RAJA UNTUK RATU - JANGAN LUPAKAN

1362 Kata
Semilir angin perlahan menghembus dan menerpa wajah cantik seseorang yang membuat netra abu-abu itu beberapa kali mengerjap. Ratu melirik kearah jam tangannya sejenak yang kini telah menunjukkan pukul setengah lima. "Anjiiirrr, kasih info mendadak banget." Gerutu Ratu ditengah langkahnya saat ia ingin menuju halte yang tidak jauh dari supermarket yang baru saja ia kunjungi. Baru saja kaki itu ingin berpijak pada aspal jalanan, dengan cepat butiran air bening itu sudah lebih dulu menyerbu membasahi dikit demi sedikit jalan didepannya. "Sial, bentar lagi nambah lebat, nih." Ratu mendongaj, menatap langit-langit yang mulai menggelap. "Nih ponsel juga kenapa pakai lowbat?" Ratu melihat terus mendengus kesal, mengingat dirinya yang baru saja mendengar pengumuman bahwa sekolah mereka mengadakan studi tour ke Semarang pada besok pagi dari kedua sahabatnya sebelum ia pulang sekolah tadi, dan berakhir ia langsung ngacir kepusat perbelanjaan terdekat. Netra itu terus menatap lurus memandang jalanan yang semakin basah akibat turunnya hujan, dan sedetik kemudian gadis itu menghela nafas lalu memalingkan wajahnya untuk melihat sekitar. Tidak lama setelah itu, mata Ratu dibuat menyipit saat melihat seseorang yang ingin melintas didepannya, dan.... "Mas! Mas tukang ojek, kan?" Tanya Ratu sambil menghadang jalan si pengendara motor matic tersebut yang alhasil membuat sang pengemudi mengerem mendadak dibawah rintiknya hujan. "Please, Mas, anterin saya ke perumahan wilis melati, ya." Imbuh Ratu lagi yang langsung naik pada jok belakang motor tersebut beserta menepuk pundak sang pengemudi. Hujan semakin lebat namun pengemudi itu semakin lambat mrngendarai motornya. Ratu melirik beberapa kali kearah kaca spion yang memperlihatkan sosok dengan helm full face yang menutupi wajah pengemudi itu. Bukan tanpa sebab jika Ratu ingin menerjang hujan tanpa menunggunya reda, namun gadis itu pada dasarnya memang tidsk sabaran dan tidak suka dengan yang namanya menunggu. Menunggu sesuatu yang tidak pasti. Layaknya menunggu hujan entah sampai kapan kita harus berjuang sambil meratapinya. Bahkan disaat hujan sudah mulai mereda dan menampakkan keindahan pelangi sesudahnya, namun bisa saja sedetik kemudian ia kembali jatuh menghantam semua harapan kita. Tak terduga dan tak terkira. Ditunggu reda, ehh taunya nggak reda sampe berjam-jam. Pas udah reda, eh, ditengah jalan malah keguyur lagi. Kan sama aja bohong. Sekiranya itulah singkatnya alasan Ratu yang tidak ingin menunggu yang tidak pasti. Lebih baik basah dan basah sekali, dari pada senang sesaat atas janji kebahagiaan yang sedetik kemudian bisa dihancurkan. "Mas atau om, bisa dikebutin dikit nggak ? badan saya sudah mulai basah kuyup." Ratu membuka suara dengan gerutan tipis didahinya. Pengandara itu tidak menyahut, namun tanpa aba-aba sosok itu langsung menancapkan gas motornya dengan tidak santai yang mrmbuat Ratu terlonjak kaget dan hampir saja terjungkal jatuh jika tidak mencekal kuat jaket sosok didepannya tersebut. "Pak, hati-hati dong! Kalau saya mati gimana? Nggak kasihan sama penggemar saya?" Ucap Ratu tidak santai sambil mengusap dadanya yang terasa ingin copot. Masih tidak ada respon, yang membuat Ratu semakin mengernyitkan dahinya lantaran ia bingung. Apa jangan-jangan ini hantu ojek, ya? Batin Ratu dengan pikiran kemana-mana yang mulai ada rasa was-was sambil sesekali melirik kearah spion. Anjir, ternyata gue indigo. Batin Ratu lagi seraya meneguk salivanya pelan. "Pak, kalau boleh tau bapak mati kenapa?" Tanya Ratu dengan sedikit keberanian yang malah memperlihatkan tampang i***t-nya. Sosok dibalik helm full face itu terkekeh, semakin membuat Ratu panik. "Pak, apa dulu saya pernah lupa nggak bayar, ya, sama bapak? Sampai bapak gentayangan dan nyariin saya?" Pertanyaan Ratu yang semakin ngelantur, membuat sosok didepannya itu tak kuasa menahan tawa. "Kan saya nanya bukan ngelawak. Yaudah, turunin saya disini aja. Bukan menututi titah dari penumpang, namun sosok itu malah memutar arah yang membuat Ratu melototkan matanya. "Lo mau bawa gue kemana setan?! Gue nggak mau kekuburan lo!" Suara teriakan Ratu seolah bersautan dengan derasnya hujan yang hanya akan hanyut dalam pendengaran. Ingin rasanya Ratu melompat, namun nyalinya tak sebesar itu. Seiring dengan hujan yang semakin reda, sosok itu menghentikan motornya disebuah taman. "Duduk disana!" Titahnya dingin seraya menunjuk bangku kosong dibawah pohon. Anjir, dikubur ditaman ternyata. Batin Ratu yang tak henti-hentinya memikirkan hal yang konyol. Ratu mengangguk dengan expresi takut dan bibir pucat. Sosok yang baru saja berbicara padanya itu pergi tanpa pamit dan meninggalkan Ratu seorang diri. Sekitaran