Bab 25-Murabbi

1600 Kata
Semoga tidak kebingungan, ya. Selamat membaca, semoga berkenan. --------------- "Dapat salam dari utusan HIPMI, tuh." Ari sontak mengangkat wajahnya. Pandanganya bertembung dengan iris coklat di hadapannya. Cowok yang ia tahu adalah ketua panitia seminar wirausaha kemarin sekaligus ketua Himpro anak FEM. "Wa'alaikumussalam. Selagi laki-lagi, muslim, lajang, ya, nggak masalah." Ari melanjutkan menulis namanya. "Seharusnya, mah sesama— " Ari tidak jadi melanjutkan apa yang ingin dia katakan. "Belum ada murrabi, 'kan?" Ari mengernyit, murabbi? "Afwan, kamu tahu murabbi apa?" "Orang yang mau dijodohkan sama kita lewat proposal jodoh." Sepemahaman Agusta memang itu. Anak ngaji biasanya berjodoh karena proposal jodoh. Sangat menggelikan memang. "Kalau gua sama teman-teman yang baong alias amburadul mesti nggak tahu. Termasuk yang kirim salam sama lo itu. Doi apa lagi." "Oke." Ari masih mencoba menahan tawanya terkait definisi murabbi versi ketua Himpro FEM yang terlihat cerdas sekaligus b**o secara bersamaan ini. "Kalau kamu gimana? Mau kucarikan murabbi?" "Waduh, gua belum siap. Gua masih mau nakal gitu." Giliran Agusta garuk kepala. "Emang orang petakilan kek gua bisa dicariin murabbi? Tapi yang selow kek, lo, deh. Gua mau. Oke, Mbak, gua mau dong dicariin murabbi. Haha." "Iya, bisa-bisa. Bisa banget." "Beneran, Mbak? Asyik." "Eh, Agusta serius mau dicariin murabbi?" "Eh, murabbi tuh apa sih, Mbak? Beneran jodoh, ya?" Ari berusaha keras menahan tawa. Tidak elok rasanya tertawa lepas di depan ikhwan yah meskipun bukan anak ngaji. Akan tetapi, ifah harus tetap dijaga. "Murabbi itu orang yang mau ngajarin kita liqo. Alias ngaji halaqoh gitu Semacam tutor lah." Agusta tampak berpikir keras dengan mengerutkan dahinya. Dahinya berkerut dalam seperti terusan air zaman romusa. Tentu saja dia sangat malu karena sudah sangat sok tahu tetapi salah kapar. Malunya tujuh turunan tujuh tanjakan. "Oh, iya ya. Murabbi kan guru yang di liqo. Ya Allah gua pikir calon pasangan." "Gimana, beneran enggak mau dicariin murabbi?" "Oh, iya boleh deh, Mbak. Tapi nanti murabbi-nya mau enggak, ya, ngajarin gua? Soalnya gua badung, enggak bisa diatur." "Gampang itu mah. Nanti Mbak carikan yang cocok." "Salamnya tadi gimana?" "Salam dari Mas Taufik itu?" Ari mengetuk bolpoin ke atas kertas di mana dia harus menulis semua informasi untuk sertifikat. Ari hanya heran, bagaimana bisa Taufik si pembicara seminar kirim salam padanya. Sepanjang acara, Ari diam dan menyimak semua dengan tekun. Dia tidak lagi ikut tanya jawab karena sudah bertanya saat sesi Dadang Amanjaya. "Mbak!" "Kamu kenal Mas Taufik? Maksud aku, kenal dekat bukan karena urusan seminar kemarin aja?" "Lumayan. Pokoknya gua jamin, deh. Doi baik. Halalan toyiban. Wal dunya wal akhirah." "Kek jual obat di Taman Topi, kamu!" "Memang jualan, ini. Doi kalau nggak di-sale enggak —." "Enggak apa?" "Ntar tanya doi, deh." Agusta tak dapat menahan tawanya. Mungkin kalau ketemu di jalan juga bakalan lupa, batin Ari. Sepanjang Taufik Hairul Aman berbicara di depan audiens, bisik-bisik kekaguman jelas terdengar. Lebih nyaring dari saat Alfian Alif yang berbicara. Mungkin karena masih lajang, sedangkan dua pembicara lainnya telah menikah. Pak Dadang bahkan sudah berumur. Sepanjang itu juga Ari lebih memilih menekuni makalah dari pada memandang pada sosok yang membuat hatinya ikut bedegup tak karuan. Ari tidak ingin ikut dalam perlombaan mengagumi sang nara sumber yang kelewat menawan itu. Bagaimana mungkin kebersamaan tiga hari di Lebak membuat jalinan kisah mereka bertaut hingga pelaminan. Tentu saja ada andil dari Agusta. Opick adalah Taufik Hairul Aman. Pria yang sama, yang mengirimkan salam padanya sejak selesainya seminar enterpreuner. Ari baru tahu hubungan comblang bernama Agusta, lalu Taufik dengan Pak Dadang. Yah, setelah pria paruh baya itu resmi melamar Nareswari untuk putranya. Secepat kilat Allah membalik kehidupan Ari. Dari mahasiswi penghuni kosan paling murah meriah yang punya sanitasi buruk, akses air terbatas, naik turun angkot dengan menenteng belanjaan menjadi seorang ratu. "Barakallah fii umrik wa hayatik fii dunya wal akhirah. Semoga Allah memberkahi umurmu, hidupmu, dunia dan akhiratmu istriku, ya, Eneng Nareswari," bisik satu suara menembus gendang telinga Ari. Suara itu begitu lirih disertai embusan hangat yang mampir di leher. Membangunkan lenanya. "Kang ...." "Lamun abdi bisa, abdi hayang nulis nama Eneng di langit yang tinggi dan indah itu. Sebisa mungkin, sebanyak-banyaknya sehingga semua orang bisa tahu betapa Akang mencintai Eneng seorang." Isakan yang tadinya hanya samar-samar itu kini semakin lantang membuat bahu rapuh itu terguncang hebat. Fatimah yang tidur persis di samping Ari sontak terbangun. "Ari! Ari!" Guncangnya pada sosok Ari yang terlihat gelisah diulit mimpi buruk seperti belum mampu membawa Ari pada kesadaran. "Nareswari!" "Asagfirullahalazim. Kak Fat. Aku ... Ari meraup wajahnya yang pucat pasi dilanda mimpi tentang masa lalu. "Iya, ini Akak. Minum ini," ujar Fatimah menyodorkan botol air mineral. "Mau coba tidur lagi atau salat?" "Ari salat saja, Mbak —eh, Kak. Maaf, ya, Kak Fat." Efek mimpi itu benar-benar dahsyat. Mimpi tentang Agusta. Bagaimana Agusta menyodorkan Opick saat dirinya belum tahu siapa pria itu. Lalu, kapan terakhir kali Opick membisikkan doa saat bilangan usinya bertambah. Ari akhirnya memilih bangun dan berjalan menuju kamar mandi. Mujur, mimpinya bukan sesuatu yang mengaibkan. Allah maha menyembunyikan aib anak manusia. Bukan hanya kali ini Ari bermimpi tentang Opick. Bahkan mimpi paling bahlul sekalipun pernah ia rasakan. Mimpi e****s yang — arch! "Ari kenapa lama?" "Oh, i—iya, Kak. Kak Fat mau ambil wudhu juga?" "Nggak. Akak sudah tadi. Giliran mau tidur lagi, Ari seperti gelisah entah kedatang mimpi apa. Jadi, Akak bangunkan." "Iya. Maaf ganggu Kak Fat." "Eh, taklah. Payah risau. Jom tidur lagi kalau sudah selesai salat." Ari hanya mengangguk. Tidak mungkin dia akan kembali rebah setelah menganyam mimpi yang tidak mengenakkan seperti tadi. Kilasan perjumpaannya dengan Agusta. Bagaimana dia menyodorkan Taufik Hairul Aman. Ya Allah kenapa semua yang tadinya begitu indah kini seperti ditelan mega hitam. Andai bayi itu hidup, setidaknya ada penghiburan bagi jiwanya yang kerontang. Ada asa untuk masa depan. Anak adalah harapan. Anak adalah anugerah terindah sekaligus amanah dan titipan yang Allah berikan kepada orang tua. Keberadaan anak sangat dinanti-nantikan bukan saja oleh Opick dan Ari, tetapi juga seluruh keluarga Hairul Aman sebagai penyempurna kebahagiaan dalam keluarga. *** Lantai keramik berwarna putih yang baru saja dibancuh dengan air itu kini berubah menjadi coklat. Bekas sandal dan kaki saling timpa di sana-sini. Dari ujung kelas suara gedelebug juga makian bersautan seakan gemuruh. Kekacauan sedang terjadi pada satu ruangan di mana anak-anak biasa belajar. Ari mematung. Pandangannya kini menyapu wajah-wajah bocah yang pias melihat kelakuan Kenyo. Kenyo yang sejak datang ke posko pengungsian memang membuat frustasi banyak relawan. Pernah pingsan kerena mogok makan. Ketika dia akhirnya memutuskan menelan makanan, tidak sampai hitungan menit, kembali memuntahkannya. Aneroksia, jelas dari tubuhnya yang serupa tiang bendera. Gadis itu juga bulimia akut, atau dia itu sekadar caper. Jenis remaja pencari perhatian khalayak. Kenyo yang aneh. Lebih mudah menyuruhnya salat dari pada makan. “Stop! Berhenti!” lerai ibu-ibu. Ari menoleh pada Fatimah yang baru saja datang, menepuk bahunya pelan. Sejak tadi malam Ari memang berada di Posko SD dan dirundung mimpi yang membuatnya sesak. Salah seorang ibu bersuara sambil menutup mata anaknya dengan punggung tangan. Adegan kekerasan di depan mata itu memang tak layak jadi tontonan, mencemari otak bocah. Sempat terhenti, kini Kenyo kembali menjambak remaja itu, yang sedari tadi mengeluarkan kata-kata kesat. Mungkin juga mual dengan kelakuan Kenyo. Fatimah dan Ari memegangi dua orang remaja yang saling serang itu. Sekelebatan mata Ari menangkap sosok yang sedang merekam adegan perkelahian itu. "Jangan direkam, ya! Kami mohon," larangnya sedikit khawatir. “Assalamualaikum, Nareswari.” Pria itu menggoyang satu tangan menyapanya. Lambaian tangan ala Putri Indonesia. Ari kehilangan kata, mencoba mengingat sosok yang melemparkan salam padanya. Memandang pria itu, sambil tangannya merangkul si Kenyo. Satu remaja lagi, masih sibuk menyepakkan kaki ke sana ke mari, tetapi akhirnya berhasil dijinakkan oleh Fatimah. Sisa hari kemarin, Ari banyak mengobrol dengan Dadang. Mertuanya itu bahkan berniat menginap di posko, tetapi berhasil diusir dengan sebuah janji manis. Menjenguk Ende juga Opick. Dia terus terang menghindari Agusta. Namun, sekarang justru kedatangan si belegug. Mimpi apa Ari semalam. Oh, dia mimpi dipeluk Opick. Mendapatkan segerobak kata cinta dan doa suci yang menerbangkan dirinya tinggi hingga ke peraduan biru nirwana lalu dihempas sampai seluruh raganya terkecai. “Woi, tolong ya, kameranya!” Ari tampak berapi-api. Fatimah ikut menghalangi pria yang terus metekam adegan gelud Kenyo dan bocah pengungsi lainnya. Ketika Fatimah berhasil memiting lengan pria itu, akhirnya sosok itu mengangkat tangan, menyerah. Menyerah bukan bermakna pergi. Sosok itu bergeming sambil memasukkan ponsel yang digunakan untuk merekam kekacauan tadi. Ari membalas salam, kemudian fokusnya kembali pada dua bocah remaja yang masih menyodorkan muka kesetanan. Fatimah dibantu seorang ibu-ibu berhasil menyeret sakah satunya lalu menghalau para penonton perseteruan dua remaja yang sempat saling cakar hingga hampir adu jotos. “Ibu-ibu dan semuanya yang tadi merekam, saya mohon dengan amat sangat, vidionya dihapus. Nggak ada faedahnya, bahkan sangat buruk bila tersebar.” Ari menangkupkan kedua belah tangannya ke d**a memohon agar orang-orang yang terlanjur merekam adegan Kenyo yang sedang gelud bisa dihapus. Selama ini oleh ibu-ibu dirinya dianggap idola, karena sedikit royal. Mereka percaya, Ari mampu mengendalikan Kenyo nyebelin. Meskipun hanya bermodal bahasa Tarzan. Menggelikan. Satu bentuk kufur nikmat paling akut. Punya lidah, tetapi enggan bicara. Awalnya ada psikiater yang menangani penyintas dalam menghadapi trauma, atau kegagapan akan bencana, tetapi pada sebagian kasus, relawan mengunakan pendekatan emosi. Siapa saja yang dapat masuk dan dipercaya oleh penyintas sebagai teman berbagi masalah, dia akan diminta menangani, meski tidak punya latar belakang ilmu psikologis. Toh, semua dibekali pelatihan terhadap trauma. Kadar mumpuni atau tidak, bukan tolak ukur untuk siap atau tidak terjun ke daerah pengungsian. Setelah berhasil merangkul Kenyo untuk keluar dari ruang kelas itu, Ari berjanji akan membersihkan kekacauan yang ditimbulkan gadis urakan itu. “Nyari gua, ya? Damang Nareswari Tri Wulanti.” “Damang, Bobby B!” Bobby tersenyum sumringah, ketika melihat penampilan Ari.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN