Wah part ini tadinya gemuk, saudara. Mau dibagi dua, kok, ya sayang. Berdua mang bahagia, tapi dibagi dua hati merana.
Halah, omong opo saya ....
Selamat membaca ....
---------------
Kalau saja Kenyo seorang yang lembut hatinya, pasti air matanya sudah tumpah ruah. Membuat tukang bersih-bersih meradang kerana kamar yang mereka tempati kebanjiran air mata. Meskipun gembira, reaksinya terlalu datar.
Pagi, ketika hari masih terlalu gelap, Ari membangunkannya untuk subuhan. Semua sudah tersedia. Kaus kaki, kaus lengan panjang, celana kargo panjang dengan banyak kantong juga dalaman. Terakhir sepasang sepatu but.
“Ini, tidak perlu. Terima kasih.”
Kenyo mengangsurkan beha berwarna salem yang kemungkinan ukuran terkecil.
"Kenapa? Aku beliin ikhlas, kok."
"Duitmu banyak, ya?"
"Pastilah. Dari barang-barang yang aku pakai kamu bisa menyimpulkan sendiri keadaan keuanganku. Jadi, pakai aja kenapa, sih, nggak usah pakai acara nolak? Cakep ini juga, pas semua ukurannya."
Lagi-lagi Kenyo mendengkus kesal. Dia tidak ingin dikasihani. Apa perlunya membelikan segala pakaian dalam. Bahkan mamanya tidak pernah membelikan baju dalaman. Mbak Ning, pengasuh sekaligus pembantunya adalah orang yang selama ini menyiapkan segala kebutuhannya. Termasuk makan dan pakaian. Kecuali, pakaian pesta, ketika ia harus berada di keramaian. Gathering atau sekedar perayaan tak jelas yang harus di hadiri oleh ayah-ayahnya.
Kenyo sudah dua kali berganti ayah. Termasuk abahnya, bermakna sudah tiga kali. Mamanya pantas mendapat dua piring keramik sebagai hadiah kalau pria yang kemarin menemui mereka di Tanjung Lesung berhasil menjadi ayahnya untuk yang ke empat.
Para pria yang dipanggilnya Ayah, Papa, terlihat menyayanginya. Meskipun Kenyo merasa dirinya asing, tetapi tetap mencoba untuk mengeratkan hubungan dengan para pria yang hadir dalam hidup mamanya. Mereka yang secara otomatis, menjadi bagian hidupnya juga. Namun, dia tidak pernah tahu alasan perpisahan mereka dengan mamanya. Kejelasan perpisahan Mama dan abahnya pun, masih membuat dirinya tak siuman. Apa dan kenapa bisa berpisah? Seingat memorinya saat kecil, Mama dan abahnya hidup rukun penuh kedamaian.
“Eh, Kenyo, kamu belum pernah dapat menstruasi?”
“Ehmm ….” Kenyo tergagap.
“Belum pernah?!”
Ari mendekat pada ranjang Kenyo mencari kepastian. Kasur yang mereka tempati semakin melesak menopang beban dua orang.
"Belum."
“Meski belum kelihatan berkembang. Itu asetmu sememangnya harus dirawat dari sekarang. Udah lima belas tahun. Belajarlah merawat alat reproduksi,” tunjuk Ari pada d**a, lalu ke bagian bawah tubuh perawan kencur kebanyakan asam jawa itu.
Ari sempat melihat sebuah gambar kue tart dengan lima belas lilin. Di bawahnya tertulis angka, 22 Desember. Apakah itu Hari Ibu atau tanggal lahirnya si Kenyo? Atau justru merujuk pada peristiwa tsunami. Entahlah, serba tak jelas. Ari menyimpulkan secara sepihak.
“Bulum ada yang harus dicengkram. Membuat sesak napas aja. Aku lebih nyaman pakai kaos dalam.”
“Dulu aku hampir tujuh belas tahun baru menstruasi, kok. Jadi, enggak usah pucat gitu.”
“Nggak nanya. Serah, ah, aku mau mandi.”
Tadi malam ketika Kenyo sudah terlelap, Ari memang menyelinap keluar. Melakukan transaksi di sekitar Ciomas. Yang dibawa Gadis itu hanya kaos lengan pendek dan celana selutut juga sandal jepit. Itupun, didapat dari sumbangan untuk pengungsi.
“Kita memang piknik. Tetapi, tempat yang akan kita datangi, penuh kejutan.”
Ari memasukan korek api, lotion, kotak P3K, beberapa botol mineral serta roti basah.
“Jauhkah, jalan yang kita tempuh nanti?” Kenyo menghentikan langkahnya menuju kamar mandi.
“Udah mandi sana, nanti keburu siang.”
Kenyo merenungi Ari yang sedang asik dengan kameranya. Beberapa kali jari kurus perempuan itu menyibak helaian rambut hitamnya yang terjuntai, lalu kembali pada kamera, menyetel ulang lensanya. Perempuan ini benar-benar penuh persiapan matang, batinnya.
Ada perasaan hangat yang tiba-tiba menyeruak sanubari. Meskipun dia samar-samar mendengar bahwa perempuan di hadapannya ini juga seorang janda. Terkadang dia bingung oleh keputusan para perempuan dewasa. Apakah predikat janda itu sedemikian hebat? Sangat hebat hingga banyak perempuan berlomba mengenggamnya. Seperti, mamanya, Fatimah, dan para pesohor negeri penghias layar kaca.
“Suhu …!”
“Hmm….”
“Suhu cantik."
"Nggak ada receh. Mau travel cek?"
"Mau nggak, jadi, mamaku?”
Ari tertegun dengan permintaan absurd Kenyo. Perempuan itu memamerkan senyum lebarnya. “Abahmu, ganteng nggak?”
Kenyo mengaruk dagunya, matanya terbeliak ke atas, menatap plafon penginapan. “Agak kabur, sih. Seingatku Abah itu enggak ganteng, tapi enggak jelek juga, sih. Kalau mamaku cantik banget.”
Ari tergelak, merapikan rambutnya lalu mengikat kuat, sambil memandang ke dalam mata perawan sunti di hadapannya. Mencoba melihat mata Kenyo yang penuh pengharapan.
“Pada suatu ketika nanti, kamu akan paham bagaimana ketika hatimu mengenggam sebuah cinta dan kamu masih enggan melepasnya. Kamu terus mengenggamnya bahkan ketika tanganmu berdarah seakan mengenggam duri. Karena Allah melakukan kerja mencerai beraikan anak manusia sebagai ujian. Apa yang di hati ini senantiasa tak jua mau tunduk pada kenyataan itu. Di hati ini, masih dia yang bertahta.”
Ari merapikan kameranya. Dia hanya sekilas menaikkan pandangan pada Kenyo yang tampak termangu.
"Serumit itu, ya, kehidupan orang dewasa?"
"Ya, begitulah. Ternyata tidak enak, itu yang aku rasakan dahulu. Di mulai dari masa pubertas. Nyeri saat mens, cinta yang bertepuk sebelah tangan, sampai uang jajan harus cari sendiri."
"Itu. Apakah nanti aku akan mampu melewatinya? Serumit itu?"
"Bisa!"
"Aku sering inscure dengan keadaanku. Pokoknya enggak pede."
"Lebih gila lagi dan aku patut beristigfar lebih banyak lagi. Terkadang melihat orang yang lebih sukses, pintar atau lebih cantik dari diri ini, seringkali membuat aku minder dan merasa gagal dalam segala hal. Namun, aku pernah juga berjumpa seorang teman yang datang untuk sekadar reuni SMP menggunakan motor bebek yang memprihatinkan. Usang. Melihat bagaimana anak-anaknya begitu rakus seperti tidak pernah melihat dan memakan makanan enak. Mungkin memang mereka tidak mampu.
"Aku menjadi sadar, padahal hal-hal inilah yang menjadi proses pendewasaan diri, di mana aku harus lebih banyak bersyukur dab belajar hal-hal baru hingga mendapatkan minat dan bakat dalam diri. Bukan kah belajar itu harus sampai mati."
"Kamu suka ngomong berat, ya? Aku ...." Kenyo memijat kepalannya. "Mama terkadang juga berbicara filosofis sepertimu."
"Quarter life crisis, umur lebih dari 25 tahun belum kawin disuruh kawin," ujar Ari tertawa meskipun Kenyo tidak melihat sesuatu yang lucu.
"Ada yang lucu?"
“Nggak pa-pa. Hh, ya, mamamu, telah bersama pria lain setelah abahmu, lalu berpisah dan sekarang sendiri lagi. Mungkin mamamu juga tertekan. Itulah kehidupan orang dewasa. Orang bercerai pun sama.Kalau tidak menikah lagi, orang-orang sibuk bertanya ini itu, belum move on lah. Saat sudah menikah lagi, ternyata mamamu merasa tak merasa tentram. Jadi, kamu bisa minta pada Allah untuk, membuat mereka bersama kembali.”
“Boleh, ya?”
“Tentu boleh. Meskipun halal, Allah membenci perceraiaan. Aku doakan mereka, kedua orang tuamu bisa rujuk kembali karena karena kejadian ini. Musibah ini,” jeda Ari, “jangan lupa, doakan aku juga.”
“Rujuk dengan mantan suamimu?”
“Yang terbaik.” Senyum Ari mengembang.
"Kamu cinta banget, ya, sama dia."
"Ya."
"Mama juga cinta banget sama Abah. Abah tidak pernah muncul lagi di hadapan kami."
“Terkadang laki-laki itu harus diingatkan berkali-kali. Tidak ada bekas anak. Seorang anak perlu nafkah lahir maupun batin juga. Perlu dijenguk. Yang jadi masalah, apa abahmu masih sendiri? Kalau mamamu pernah menikah lagi meski sekarang sendiri, bisa jadi abahmu sudah memiliki keluarga baru. Anak dan istri lain. Seperti apa mereka itu ....”
Kenyo mengangguk, menghela napas, bibirnya berkedut berusaha mengundurkan apa yang ingin dia luahkan. Matanya berlari jauh membungkus keremangan di luar penginapan.
"Aku tidak tahu. Mama bilang, meskipun menikah lagi, dia tak mungkin punya anak lagi.”
Ari menghentikan gerakan tangannya. Merasa bersimpati dengan ibu dari gadis di hadapannya itu meski dia tak mengenalnya. Meskipun hamil dan melahirkan bukanlah akhir segalanya, bagi seorang perempuan. Ari sendiri adalah sosok yang masih menunggu keajaiban tentang hadirnya seorang anak.
Anak adalah harapan, ‘kan?