Lagi-lagi terjadi kebungkaman, kali ini semakin memanas karena kedua kubu yang sama-sama keras kepala. Ratu melangkah mendekat, gadis itu berjanji akan mencabik mulut tak berpenjaga tersebut.
"Apinya sudah padam, tapi gue masih mencium bau kebakaran." Raja berjalan dengan pongahnya memutari Ratu yang tepat disaksikan oleh puluhan bahkan ratusan pasang mata yang tengah menonton mereka.
"Hallo pemadam kebakaran, disini sepertinya sedang terjadi kebakaran pada gadis yang banyak gaya." Lanjut Raja dengan gerakan jari jempol dan kelingking membentuk seolah sedang menghubungi seseorang.
Ratu berdecih, masih tidak mengerti dengan pikiran mahkluk didepannya.
"Masalah lo dan gue itu simple, cuma lo nya aja yang ribet.
"Lagian wajtu itu gue juga udah minta maaf, dan lo nya aja yang bertingkah." Wajah Ratu nampak memerah, sepertinya gadis itu cukup muak.
"Sebenernya, lo punya masalah apa, sih, sampai orang lain yang jadi sasaran lo?"
Pertanyaan Ratu sepertinya telah mengusik ruang lumus yang ada dihati Raja, membuat wajah yang sejak tadi terpancar kemenangan kini telah berubah menjadi masam.
"Lo nggak perlu tau!" Sarkas Raja tajam.
"Harus tau! Karena perlakuan lo selama ini seperti orang yang mencari pion buat dilampiaskan!" Suara Ratu terdengar lantang, semakin menambah panasnya terik matahari.
Tangan Raja terkepal, "Cukup! Lo bukan siapa-siapa yang punya hak untuk nanyain itu!"
"Ya... ya... " Kini giliran Ratu yang memutari Raja dengan sikap jumawanya.
"Jika tentang kesalahan orang lain lo semangat, disaat gue tanyakan hal yang sama lo marah-marah." Ucap Ratu yang menghentikan langkahnya tepat didepan wajah sang Raja.
"Terlalu fokus pada kepentingan diri sendiri dan tidak peduli pada realita yang dimiliki orang lain, Ego yang bermain di pikiran lo, menjadikan orang lain yang salah sedangkan lo yang selalu diposisi yang benar.
Seakan mendapatkan cahaya dalam kegelapan, kini akhirnya Ratu dapat tersenyum penuh kemenangan. Keterdiaman Raja sudah memberikan kesan tersendiri pada Ratu dan tentu ia tidak akan puas jika belum mengubah haluan sang lawan menjadi tak berkutik.
"Hallo BASARNAS, ego Raja sepertinya sedang tenggelam." Balas Ratu dengan senyum sinis mengembang dan berlalu meninggalkan lapangan dengan beragam tatapan yang membuntuti langkahnya.
•••
Atas pertunjukan gratis dilapangan tadi pagi, kini telah membuat kedua sejoli yang terus melontarkan tatapan sinis itu mendapatkan hukuman membersihkan toilet sekolah, kedua tampak sama-sama membungkuk dengan mengepel lantai ditangan masing-masing.
Sudah setengah jam berlalu, berdamai dengan seseorang yang telah membangkitkan amarah besar mereka adalah hal yang sulit, ditambah lagi dengan ejekan yang terus terlontar dari bibir keduanya tersebut.
Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kedua mahluk tak terbaca itu layaknya seperti bunglon, dapat berubah sikap kapanpun. Sebelumnya kebencian yang membara, kini telah berubah meninggalkan kekesalan semata.
"Ini semua gara-gara lo." Sarkas Raja tajam.
""Ngaca, mas. Lo yang udah buat gue jadi begini." Sahut Ratu tak kalah tajam.
"Bahasa lo, kek berasa gur udah ngehamilin lo aja."
Ratu melotot, dicubitnya perut Raja sekuat mungkin.
"Asseekk, udah main cubit-cubitan." Celetuk Geo tiba-tiba didepan pintu disusul dengan kedatangan inti dari kelompok Kingster lainnya beserta kedua sahabat Ratu.
"Buah manggis, rasanya jeruk. Kamu yang disana, I love you baby." Imbuh Geo lagi dengan jari tangan yang membentuk ' love ' untuk Ratu.
