Berusaha mengingat kapan pertama kali mengenal kata CLBK. Kalau bahasa jawanya, "Teklek keceplung kalen, timbang golek aluwung balen".
Abaikan ....
---------
Ari sedikit terhuyung ketika seorang memanggilnya. Duduk dengan kaki menekuk pada ceruk sempit sebuah ruangan membuat kakinya kebas. Setelah acara berlinang air mata dengan kenangannya sendiri yang menyedihkan, Ari memilih bersemedi di ruang UKS yang jarang disambangi pengungsi
“Ada temannya nyari, Teh Ari. Katanya mau pamit.”
"Teman?" gumam Ari kebingungan. Yang dimaksud teman ini, masih si belegug?
Benar saja, bukan sendiri, di belakang Babinsa dengan sepatu laras yang berderak mendekat, sesosok ngembang itu muncul sambil menebar senyuman lebar. Bulu kuduk Ari langsung berdiri melihat senyum Bobby yang mirip seringai.
“Gua barusan buat status. Siapa coba yang komen pertama?”
"Masa bodoh lah. Enggak ngaruh buatku."
"Beneran? Ehm, orangnya tinggi, hitam manis, kalau senyum saja, serinya ngalahi matahari terbit. Itu matahari jadi malu gitu. Siapa coba?"
“Katanya, mau pamit. Udah, hati-hati di jalan. Sukses selalu. Jaga kesehatan. Banyak minum air putih, langsung dari chamber juga enggak apa-apa. Perusahaan kamu enggak bakalan rugi. Air liur Bobby kan ajaib."
"Eih, kok jutek gitu? Nyuruh gua minum dari chamber segala."
"Orang normal mah air liurnya netral, nah kamu, bisa hemat kaporit buat naikin pH. Udah sana!” Cerocos Ari.
Dia berniat mengusir dengan terang-terangan, jadi enggan mengomentari apa yang baru saja Bobby ucapkan soal Pak Imam. Terniat banget memancing di air keruh.
“Idih, jahad!” Bobby melotot mendengar bualan Ari. Gila saja menyamakan air liurnya dengan kaporit. "Gua bakalan balik, ewah-ewah."
“Terus, ngapai lo pegangan tiang dari tadi?”
“Iya, ini sebentar aja, ntar gua pamit, Beb!” Bobby berusaha mendekati Ari, menyodorkan ponselnya. “Eh, ini Pak Imam. Imam Junaidi. Salam balik, katanya. Uhui! Bencana membawa pada, CLBK.”
“Hah, CLBK gundulmu!” dengkus Ari.
“Coba ulangi, pas omong gundulmu.”
“Enggak ada apa-apa antara gua sama Pak Imam. Kamu tahu siapa yang magang bareng aku di CTI?”
“Henteu teurang. Saha?”
“Kamila."
"Terus?"
"Doi yang rekomendasi magang di perusahaan itu. Tadinya, niat hati ambil RS PMI, tetapi sudah full. Akhirnya, barengan Mila. Pembimbingnya, ya, Pak Eko Rahmadi. Manajer yang kata kamu terjungkal, ntu! Selama ini, semua hal anak magang diurusi Pak Imam, tetapi sesi konsultasi tetap sama manajer.”
Ari menghela napas. Mungkin, dengan bercerita sedikit pada Bobby, dia juga akan mendapat sesuatu yang setimpal. Rasa tenang.
“Kamu tau Bobb, aku pakai baju tempur, kerudung lebar gituh. Nah, Pak Manajer nggak suka. Aku bahkan pernah naik tower air karena ngambek nggak di kasih izin ke lapangan.”
“Sebentar-sebentar. Ini tower air samping gedung perawatan? Mampus, siah. Itu kalau tangga tegak lurus itu, lo terpeleset dikit aja, masuk tendon air, ekkk, modyar!” Bobby memegang leher sambil menjulurkan lidah. “Nekat, lo!”
“Pas sekarang ingat ngeri juga. Syukurlah aku belum jadi almarhumah."
"Ya, kalo lo almarhumah nggak rasa enaknya dikeloni Opick, dong. Terus?"
Ari mengerutkan bibirnya. Perempuan itu langsung munghunus pandangan menusuk pada sahabatnya saat kuliah itu. Bobby benar-benar minta ditabok.
Bobby yang mendapat tatapan tak bersahabat malahan cengengesan. "Terus," lirihnya.
"Ogah mo cerita lagi."
"Ok! Saya Bobby Belegug minta maaf."
"Sampai mana aku cerita tadi," helah Ari membuang suntuk. "Tau siapa yang naik nemani aku liat Selat Sunda sama waduk dari ketinggian 44 meter?”
“Eh, bukannya 44.4 meter. The right one. I corrected this! Pak Rahmadi mau nego akhirnya?”
“Enggak. Yang naik, Pak Imam.” Ari menerawang. Membayangkan kejadian itu. Kejadian yang ternyata Rahmadi sendiri masih ingat dengan jelas.
"Hmmm. Sudah gua duga."
“Duga apaan?"
"Pak Imam orangnya gitu. Selalu buat baper perempuan."
"Waktu jalan ke sini, aku jumpa Pak Rahmadi. Nyari anak dan bininya yang katanya liburan di Tanjung Lesung apa Carita gitu.”
“Iya, banyak yang hilang memang,” lirih Bobby. “Datang ke sini, ada hikmahnya ya, Ri. Relawan sekaligus reuni. Yuk, kita reuni!”
Ari menggeleng cepat. Ada beberapa janji yang harus dia tunaikan. Menjumpai Kamila, janji dengan mertuanya.
“Eh, Andri itu masih kerja di situ? Berarti kamu kenal dong, sama dia?”
“Setelah Bu Tutik purna tugas, bagian lab, dihuni kaum Adam. Andri di bagian perawatan.”
Ari ber oh, panjang. Lalu terkekeh membayangkan Andri yang manis dan menjadi kandidat suami idaman Kamila, setelah Imam Junaidi tentunya.
“Kenapa lo ketawa? Ada yang ngemesin, gitu?”
“Nggak! Ingat saja zaman magang itu. Aku sama Kamila serba nggak jelas. Gak jelas ngambil tema apa, buat kisruh iya.” Ari menjeda ceritanya. “Eh, pernah ketemu Kamila? Sesama Cah Cilegon.”
Bobby ikut terkekeh, lalu menggeleng karena tak pernah sekalipun berjumpa Kamila. Sama sekali. Aneh memang. Lagi pula Kamila bahkan lebih dahulu left dari grup bahkan ketika grup masih terhimpun dalam grup BBM.
"Konon, lo gaduh sama Kamila?"
"Udah baikan. Ya, sempat salah paham. Dia udah minta maaf pas sebelum aku nikah, kok."
“Syukurlah. Lo tahu, Ri, Pak Imam yang jaga produksi sekarang.”
Ari lagi-lagi ber oh, panjang. Apalagi yang bisa dia berbuat. Siapa pun yang jaga Departemen Produksi tidak ada kaitannya dengan dirinya. Wong Ari hanya bocah magang dengan durasi sekian bulan. Itu pun sudah terjadi dua belas tahun silam. Kecuali CTI diajak kerja sama dengan salah satu perusahaan milik Opick.
Eh! Kenapa jadi Opick. Isi kepala Ari minta dikalibrasi agaknya. Sedikit-sedikit ingat Opick.
"Ri, lihat, deh!" Bobby merogoh saku celananya. Mengeluarkan ponselnya. “Beliau sama aja, ya. Sepuluh tahun kerja bareng, enggak menua. Nyemil ….”
“Formalin. Mau bilang gitukan?”
“Enggak, yee. Beliau nyemil tawas. Ganteng, ya.” Bobby melempar candaan. Ingin melihat apakah Ari akan merona.
“Berapa kali kamu ngomong Pak Imam ganteng. Asli aku jadi curiga dan pingin istigfar. Kamu normal, 'kan?!”
Lagian gantengan juga Opick ke mana-mana, batin Ari. Opick sebelas dua belas dengan si Chris Evan.
“Bilang ganteng dulu!”
"Apaan, sih."
Ari geleng kepala akan kegigihan Bobby. Lelaki ngembang sampai memamerkan wajah memelas seakan anak kucing. Ari sangat prihatin dengan rasa ingin tahu sahabatnya yang sangat aneh itu.
“Ck! Sebenarnya, di mataku yang dinyatakan normal, enggak ada keluahan, baik itu myopi, presbiopi, astigmatisma, maupaun silinder,” sengih Ari, “yah, ganteng.
"Beliau dikarunia tubuh tinggi, tegap, item manis. Semua anak magang, yang selain aku dan Kamila, mereka itukan cowok semua, mengakui dengan suara bulat, Pak Imam ganteng. Tapi, ya gitu aja. Kalau aku bilang, tampang beliau biasa, munafiklah. Bisa ditimpuki batako sama mereka.”
Bobby tertawa ngakak. Dia sendiri secara fisik kalah jauh dari bosnya itu. Yang masih ramping, punya performa bugar. Semangat empat lima katakan.
"Jadi antara Pak Imam sama Pak Rahmadi siapa yang sebenarnya, lo, taksir dulu. Dulu, ya. Sebelum ada Opick?"
Door! Ari kena tembak tepat di d**a.
“Eh, ngelonjak! Udah, ya. Makan gaji buta wae! Balik sono!”
Bobby garuk-garuk kepala. “Benar yang elo pulang selalu nebeng Pak Imam?” lirihnya.
Ari terdiam. Mungkin itulah kesalahanya. Dia memanfatkan banyak orang untuk kepentingnya. Bahkan Kamila sempat cemburu padanya. Meski tidur bersama, berangkat sama, tetapi ada tembok tak kasat mata terbentuk.
“Nggak ada indahnya buat aku ingat. Apalagi mo cerita ke kamu.”
“Tanggung. Cerita, gih!”
Ari meraup udara yang panas, setelah menyelesaikan ceritanya. Meski matahari mulai tergelincir. Pukul tiga, udara panas bercampur angin harusnya mampu mengusir kepiluan cerita lama itu.
"Kalau diingat-ingat, ya lucu, nyeri iya, ngilu iya juga." Ari sekali lagi menghela napas. Jemarinya saling bertaut mengusir segala keresahan yang bertakung di matanya. "Begini ceritanya. Lumayan panjang. Saat itu bulan pertengahan Februari ...."
Bobby menjerit ketika Ari selesai bercerita. Tidak habis pikir karena Ari terkesan sangat hati-hati dalam bergaul. Rental komputer saja harus ada ruangan terbuka. Harus ada teman perempuan.
“Ya, gitu ceritanya? Gila, ya?"
"Asagfirullah Nareswari! Edyan! Lo itu akhawat atau kawat sih? Mencoreng citra mahasiswi Kampus Hijau yang terkenal relijius. Setau gua, lo itu aktif di rohis kampus masa itu?”
“Iya. Akhwat imitasi, kali.” Ari tersenyum pias.
"Iya. Imitasi persis tukang sepuh emas."
“Aku sadar, itu salah. Bermain api. Laki orang, meski beliau menawan. Padahal demi Allah, nggak ada setitik pun rasa sama Pak Imam msupun Pak Rahmadi. Gua, buka pengemar bapak-bapak. Tapi, yeah, paham perasaan istri beliau-beliau. Hati mana tak gundah, resah, seorang istri lihat adegan gitu. Panas kali, ya? Secara, kamu tahu gimana manisnya Nareswari. Gak keukur, ngalahi syrup Marjan.”
Bobby mencebik, pura-pura muntah.
“Parah, njirr. Gua enggak nyangka aja, kejadiannya separah itu. Berarti kejadian rame-rame itu pas depan gerbang?”
Ari menganguk.
"Security di mana saat itu?"
"Entah. Mungkin lagi salat. Ada yang nolong orang-orang. Lupa orang office mungkin."
"Nareswari, aya-aya wae ...."
“Untung waktu itu ponsel zaman flinstone, selamatlah diriku. Enggak ada kamera, palingan juga yang cangih ada radio sama gim tetris. Ponseku masih yang jadul lagi, 5110. Hibah pula. Yang ada antena Satria Baja Hitam alias belalang tempur!”
Bobby bingung. Di tengah cerita yang membara, bisa-bisanya Ari mengupas spesifikasi ponsel jadul.
“Jadi itu, Bobb. Kisahnya. Jangan lagi, kamu ketawa, ya. DOSA!”
Ketika dilarang tertawa, Bobby malah meledak. Sampai beberapa ibu-ibu, menoleh pada mereka berdua.
“Insya Allah nggak ketawa. Gua cuma, prihatin. Udah gadisnya susah, dihajar bininya orang, kok nikah lo ditinggal selingkuh sama Taufik itu.”
“Udah ada garisnya dari Lauhul Mahfudz. Tinggal pilihan, mau marah pada keadaan atau sabar. Aku, sih, milih sabar. Kenapa, dari tadi omong pamit nggak pergi?”
“Noh, liat! Lagi ganti ban,” herdik Bobby. “Eh, beneran yang lo di cerai karena nggak mau, nganu, ena-ena di lapas?” Bobby berkedip.
Ari bersedekap defensif. Terkejut karena Bobby membayanginya dengan segala macam pertanyaan menyebalkan. Sah, lelaki ngembang ini adalah utusan lambe turah.
“Bobb, boleh aku tanya kamu?”
“Apa? Belum jawab yang tentang suami, lu.”
“Ex!” Ari menyambit lengan Bobby dengan rompi yang kini sudah dia lepaskan. “Aku, nggak bisa cerita masalah itu. Aku cuma mau tanya. Kamu ngorek cerita, mau kamu jual sama lambe turah, ya, kan?”
“Suudzon, lo! Gue nggak se kejam itu, beb.”
“Beb, apaan. Udah sono…! Jam kantor sudah mau habis juga ….”
Opick ditangkap karena rasuah. Pemberi gratifikasi. Ah, mungkin sudah jadi pandangan lazim di negeri ini. Rasuah ibarat CO2 yang semestinya dihidari, tetapi ikut terhirup bersama oksigen.
Dalam bisnis konstruksi itu biasa memberikan success fee bagi pihak-pihak yang membantu perusahaan. Orang-orang yang dikenalkan oleh pejabat negara lainnya yang berwenang mengurusi proyek. Ketika Opick ditangkap banyak pihak cuci tangan.
Kehidupan pribadi mereka ikut dipersalahkan. Andai mereka sanggup ada pada posisinya? Sangupkah b******a di antara ramai orang, yang lenguhan-lenguhanya membuat bergidik. Ari tidak mampu menutupi kejengahan, seakan para sipir yang dibungkam Opick itu memandangnya dengan tatapan penuh belas kasihan. Dia juga merasa kotor, berjalan melewati mereka dengan sisa-sisa percintaan yang masih melekat memeluk tubuhnya.
Ari hanya mencoba berbakti semampu yang dia bisa. Meski harus masuk lorong sebuah rumah tahanan. Sekali lagi dengan tatapan penuh nista.
Dia berusaha tetap waras, tiga tahun mencoba bertahan, tetapi apa daya.
Usahanya untuk bangkit makin terhempas ketika Opick ternyata masih mengendalikan bisnisnya dari balik tahanan. Oke, itu semua juga kelaziman bos-bos yang ditangkap oleh komisi anti rasuah. Lalu bagaimana dengan terciduknya mereka, Opick dan harem jadahnya di sebuah kamar hotel.
Bersama seorang lelaki lain juga. Pria itu adalah sepupu jauh Opick. Mereka berbagi perempuan yang sama. Apa mereka melakukan, s*x threesome? Ari hampir pingsan mendengar kabar itu.
Awalnya Ari hanya mampu menangis. Bahkan kalau air mata Ari mampu ditampung, akan dapat menyuplai kebutuhan air dalam satu kota selama setahun.
Ketika semua aib itu terbongkar, orang-orang justru menyalahkannya.
Meski dia sempat meratap, tiada yang mendengar. Kecuali, lelaki tua itu dan keluarganya.
“Papah, Mamah, Ende, akan selalu ada untukmu. Kalau, Opick bisa kembali ke pangkal jalan, terimalah. Kalau memang sudah tidak ada jalan pulang bagi hubungan kalian, Papah yang akan carikan kamu pria yang layak. Pantas menjadi imammu kelak.”
Bercerai belum tentu runtuh, meruntuhkan martabatnya. Itu tekad Ari.
Ari tahu. Dia tidak pernah kegeeran, ketika hakim menyatakan mereka bukan siapa-siapa lagi, akan tetapi tatapan Opick tetap memujanya.