Bab 22-Tympanum

2145 Kata
Terima kasih sudah membaca kisah Ari. Naskah ini sebenarnya hampir terbit sebagai novel cetak. Pas ada seleksi dan masuk. Namun, ada ketidak selarasan antara saya dan penerbit akhirnya cancel. Soal keuwuan. Saya kesulitan nulis yang uwu. Heee .... Mungkin para pembaca akan menemukan kekhasan bahasa buku saat membaca kisah ini. Saya masih belajar menulis untuk platform yang ternyata berbeda dengan novel cetak. Kata seseakun, kurang renyah. Mohon dimaklumi, ya. ------------- “Terima kasih! Ari sudi dengar keluh-kesah Akak.” "Tentu saja. Tak ada yang berkurang dengan menyediakan sedikit tempat berbagi. Justru Ari mendapat banyak pelajaran hidup," ucapnya bersahaja. Meskipun antara Ari dan Fatimah Chen tak ada irisan waktu diperjumpaan di masa lalu, tetapi mereka terihat ikhlas untuk berbagi. Seakan sudah lama berteman. Ari menepuk bahu Fatimah sebelum melerai pelukannya. Relawan asal Negeri Jiran itu beranjak pamit. Dia telah meninggalkan sebelas orang yang terserang demam di posko. Sebelum benar-benar pergi, Ari sempat memperlihatkan buku tulis bersampul Megatron milik Kenyo. Namun, perempuan itu hanya menggeleng lemah, menolak untuk sekedar mengintip curahan hati gadis ingusan itu. Sepeneniggal Fatimah, Ari bergegas mendekat pada batu besar di mana Kenyo larut dalam lamunannya. Ari menamainya secara sepihak, 'Batu Pundung'. Sangat cocok dengan suasana hati sosok yang nangkring di atasnya. “Neng Kenyo, jangan melamun, dong. Dengar kabar ada naga terbawa arus tsunami. Belum diketahui keberadanya, lho. Himbauan untuk menjauh 500 meter dari bibir pantai masih berlaku. Tanpa terkecuali!” Yah, Ari paham menakut-nakuti Kenyo dengan naga sangat kekanak-kanakan. Perempuan itu memilih duduk membersamai si Kenyo dalam diam. Gadis itu berusaha memainkan biola, tetapi luka di lengannya belum benar-benar kering, jadi gesekannya menjadi tersendat. Kenyo melirik sinis. Gadis sunti tersebut beberapa kali mendengkus hebat, terlihat frustasi dengan bibir berkedut. "Belalang mengunakan tympanum pada perutnya untuk menangkap sinyal berupa nyanyian. Hal itu membuat mereka harus bersikap menjauh atau mendekat pada belalang lain," ujar Ari lebih pada gumaman untuk menarik perhatian Kenyo. "Kamu menyindirku?!" "Bisa jadi. Sehijau Kenyo yang nyebelin itu, dia sudah mampu pasang radar bagaimana memperlakukan perempuan dewasa di sekitarnya." "Kamu!" "Entahlah, diciptakan dari kombinasi ovum plus s****a jenis apa dia itu?" bisik Ari. "Pamer! Sok pinter!" "Bisa aku bayangkan semua kalimatmu jika ditulis dalam buku, tanda bacanya adalah tanda 'seru'." Keduanya saling berpandangan. Sedetik, dua detik hingga beberapa saat mereka adu kesaktian lewat tatapan mata yang menghujam. Ari mengangkat tangannya, "Jim! Aku kalah." "Egp!" Bagaimana mungkin Kenyo yang tadinya lumayan menerima, berubah benci pada Fatimah, hanya dengan menarik kesimpulan dari hasil menguping? Kenapa? Ari masih ingat awal mula beramah-tamah dengan Fatimah Chen. Percayalah, rivalitas selalu ada. Meski di tenda pengungsi. Para perempuan dapat menilai, di mana akan dia letakkan sebuah hubungan pertemanan. Pada jabat tangan pertama saat berkenalan. Menjadi sejawat, atau seterusnya menjadi sahabat. Baginya, mata sayu Fatimah bersahabat, tidak sekalipun dia melihat dengan ekor matanya. Itu satu dari beberapa ciri perempuan baik-baik. Yang bahkan sekalem apapun Ari, dia masih sering melakukan aksi melirik atau mendelik, tergantung siapa lawan bicaranya. Mereka berdua melempar pandangan pada garis horizon barat Samudara Hindia.Sesekali jari telunjuk keduanya saling