sepuluh menit berlalu, sosok misterius itu datang dengan dua cup coffee panas ditangannya. Perlahan tangan itu terulur yang membuat Ratu menatap sosok masih dengan helm full face nya itu dalam. "Ambil." Idihh, nih setan mau ngajakin gue ngopi sambil main catur apa gimana? Batin Ratu dengan tatapan ngeri pada sosok dengan helm full face itu. "Ambil!" Ulang sosok tersebut dengan sedikit sentakan. Dengan tangan gemetar, Ratu segera mengambil alih cup coffee tersebut dari tangan didepannya. Sosok itu terlihat ingin duduk disamping Ratu bersamaan dengan tatapan Ratu yang sejak tadi tak terlepas padanya. "Lo takut sama gue ?" Ucap sosok disampingnya seraya membuka helm. Mata Ratu melotot, "Raja?!" Pekiknya nyaring. "Hemmm." Dehem Raja santai sambil menyesap minumannya. " LO! Arghhh!" Ratu mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan kekesalan yang ada didalam dirinya. "Lo ngapain, sih, gangguin gue mulu?! Imbuh Ratu lagi. Raja menoleh menatap wajah memerah disampingnya, " Bukannya lo yang maksa nebeng sama gue?" "Gue kira lo tukang ojek, setan!" "Tukang ojek rumah lo becek! Dilihat makanya jangan main nyosor aja." Ketus Raja. "Lagian lo pakai matic, makanya gue kira tukang ojek." "Motor gue mogok disekolah, ini minjem motor satpam." Setelah itu sudah tidak ada lagi percakapan diantara keduanya. Mereka saling menyesap coffee milik masing-masing hingga tiba netra itu tidak sengaja bertemu satu sama lain dengan tatapan terkunci. Sorot teduh itu bertubrukan langsung dengan tatapan dingin milik Raja, seakan tertarik dari dunianya, perlahan tatapan Raja-pun berubah menjadi lembut dan tenang. Masih betah dengan posisi nya, hingga sebuah dentuman music yang tiba-tiba terdengar membuat kontak dikeduanya langsung terputus, Ratu mengalihkan pandangannya begitu-pun dengan Raja. Tanpa sadar, bibir gadis itu bersenandung kecil mengikuti alur music dengan sedikit senyum yang menghiasi wajahnya, membuat Raja kembali memandang sosok disampingnya dengan turut mengulas senyum. "Melliflou." Gumam Raja dengan mata yang masih mengamati jawah dari seorang Ratu. "Hah, apa? Lo ngomong sesuatu?" Tanya Ratu yang langsung menoleh. "Melliflous." Ulang Raja lagi. Ratu mengernyit tidak mengerti, "Artinya?" "Buat PR aja." Jawab Raja yang mrmbuat Ratu membecik kesal. "Btw, lo ngapain bawa gue kesini?" Tanya Ratu lagi. Raja menarik nafasnya dalam lalu menghembuskannya pelan dengan mata tertutup dan sedikit senyum dibibirnya, seakan ia baru saja merasakan kebahagiaan disetiap tarikan nafasnya. "Lo tau, gue suka banget sama bau tanah sehabis hujan." Tutur Raja tanpa menoleh. "Bau tanah selepas hujan itu wanginya seakan bisa menenangkan pikiran."Imbuh Raja lagi. Ratu yang penasaran, membuat gerakan mencium layaknyabseperti kucing yang tangah mencari bau ikan asin yang baru saja digoreng. "Kok bau tai ayam, ya?" Tanya Ratu polos sambil menatap Raja. "Lo nyiumnya kenaoa nggak sekalian sampaibke neraka aja biar tau bau-bau disana." ketus Raja. "Maksud gue, lo hirup udaranya pelan-pelan, nggak sampe nyosor ke akar pohon juga kali, nyet." Pungkas Raja lagi yang masih dengan nada bicara yang sama. "Jahat banget. Kan, gue cuma penasaran." Ratu mencebikkan bibirnya dengan menatap sengit pada Raja. "Hanya orang yang suka hujan yang tau ini." "Yee, gue tau kalau gue nggak bisa main hujan karena penyakit gue ini." Celetuk Ratu tanpa sadar. Setelah mengatakan hal tersebut, lagi-lagi keduanya bungkam. Pikiran masing-masing seolah mengingatkan pada sebuah kejadian yang tak asing. Raja yang sejak tadi terus memutar memori ingatan didalam otaknya, kini telah mengingat sesuatu. Raja melototkan matanya, belum sempat ia bersuara namun tubuh Ratu yang gemetar hebat sudah lebih dulu membungkamnya. "Ratu!" Sontak Raja mendekat dan mengusap kedua tangan gadis itu lalu menangkup pipinya pelan. Ratu menunduk, langsung menyembunyikan wajahnya didada bidang milik Raja dengan bibir pucat yang terus mengigil. "Kita kerumah sakit sekarang!" Raja yang ingin membopong tubuh tersebut harus terhenti karena cekalan dari sang pemilik yang menahannya. "Jangan kerumah sakit, jangan." Gumam Ratu dengan mata tertutup yang terus menubruk d**a bidang Raja untuk mencari posisi nyaman. "Tapi lo sakit!" Ucap Raja yang terdengar khawatir. "Please, jangan tinggalin gue." Racau Ratu yang kini menggenggam tangan Raja kuat. "Gue nggak akan ninggalin lo." "Lo bisa, kan, peluk gue sampai semua ini berakhir?" Tnpa sepatah kata, Raja pun langsung melepas jaketnya yang ia pakai dan menutupkannya pada tubuh Ratu lalu kembali memeluknya erat. Gue nggak akan ngelepasin lo. Batin Raja sambil sesekali menatap wajah pucat itu yang kini mulai tenang. ••••
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN