“Ini surat-surat pribadi, Bapak. Yang ini, surat-surat dan kesepakatan yang harus diperiksa juga tanda tangani.” Sosok tegap dengan kemeja biru cair yang digulung sampai siku itu meletakkan dua bandel surat ke atas meja kayu jati yang diplitur warna kelam itu. Motif kayu jati itu begitu tegas, kaku, seperti orang yang menguasai meja itu sendiri. “Terima kasih, Mas Agusta. Taruh saja,” sahutnya tanpa memindahkan pandangan pada layar 15 inch di depannya. “Gus, pesankan gua tiket ke Solo!” "Lupa, ya, saya bukan PA, Bapak Taufik lagi. Saya sudah direktur, ya." Mantan personal asistennya itu sudah berjalan hampir pada pintu. Dia menoleh dengan muka sok judes. "Sialan banget, lo! Manggil gua Bapak. Panggil gua Bapak sekali lagi, gue gantung lo di Monas dengan sempak merah!" "Sempak Levi

