Pas nulis ini tadi lihat berita perseteruan anggota DPR vs wanita anak jendral. Nah, ada Pak Jendral itu yang, argh! Dasar saya nggak pernah liat berita, ya, saya ternganga liat si bapak. Asli, mirip seseorang dalam kisah ini. Saya yakin, pasti tuanya si bapak itu wajahnya mirip Pak Jendral.
Abaikan, ya, curcol nggak penting ini.
---------
“Nyari gua, ya? Damang Nareswari.”
“Damang, Bobby!”
Bobby tersenyum sumringah, ketika melihat penampilan Ari.
Rompi dengan banyak kantong di bagian d**a terdapat tulisan merah dan biru; Madani Indonesia, juga gamis berwarna gelap. Yah, kembali pada penampilan yang dulu. Tidak banyak yang berubah, kecuali wajah cantik terawat meskipun saat ini terlihat satu dua jerawat mulai muncul. Bobby sangat yakin skincare milik sahabatnya ini tidak dijual di Indoapril.
Ari yang sekarang pastinya berbeda 180 derajat dari sosok yang masih suka lari-lari berebut angkot berwarna hijau ketika harus pindah praktikum ke kampus induk. Atau gadis berhijab lebar dengan menyandang ransel berisi baju ganti dengan peralatan mandi setelah nyemplung di seputaran DAS Kali Ciliwung yang terkenal jorok luar biasa. Setidaknya, Ari yang saat ini berdiri di hadapannya, masih teman kuliah yang terlalu sering ia ajari hal-hal ajaib.
"Hai, Ari! Lo nggak lupa gue, 'kan?
“Nggak. Tapi, segitunya kamu, ya. Banyak anak Indonesia terkena mal nutrisi, eh, kamu serupa tepung dioleni compressed yeast, nyak. Mengembang sampurna, hadew.”
“Eleuh, segitunya. Kembang kieu oge rerencangan anjeun. (1) Gua gagah yaken?" Bobby sibuk menaikkan alisnya.
"Iya, gagah, Bob. Persis Menara suntet!” desah Ari sedikit mengejek.
“Ari!” Bobby mendelik karena bete.
"Maaf, deh, Mang."
“Mang kepala peang," dengkus Bobby. "Eh, waktu Taufik Hairul Aman kena tangkap, gua nggak nyangka kalau dia suami elo. NTW. Yah, pakai inisial, sih.”
“Please, deh, jangan ngomongin itu. Udah, ya, Bobb! Aku sibuk, nih.” Raut muka Ari mengeras seketika.
Terdengar decakan Bobby.
“Halah! Ok, let’s take a photo together! Ini, kita ngomong apa ya, Ri?”
Bobby langsung mengeluarkan ponselnya. Ketika satu tangannya berusaha menarik bahu Ari agar mendekat, tangan perempuan itu lebih dulu menyambitnya. Terdengar makian dari mulut Bobby, meski lirih.
Anjir.…
Ari akhirnya meminta seorang ibu-ibu mengambil fotonya ketika Bobby terus merengek. Persis anak yang tantrum menginginkan mainan idaman. Ari tidak lupa meraih sebuah kotak yang berisi sembako.
“Jangan di share ke public. Takutnya, itu berdampak tidak baik untuk karirmu di perusahaan. Level manager tijengkang ti korsi hipuna nya. (2) Fuhh, udah manager aja kamu.” Ari membidas kata dengan keras, tepat ke jantung pertahanan Bobby.
“Belumlah, woi. Keroco lagi. Eh, punya efbi, Ri. Punya, kan, ya?” Bobby merasa perlu mengalihkan kekesalan hati Ari. "Ini kenapa mesti ada kotak ini. Merusak pemandangan aja."
Ari tidak mampu menahan tawanya.
“Lha, kamu itu diutus perusahaan ngasih sumbangan. Photo, ya, harus ada kotaknya. Buat pertanggungjawaban," terang Ari panjang lebar. "Aku nggak punya efbi. Nggak punya! Kan, udah aku larang buat share ke publik. Lemot, lu. Dasar, old people!”
“Njirrr! Kita sebaya, yah. Old people, Mbahmu!”
Pria itu terkekeh. Meskipun sudah lama terjadi, tetapi pada kenyataanya Ari masih ingat pesan gilanya.
Saat itu Bobby meminta maaf bahkan setiap hari. Satu dua kali Ari yang membalasnya itu juga dengan bahasa yang sangat ketus. Terakhir kali pesannya justru dijawab oleh suaminya. Intinya jangan ganggu Ari karena dia sudah bersuami, dan karena pesan nylonong tak bertempat itu hubungan Ari dengan suami hampir di ujung tanduk. Lambat laun nomer Ari tak dapat dihubungi.
Mereka berdua larut pada pikiran masing-masing. Tatapan keduanya beralih pada kesibukan beberapa orang yang menurunkan semua bantuan.
Ari terdiam. Dia menunduk, tangannya ternyata masih terjalin dengan tangan si Kenyo. Gadis itu hanya diam. Entah gadis itu dengar atau tidak percakapannya dengan Bobby. Ari melepas tautan tangannya, membingkai pipi Kenyo, meneroka mata yang sayu itu. Dia merogoh sapu tangan, mengelap sisa nasi yang berhamburan di dagu dan leher gadis itu.
“Ambil minum, ya. Kalau mual, minum teh atau jahe hangat saja. Susunya bisa kamu simpan, buat nanti.”
Kenyo tanpa suara berlalu menuju dapur umum. Ari bersyukur gadis itu mau menuruti anjurannya.
“Ri ….”
“Udah ya, Bobb! Aku sibuk, nih.” Raut muka Ari mengeras seketika. “Kenapa sih, mesti tanya soal mantan. Ngomong-omong bawa bantuan apa kamu ke sini? Masih di sono gawenya?”
Perusahan yang sama. Akan tetapi, logonya sedikit berbeda. Kekinian. Sosok yang ada di hadapannya adalah salah satu staf yang diutus pihak perusahaan untuk menyampaikan tali kasih, juga bekalan air. Beberapa kali ada suplai air dari beberapa pihak, ternyata sepekan lebih, nasib baru menjodohkan Ari dengan perusahaan air tersebut. Mungkin ini yang namanya, tak akan lari jodoh dikejar. Atau, asam di gunung garam di laut, Posko SD Pasauran tempat bertemu jua dengan momok bernama, Bobby belegung.
"Masih lah. Gua bawa air dan beberapa kebutuhan sekolah."
“Baiklah. Aku ambil form untuk serah terima, ya, Bobb. Aku duluan. Nggak enak nih."
"Ri, masakah gak punya efbi, atau i********: gitu?"
"Semua media sosial sudah deact. Tapi, boleh sampaikan salam hormatku pada Bapak Imam.”
Bobby tersenyum, mengangguk. “Salam rindukah? Pak Imam memang tiada duanya, ya. Mirip dikitlah sama laki, lo. Gantengnya.”
"Iya, ganteng."
"Yang lo keluar semburat merah di muka kenapa?"
Ari mengatupkan bibir. Tatapan matanya menjadi tawar. Apaan, sih?
“Halah, ojo marah, tho. Kalau fotonya aku bagi di grup angkatan, boleh ya?”
Ari hanya menganguk, setengah ikhlas setengahnya tidak. Tak sampai hati menghampakan permintaan Bobby. Mungkin gambaran dirinya yang tadi terekam akan menimbulkan sedikit kehebohan. Mungkin juga sindiran, Ari akan mengutip banyak pahala.
Ari segera melangkah ke dalam salah satu ruang kelas, ia ingin melanjutkan tugasnya. Pertemuan tak terduganya dengan teman sejurusannya yang lagi-lagi harus mengaitkannya dengan masa lalu. Saat memutuskan left dari beberapa grup, Ari tahu sudah dianggap tinggi hati, memutus silaturahmi secara sepihak atau apalah yang dilabeli jelek.
Siapa yang tahan dengan mulut-mulut yang tak mampu mengunci sedikit saja rasa ingin tahunya. Mereka justru memvonis ini, itu, tanpa memberinya ruang untuk menjelaskan. Mereka juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka berkomentar, membully, bukan memberi solusi.
Meski Ari ragu, benarkah dirinya tidak salah? Benarkah dia pantas dibela? Atau Opick lah yang 100 persen bersalah.
Namun, dia yang seperti kata khalayak ramai katakan, cercaan masyarakat sudah menguncinya, dengan sebutan istri yang tidak becus. Apalagi ujaran-ujaran di laman media sosial.
Istri yang tidak becus! Pemakan duit haram!
puspa_ita Istri yang tidak becus melayani hasrat suami narestiwu mati aja, lo!
Andra_kiwi Kurang hot mbak goyangannya narestiwu Mas Opick pindah ke harem jadah. Duittt haram.
Oppa_gongyo Enggak nolak janda opium82 laki-laki nggak tau diri. Bini manis nyari yang asem. narestiwu sabar mbak, sama saya mau mbak? Saweran receh tapi.
safira-una Dasar koruptor! Harem jadahnya ngawur. Threesome dua bersaudara. Ngebet kawin turunan Hairul Aman.
gadis_jelita f**k koruptor, tukang zina jadi intip neraka, lo! narestiwu lo ikut menikmati duit haram bertahun-tahun, playing victim aja.
indah_inara Gak ada yang abadi lemah teles mbak. Gusti Allah yang bales.
muh-hendy safira-una bukan koruptor mbak, tapi suap. Istri solehah, juaranya narestiwu. Rajam saja opium82.
saitama_78 Religiusnya hanya topeng. Gratifikasi s*x. narestiwu kalau malu udah lo mati aja sana!
adira113 Adakah hot daddy, hot duda yang sanggup tampung jandanya Opick? Kelihatanya salihat, masih kenceng semua. Nggak tau juga dalamnya soalnya makan duit haram juga.
rizky-13 Saya single, mau ya mbak narestiwu meski bukan tinggal di istana, hanya gubuk derita yang aku punya. Tapi saya setia mbak. Mau, ya, servis 100% asli Indonesia.
adira113 Takut penyakit kelamin juga, sih. Cantik tapi barangnya busuk buat apaan?
saitama_78 adira113 karma is real. Makan duit rakyat! Semua bisnisnya pasti haram.
Hari di mana Opick kena tangkap pihak berwenang adalah hari di mana keduanya berjanji akan mengunjungi Ende. Ulang tahun Ende Hairul yang ke 81 tahun.
Telah satu minggu sebelumnya perasaan Ari dilanda kegelisahan. Berhari-hari dia uring-uringan. Berusaha mengungkapkan rasa khawatirnya pada sang suami yang hanya ditanggapi Opick dengan senyuman. Dia bahkan duduk di depan pintu menanti Opick pulang, hatta tengah malam sekalipun.
"Kang, perasaan Ari dari kemarin nggak enak."
"Sudah seminggu kamu ngomong gini, Neng. Itu, bawaan kamu lagi period, ya?"
"Ari udahan. Sudah kelar ini."
"Berarti boleh, dong, Akang ndusel-ndusel," sengih Opick mulai bergerilya.
"Ihh! Nih!" Ari menyerahkan hair dryer untul mengeringkan rambutnya. "Cepetan keringin!"
"Nanti juga keramas lagi."
"Ihhhh! Buruan, dingin ini juga."
Menjadi kebiasaan Opick untuk menjadi operator pengeringan rambut istrinya setelah keramas. Dia takut Ari masuk angin. Dia akan menyisir menggunakan jari tangan kanan, sedangkan tangan kiri menggerakkan hair dryer sampai rambut legam Ari benar-benar kering.
"Rambut kamu masih tebal persis waktu kita nikah, ya."
"Kata Ibuk, karena belum ada anak," lirih Ari. "Dahulu rambut Ibuk juga lebat. Neng lihat fotonya, Kang. Lebat banget. Karena sudah dibagi-bagi sama tiga anaknya, jadi tipis."
Opick menghentikan gerakan mesin pengering rambut. Meletakkan persis di meja rias. Jarinya menyisipkan anak rambut istrinya yang menjuntai ke segala arah. Pria itu meletakkan dagunya di lengkung pundak Ari.
"Maaf, ya."
"Eh, kenapa, Kang?"
"Nggak pa-pa, Neng geulis. Akang sering keluar kota. Sering pergi-pergi. Buat kamu kesepian. Belum bisa kasih Neng, anak juga."
"Kang, kita udah coba. Ntar, coba lagi. Calon anak kita masih banyak. Masih delapan."
Ari menelengkan kepalanya hingga ujung hidung mereka saling bersentuhan. Keduanya berbagi bara dan magma dari celah yang mulai rekah itu.
"Thank you for making me a better person. Since meeting you, I feel more centered, more at peace. Not only do I have something to work for, but someone to share life with." Opick mengelus pipi halus nan gebu itu yang kini telah merona merah.
"Kang? Tumben English? Kenapa, sih, jadi melow?"
"Kalau bahasa Sunda, Eneng suka tanya artinya."
Ari terkekeh dengan mimik serius Opick lewat pantulan kaca. Dia berdiri lagi-lagi membalas pagutan mesra suaminya. Kehangatan itu merayapi hatinya. Cinta mereka memerlukan ruang untuk saling melakar keindahan-keindahan yang tak bertepi.
"Maafkan Ari sudah bikin Kang Opick khawatir. Curhat soal mimpi itu."
"Soal cerita itu, Eneng harus cerita semuanya. Eneng harus tahu. I love you."
"Yes. I love you too. I love you till jannah."
Setelah itu, semua keindahan seakan sirna. Bagai banjir bandang yang menyapu semua rimbunan kasih mereka.
Ari meraup wajahnya yang kembali kusut oleh kenangan. Kenapa, setelah sekian purnama dia berhasil mengusir semuanya, justru di tempat ini kenangan buruk itu berjejalan mengacau pikirannya.
Mengapa?
Ari tidak harus melolong di siang bolong, 'kan?
--------
1. Gemuk besar begini juga teman kamu.
2. Level manajer terjengkang dari kursinya.