Bab 23-Sebuah Nasihat

1780 Kata
Part ini dan part selanjutnya adalah sesi flashback Ari ketemu mantan suaminya, ya. Itu, Kang Opick. Jangan timpuk saya. Seseakun yang dia ngikuti cerita ini di WP benci banget kenapa saya harus kasih nama, Opick buat bojonya Ari. Selamat membaca, semoga berkenan. --------- "Ri, lo mau ikut seminar 'Young, Brave and Bright Entrepreneur'?" "Maunya, sih, ikut. Insyaallah. Tapi nggak tau soalnya itu Minggu. Kamu tahu, kek gimana jadwalku hari Minggu. Nasibnya sebelas dua belas sama gosokan. Nyala terus. Wara wiri terus." "Iya, iya. Aktipis." "Nggak gitu, Ren. Beneran aku mau join. Udah nebus tiket. Lagian, siapa sih yang nggak mau ditulari jadi wirausahawan—wati? Mo ngarep jadi b***k korporat kek aku nggak mungkin." "Kamu padahal dapat panggilan di Kalimantan, kan? LSM dari USA itu." "Heee. Ninja Hatori macam aku, yo, susah gitu. Ribet di baju." "Baju perang!" "Sttt! Aku ambil kosan umum di sini saja kena sembur." Ari terkadang takut tidak akan pernah menjadi cukup baik bagi siapapun. Bagi Nyonya Suryati, dia gagal menjadi putri yang berbakti. Harusnya fokus kuliah, dia malah berpolitik praktis, bahkan beberapa kali ikut demonstrasi. Ketika di tahun terakhirnya dia tak siap untuk lulus. Ada dua mata kuliah yang dirinya mendapat nilai D. Satu karena otaknya yang kurang lentur, yaitu Kimia Dasar satu lagi nilai praktikumnya kosong, Ekologi Vegetasi. Untuk Kimdas, dia angkat tangan, menghafal gugus karbon, atom, unsur, senyawa, dan molekul. Dia ngeri juga membaca tabel periodik yang berwarna-warni itu. Mata kuliah Ekologi Vegetasi, meskipun nilai UTS dan UASnya sempurna, tetap terlihat cacat tanpa praktikum. Meskipun dia merayu dosen untuk praktikum susulan di Gunung Halimun, tak ada respon. Aturan asdos ekologi bisa kasih wild card. Ya Allah, ngeri. Yang lebih menjengkelkan, sosok tersebut menjadi dosen pengujinya saat sidang. Habis gelap, terbitlah banjir keringat. Bagaimana tidak mengerikan bila sebelum sidang, sudah dijejali kabar bahwa Pak Muha itu ateis sejak dia mengambil doktoral di Dublin. Hobinya konon mendeskriditkan dan mencemuh mahasiswi yang berhijab, apalagi yang tidak berkenan diajak salaman. “Wah, kamu pernah bolos praktikum, saya, ya?” Pak Muha tertawa. “Jelas bukan agenda kampus, tetapi ormas yang berafiliasi dengan lembaga dakwah kampus.” Lagi-lagi Pak Muha menelengkan kepala, kemudian berbisik pada Ketua Jurusan. Ari benar-benar dibekap ngeri saat itu. “Kamu yakin, ambil sidang sekarang?” “Lebih baik saya sidang sekarang, Pak.” “Alasannya? Mengejar lulus, wisuda, apa mau kawin?” tanya Pak Muha lagi. "Ada benang merahnya, ya, Pak, dengan semua itu?" "Tentu. Kalau lulus, saya pastikan kamu lulus. Wisuda itu hanya seremoni. Kawin? Kalau itu pilihanmu dalam waktu dekat, ya, buat apa kemarin kamu minta diluluskan untuk ujian praktikum susulan? Lewat sudah semester berapa itu?" “Begini, Pak, alasan saya tidak ingin menunda sidang. Bukan soalan nomor tiga dan dua. Tapi nomor satu. Apabila terlambat lulus di bulan Agustus ini, bukankah, bulan September sudah mulai semester baru. Itu bermakna iuran SPP lagi,” jawab Ari diplomatis. “Belum uang sabun, kosan, angkot, ini makan juga sering ngutang, Pak, di Warung Hassanah.” “Pinter, ya,” gelak ketiga dosen pengujinya. “Padahal kamu bisa itu! Reduce to a lower grade. Dua mata kuliah itu.” Pak Muha memindai penampilan Ari. "Masih mau terus sidang?" Dahulu saja Ari menghiba pada asisten praktikum tidak mendapat kelulusan. Pak Muha gini, gitu. Tidak bisa diganggu gugat. Menyebah. Astagfirullah, batin Ari gemas. "Terus saja, Pak. Soalnya Pak Kurnia ada penelitian penting." Pak Kurnia dosen dari Fakultas Perikanan yang merupakan pembimbingnya itu sedang mengambil penelitian terkait produktivitas enceng gondok pada tingkat salinitas media itu tampak nyengir. Dosen yang murah nilai itu cengengesan sepanjang sesi tanya jawab. Minta dibabat. Namun, beruntung sekali meskipun tahu Ari mendapat skandalnya di Cidanau Tirta Industri, pria itu tidak begitu peduli. Sempat juga bertanya kabar, tetapi tidak mendetail. Apa daya jika pembimbingnya adalah dosen lintas fakultas. "Ari, bagaimana kabar Pak Rahmadi pembimbing lapangan kamu?" "Cedera parah, Pak." Pak Kurnia yang Ari taksir seumuran dengan Pak Rahmadi itu hanya tertawa terbahak. Kemudian memintanya menyerahkan draf laporan. Itu saja. “Setidaknya kamu bisa dapat komulatif maksimum. Bapak pikir, kamu pasti nggak akan ngambil kerja di korporasi, meskipun Ilmu Lingkungan terbuka sekali peluangnya. Yang paling mungkin, buat yang alim seperti kamu tetapi masih ingin tetap kerja, bisanya kuliah lagi, jadi dosen atau peneliti di laboratorium.” Nasihat Pak Muha menohok Ari. Berbeda dengan kabar burung tentang pandangan beliau terhadap nilai religius. Justru pembimbingnya hanya senyum-senyum sedari tadi. Jangan sampai Pak Kurnia bocor. Pelajaran satu perkara sesaat setelah sidang. Jangan menghakimi orang sebelum kamu menyelami hati budinya. Para dosen itu bahkan menggodanya dengan, “Ini mau salaman atau enggak ini?” Setelah Ari memaparkan panjang lebar akhirnya panel dosen penguji menyatakan Ari lulus. Nilai sidang A. Namun, nilai komulatifnya tidak cukup memuaskan. Alhamdulillah, lulus! Cukuplah untuk bekal meneruskan mengajar privat. Di mana adanya, guru adalah pelita, penerang dalam gulita. Selesai masa perkuliahan, Ari tetap bertahan sebagai guru privat, yang hanya cukup untuk makan dan bayar indekos. Tentu memalukan kalau dia harus tengadah tangan, meski kakaknya beberapa kali menawarkan pekerjaan kantoran atau lowongan K3 lewat kenalannya. Semuanya kandas, lagi-lagi oleh prinsipnya. Ari tidak mau melepas pakaian syarinya. Beberapa perusahaan memberi toleransi untuk kerudung, asal pakaiannya kemeja dan celana bahan. Ari memilih mundur, itu konsekuensi dari pilihannya. “Ya Allah, Ri. Nggak pakai jubah bukan bermakna lo enggak beriman. Tidak taat!” Bunyi nasihatnya persis kata-kata si Monster Ijo. Kenapa harus ingat dia coba. Nasehat salah satu seniornya ketika mereka tak sengaja berjumpa di warnet. Saat itu mereka mengajukan esai sebagai syarat untuk ikut Program Penyelamatan