"Pantun lo nggak nyambung, juminten." Ucap Novela dengan memutar bola matanya malas yang dibalas cabikan dari Geo.
"Booss sama kanjeng Ratu kuker banget, sih, sampe cari cara biar dihukum." Boby ikut menimbrung dengan tatapan heran pada keduanya.
Raja menatap satu-persatu sahabatnya, tatapannya yang mirip laser itu dapat merontokkan nyali lawannya menjadi lebur.
"Udah, yuk, cabut! Gue laper, nih." Titah Ratu dengan mengusap perutnya pelan dan membuat mereka yang berada disana mengangguk dan berjalan beriringan.
Belum lama kaki itu melangkah, kini nampaknya Ratu akan segera kembali terkena masalah- terbukti dari langkah sosok yang berjalan tergesa-gesa menuju padanya dari arah yang berlawanan dengan menatap Ratu nyalang penuh amarah.
Plaakk!
Satu tamparan keras mendarat dipipi kiri Ratu yang membuat gadis itu merasakan panas dan perih.
"Buat lo yang udah pacar gue terkena masalah!" Bentak sosok itu yang kembali mengundang pusat perhatian.
"Ehh b*****t! Temen gue ini!" Bentak Grabilla tak kalah nyaring dengan tangan yang menjambat sosok itu.
"Sherly! Lo apa-apaan?" Suara dingin yang tidak lagi asing itu telah menghentikan jambakan Grabilla pada rambut Sherly.
"Beb, seumuran nggak ada yang buat kamu seperti ini, ya aku nggak terima dong." Sherly langsung menghampiri Raja dan memeluk cowok tersebut tanpa rasa malu.
"Lepass!" Raja menghempaskan tangan Sherly kasar yang membuat gadis itu meringis kesakitan.
"Kok kamu kasar?;Apa karena cewek ini kamu jadi begini? Tunjuk Sherly pada Ratu yang masih memegang pipinya karena masih terasa memanas.
"Kita nggak ada hubungan apa-apa." Ucap Raja memperjelas.
Raja melirik Ratu sekilas, kemudian tatapan cowok itu kembali tertuju pada Sherly.
"Dan dia, dia.... pacar gue." Ditariknya tangan Ratu lalu langsung merangkulnya.
Tidak ada yang dapat bersuara, atmosfer sepertinya kembali menepis, bahkan hampir semuanya menahan nafas dan terkejut atas pernyataan yang Raja berikan.
Anggota inti Kinster itu melototkan matanya, disusul dengan kedua mulut sahabat Ratu yang ternganga lebar, terlebih pada gadis yang baru saja diakui sebagai pacar oleh tukang bully itu, menatap diam dari dekapannya.
"Hah, Beo Sherly.
"Dia pacar gue." Ulang Raja tegas.
"Dan kalau lo berani jamah dia lagi, gue sendiri yang bakal nentuin kapan lo mati."
Suara itu terus membungkam semua mulut, suasana yang awalnya hanya gerah kini semakin menjadi panas dan menegangkan.
"Baby, Kamu jangan bercanda, dong Aku ini cinta sama kamu." Tutur Sherly yang masih belum menyerah.
Tatapan gadis itu tertuju pada Ratu, yang sejak tadi diam membisu dengan pikiran melayang kemana-mana.
"Lo cewek murahan, beraninya lo sama gue! Awas aja, lo bakal ngerasain hancur yang berkeping-keping nanti!" Tunjuk Sherly dengan gerutan emosi diwajahnya.
"Ini cewek satu songong, nyolot banget lagi. Pengen, ya, lo gue jedukin ketembok sampe pingsan?" Tanya Novela tidak santai karena turut kesal atas perbuatan seenaknya dari kakak kelasnya itu.
"Diem lo kuntilanak j*****m!" Bentak Sherly pada Novela yang langsung melenggang pergi disusul oleh teman-temannya.
Masih dengan kesunyian, nampaknya tidak ada yang berani untuk membuka suara. Raja perlahan menjauhkan tubuhnya dari Ratu yang kemudian tangannya terangkat mengusap pipi gadis itu pelan.
Nicho menyenggol lengan Geo dan Boby, sorot matanya seolah bertanya dengan tatapan 'ini boss kita kampret kenapa?'
Seolah mengerti, Geo berbisik pada Nicho, "Gue juga kagak know."
