"Lo nggak boleh pergi." Titah Raja dengan mencekal tangan Ratu.
"Nggak mau, pokoknya gue harus pergi." Jawab Ratu yang masih keukeuh.
"Tapi lo masih sakit.
"Jangan anggap penyakit gue sebagai kelemahan."
"Tapi ini mendadak!" Raja masih saja berusaha membuat Ratu membatalkan perjalanannya.
"Tapi gue udah prepare, ja."
Raja nampak berpikir sejenak, studi tour adalah hal yang sangat membuang-buang waktu menurutnya. Cowok dengan setelan celana jeans itu kemudian terlihat merogoh sakunya untuk mengambil ponsel lalu mengetikkan pesan disana.
Kingster
Raja justin : Prepare skrang! kita ikut tour!
Nicho govinda : Nenek Gavin topinya bundar, apakan benar?
Geo mahendra : Dimana-mana tapi emang bundar, njir!!
Boby mahabetra : Apa boss? keyboard lo rusak ya?
Alex novriko : Otw
"Tunggu bentar !" Ucap Raja sambil menatap Ratu tanpa expresi.
Belasan menit berlalu, keempat inti Kingster lainnya telah tiba disekolah dengan membawa barang masing-masing dan juga tas kecil milik Raja ditangan Alex.
"Ayoo!"
Tanpa aba-aba, tangan kokoh Raja langsung menggandeng Ratu dan membawanya masuk kedalam bus milik kelas sebelas.
"Lo ngapain duduk disini?" Tanya Ratu sewot yang baru saja mendudukkan dirinya dikursi dekat jendela saat melihat Raja yang turut duduk disampingnya.
Raja tidak menjawab, cowok itu hanya menatapnya datar.
"Temen gue mau duduk disini, lo pergi sana!" Ucap Ratu lagi dengan mengibaskan tangannya bermaksud untuk mengusir Raja.
"Gue duduk disini atau nggak pergi sama sekali." Tutur Raja tajam.
"Kok maksa?! Lagian lo itu bukan siapa-siapa gue, jadi jangan sok, deh."
"Kode ya?" Raja menyunggingkan senyum miringnya.
"Dih, gue nggak mau sama lo.Jangan pikir macem-macem.
Raja sekali lagi tersenyum singkat, membuat beberapa penghuni bus yang melihat itu terpekik histeris.
"Rajaa, gue nyariin lo dari tadi." Ucap seseorang yang seketika membuat suasana menjadi hening sesaat.
Raja yang masih setia menatap wajah Ratu yang tersandar pada jendela bus harus mengalihkan pandangannya pada seseorang yang baru saja mengajaknya berbicara, begitupun dengan Ratu.
"Kata Alex lo disini, kenapa nggak ke bus sebelah aja?" Tanya sosok itu lagi.
Ratu yang menyadari lirikan tidak suka dari sosok itu yang ditujukan padanya, sontak membuatnya ikut menatap gadis dengan sweater cream itu sinis.
"Gue disini aja."Jawab Raja tenang lalu kembali melemparkan pandangannya pad Ratu, " Karena ada yang gue jaga disini." Imbuhnya lagi yang masih belum melepaskan pandangannya.
Ratu yang mendengar penuturan cowok disebelahnya itu hanya bisa menatapnya tidak mengerti, membuat sang gadis dengan sweater cream itu pun memandang Ratu sekilas.
"Kalau perlu something, lo tinggal chatting gue." Tutur gadis itu dengan senyum tipis lalu melenggang pergi.
mata Raja masih memperhatikan sosok yang baru saja menghilang dari hadapannya, kemudian cowok itu merogoh ponselnya dan kembali mengetikkan sesuatu disana.
Kingster
Raja justin : Jaga dia, jangan sampai laku!
Setelah mengetik hal tersebut, Raja kembali beralih menatap Ratu yang sepertinya sontak mengalihkan padangan dari Raja.
"Lo kenapa?" Sakit lagi, kah? Tanya Raja yang membuat Ratu menggeleng singkat.
kalau dia udah punya doi, kenapa khawatirin gue?
Itulah yang tiba-tiba terlintas dipikiran Ratu, gadis itu bergelut dengan opininya sendiri yang membuatnya semakin tak mengerti.
"Kalau lo bakal nyakitin orang lain karena rasa bersalah lo sama gue, mending lo akhiri karena gue udah maafin lo." Ucap Ratu tiba-tiba dengan netra dalam menatap berani kearah mata elang Raja.
Raja mengernyit tidak mengerti, "maksud lo?"
"Jangan lindungi gue karena terpaksa, dan satu lagi, gue nggak lemah."
"Lo ngomong jangan basa-basi, bisa?" Raja menaikkan sebelah alisnya.
"Jangan buat gue terbiasa jika semuanya akan pergi."
"Akhiri sekarang sebelum semuanya tumbuh perlahan." Imbuh Ratu lagi.
Ratu terus saja menghujam Raja dengan Kata-kata yang cowok itu sulit artikan, membuat sang empu terus saja menekuk dahinya.
"Lo ada masalah apa?" Tanya Raja sekali lagi dengan nada.... sedikit lembut?
"Masalah gue adalah lemah jika menyangkut perasaan." Ratu kembali menubruk netra tajam didepannya itu dengan tatapan serius.
•••
Kurang lebih sekitaran enam jam perjalanan melewati Tol Trans Jawa dari Surabaya ke Semarang menggunakan bus pariwisata, kini akhirnya mereka semua telah tiba dipusat kota bersejarah yang juga termasuk deretan kota termaju ditanah air. Kota Metropolitan terbesar kelima di indonesia ini mampu memadukan kemajuan zaman dengan kebudayaan tradisional, seperti suasana kota klasik dengan berbagai bangunan bergaya eropa.
Namun sepertinya perjalanan mereka akan terhenti disini, karena suasana hari yang semakin terik membuat sebagian siswa merasa lelah dan akhirnya mereka semua harus pergi ke penginapan terdekat.
Sriguna bukan sekolah Swasta yang minim akan dana. Sekolah ini mampu membuat penghuninya merasa kagum dari segala acara yang dibuat, contohseperti sekarang ini yang dimana mereka sedang diajak keliling kota-kota bersejarah di Indonesia yang terus diadakan disetiap semesternya, dan juga berkunjung ke luar negeri bagi setiap kelas dua belas yang akan segera tamat sebagai tanda perpisahan dari pihak sekolah.
"Haaaah!" Ratu menghempaskan tubuhnya yang terasa sakit akibat lama terduduk didalam bus disusul oleh Grabilla dan Novela yang merupakan satu kamar dengannya.
"Kenapa nggak naik pesawat atau helicopters aja, sih?" Ucap Novela dengan mata terpejam menahan sakit disekujur tubuhnya.
"Pesawat nenek lo yang bisa nampung kita semua." Celetuk Grabilla.
"Nenek gue nggak punya pesawat."
"Makanya diem bae, jan banyak nawar."
"Kanjeng mah enak ada yang disenderin, lah kita?" Ucap Novela seraya menatap Ratu.
"Tau! Baginda dipepet terus."Sahut Grabilla dengan kekehannya.
"Katanya nggak suka, eh tau-tau udah jadi pacar aja." Imbuh Novela yang terus menyinggung Ratu.
"Lo berdua ngomong aoa? gue nggak bisa denger, terlalu gelap disini." Jawab Ratu jutek.
"Udahlah kanjeng, nggak usah malu sama kita mah." Ucap Novela lagi.
"Berasa pengen ketukang tambal ban gue." Ratu bangkit seraya berjalan menuju cermin samping tempat tidurnya.
"Lahh ngapain? Bus kita bocor?"
"Pengen nambal mulut lo yang ngebacot terus."
Mendengar itu, Novela mengerucutkan bibirnya sebal akibat perkataan Ratu yang mengundang kekehan dari Grabilla.
"Ehh, kalian tau nggak siapa sosok yang nampar gue waktu itu?" Tanya Ratu tiba-tiba.
Novela dan Grabilla nampak berpikir, " Yang tadi nyamperin lo sama Raja itu?" Balik tanya Grabilla dengan menatap sahabatnya.
Mereka bertiga memang satu bus, hanya saja Grabilla dan Novela duduk di jok paling belakang.
Ratu mengangguk sebagai jawaban.
"Kalau gue nggak salah, sih. Kakak itu dulu katanya udah sekolah di Sriguna sejak Raja masih kelas sepuluh dan mereka kelihatan deket gitu menurut beberapa siswa yang cerita." Jelas Grabilla yang sepertinya pernah mendengar cerita Raja dan sosok gadis asing itu dari beberapa kakak kelasnya.
"Nah, yang gue tau juga, nih. Waktu Raja masih kelas sepuluh kakel itu memang udah kelas due belas, tiba-tiba dia menghilang atau berhenti sekolah gitu. Katanya orang-orang, sih, dia sakit ada juga yang bilang nggak punya biaya untuk membayar uang sekolah." Imbuh Novela dengan wajah seriusnya.
"Jadi maksud lo berdua, dia anak baru sekarang ini?" Tanya Ratu lagi, sontak Novela dan Grabilla mengangguk.
"Pantesan pas kelas sepuluh gue nggak pernah ngelihat dia." Ratu mengangguk-anggukkan kepalanya pertanda ia mengerti.
"Emm, Kanjeng kenapa, tumben kepo sama urusan Raja!" Novela menaikkan kedua alisnya secara bergantian bermaksud untuk menggoda Ratu.
"Novela, coba lo lihat kebawah." Intruksi Ratu yang langsung diikuti oleh Novela.
"Otak lo jatuh, tuh." Pungkas Ratu lagi dengan santai.
••••