Bab 63-2/3

1500 Kata

Dimas mendekati tempat di mana Ari duduk. Perempuan itu sedang mengadu kedua ujung jari telunjuknya, tatapan matanya membeliak ke atas. “Di plafon itu memang ada mukanya si ‘Babe’ itu?” dengkus Dimas. "Ada cicak." “Terus? Ditanya bukannya jawab, malah mendelik.” Ari masih terus mengadu kedua jari telunjuknya, sekarang gerakan jarinya semakin cepat. Saat matanya beralih pada Dimas sebuah jelingan sinis terlempar. “Ini bukan mendelik. Ini lagi mikir!” pungkas Ari. "Mikir opo? Mikirin Babe?" “Aku lagi nggak mikirin Rahmadi, ya. Aku mikirin tempat ini. Mau gimana ke depannya. Perpanjangan HGU—hak guna usaha.” "Bukannya sedang diurus notaris?" "Ada pihak yang mengangap, badan usaha yang aku pimpin tidak memenuhi syarat untuk perpanjangan. Kalau putusan itu keluar, 2/3 tempat ini ba

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN