biasa bagi gue." Raja tersenyum yang membuat aura cowok itu semakin menyeramkan.
Anak-anak Kingdom sudah tertunduk lesu dikaki masing-masing anggota Kingster . Malam ini telah menjadi saksi bahwa Kinster tidak pernah main-main dengan ucapannya.
"Bastomi! Lo send sekarang!" Teriak Alfi pada wakilnya itu seraya menyunggingkan senyum meremehkan pada Raja.
Belum sempat sang wakil Kingdom itu menyalakan ponselnya, namun sebuah benda titanium itu sudah lebih dulu melayang bebaa dan menusuk tepat didada Bastomi.
"Arggggh!"
Braaak!
Dengan sigap, Geo langsung menendang kuat ponsel yang terjatuh di tangan Bastomi kesembarang arah.
"Jangan berani-berani lo lakuin ini, atau lo akan lebih buruk!"
Mata Raja melotot dan memerah, saat ia ingin kembali melayangkan bogemannya, sirine mobil polisi sudah lebih dulu menghentikan aksi cowok itu.
"Baginda! Cabut! Teriak Alex yang langsung naik ke kendaraan masing-masing.
"Ingat pesen gue!" Ucap Raja pada Alfi sebelum ia benar-benar pergi.
•••