Dua hari setelah kejadian waktu itu sudah tidak ada lagi percakapan diantara Raja dan Ratu. Memang benar, keduanya kini saling merasa asing, hanya sekilas memandang dan tidak ada lagi perdebatan yang membakar mereka.
Ratu berjalan menuju toilet, netra gadis itu yang terus menatap ujung sepatunya, membuat dirinya tidak sengaja menubruk d**a bidang milik seseorang. Ratu mendongak, menatap sosok yang sudah menjadikan nya asing itu, sosok yang selalu bisa membuat emosinya meluap-luap itu, dan sosok yang....entahlah.
"Buka mata lo saat jalan." Celetuk Raja jutek.
"Nih, lagi gue masukin kedalam kocek." Jawab Ratu tak kalah jutek sambil berlalu.
"Ratuu, lo lagi marahan ya sama Raja?" Tanya Grabilla yang memang sudah lebih dulu tiba ditoilet.
"Nggak." Jawab Ratu seadanya.
"Masa, sih? Tapi kok kalau gue perhatiin lo berdua udah nggak sapaan lagi." Imbuh Novela dengan badan yang menghadap kearah Ratu.
"Lahh, emang sejak kapan gue sama dia saling sapaan?" Kini balik Ratu yang bertanya dengan senyum miringnya.
"Udah, dehh. Intinya kalau dia menjauh, ya, bagus. Hidup gue makmur lagi." Imbuh Ratu.
iya, kan, Rat? Btin Ratu yang berusaha mendukung jalan pikirannya.
"Raja itu cowok idaman banget, udah ganteng, tajir, famous lagi." Tutur Novela dengan senyum mengembang.
"Makan tuh, ganteng. Anak belagu kek dia lo kata idaman, mata lo dibuat dimana? Kek nya noob."
"Eh, kanjeng, jan begitu! Ntar jatuh cinta, gue ketekin lo sampai mampus." Sahut Grabilla seraya menyisir rambutnya.
"Siapa yang mau jatuh cinta sama kadal mesir begitu? Anaknya kasar, gue nggak suka." Jawab Ratu menilai.
"jangan-jangan pas udah jadian ntar, gue di KDRT mulu." Imbuh Ratu lagi dengan memasang wajah sok tekutnya.
Terdengar suara bilik pintu terbuka dari salah satu toilet, menampilkan sesosok gadis anggun dengan rambut lurus menghiasi kepalanya, sontak membuat Ratu dan kedua temannya menoleh kearah sosok tersebut yang terlihat menatap Ratu dengan tatapan tidak suka.
"Jaga omongan lo! Raja nggak seburuk yang lo kira." Ucap sosok itu tiba-tiba dengan tatapan yang berubah sinis.
"Emang gue ngomong apa?" Tanya Ratu dengan santainya.
"Gue nggak tuli, ya, sampai gue nggak bisa dengar semua yang lo omongin tentang hidup Raja."
"Wow, ternyata penggemar Raja biang nguping." Ratu terkekeh yang disusul kedua sahabatnya.
Gadis itu menajamkan tatapannya, perlahan tangannya terkepal.
"Gue ingetin, cukup sampai disini lo bermain dengan Raja." Tutur gadis itu dengan serius.
"Emang lo siapanya, sok ngatur gue?"
"Bukan siapa-siapa. Gue cuma nggak mau orang kurang ajar seperti lo mengusik hidup Raja."
Ratu nampak berpikir sejenak, lama-lama gadis itu heran sendiri dengan tingkah sosok asing didepannya yang sepertinya sensitive dengan nama Raja.
"Lo ada masalah apa sama gue?" Tanya Ratu yang kali ini mengubah nada suaranya menjadi dingin.
" Gue hanya minta jauhi Raja!"
"Kenapa?"
"Orang seperti lo nggak layak buat dia."
Ratu mengernyitkan dahinya, "Lo siapa yang berhak menilai?"
"Netizen, lah, kanjeng Ratu!" Celetuk Novela dengan santainya.
Sosok itu terkekeh, "Sekali merendahkan, akan tetap begitu."
"Lo pacarnya Raja? Si cowok sialan itu?" Ratu menaikan sebelah alisnya.
"Tenang aja, gue nggak mungkin tertarik sama cowok lo yang b*****t itu."
plakkk!!
Lagi-lagi, pipi Ratu kembali memanas akibat tamparan atas dasar nama Raja. Sosok yang baru saja melayangkan tangannya pada wajah Ratu itu melotot dengan mata memerah.
"Gue bilang, jaga ucapan lo!" Sarkas sosok itu marah.
"Weh, anjing! Sini ayo gelud!!!" Novela maju dan mendorong bahunya sosok asing tersebut dengan kasar.
"Gue peringatin lagi, jangan usik hidup Raja!" Ancam gadis asing itu yang langsung keluar meninggalkan amarah dihati Ratu.
"Kanjeng, lo baik-baik saja, kan?" Tanya Grabilla yang langsung melihat pipi Ratu yang memerah.
"Kurang ajar banget, sih, itu cewek. Sensi amat padahal kita nggak ngomongin Raja yang berlebihan." Ucap Novela yang merasa kesal dan heran secara bersamaan.
•••
Derap langkah kasar itu berjalan menyusuri koridor yang langsung membuat orang-orang membukakan jalan untuknya. Bukan, bukan karena langkah itu, melainkan sorot dari sang pemilik yang membuat mereka, si pengguna koridor menepi dan bergidik ngeri saat melihat netra itu menatap lurus dengan penuh emosi. Langkah itu terus membawanya kesebuah tempat yang pasti akan dikunjungi disaat jam istirahat tiba.
Mata Ratu mengedar cepat, kemudian ia melanjutkan langkahnya yang membuatnya mendekat kearah seseoran. Tatapan itu masih lurus, menyorot sengit dengan bara api yang sejak tadi berkobar didalam hatinya.
Kini, Ratu telah berdiri tepat disamping seseorang yang menjadi alasannya terus mendapatkan masalah itu, dan dengan santainya tangan itu meraih segelas air lalu menyiramkannya kewajah Raja dengan kasar.
Semua orang terkejut, Raja terduduk dengan air yang masih mengalir melalui rambutnya yang kini telah basah sebagian, begitu pula dengan seragamnya. Tangan itu terkepal, mata laser yang siap meleburkan lawannya itu kini naik menatap Ratu dengan nafas naik-turun.
Dan lagi-lagi mereka kembali dikejutkan dengan suara tamparan meja yang bisa dibilang sangat keras, namun hal tersebut tentu saja tak mampu untuk meruntuhkan nyali Ratu, karena gadis itu benar-benar marah.
"Apa ini?!" Sarkas Raja marah yang membuat teman-teman satu mejanya sontak berdiri.
"Itu hanyalah air, tapi tadi pagi gue direndahin."
Plaakk!
Semua orang kembali melototkan matanya saat melihat respon lain yang Ratu berikan, termasud Raja. d**a bidang cowok itu naik-turun bahkan Ratu sampai bisa mendengar suara nafasnya yang menggebu.
"Kenapa lo tampar dia?!" Raja mencengkram kedua lengan Ratu kuat dengan gerutan emosi tercetak jelas diwajah.
"Harusnya lo tanya, kenapa dia nampar gue tadi!" Jawab Ratu dengan berteriak.
Raja menyipitkan matanya tak mengerti yang semakin membuat Ratu berdecih muak.
"Gue bilang, lo tanya sama dia kenapa dia nampar gue tadi pagi?!" Ulang Ratu lagi yang masih tak menurunkan nada suaranya.
Tatapan Raja teralih pada sosok gadis anggun yang juga sedang berdiri dengan memegang pipi tepat disampingnya. Perlahan cekalan itu melonggar seiring Raja menatap gadis yang telah berani mendaratkan telapak tangannya itu pada wajah Ratu.
"Kenapa?"
Suara Raja menurun, namun masih tak menghilang kan emosinya dan masih bisa terlampir dipertanyaan tersebut.
"Maaf, ini salahku." Ucap sosok itu dengan wajah tertunduk.
Raja menarik serta menghembuskan nafasnya kasar berusaha menetralisir amarah yang berada didalam dirinya dan kembalu menatap sosok Ratu yang masih memancarkan amarah dari matanya.
"Ratu, seharusnya lo ngomong baik-baik sama dia, jangan buat rusuh disini." Tutur Raja pada gadis mungil didepannya.
"Sekarang lo ngajarin tentang bagaimana gue harus bertindak?" Ratu menaikkan sebelah alisnya.
"Kenapa lo nggaj ajarakan itu dulu sama pacar lo yang kurang ajar itu?" Imbuh Ratu yang masih berteriak.
"Ikut gue!" Raja langsung menggandeng tengan Ratu dan menarik gadis itu keluar dari kerumunan.
Penghuni kantin yang sejak tadi sudah kebingungan, kini mereka hanya saling pandang dan bergidik tidak mengerti satu sama lain. Begitu pun dengan anggota inti dari Kingster lainnya, satu demi persatu mereka beranjak pergi.
"Lepas!" Sergah Ratu dengan menghempaskan cekalan Raja disaat keduanya telah berada disebuah lorong koridor yang sepi.
Gadis itu menghentikan langkahnya, sontak membuat Raja turut berhenti dan menghadap kebelakang tepat dimana Ratu berada.
"Kenapa?"
"Gue mau obati pipi lo."
"Kenapa?" Tanya Ratu yang membuat Raja mengernyit.
"Apa?" Balas tanya Raja dengan menatap dalam netra didepannya.
Sudah jelas, kan, kalau Raja mau mengobati lukanya, lalu apa lagi?
"Kenapa lo bawa gue pergi? Seharusnya lo bawa pacar lo pergi dan obatin dia karena udah gue tampar."Ucap Ratu cepat dengan d**a yang masih bergemuruh.
Raja terkekeh pelan, "Oh, jadi lo cemburu? Dan untuk melampiaskannya, lo sekalian turut tampar dia?" Tanya Raja dengan senyum yang, beuhhh, mempesona.
"Cihh, lo kalau ngomong suka nggak pake otak." Decih Ratu dan langsung meninggalkan Raja ditempat.
••••