mengusik hidung. Bau anyir yang sesekali masih menyapa sedikit merusak suasana. Menyadarkan bahwa kejadian pilu itu belum lama. “Ini milik kamu.” Ari memulai bicara lagi. Sejak tadi memang dia yang lebih banyak bersuara. Tangannya mengulurkan buku tulis, yang dijadikan bilik putih untuk Kenyo menumpahkan rasa. “Kamu!” “Iya, Kenyo. Saya hanya ingin tolong kamu.” “Lancang!” tengking gadis itu mengayunkan tangannya disertai ringisan. Ari memejam mata, dia bahkan tak berupaya untuk menghindar, sampai jatuh terguling karena pukulan itu. Untung mendarat pada hamparan pasir. Ari menahan tubuhnya menggunakan tangannya ketika biola itu ikut diayunkan padanya. “Kenyo!” erang Ari. “Kamu terlihat, kurang piknik! Setelah kelar misi di sini, mau traveling keliling Jawa? Naik kendaraan umum, bagaimana?” Ari menghela napas tersengal. Dia tidak tahu apa tindakannya menelisik hati gadis di depannya ini benar atau salah. Menceroboh barang-barangnya. Gadis itu mungkin akan membencinya. Penceroboh yang lancang. Bahkan setelah tahu tentang riwayat Fatimah Chen yang menikah lebih dari satu kali, gadis itu langsung menebar jarak. Meskipun Ari tak punya anak. Dia juga seorang janda. Dari apa yang dia tulis, Kenyo, benci sebuah perpisahan. “Kenapa kamu menamaiku Kenyo?” “Kenyo itu artinya, perawan kencur, ingusan. Eh, gimana, mau, ya?” Kenyo tak menjawab, dia bangkit dari atas batu, melompat ke atas pasir. Ketika Ari berhasil berdiri, mereka berdua beranjak pergi dari bibir Pantai Pasauran tanpa kata. *** Ketika sampai di gapura masjid, Ari mengerling pergelangan tangannya, pukul empat sore, biasanya bantuan datang berupa paket makan siap saji. Sebelum mengagihkan logistik, mereka memilah, memasukan ke dalam kantong-kantong agar lebih merata dan tidak terjadi rebutan. Namun, akhir-akhir ini para donator sudah mengantisipasi dengan memberi paket langsung. Relawan dibantu pamong desa akan mendata dan memilah semua bantuan yang masuk. Sering kali relawan seperti dirinya dibuat kesal oleh sumbangan baju bekas yang menggunung, ada sebagian bahkan tak dapat digunakan lagi karena terlalu usang. Tak layak langsung untuk dikenakan. Entahlah, apa yang melandasi pikiran para donatur. Apakah pengungsi dianggap tempat pembuangan sampah? Ari melihat sosok yang sedang membelakanginya sambil berbicara dengan relawan dengan rompi. Amanah Mulia. Dengan sedikit menghalau gundah, Ari mendekati sosok itu. Selalu saja mertuanya itu membayanginya. “Assalamualaikum, Pah.” Pria itu menoleh. Ari langsung menyambut tangan mertuanya. “Wa’alaikumussalam … sehat, Geulis? Ah, tambah hitam kamu kebanyakan main-main di pantai.” Seorang Babinsa dan relawan Amanah Mulia tampak terkejut, tetapi tak lama kemudian tertawa geli dengan apa yang baru saja di ucapkan Dadang. Pria itu masih saja terkejut melihat Ari menggunakan atribut yayasan lain. Pria tua itu awalnya mendatangi Koramil, berulang kali mengatakan bahwa putrinya juga menjadi relawan. Seorang relawan mengatakan kalau Ari berada di Posko sekitar Pasauran. Rasa bahagia membuncah, Dadang tak berkedip menatap menantunya itu. Ari memang bertambah hitam, kurus, dengan sepasang mata cekung kurang tidur. Pipi mulusnya mulai di tumbuhi jerawat. Kutukan Budi memang benar-benar bertuah. Meski tampilannya tetaplah menonjol di antara pengungsi. Dia hanya tersenyum berusaha tenang, sampai matanya bertembung pada sosok yang menyertai mertuanya. Agusta, personal asisten Opick. Ada hal apa, hingga pria itu mengekor sampai pengungsian? “Sehat wal’afiat, Pah,” bisik Ari. “Ini, sebaiknya Papa istirahat, jaga itu tensinya. Nah, ini malahan lengang kangkung sampai sini? Mamah nggak ngomel-ngomel?” “Mamahmu ngomel. Lamun, Papa ngomong hoyong papangih mantu langsung acc. Eh, dikasih pesangon sekalian.” “Mamah bisa aja. Ari sebenarnya kangen juga. Kangen berat." “Kalau kangen, ke rumah atuh. Ende, gering kamu tahu, ‘kan?” Ari terdiam. Dia tahu kalau Ende memang sakit-sakitan sejak Opick mendapat kepastian vonis dari pengadilan. Namun, saat mengutarakan niatnya tetang program bayi itu, kesehatannya tiba-tiba pulih, seakan menemukan obat mujarab. Apalagi saat menerima kepastian positif keberadan bakal cicitnya. Akan tetapi, itupun tak lama, saat janin itu luruh, bersamaan tertangkapnya Opick karena berulah saat menggunakan kesempatan berobat ke luar tahanan, kesehatan Ende semakin memburuk. Ari enggan menanggapi permintaan tak langsung dari mertuanya. Lagi-lagi datang ke rumah mereka. Meski alasannya adalah, Ende. Pandangannya menyapu semua yang ada di situ, lalu terhenti pada sosok Agus. Entahlah, Ari jengkel dibuatnya. “Ini, putri saya,” ujar Dadang sambil membetulkan kopiahnya. “Dari dulu ringan tangan kalau urusan kerelawannan. Namun, yah, gitu lebih memilih gabung NGO yang lebih besar. Katanya lebih professional.” “Papah,” bisik Ari. Amanah Mulia terkait dengan perusahaan keluarga Opick. Dia tak ingin dikaitkan dengan Opick lebih tepatnya. Padahal hampir tak ada yang mengenalinya di pengungsian. Bahkan relawan Amanah Mulia yang baru, asing dengan wajahnya. Ari hanya merasa terguncang bila ada yang mengenalinya. “Bimbang, ada yang kenal kamu, lalu salah paham? Sampai kapanpun kamu adalah putriku,” bisik pria tua itu. Dadang tidak ingin Ari menuai banyak lagi kesakitan. Ada keinginan selalu berada di dekat menantunya, menguatkan sosok itu. "Ya, Pah." “Oh ya, besok bantuan dari beberapa perusahaan dekat-dekat sini akan masuk. Papah rekomendasikan tempat ini. Banyak yang belum kebagian paket sanitasi, obat sama kebutuhan balita.” “Lobi lagi ya, Pah? Ati-ati, lho. Hulu sampai hilir harus tuntas, jangan ada yang nyangkut,” helah Ari seperti khawatir. “Auditor yang Ari rekomendasikan itu. Insya Allah amanah.” Dadang tersenyum. Dia maklum dengan kekhawatiran menantunya. Setan bisa menelusup lewat lubang pori. Niat mendistribusikan bantuan logistik, tetapi ada juga celah kampanye mengharap pamrih ini itu. Dadang akur. Dia tidak berani lagi. Belum sempat Dadang menjawab kekhawatiran menantuanya, satu mobil Ford merapat. Beberapa orang dengan logo lembaga yang berafiliasi dengan partai disambut dengan salam dan pelukan hangat oleh Dadang, membuat Ari sedikit terpingir. Dia menoleh pada Kenyo yang duduk mencangkung di teras berdekatan dengan bedug. Masih dengan mukena. Mukena baru bantuan dari salah satu yayasan masjid. Ari sedianya akan mengambil nota untuk mendata logistik yang baru datang, tetapi dia ingat dirinya belum salat Asar. “Mbak!” Tanpa menolehpun, Ari tahu siapa yang memanggilnya. Demi rasa sopan, sekaligus rasa ingin tahu yang menyeruak dia menoleh. Apa yang membuat Agus sampai mengekori ke tempat ini. “Mas Opick, bolak-balik ke rumah sakit. Mbak Ari tahu?” “Dia memang cinta banget dengan rumah sakit. Mungkin dulu cita-citanya jadi dokter kulit dan kelamin. Sampai-sampai berbuat serong juga alasannya rumah sakit!” tuduh Ari. “Mbak percaya dengan semua itu? Saya, kok, mikirnya lain, ya. Kalau itu hanya cara pamungkas Mas Opick melindungi Mbak Ari.” “Melindungi? Ya Allah, Agusta, kamu kebangetan naifnya. Tahu rasanya direndahkan teman sendiri? Diserbu caci maki, bahkan oleh orang yang enggak kenal kita?” Justru komentar miring dari ‘koloni’ yang harusnya menahan diri dari melempar kata kesat. Membuat hatinya memar. Beberapa teman ngaji, maupun kenalannya di kampus dahulu. Hanya berselang satu bulan pasca Opick dinyatakan melanggar aturan karena menggunakan ijin berobat, tetapi kena cekup di hotel bersama haram jadahnya. Kala itu Ari mendapat sebuah undangan walimahan. Bukan walimahan biasa. Karena pesta itu diadakan oleh seorang istri untuk suaminya yang menikah lagi. Trend baru soal tolak ukur keimanan. Poligami! Sosok itu adalah teman satu indekosnya saat menunggu wisuda. Ari pindah kosan, di sekitar kampus induk daerah Dramaga. “Mending atuh dipoligami. Dari pada diselingkuhi.” Satu suara dari seseorang yang Ari tidak tahu siapa. Kemungkinan dirinya kenal. Mungkin saat seminar, kajian umum, tablig akbar atau hanya berpapasan di area kampus. “Satu Indonesia tahu lagi,” timpal seseorang. “Yang mana atuh? Jurusan naon? Angkatan sabaraha?” "Entah angkatan berapa. Pokoknya MIPA." “Hafalan Ari itu dulu lumayan. Empat juz atau lima ya. Sekarang juz tiga puluh saja paling tinggal belasan surat pendek yang dia hafal. Sumber akurat. Dia ngaku pula pas interview majalah apa, gitu.” “Lihat saja bajunya, syari sih syari, tapi tabaruj. Udah rela tabaruj habis-habisan, eh, kena tikung juga.” “Kasihan, kalau ex- biro syiar kita bisa jadi cangkang biru kosong.” “Afwan, dulu biro syiar? Astagfirullah. Futur si Ari itu!" "Ada banyak foto dia gak pakai jubah, kok. Heeh, sepertinya lagi naek paralayang. Piknik ke luar negeri juga. Namanya juga sultanah!” “Subhanallah. Udah ya, ghibahnya. Ngatain Ari futur. Eh, kita di sini makan bangke. Istiqfar!” ujar seseorang menyudahi bisik-bisik itu. Ghibah itu konon katanya bumbu silaturahmi. Ari hanya geleng kepala sambil tersenyum sumbang. Dia tidak pantas protes, dirinya sudah mendapat julukan elegan, ‘Cangkang Biru’ ketika resmi menjadi istri Opick. “Oh, jadi, Mas Agus ke sini, karena itu? Yang lucu, tadi dengar sendiri apa yang di ucapkan Pak Dadang. Yang gering dan butuh di tengok itu, Ende. Papah nggak sekalipun mengulik masalah, Opick. Jadi ….” Agus menghela napas. Dia mengangsurkan sebuah kertas. “Hasil labnya, Mas Opick.” Ari meraup mukanya dengan satu tangan. “Setia banget, sama Opick. Yang herannya, kamu malah enggak dihadirkan pada sidang cerai kami.” “Kalau saya bisa hadir, saya tidak akan membiarkan semua itu terjadi. Meski saya tahu Mas Opick melakukannya untuk ….” “Melindungiku?!” ketus Ari menaikkan sudut bibirnya, sangsi. “Saya kenal Mbak Ari jauh hari. Meskipun hanya sekedar nama. Jauh sebelum Mbak Ari masuk keluarga Hairul Aman.” Ari mengernyit tak suka. "Kapan?" Agusta ingat saat Pak Dadang memintanya mengalah soal perempuan itu. Hal yang memembuatnya tertawa geli. “Gus, ingat awewe yang dapat doorprize saat seminar di kampus kamu. Seminar ekonomi yang saya jadi pembicaranya. Nareswari. Dia sekarang gawe di yayasan kita. Gimana ya, saya paham gejolak jiwa muda. Kamu nggak kedip waktu liat gadis itu. Opick juga minat gadis itu. Kamu mau ngalah demi anakku, ‘kan? Gadis itu akan menjadi hal baik bagi Opick.” “Selepas keluar dari penjara, Mas Opick akan balik pada Mbak Ari. Mbak adalah dermaga hatinya, tempat Mas Opick pulang.” Agus menunduk, “saya pamit.” Setelah mengatakan itu, dengan begitu datar tanpa emosi, pria berpostur tinggi itu mundur lalu melangkah pergi. Ari tersesat pada labiri tak berujung. “Kamu tahu sebuah pepatah lama, Gus, ‘Terlongsong perahu boleh balik, terlongsong cakap tak boleh balik’. Dia yang mula ucapkan kata lebih baik berpisah,” lirih Ari dalam perih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN