RAJA UNTUK RATU - KEMBALI ASING

1186 Kata
Motor Raja berhenti disebuah gedung tua yang kumuh dan udah lama tak berpenghuni, bahkan rumput liar disekeliling gedung itu nampak memanjang pertanda tempat ini sudah lama tidak dijamah oleh manusia. Mata elangnya mengedar menatap sekeliling gudang untuk mencari sosok yang telah membuatnya berada disini. Belum sempat kaki itu melangkah, deheman milik seseorang sudah dulu menghentikan nya. "Ekhemm!" Raja memutar badannya dan menatap sosok didepannya itu tenang. "Udah punya pacar baru, kan? Mending berikan apa yang gue mau." Ujar laki-laki dengan senyum manisnya yang mungkin membuat siapa saja bisa jatuh cinta. "Nggak usah basa-basi." Jawab Raja yang kian membuat sosok itu tertawa. "Kasih apa yang gue mau, atau gue rebut secara paksa." Ancam Alfi yang kini merubah raut wajahnya menjadi serius. "Lo gila? Dia udah punya tanggung jawab." Sarkas Raja dengan tangan terkepal. "Gue nggak peduli." "Gue kasih tau sama lo, jangan berani lo usik dia atau lo abis ditangan gue." "Lihat aja apa yang bisa gue lakukan untuk itu semua, dan lo nggak bisa mencegah itu." Ucap Alfi sinis. "Lakukan, gue pengen tau seberapa besar nyali lo." Balas tutur Rajayang langsung kembali kearah motornya dan segera berlalu dari sana. "Emm... ngomong-ngomong Ratu cantik juga." Celetuk Alfi yang membuat Raja menahan gas motornya sesaat. "Jangan libatkan orang lain, atau gue bakal jadi mimpi terburuk lo!" Mata itu kian menajam, tatapannya seperti penuh amarah saat gadis asing yang telah masuk kedalam hidupnya itu dengan sengaja disinggung orang lain. Tangan terkepal yang serasa ingin mengajar seseorang itu hanya bisa ia lampiaskan pada stang motornya yang berujung menimbulkan gertakan gigi dsn urat-urat leher yang menonjol dibalik helm full facenya. ••• Suara deru motor yang bersautan itu kini telah tiba diparkiran SMA Sriguna, Raja melangkah bersama semua temen-temen nya dengan posisi ia selalu ditengah. Mata cowok itu tidak sengaja menangkap sosok Ratu yang juga baru saja tiba bersama kedua sahabatnya, keduanya saling berpapasan menatap dalam satu sama lain. Dia pacar gue. Bayangkan disaat mengatakan hal tersebut tiba-tiba melintas diingatan Raja tepat saat keduanya tengah berhadapan. Kita putus. Sedetik kemudian, Ratu mengalihkan pandangannya, perkataan Raja saat memutuskan dirinya itu turut menggiang dimemori ingatannya. Dalam hati ia sadar, bahwa fakta yang telah dialaminya kemarin itu tidak benar. Apakah Ratu kecewa bahwa semuanya itu hanya rekayasa? Entahlah, yang pasti ia sedikit terganggu dengan kata sakral tersebut. "Tunggu!" Ratu yang awalnya ingin segera melenggang pergi kini kembali menahan gerakan nya dan menatap wajah sosok didepannya. "Lo ikut gue." "Ehh!" Belum sempat jari Ratu mempaut tangan diantara kedua sahabatnya, namun sosok dingin nan keras kepala itu sudah lebih dulu mengandeng Ratu, ralat, lebih tepatnya menyeret gadis itu. "Lo mau bawa gue kemana?" Tanya Ratu yang terlihat kesusahan menyamai langkah lebar Raja namun tak dijawab oleh sang Raja. Perlahan namun pasti, penghuni koridor yang melihat itu sontak membuka jalan untuk keduanya dan kembali menimbulkan beragam argumen. "Sherly, sepertinya mereka berdua beneran jadian." Ucap miya, sahabat dari sosok pembully tersebut. Keempat gadis itu juga sedang menyaksikan bagaimana tangan Raja menggandeng tangan Ratu yang nampak erat seolah tak ingin melepaskan. Mata Sherly menyipit dengan tangan yang tanpa sadar tiba-tiba terkepal. "Masuk kehidup Raja, artinya siap mendapat luka. Baik itu dari gue atau dari Raja sendiri." Ucap Sherly dengan seringai jahat dan berlalu dari sana. "Duduk!" Titah Raja saat keduanya telah tiba dikelas Ratu. "Ma-" "Diem!" Sarkas Raja cowok itu membuat Ratu langsung mencebikkan bibirnya. Ratu menatap Raja yang sedang mengubrak-abrik isi tasnya seperti sedang mencari sesuatu. "Ini, lo harus kerjain! Temuin gue ditaman belakang pas jam istirahat nanti." Ratu membulatkan matanya, lagi-lagi gadis itu diperas oleh Raja. "Tap-" "Lakuin atau ..." Raja menggantung ucapannya, mata tajam bak belati itu menatap Ratu seolah ingin menusuknya yang membuat gadis itu hanya bisa mendengus kesal. Merasa cukup, Raja keluar dari kelas Ratu dengan beragam sumpah-serapah yang gadis itu berikan. Belum sempat Raja menaiki anak tangga menuju kelasnya, namun kedatangan para teman-temannya itu sudah lebih dulu menghadang langkahnya, yang membuat cowok berjambul cetar itu hanya menatap datar. "Cielah, Boss Raja. Rupanya mau nganterin kanjeng Ratu kekelas, sweet banget." Goda Geo dengan cengengesannya. "Sweet nenek lo kecepirit." Sarkas Raja yang langsung berlalu dengan meninggalkan dengusan kesal oleh Geo. "Yaudah, kita duluan." Pamit Alex pada Novela dan Grabilla yang tepat berada disampingnya. "Cieee, dianter sama Raja, nih, baik banget ya punya doi begitu. Ucap Novela pada Ratu yang turut diangguki Grabilla saat kedua gadis itu sudah mendudukan dirinya dibangku kelas masing-masing. " What's good about it?" Tanya Ratu jengah. Novela dan Grabilla menatap Ratu seolah meminta jawaban atas ucapannya. "Gue jadiin babu lo berdua bilang dia baik?" Kini giliran kedua gadis itu yang saling tatap tidak mengerti. "Emm... Ratuu, mungkin rasa sayang Raja ada ditulisan lo, yang ketika dia buka bukunya dia jadi makin jatuh cinta." Ucap Novela asal. "Serah, dah. Nih, kerjain! Gue mau nonton Drakor dulu, bubay!" Ucap Ratu malas sambil menyodorkan bukunya pada Novela. Waktu yang ditunggu oleh semua murid telah tiba yang termasuk waktu yang juga Ratu nantikan setiap hari, yaitu jam istirahat. Namun nampaknya gadis dengan anugrah netra abu-abu terang itu tidak bersemangat, langkahnya yang gontai membawanya perlahan menuju taman belakang sekolah untuk menemuai seseorang disana. "Nih." Ulur Ratu pada buku tugas Raja untuk sosok itu. Tidak ada jawaban, namun sosok itu hanya menoleh dan kembali menatap Ratu seperti tadi pagi. Merasa jengah dan tidak ingin basa-basi, Ratu meletakkan buku tugas tersebut tepat disamping coeok itu dan bersikap pergi dari sana. "Tungguu!" Lagi-lagi intonasi yang sama membuat Ratu menoleh. Raja beranjak berdiri juga turut membalikkan badannya menatap sosok gadis jelita yang berpijak tidak jauh darinya. Raja menghela nafas sejenak, bibir cowok itu perlahan terbuka dan mengucapkan sesuatu yang kembali mengganjal dihati Ratu. "Mulai sekarang, lo bebas. Gue nggak perlu usik hidup lo dan sebaliknya. "Anggap aja kejadian-kejadian kemarin itu nggak ada." Imbuh Raja dengan masih menatap Ratu dalam. Entah harus bahagia atau sedih, yang jelas perkataan Raja barusan perlahan mengundang rasa sesak dihati gadis itu. Ratu terdiam, tidak ada jawaban, ralat, lebih tepatnya ia tidak tahu harus mengucapkan apa, bibirnya terasa kelu besamaan denganrasa aneh yang ada didalam hatinya. Ini, kan yang lo mau? Batin Ratu bersuara seakan mengingatkan keinginan awalnya untuk terbebas dari Raja. Ini, kan yang lo tunggu? Wait, tapi kenapa rasanya gue.... nggak ikhlas ya? Ratu, lo kenapa? Pikiran gadis itu campur aduk bersamaan dengan udara yang menipis disekitarnya. "Iyaa, itu bagus Ucap Ratu akhirnya dengan senyum yang.... sedikit dipaksa? Ratu langsung meninggalkan Raja dengan jutaan sahutan dihati masing-masing, tanpa sadar Raja juga merasakan hal yang sama, tidak mungkin maksud Raja adalah rasa yang mulai sama sebelum kehadiran gadis itu dihidupnya, rasa yang sebentar lagi kembali datar seperti sedia kala. Ratu berjalan dengan gopoh menuju kantin untuk menyusul kedua sahabatnya yang sudah sejak tadi pergi. Lagi dan lagi ucapan cowok yang baru saja ia temui itu menggiang ditelinganya. "Arghh! Ini gue kenapa, si?" tanya Ratu kesal pada dirinya sendiri. "Apa efek gue jomblo m, ya, makanya gue begini?" likir gadis itu denga. menghentikan langkahnya. "adush, Ratu... lo kumer banget, sih, masa mau jadi babunya ketek jerapah itu."Lagi-lagi Rtau masih ber monolog sendiri. "Bodo amat, bodo amat, gue rada gila." Lanjutnya lagi seraya kembali melangkah dengan tangan memegang kepalanya. ••• SERIUS? Ratu beneran gila?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN