Setelah baca part ini tahu ya, siapa Opick dan bagaimana dia ketemu Ari pertama kali. Sedikit rumit, tetapi ini versi Opick dan Agusta.
Versi Ari masih nanti.
Ceritanya rumit amat, sih? Saya nggak akan buat tokoh antagonis versi ikan terbang. Gkgkgkgk.
---------
Agusta melihat pintu kamar Opick tidak tertutup rapat saat dia melintas di ruangan atas. Tangannya urung menyentuh handle padahal sudah terangkat hendak menguak pintu itu lebih lebar. Ada Pak Dadang di dalam. Itu kejadian yang benar-benar langka. Biasanya, Pak Dadang akan memanggil Opick ke bawah, ruang kerjanya.
Agusta memutuskan untuk menunggu. Senyum kaku Opick masuk dalam garis pandangnya. Senyum dengan sedikit kernyitan kesakitan. Malam Minggu kemarin Opick mungkin saja sedang giat berpatroli. Kebiasaan baru lagi setelah kegilaan yang membuatnya mendapat hukuman berat dari Ende. Luka yang dilihatnya hari Minggu itu masih ditempel plester. Entah luka lainnya yang disembunyikan.
"Bahu kamu sudah mendingan?" suara Pak Dadang membuat Agusta pelan-pelan mendorong pintu untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi di dalam kamar. "Kamu bisa berhenti kalau capek. Siapa yang menyuruhmu menantang maut seperti itu?"
Agusta melihat Opick bersila di atas karpet, sedangkan Pak Dadang ada di belakang sambil mengamati pundak putranya.
"Belum capek kok, Pa. Aku juga belum terbukti perkasa di mata Ende."
"Kamu, berhentilah dengan kegilaan itu. Kamu bukan Betmen!" dengkus Pak Dadang mulai pitam.
"Aku memang bukan Betmen. Meskipun ada yang memintaku menjadi Betmen. Aku ninja."
"Terserah kamu, Fiq! Apa boleh Papa minta sesuatu sama kamu?" pintanya kembali melembutkan suara.
Butuh waktu beberapa saat sebelum suara Opick kembali terdengar. "Minta apa?"
"Kamu anak Papa satu-satunya. Dan cucu satu-satunya Ende."
"Jangan lupakan orang yang tengah menguping di balik pintu itu. Bukankah dia cucu Ende juga?"
Pak Dadang melempar pandanganya pada pintu. "Masuklah, Gus!"
Perlahan-lahan pintu kayu jati itu terkuak menamilkan Agusta masih menenteng jaket dan ransel dibahunya sambil nyengir. "Malam saudaraku."
"Duduk, Gus!"
"Ya, Pak."
"Kalian sudah besar."
"Kita makan dengan gizi yang memadai, Pak," jawab Agusta dengan sedikit mengembangkan senyuman.
Pak Dadang mengangguk-anguk.
"Kamu mungkin tidak percaya, karena Ende juga butuh waktu untuk sampai pada titik ini. Betapa keras beliau menolak, akhirnya luluh juga. Masih sedikit mengganjal. Tetapi, Ende senang sekali Agusta hadir dalam hidup kita. Apalagi kondisi Ende yang serba tidak menentu seperti ini. Papa juga senang ....
"Ende mungkin tidak bisa hidup selama yang seperti kita pikir. Tetap hidup untuk menjaga kamu, Fiq. Dengan kehadiran Agusta di sini, Ende bisa tenang karena dia pasti bisa menjagamu. Dia lebih muda tetapi dewasa. Papa juga lebih tenang."
Opick menatap lurus-lurus pada arah pintu di mana Agusta masih saja berdiri di sana.
"Yang mau Papa minta sama kamu itu adalah agar kamu bisa terus berada di sisi Papa untuk membesarkan apa yang sudah Ende rintis. Bagaimanapun sulitnya hidup kamu nanti, saat Ende sudah tidak ada. Ada masanya, ketika saat itu tiba, banyak yang akan menyerang kita. Mengambil apa yang kita punya.
"Kalian bebas berbeda pendapat, itu wajar. Semua saudara seperti itu, tetapi jangan sampai terbawa emosi. Emosi yang sewaktu-waktu dapat membakar persaudaraan kalian menjadi debu."
Pak Dadang bangkit dari ranjang. Pria tua itu memandang sekilas wajah putranya lewat pantulan pekat layar televisi yang padam. Saat berada di ambang pintu, Pak Dadang hanya menepuk bahu Agusta lalu berjalan melewati bocah yang dianggap sebagai aib dalam keluarganya tersebut.
Agusta bersiul-siul ketika melihat Opick bangkit lalu melepas kaosnya. Bukan bahu yang tampak memar sebesar telapak kaki itu yang membuat Agusta terjengit. Justru luka di perut yang membuatnya menghentikan siulan.
"Lo perlu operasi plastik di Korea. Luka sabetan itu mengkhawatirkan."
"Ngapain, lo. Rese!"
Dengan langkah sedikit sempoyongan Opick menarik laci di mana dia menyimpan lintingan yang baru didapatnya petang tadi.
"Gua sudah nemu cewek, eh, 'akhwat' yang lo cari."
Apa yang dikatakan Agusta membuat lighter yang sudah menyala itu kembali padam. Urung membakar lintingan yang menjadi idaman Opick saat ini untuk meredakan rasa sakitnya.
"Lo, nggak ngibul, 'kan?"
"Buat apaan gua ngibul. Ada syaratnya, dong."
"Sialan!" Opick melempar korek api dan barang haramnya.
"Menurut lo, cewek sealim itu mau sama tukang nyimeng, kaya, gini? Mas-mas!"
"Ngapain lo panggil gue, Mas-mas?"
"Dari pada gue panggil teteh! Atau tempe kripik!" Agusta meletakkan ransel dan jaketnya di karpet. "Bentar, ya."
"Eh, kamana kehed!" (1)
"Seuseuh beungeut, supados kasep."(2) Agusta ngakak. "Kebelet b**l. Sabar, ya, Mas."
"Bagong, sia!"
Opick menjatuhkan diri pada ranjang empuknya. Beberapa kali dia mengebrak permukaan tempat tidur.
"Bisa minta tolong, dung. Nyalain loptopnya. Cari file seminar kemaren."
"Main perintah saja. Setan, lo! Gua lagi sekarat."
Agusta menyeringai. Namun, sebelum kembali menutup pintu kamar mandi, ia melempar ponselnya tepat mengenai bahu Opick. Bersamaan dengan sebuah pesan masuk.
[Beneran bisa, Gus? Saya mau kalau mentornya Pak Alfian] Nareswari.
Beneran apa? Geulis, mentor sama Aa napa? "Woi, jabrik! Ini serius Nares yang gua maksud?" Buru-buru Opick bangkit. Dengan langkah yang lebih bersemangat bagai serdadu dengan amunisi penuh dia mengedor pintu kamar mandi.
"Woi, b**l gua masuk lagi, k*****t!"
Tidak berapa lama Agusta keluar dengan wajah memelas karena pura-pura menahan mulas.
"Ngapain lo keluar? Gua kan cuma tanya. Jawab aja sambil relaksasi."
"Relaksasi mbahmu! Sudah buka laptop?" Opick hanya menggedik bahu.
Agusta meraih tas ranselnya. Laptop hadiah dari Ende saat ulang tahunnya tujuh belas tahun itu langsung dinyalakan dan tidak memerlukan waktu lama untuk loading.
"Kenapa vidio Bokap gue segala. Mules diceramahi tiap hari. Ini masih disuruh liat vidio—."
"Makanya jangan telat. Didapuk jadi pembicara, telat. Sukurin nggak liat yang bening-bening."
Opick menoyor kepala Agusta sampai terjengkang rebah di karpet. Namun, cowoo itu cepat bangkit dan mencari tetikus. Agusta mempercepat laju vidio yang tengah ia putar. Ketika sampai pada penannya ketiga saat sesi tanya jawab dengan Dadang Amanjaya, ia memutar vidio secara normal.
"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh. Nama saya Nareswari Tri Wulanti. Jurusan Teknik Manajemen Lingkungan. Baru saja lulus. Bisnis yang saya tekuni di sela-sela pekerjaan sebagai guru privat adalah katering. Yang ingin saya tanyakan, mana yang lebih penting antara pemberian pancingan berupa discount atau memberi harga yang benar-benar miring dan terjangkau. Terima kasih."
"Waalaikumussalam. Sebelum bapak jawab, saya tanya kabar dahulu. Nares, apa kabar?"
"Alhamdulillah baik, Pak Dadang."
"Huuu! Modus operandi!" Terdengar sorakan dari audien.
"Kok, huh, ya? Pasti pada ngiri saya nyapa yang bening gini."
"Kuota masih longar, ya, Pak?" Seloroh MC seminar. Seorang anak Fakultas Ekonomi Manajemen yang kebetulan juga menjadi penyiar radio Pro 2 FM.
"Begini, saya memang kenal sama Nares ini. Dua kali saya jumpa dia. Pertama, saat ikut tangap bencana di Jogja. Kedua, jumpa lagi saat program pengentasan kemiskinan di Lebak. Jadi, saya nggak modus ini."
"Mudus juga tidak apa-apa, Pak!" Koor semua yang hadir. Lalu terdengar gemuruh kembali.
"Benar ini awewe, eh, 'ukhti' yang lo cari sampai kesetanan pakai acara ngancam gua?!"
"Gua jawab sms dia, ya?"
Opick tersenyum kelat mengoyang ponsel milik Agusta. Dia tak menghiraukan pertanyaan Agusta. Gadis itu memang sosok memesona yang telah membuat hatinya dirajam rindu. Kenapa? Tanyakan pada pohon-pohon di Kebun Raya Bogor kenapa dia bisa rindu pada Nares. Pacar bukan, baru mau ngebet, sih, sudah di DO sama Ende.
"Silakan! Dengan catatan, kalau doi naksir gua, lo jangan mewek!"
"Sial! Mau lo apa, sih?"
"Pas titip nama buat sertifikat, gua godain itu ukhti dulu, dong. Nah, anak se-jurusan sudah heboh. Gosip, kek disiram bensin. Cepat menyambar. Wus! Agusta ngebet ukhti salihat."
"Lo!" geram Opick ingin menonjok muka Agusta. Sabar. Orang sabar cepat ketemu jodoh. Buktinya sekarang. Naresnya sudah dijumpai.
"Ikuti instruksi gua." Agusta mesem-mesem tak jelas karena berhasil memegang kartu As yang merupakan kelemahan Opick. "Ari dapat penawaran kerja di Amanah Mulia. Yayasan milik keluarga kita. Akan ada program besar di Lebak dua bulan lagi. Nah, lo muncul di sana. Rayu, pengurusnya buat tempatkan lo bareng Ari. PDKT sono. Buat pertemuan itu senatural mungkin."
"Gitu aja? Beneran bakal berhasil?" Opick mengaruk dagunya berpikir sedikit keras. "Nama panggilannya cakep betul. Ari. Ari. Ari."
"Makanya nggak jumpa pas nyari yang namanya Nares. Semua orang manggil dia Ari."
"Wokeh!"
"Jangan lo pandai-pandai tambah ini itu. Pokoknya jangan jadi b**o! Ingat persoalan lo ketemu first time sama doi di mana, itu nggak penting. Jangan pernah lo umbar. Aib! Itu jadi rahasia seumur hidup, lo! Yang ada Nares bisa jijik. Paham!"
"Wah!"
"Kenapa wah?"
"Ih meni geulis. Doi cakep banget. Suara ketawanya persis petikan kecapi."
"Allahuakbar! Lebay, lo!" Agusta menepuk jidatnya berulang kali.
"Bukan lebay. Namanya juga naksir. Lo aja badan keker, ditaksir cewek ngacir."
Agusta bisa dibilang mukanya bukan seratus persen produksi lokal. Entah dari mana asalnya, yang jelas dia dianggap bukan berdarah Hairul Aman murni. Membuat trah bersih yang coba dibangun Hairul Aman tercoreng.
"Bangsad anaknya Pak Dadang!" Sebiji bantal melayang menimpa kepala Opick. Pria itu bergeming, fokus pada vidio tanya jawab antara Nares dengan Pak Dadang. Mengulang pada bagian yang ada interaksi Nares dan papanya.
"Lo misuh-misuh aja. Lihat Neng Nares; imut, lembut, ayu, pingin cepat-cepat bawa balik. Gua kelonin."
"Lo, gimana, sih, bisa naksir doi?"
"Tanyakan pada deras Kali Cilwung. Nyahok!"
"Gimana, ya. Gua, sih, udah tanya ke beberapa teman. Doi itu aktif di harakah yang gitu, deh. Sedikit ekstrem. Lo, nggak akan kuat. Lo, nggak takut apa?"
"Takut apaan?"
"Nggak satu ide. Mereka bilangnya, se-fikroh. Atau nggak satu pikiran."
"Gua, pasti akan jadi baik. Pokoknya janji Neng Nares sama gua sampai mati."
Agusta mendengkus. Konon cinta membuat t*i kucing rasa coklat. Ini rupanya yang menghinggapi Opick. Masalahnya, apa yang begitu menarik dari Nares selain seorang ukhti yang terlihat kalem? Apa lanjaran kuat untuk seorang yang dibesarkan sebagai pangeran itu untuk suka? Benar cinta itu tiada logika. Opick bisa memilih perempuan dengan tampilan bak putri sekalipun. Namun, sosok Nares sangat bertolak belakang dan diluar radar.
"Andai bisa memutar waktu, ingin rasanya Nares lihat sosok gua pas jadi good people, gitu. Argh!"
"Lo, buang, gih, sampah di lemari rahasia itu. Takut gua bayangin masa depan lo suram kalo sampai ketahuan."
"Ende sudah tahu! Dia rugyah gue segala sampai Suralaya."
Bukanya memberi dukungan prihatin, Agusta justru bertepuk tangan diiringi tawa terpingkal-pingkal. "Dari pada lo kena bogem. Ende, kan, persis Rambo!"
"Nareswari Tri Wulanti. Bagus, ya nama bini gua. Nares itu artinya permaisuri. Yuhuii, permaisuri gua!"
"Bini? Gimana kalau sudah ada yang ngajak doi taaruf. Ngences, nyahok?"
Bukan menjawab, Opick justru menghadiahi Agusta sebuah bogem mentah. "Mampus, sia! Kala halu yang beradab, dong!"
---------
1. Mau kemana sialan?
2. Mau cuci muka biar ganteng.