Asli mulai oleng. Iya, selain naskah Ari, saya nulis naskah lain juga. Genre romance-fantasy di aplikasi tetangga.
Kalau ada kesalahan, kengawuran mohon maaf. Stary udah gak bisa diedit.
Selamat membaca, semoga berkenan.
Kapan Ari ketemu lagi sama Pak Adi? Ehm, akhir bulan ini lah. Haaa ....
------------
Hal yang pertama kali Ari dapati begitu duduk di balik kemudi adalah wajah menyebalkan si Kenyo. Mata Kenyo menatap Ari setajam ujung pedang sakabatou milik Rurouni Kenshin. Opick menyukai film Jepang yang diadaptasi dari manga itu. Bahlan Opick juga mengkoleksi beberapa katana.
"Sekarang rencana kamu apa?" tanya Kenyo. Masih modelan jutek.
Ari meraih cermin tangah sambil merapikan kerudungnya dengan sedikit bingung. Sebenarnya dia tidak punya rencana apapun selain melihat Rawa Dano dari jarak paling dekat. Caranya, ya, masuk ke dalam cagar alam tersebut.
"Pokoknya sampai tempat yang kamu inginkan. Rawa Dano."
Dari wajah Ari yang bingung Kenyo sudah membaca segalanya. "Ku kira kamu suhu, ternyata cupu."
"Udah, jangan marah-marah aja, wahai sahabatku."
"Sahabat?"
"Yes! Sahabat. Menurut petinju legendaris, Muhammad Ali, 'Persahabatan adalah hal tersulit di dunia untuk dijelaskan. Itu bukan sesuatu yang kamu pelajari di sekolah. Tetapi, jika kamu belum mempelajari arti persahabatan, kamu benar-benar belum belajar apa-apa'.
"Dalam riwayat Imam Muslim juga ditulis, seorang sahabat saleh bisa memberikan syafaat untuk sahabat yang tidak ditemuinya ketika ia masuk surga."
Kenyo merespons dengan kuapan lebar. Terlihat bosan tetapi tawaran Ari sangat sayang untuk dilewatkan.
"Itu lah gunanya teman. Memilih teman yang baik, yang mampu bersaksi di akhirat nanti," imbuh Ari masih dengan petuah ala Mama Dedeh.
Petang kemarin setelah Bobby bersama rombongan perusahaannya pergi, Ari justru sempat mengobrol dari hati ke hati dengan Kenyo. Meskipun lebih banyak Ari yang berbusa-busa berbicara ngalor ngidul. Memang itu salah satu kelebihan yang dimilikinya. Banyak bicara. Opick bahkan menjulukinya Tukang Dongeng.
Yah, kunjungannya menemui Opick tidak selalu dengan alasan bercengkrama di bilik lalu memadu asmara. Tidak senaif itu. Tidak sepenuhnya seperti yang orang kebanyakan pikirkan.
Sering kali Opick hanya duduk mengenggam tangan atau pria itu merebahkan diri di pangkuannya. Suaminya itu akan meminta Ari menceritakan banyak hal. Bahkan hal paling kecil sekalipun. Namun, Ari sengaja tidak menceritakan tentang bayi mereka. Karena semua toh ....
Pimmm!
Sebuah mobil ford dua kabin menyalip mobil yang dikemudikan Ari. Perempuan itu sedikit tergagap karena lamunannya yang kelewatan. Kenapa setiap saat Opick masih saja menyelinap dalam lena maupun terjaga. Hampir saja.
"Maaf, ya."
"Aish! Kamu bisa nyetir nggak, sih?"
"Tentu saja bisa. Aku kursusnya sama Rifat Sungkar. Itu pembalap yang bininya artis."
"Argh, gak nyambung! Lama bued!"
Kenapa semakin dekat dengan Kenyo, Ari merasa gadis tengil di sampingnya ini begitu mirip seseorang yang dia kenal. Namun, Ari cepat-cepat menumpas kecurigaanya. Tidak mungkin. Bisa jadi karena perjumpaan di awal pekan terjadinya tsunami dahulu itu.
Dia bersua dengan Rahmadi yang dari masa lalu mereka, ada sebuah luka yang tercipta sekaligus membuatnya semakin dewasa. Meskipun pria itu sekarang menampilkan sikap ramah. Bertahun lalu, si Monster Ijo terlalu mewakili kaum juteker.
"Kamu nggak ikhlas, ya?"
"Kok, bisa kamu ngomong gitu?"
"Caramu menyetir sangat tidak nyaman!" ketus si Kenyo.
"Aku berteman baik dengan polisi tidur. Tenang saja."
"Kita di atas untuk turun, di bawah untuk naik, jatuh untuk bangkit dan terbang untuk membumi. Jadi simpan sombongmu itu baik-baik."
"Baiq-baiq lah. Dua puluh empat kata sudah kamu ucapkan dalam satu helan napas. War biyasah, Kenyo. Saya suka, deh."
"Aku mo merem lagi!"
"Sok, atuh Neng Kenyo."
Fatimah Chen dan Kenyo.
Ari memang seorang yang pemilih dalam menentukan pertemanan, tetapi dua sosok terakhir itu memberikan satu momentum.
Fatimah dan Kenyo sedikit banyak menyadarkan dia akan satu hal. Persahabatan itu tidak harus diikrarkan seperti sebuah lafas ijab qobul: keras, jelas dan lantang. Itu semua terpancar dari hati, diikat oleh rasa menyayangi. Tidak ada buku putih dalam persahabatan, ‘kan?
Perempuan itu sekali lagi menoleh pada Kenyo yang terkantuk-kantuk. Ari hanya tinggal menunggu, karena waktu yang akan menguji persahabatan barunya.
Setelah meninggalkan alamat, nomer telepon dan foto kopian kartu pengenal, Ari membawa serta gadis itu. Tentu saja, dia tidak mau dikatakan sebagai penculik bocah, ‘kan? Dicurigai sebagai bandar organ dalam. Namun, apa Kenyo yang kurus kering punya organ yang sehat? Desah Ari masih fokus dengan jalanan.
Semua bermulai dari obrolan ngalir ngidul itu. Kenyo akhirnya sudi bersuara.
“Tawaranku ini, serius, lho. Ada satu moda transportasi yang baru diluncurkan. Kereta Api,Joglosemakerto, keliling Jawa. Jawa Tengah, khususnya. Kamu enggak tergoda? ” Ari melancarkan rayuannya pada Kenyo. “Aku tambahahkan, menjumpakan kamu dengan abahmu, bagaimana?” tawaran Ari memang maut.
“Kamu kenal abahku?”
Ari menggeleng. “Ya, enggak. Aku bisa mengupayakannya. Tinggal sebut saja siapa nama lengkapnya, juga namamu, lengkap dengan foto dekilmu. Gak sulit, kok. Kamunya aja yang sok, misteri— yes!”
“Bisakah kamu membawaku ke Rawa?"
“Rawa?” Ari mengerutkan dahi. Apa yang ada dalam kepalanya adalah Pantai Indah Kapuk. Rawa sepanjang pulau Sumatera.
“Rawa Dano?!” ulang Kenyo.
Ari harus terkejut akan pilihan si Kenyo. Hatinya dirajai curiga. Tempat yang bahkan dianggap zona terlarang baginya saat masih berstatus anak magang. Apa yang akan dicari bocah ini di Rawa Dano. Buaya?
“Rawa Dano, Cidanau? RAWA DANO. Yakin?”
“Heem! Kamu tahu?”
“Baiklah ... baiklah. Ada syaratnya, dong. Aku punya nama. Perkanalkan namaku: Nareswari Tri Wulanti. Kamu boleh memanggilku Mbak Nares atau Mbak Ari. Kamu, siapa namamu? Iya, sih, di buku itu kamu nulisnya Nadi. Lengkapnya siapa? Bisa saja Nadia, Nadinda. Siapa?”
“Kenyo, nyebelin katamu!” Kenyo berniat meninggalkan tempat itu ketika Fatimah Chen menyambangi mereka.
"Ya Salam!"
“Itu Kenyo, akhirnya mau berdamai juga?” bisik Fatimah.
Ari mengangguk, meskipun tetap saja sosok Kenyo teramat sangat nyebelin. Namun, tidak patut memaksakan kehendaknya pada gadis itu. Alon-alon waton kelakon.
“Kenyo ... boleh, tak, Makcik pinjam itu?" tunjuk Fatimah pada biola yang masih tergeletak dengan payah di lantai.
Kenyo hanya melengos. Dia langsung membalikkan badan. Enggan bersitatap dengan Fatimah yang tersenyum lebar.
“Hadeh, Kak Fat, jangan digoda! Kenyo, jangan ambekan, nanti manisnya dibawa lari ombak sampai Madagaskar, lho.” Ari menarik ujung lengan baju Kenyo. Gadis itu bersikukuh membelakangi Fatimah
“Kamu mau ke mana saja, aku turuti. Cagar Alam Rawa Dano seperti permintaanmu, hayok. Ke Bromo, boleh. Mana … atau ke Nepal, kita mendaki Mount Evrest. Tapi, minta maaf dulu, gih, sama Makcik Fatimah!”
Kenyo menoleh, masih bersedekap. Namun, raut mukanya mulai mengendur, tatapannya tidak sebengis tadi. “Kamu, duitnya banyak, ya?”
Ari terperangah ketika gadis itu menanyakan soal duit. Dia garuk-garuk kepala, kerudungnya kusut seketika.
“Ehhh, adalah. Cukup untuk kita berdua keliling dunia.”
“Ngomong-ngomong, kenapa b***k itu mau ke Rawa Dano?” Fatimah menyela.
“Entah.” Ari mengedikkan bahu. “Aku hanya asal bicara dan dia terlihat antusias. Lalu mengajukan tempat itu. Setidaknya Ari juga punya kenangan di tempat itu. Judul laporanku saat magang. Mungkin, Kenyo ingin sesuatu yang berbau, Journey to the Center of The Cidanau.”
Fatimah tertawa terbahak-bahak dengan banyolan Ari yang memparodi sebuah judul film fantasi. Salah satu judul film fantasi kesukaan anaknya.
“Akak juga punya kenangan di tempat itu. Rawa Dano. Dulu, Mas sering mengajakku ke sana. Salah satu tempat ngabuburit yang asik.” Fatimah menghela napas. Kemudian senyumnya terbit. “Andai bisa di sini lebih lama, aku ingin ikut. Sayangnya, esok, Akak harus pulang. Tanggal 2 Januari, di mulai masa persekolahan di Malaysia. Ari kapan pulang?”
“Belum tahu. Tapi, dengan perjanjian manis dengan Kenyo, mungkin dua hari lagi akan berkemas.”
Fatimah mengandeng Ari. Sedikit menjauh dari Kenyo. “Semoga silaturahmi kita kekal. Bila ada masa, main-mainlah ke Shah Alam, tempat Akak. Jom cuit-cuti Malaysia!”
Ari terkekeh. Fatimah serupa Miss Pariwisata yang mempromosikan negaranya. Negara kedua. “Kak Fat, boleh tahu siapa nama benar kakak? Nama zaman muda, yah, meski sekarang masih awet muda juga. Nama sebelum ada Fatimah?”
Fatimah tersenyum, “Shinta. Dwi Shinta Rahmani.”
“Tangan, woiii!” Ari tergagap dengan pekikan Kenyo.
Satu tangan Ari memegang setir mobil, satu lagi mengacak rambut gadis itu. Sulur-sulur yang terlepas begitu saja dari kunciran yang dipaksakan. Rambut Kenyo memang belum layak untuk diikat, tetapi dia mengatakan kegerahan. Sekilas gadis itu memang mirip Fatimah Chen. Pantas dia ingin Fatimah jadi mamanya.
Lalu, seperti apa sosok orang tua kandung Kenyo ini, batin Ari sedikit sendu. “Mon maap … boleh bobok lagi, kok.”
Tadi pagi, sampai saja di kawasan Pantai Batu Saung dengan menumpang mobil relawan, Ari harus menyewa mobil untuk memudahkan pergerakan. Meski Kenyo sempat memberodongnya dengan banyak pertanyaan, lebih pada rasa keberatan. Nadanya ketus dan sinis. Dia menggangap Ari ingkar janji.
Ya, Ari memang berjanji mengunakan transportasi umum. Namun, yang ingin dia tuju bukan Mancak atau Padarincang. Bukan dua tempat itu.
Melihat Rawa Dano dari ketinggian memang indah, tetapi kurang menantang. Dia ingin benar-benar masuk ke kawasan Cagar Alam Rawa Dano. Itulah yang menggiringnya ke kantor BKSDA (Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam) untuk mengurus surat izin. Meskipun sepanjang jalan melihat Kenyo manyun, tetapi hati Ari mekar bahagia. Apa yang dahulu dia impikan akan terealisasi sebentar lagi.
Ari memang beruntung, ketika Kenyo juga memiliki kenangan di tempat itu. Sekali merengkuh dayung dua hati terpaut. Eh, dua pekerjaan terlampaui.
“Masih lama lagi?” Kenyo menguap lalu menoleh dengan satu mata masih terpejam, mengawasi Ari yang fokus pada jalan. “Bokongku sudah pedas seperti dikasih cabei,” dengkusnya tak sabaran.
Ari tidak menyahut. Dia tahu, perjalanan itu baru akan dimulai esok pagi. Saat ini dia hanya akan beristirahat di penginapan.
“Perasaan jalan ini udah kita lewati?” omelnya. Sangat berbeda dengan Kenzo saat di posko pengungsian yang lebih banyak bungkam.
Memang terlihat ruwet karena harus bolak-balik. Ari menyetir sendiri, berbekal GPS Anyer-Padarincang-Serang, lalu balik lagi ke Rawa Dano. Sedikit kerumitan itu terkait ijin masuk kawasan konservasi.
“Kalau kita enggak ijin, bisa ditangkap. Dianggap meceroboh kawasan konservasi. Lagian setiap masuk ke Rawa Dano harus di damping petugas. Paham!?”
Akan tetapi, apapun kata ketus yang keluar dari bibir gadis itu, Ari abaikan. Lebih baik Kenyo bersuara dari pada diam. Mengingat kebiasaannya yang irit dalam berkata-kata. “Sabar, Kenyo, yang akan kita lakukan besok adalah, perjalanan menembus rawa hutan.”
"Iya, Tante!"
"Tante?" Ari terkekeh sambil melepaskan cengkramannya pada kemudi. “Yeahh! Akhirnya!”
“Ck, jadi bukan hari ini? Kok, kamu yang girang? Harusnya, kan, aku.”
“Kok, kamu sih? Tadi sudah panggil tante.”
Ari sendiri bingung, Nadi harusnya memanggilnya apa. Mbak? Apa masih pantas. Tante, ah, serasa ada yang tidak benar dengan panggilan, tante. Sedikit berbau, antagonis, sporadis dan miang.
“Kamu ingin aku panggil, Mama? Bunda Peri?” Kenyo memutar matanya geli.
Ari tergagap. “Yah, kapan aku nikahan sama abahmu. Seenak jidat panggil Mama, Bunda segala.” Dengan sangat berat hati Ari tetap harus memilah panggilan layak sebagai bukti senioritasnya. “Mbak, Tante, Suhu, apa saja! Asal jangan, kamu … kamu. Gak sopan!”
Sebersit tawa muncul. Meski tidak sempat merekah.
“Suhu, ya. Suhu … Suhu, sound better, dari pada Tante Girang,” ujar Kenyo berkedip jenaka. “Atau, gulali?”
“Gulali?”
Ari membayangkan gula kapas yang bersifat higrokopis tersebut. Menjadi liat, keras seketika bertemu udara bebas. Lalu tawanya meledak. Gulali. Dirinya kalau terpapar radikal bebas memang menjadi keras. Jerawat batunya menjadi keras. Itu kata Opick. Duh, kenapa ingat pria b******k itu.
“Udah! Udah, ketawanya udah!”
Pipi Kenyo yang pucat bersemu merah untuk pertama kali. Gadis itu lebih memilih memalingkan muka ketika jalanan mulai menunjukkan hamparan hijau sawah sejauh mata memandang.
“Selepas Rawa Dano, nanti kita ke Mercu Suar titik nol kilometer Anyer-Panarukan, ya! Itu, baru naik angkot kita.”
“Serah.”
“Suhu lupa nanya, nih. Kamu aslinya orang mana, sih? Lagi piknik ke Banten, ya?”
"Jakardah."
"Oh, anak metro. Tumben nggak lo gue!"
"Suhu orang mana?"
Suhu orang mana? Sampai saat ini alamat rujukan untuk kediamannya masih rumah yang dia tempati bersama Opick. Sebuah rumah di kawasan Sentul. Bisa dibilang Ari orang Bogor.
"Bogor."
"Tumben ngomongnya kagak lo gue jugs? Pasti rumahnya Bogor bagian Ujung Genteng!"
"Astagfirullahaladzim. Woi, Kenyo, kamu belajar geografi, nggak? Ujung Genteng eta Sukabumi bukan Bogor!"
Ari tidak dapat menahan diri untuk tidak menertawakan Kenyo. Bagaimana gadis ini bisa membuat lawakan mengalahkan Sule. Sudah begitu, Kenyo mengatakannya bahkan tanpa ekspresi.
"Kamu pasti mikirnya Rawa Dano masuk teritori Cilegon? No! Rawa Dano itu masuknya Serang."
"Iya, deh. Kamu pinter."
Lalu Kenyo menarik tuas yang membuat kursinya mundur ke belakang dan sedikit rebah untuk menopang tubuhnya yang ingin kembali tidur agar lebih nyaman. Lagi.