Opick berusaha merengkuh tubuh Ari yang bergetar hebat. Perempuan itu tersedu-sedu berusaha menahan tangisnya. Bahkan tangan ramping itu berusaha memukul-mukul dadanya sendiri seperti menahan sebak. Tangis itu membuat suara Ari timbul tenggelam oleh lendir di tenggorokannya. "Neng, tolong sadar. Please, ini akang." "Aku membencimu! Aku benci kamu!" "Ya. Tidak apa-apa. Akang nggak apa-apa. Tapi, jangan nangis, ya, Neng." Opick sambil masih memeluk Ari, berusaha menggapai bel di sisi ranjang untuk mengabarkan keadaan perempuan itu pada dokter atau perawat jaga. "Kamu tahu kenapa aku membencimu? Karena kamu pembunuh! Kamu juga tahu kenapa aku membenci diriku sendiri? Karena aku juga seorang pembunuh." "Eling, Neng. Lihat, Akang. Kamu bukan pembunuh! Akang juga bukan pembunuh!" "Kamu m