Tanpa mengeluarkan instruksi apapun, Raja langsung menggandenng Ratu berjalan melawan arah dari kantin.
"Lex, bawain bubur dan air mineral ke UKS." Titah Raja sebelum cowok itu benar-benar pergi dari sana.
Sekutaran sepuluh menit berlalu, Ratu masih saja bungkam tak kunjung membuka suara. Sorot netra yang memperlihatkan kebingungan, cukup membuat Raja mengerti tentang apa yang sedang gadis itu pikirkan.
"Sini gue kompres gigi lo." Ucap Raja dengan sapu tangan putih ditangannya.
"Berjanda aja lo setan!"
"Bercanda nyet bukan janda!"
Ratu mencebik bodo amat. Lalu gadis itu sontak menahan nafas saat wajah yang sering membuatnya dongkol itu kini perlahan mendekatinya, mengobati dirinya dengan telaten tanpa ada raut kebencian yang selama ini terus cowok itu paparkan padanya.
"Lo nggak lagi sakit, kan?" Tanya Ratu yang membuat Raja menjadi fokus menatap matanya.
"Atau jangan-jangan habis dihukum tadi otak lo turun ke mata kaki?" Tanya Ratu lagi yang malah menerbitkan kekehan dibibir sosok itu.
"Setidaknya gue sadar kalau luka ini karena gue." Tutur Raja yang kembali menggerakkan tangannya mengompres wajah Ratu yang masih memerah akibat tamparan tadi.
"Apa maksud ucapan lo tadi?" Tanya Ratu yang kembali menghentikan pergerakan Raja.
"Yang mana?" Balik tanya Raja yang sok tidak mengerti.
"Pa-pacar." Ucap Ratu terlihat ragu, kemungkinan yang ia dengar tadi adalah halusinasi.
Raja menarik tangannya dan menatap Ratu dengan senyum miring.
"Gue cuma mau nyelametin lo." Jawab Raja tenang.
"Dari apa?"
"Dari Sherly dan teman-temannya."
Ratu menarik nafasnya lagi dan menghembuskannya kasar, "Dengan bilang tadi lo bakal bisa nyelametin gue?" Ratu membuang muka sesaat, "Yang ada gue makin ditindas sama mereka."
"Nggak ada yang bisa lakuin itu sama lo."
"Lo pikir lo siapa yang tau semuanya? Lo tau, kan, kalau mereka itu nekat. Kalau gue diculik terus gue dibunuh gimana?" Tanya Ratu lagi dengan tidak santai.
"Justru dari itu gue mau lindungin lo."
Perkataan Raja barusan telah mengundang ambigu dan pikiran Ratu.
"Melindungi gimana? Gue jombli ngomongnya yang jelas." Ketus Ratu yang membuat kekehan itu kembali terbit diwajah Raja.
"Ingat ya, kalau gue kenapa-kenapa, lo yang harus tanggung jawab! Lo kata nyawa gue bisa di install apa." Cibir gadis itu lagi tepat dengan Alex yang datang membawa apa yang telah diperintahkan oleh Raja tadi.
"Makan, nih. Ntar lo mati gue nggak ada pembantu." Celetuk Raja yang langsung beranjak pergi disusul oleh Alex yang meninggalkan Ratu seorang diri.
"Oh iya, kita putus." Imbuh Raja tepat diambang pintu.
"Wleee, sejak kapan kita jadian!" Balas Ratu kesal dengan menjulurkan lidahnya.
Benar bukan? Bahwa keduanya tidak benar-benar menaruh dendam, hanya emosi dan egi yang membuat mereka jadi bermusuhan.
"Raja, tunggu!" Cegah seseorang yang nampaknya sejak tadi telah menunggu didepan pintu UKS.
Dengan sigap Raja berhenti, "Kenapa?"
"Lo nggak perlu lakuin apapun lagi untuk gue." Peringat sosok itu serius.
"Gue pernah berjanji untuk ngelakuin apapun demi lo." Suara Raja sedikit naik.
"Fine, tapi gue mohon untuk melupakan kemauan lo hari ini."
Tidak ada lagi percakapan, hanya suara derap langkah yang mulai menjauh yang terdengar.
Ratu yang tanpa sengaja mendengar percakapan misterius tersebut, hanya bisa menampilkan raut wajah bingungnya.
Tadi yang ngomong sama Raja siapa? Batin Ratu bertanya.
••••