Pesut Mahakam. Sebuah LSM internasional dari negeri Paman Sam dengan gaji dollar. Meskipun diterima, Ari akhirnya memilih mundur. Tidak mungkin, Ari terperosok pada rawa-rawa lalu berenang gaya bebas dengan jubah sambil mengiring pesut menuju habitatnya di Sungai Mahakam yang sudah semakin terpinggir oleh lalu-lalang tongkang pengangkut batu-bara. Mungkin bisa, tetapi akan menyusahkan timnya. Ada juga kerja yang direkomendasi dosen, membantu penelitian, atau program pengentasan kemiskinan yang bekerja sama dengan Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM). Ari tengah melakukan survei terkait penerimaan program pra sejahtera juga daerah tertinggal di pedalaman, Lebak. Lumayan juga honornya. Mencari receh sambil menunggu masa wisudanya. Di sanalah ia berjumpa pengusaha Dadang Amanjaya. Ari tidak mengambil Wisuda di bulan Oktober.Justru dia memilih wisuda di bulan Februari tahun berikutnya, sehingga hanya berjumpa dengan beberapa gelintir teman seangkatannya dan senior. Mahasiswa kategori malas, abadi dan terlalu sayang berpisah dengan jurusan. Wisuda yang terlambat lebih baik, kerena, yah, peristiwa yang mau tidak mau memang berkaitan dengan insiden magangnya yang seketika kacau akibat salah paham antara dirinya, Rahmadi, Imam Junaidi dan para bidadarinya. Sangat tidak nyaman menjadi bahan gosip. Ketika lidah teman sendiri menjadi setajam silet! "Melamunkeun saha?" "Bukan melamun. Hanya menimbang-nimbang. Mungkin aku bisa datang pas udah sesi tanya jawab, deh. Pokoknya aku akan usahakan datang. Pembicaranya itu sayang banget. Pak Dadang Amanjaya. Beliau aktif juga di filantropi." "Kenal, Ri? Wihh, keren!" "Bukan kenal. Pernah jumpa dua kali. Ngobrol terus tukar kartu nama. Udah, ah. Aku berangkat ngajar dulu. Kue yang sudah dipacking itu nanti biar di situ. Sebelum jam 4.30 sore aku sudah balik." Setelah pindah dari kos-kosanya yang di dekat Tugu Kujang, yang merupakan 'Rubin' atau nama keren dari rumah binaan, Ari selain mengajar, ia juga merintis usaha snack bagi anak-anak yang ingin camilan sehat. Ada juga memenuhi beberapa pesanan snack anak rohis atau himpro yang ingin rapat. Ada juga yang sudah berlanganan katering denganya meskipun tidak banyak. Baru lima orang. Lumayan. Dia bersama Renata, anak jurusan Pangan dan Gizi memulai usaha kuliner kecil-kecilan. Hal itu juga sempat membuat Ari sedikit terkucil. Maklum, Renata punya penampilan sangat manly. Pokoknya banyak orang salah paham jika mereka jalan berdua ke pasar. Mereka pikir Ari jalan dengan cowok. Seniornya di harakah ingin Ari mencari kosan yang aman. Balik rubin tentu saja. Baginya, Renata itu sangat baik. Mereka berjumpa di bimbel Bintang Pelajar sesama tutor awalnya. Itulah Ari dengan sikap pembangkang dan keras kepala. Meskipun setiap halaqoh dicecar pertanyaan kapan balik rubin.Ari bergeming. Baginya, rubin lumayan mahal di kantong. Murah adalah kunci! Kunci sukses! "Ri, katanya, lo ditawari motor sama kakak yang di Cawang. Terima sajalah. Biar mobilitas kita lancar." "Ck! Nggak enak kalau kasih gitu aja. Doi mo kawin soalnya. Kasihan udah dilangkah Mas yang nomor dua. Bantu biaya kuliah aku." "Gini, lo, terima itu motor. Terus itungannya berapa, kasih cicilan. Win-win. Nggak terkesan klo, lo, nadah. Gimana?" "Oke, sih. Syukron katsir, ya, suggest kamu." Ari bergegas melepas maskernya lalu mencoba menelpon Mas Eko. "Ngik-nguk, Ren!" Dengan langkah gedelebuk Ari kembali menghampir tempat Renata yang sedang mengagihkan orek tempe. "Ntar malamlah. Mas, lo itu orang lapangan, gimana, sih!" Gadis itu nyengir seperti habis menang lotre. Dia mencolek orek tempe itu dan mengangkat jempolnya. "Siapa yang buat orek tempe, Non?" "Nareswari. Itu, lo bukan?" jawab Rena dengan muka bloon. Sangat tidak cocok. Karena jurusan Renata adalah jurusan favorit dengan passing grade paling tinggi di Kampus Hijau. "Mbuh! Keasinan pas udah dingin gini." "Kebelet kawin, lo." "Maaf, ya. Aku hanyalah ukhti miskin. Pasti nikahnya belakangan aja." Gadis bertudung biru dongker itu menjelirkan lidah ketika satu potongan buncis mentah melayang tetapi sayangnya hanya membentur pintu yang sudah ditutup Ari dengan sangat pantas. "Renata! Pergi dulu. Assalamualaikum." *** Di hari Minggu acara seminar telah di mulai sejak pukul 9.00 pagi. Ari baru sampai tiga puluh menit kemudian. Untung Renata sudah mengambil kursi kosong untuknya. Pembicara pertama adalah Dadang Amanjaya pengusaha restoran, kuliner, dan oleh-oleh di sepanjang pantura. Itu usahanya yang bisa dibilang remahan. Karena beliau juga punya perusahaan konstruksi, tambang, dan hotel. Namun, dari apa yang ia baca, Pak Dadang memulai usaha saat masih kuliah di UI. Ari tidak begitu fokus apa saja usahanya yang jelas sukses. Pembicara kedua adalah Alfian Alif. Pengusaha yang usia relatif masih muda. Alif telah menjadi pimpinan di beberapa perusahaan. Pada 2005, ketika usianya baru 26 tahun, Alif dinobatkan menjadi general manager PT Umbro Indonesia. Ia menjadi GM Umbro; perusahaan pakaian dan peralatan olah raga termuda di dunia kala itu. Saat ini Alif mendirikan perusahaan holding sendiri yang bergerak di beberapa bidang. Antara lain; peternakan, pertanian dan kafe. Satu lagi, sosok pengusaha muda ini selalu menekankan pada anak muda pentingnya berinvestasi. Pembicara ketiga, perwakilan dari HIPMI-Jaya. Himpunan Pengusaha Muda Indonesia cabang DKI Jakarta. Apa yang tertera di flyer adalah Muhammad Lutfi, tetapi pada makalah yang dibagikan panitia, tertera nama Taufik Hairul Aman. "Pembicaranya masih muda-muda, oi. Kecuali Bapak Dadang yang konon lo rindukan," ejek Renata. "Bismillah. Ambil ilmunya jangan simpan senyumnya." Ari berbisik sambil membolak balik makalah yang ada ditangannya. "Mas Taufik ini bahkan baru 25 tahun. Bakalan ngomong mewakili ketua HIPMI. Kira-kira usahanya dia apa, ya?" "Baca dong!" Ari hanya menyeringai. Kembali fokus pada dua pembicara di atas podium auditorium Andi Hakim Nasution yang hanya memilliki kapasitas 300 kursi itu. Yah, karena pembicara ketiga ternyata belum hadir. Sangat tidak profesional. Telatan, batin Ari.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN