Menamsilkan wajah seorang perempuan cantik tiada cela seakan bulan purnama masih selalu jadi syair para pria saat kasmaran. Sejelek apapun permukaan bulan yang dipenuhi batu, dengan cekungan kawah berisi pasir yang jelas tidak rata, tetapi mereka mendengungkannya sebagai ungkapan sayang, atau pelengkap rayuan gombal. Si perempuan akhirnya luluh, ditandai dengan tawa manja. Ari melengkapi tawa itu. Dia mentertawakan dirinya sendiri. Kekecewaan yang menggelayut, membuatnya hidup dalam kekonyolan. Dia mendongak menatap langit, berbisik pada rembulan yang tinggal separuh. Sayang sekali kameranya tak dapat menangkap wajah rembulan. Seribu sayang juga, para pria yang pernah ada dalam hidupnya, begitu payah untuk melancarkan rayuan seakan pujangga. Tidak ada yang merayunya sedemikian rupa. Op

