"Syarat buat kamu untuk tahu apa yang aku rasakan itu bisa dibilang gampang-gampang susah." Dimas menyeret satu kursi mendekati meja Ari. Pria itu menumpuk kedua tangannya di atas meja seperti siswa baru kelas satu SD. "Bisa jadi itu pilihan ganda. Kalau mikir susah, ya, tinggak ngitung kancing jadinya gambang, tho?" Dimas menaikkan alisnya. "Eh, kok jadi ke situ." Ari memberengut hingga matanya berkaca-kaca. Apakah tindakannya ini benar? Pikiran Ari berkecamuk. "Ya, apa? Jangan nangis lagi. Rini saja sampai lari ketakutan." "Aku akan bawa Rahmadi ke Indonesia. Kamu awasi si Anuar." "A—anoa? Sepupu Opick?" "Meskipun dia nyebahi. Amat sangat menyebalkan, tetapi memberi julukan buruk pada saudara sesama muslim nggak boleh, lho, Mas." "Oh, Anuar saudara Opick? Dia bukan saudaraku. Ka

