Bab 30-Rawa Dano dan Ingatan Itu

1936 Kata
Double up. Selamat membaca .... Happy weekend. ------- Ketika meraka keluar dari penginapan menuju parkiran, suasana pagi masih menyisakan kabut, juga dingin yang menelusup kulit mendirikan bulu roma. Mereka berdua bergegas karena sudah ditunggu oleh staf pos terpadu cagar alam yang akan menjadi pemandu. “Sudah lama ya, Pak? Saya, Ari dan ini sepupu saya, Kenyo,” ujarnya sambil menyerahkan surat ijin. Kenyo memutar matanya kesal sisa perdebatan awal pagi tadi. Pria yang menyambut mereka di parkiran tampak sedikit terkejut. Namun, Ari cepat-cepat meminta maaf. “Woi, Kenyo, nggak usah kumat! Kita nggak akan berangkat kalau kamu terus berlaku tidak sopan pada, Bapak …?” Ari membungkukkan badannya sedikit, kedua tangannya tertangkup ke depan d**a. “Panggil saja Pak Dedi, dari Balai Konservasi.” “Nyo!” Ari menaikkan intonasi suaranya, sambil mengoyang lengan gadis itu. “Iya, Suhu, cerewet, ihh!” Kenyo membungkukkan punggungnya. “Maaf, Pak Dedi.” “Dengar, ya, Nyo!” Ari mencekal tangan kurus yang hampir membuka pintu mobil. “Pak Dedi ini yang akan membersamai perjalanan kita ke Rawa Dano. Di sana, jangan harap kamu berjumpa jalanan lempeng. Makhluk imut semacam kupu-kupu, capung. Itu mah biasa. Di sana itu alam liar. Ada buaya, ular, babi, lutung, monyet, lintah, pacet … tentu saja rawa itu punya kedalaman yang tak sama, yang bisa saja menenggelamkan kita, kalau kita cuai, celaka ujungnya. Paham?! Jangan seenak sendiri, belajarlah bertanggung jawab!” “Bawel banget, dari tadi ngoceh nggak berhenti. Tujuh puluh enam kata tanpa bernapas. Minum dulu, gih!” bidas Kenyo menyodorkan air mineral. Membukakan tutupnya sekalian. Pria bernama Dedi itu tampak tersenyum melihat interaksi dua orang perempuan di hadapannya. Satunya begitu slengean, satunya tampak protektif dan keras. “Ya, kan Pak Dedi, ada buaya?” tanya Ari antusias. “Bisa, ya, bisa tidak. Kalau sampai kita melihat buaya, berarti kita beruntung. Sangat jarang ada pengunjung bisa berpapasan dengan buaya. Ayo, keburu siang ini.” Kenyo menjulur lidah. Dengan mobil masing-masing, mereka menuju Kampung Sukamaju, Padarincang. Setelah parkir, perjalanan dimulai dengan melintasi persawahan sepanjang hampir dua kilometer. Meski hanya dari dehamnya, Ari tahu kalau Kenyo mulai lelah. Dua kilometer dan kelelahan, dasar bubur ayam. Kids jaman now satu ini memang tidak bisa diharapkan, batin Ari sambil tersenyum dikulum. “Mbak Ari, ini Kang Jamal. Beliau yang akan mengantar kita masuk ke dalam.” Dedi memperkenalkan pemilik perahu. Ketika sampai di bibir sungai. Perahu Jukung dengan ukuran 3,5 meter dengan lebar 1,5 meter itu cukup lega menampung empat orang. Ari merogoh koceknya 300 ribu untuk menyewa perahu yang akan dia gunakan untuk meneroka tempat yang bertahun silam dia idamkan. Tempat yang tidak lagi melintas dipikirannya ketika menikah dengan Opick. Pria itu memang berhasil menjauhkannya dari semak belukar, perkara hijau juga hal ekstrim tentang alam. Kecuali D’Jinggo dan paralayang. Yang hanya berupa penginapan di tengah hutan pinus, bumi perkemahan juga merangkap wisata agro yang nyaman bagi keluarga dan anak-anak. Fashion Ari dengan warna-warna kalem, dilengkapai bedak dan gincu. Jangan lupakan tas jinjing ala sosialita yang beratnya membuatnya mendatangi dukun pijat. Ari cepat menepuk semua itu dari memori otaknya. Di depannya kini, pemandangan Rawa Dano mulai tersaji, sayang untuk dilewatkan. Apalagi memunculkan wajah Opick. Ari dan Kenyo persis berada di tengah, Kang Jamal mengayuh di depan, sedangkan Dedi ada di belakang mereka. Ari sudah siap dengan kameranya. Bentangan langit biru menyatu dengan air yang cenderung kehijauan benar-benar memukau mata. Kenyo hanya menoleh ke kiri dan ke kanan. Matanya beberapa kali membesar kemudian mengernyit hampir tertutup. Dadanya naik turun seakan menyedot sebanyak-banyaknya udara bersih di Rawa Dano. “Aawww ....” Dua ekor ular keluar dari semak-semak berkejaran di air. Satu lagi merayap di atas dahan yang menjuntai ke tengah sungai. Kenyo bergidik ngeri. Padahal mereka baru masuk dan air masih dangkal. “Tenang, Nong. Itu baru ular kecil,” ujar Pak Dedi menjauhkan satu ular yang merayap pada dahan yang menjulur ke tengah anak sungai yang mereka lalui. Ular berwarna hitam dengan belang kuning cerah. Dedi juga menjelaskan kalau banyak binatang dilindungi yang merupakan endemik Rawa Dano akan dilihat di sini, maka bisa dipastikan harus terus waspada. Seperti halnya manusia, mereka ada yang kalem, ada juga pemarah. Bahkan ada penghuni Rawa Dano ada yang sangat anti pada pengunjung. Kang Jamal kembali mendayung. Pak Dedi juga ikut mendayung, sambil sesekali menawu air yang masuk ke dalam perahu kerena kehebohan Kenyo. “Mbak Ari, memang hobi travelling di tempat gini?” tanya Pak Dedi. Ini kawasan terbatas. Meski tidak ada larangan, Pak Dedi memang sempat mengingatkan karena baju Ari yang harus dikondisikan. Jubah berwarna hijau lumut berbahan spandek mix katun. Namun, setelah Ari memberi tahu bahwa dia mengenakan celana kargo, Dedi merasa lega. Akan sangat tidak lucu kalau dia harus mengusir pecet atau lintah yang merangsek pada daerah pribadi kedua perempuan itu. Penampilan yang terlihat jauh dari kata, menjiwai petualangan yang sedikit ekstrem ini. “Ehm, sebenarnya dahulu saya magang di perusahaan air itu. Tema yang saya ambil, Rawa Dano. Tentang pendangkalan akibat gulma. Jadi, tempat ini nggak asing bagi saya.” Ari mengangkat enceng gondok yang tersangkut oleh dayung. Ada pacet yang nampak tergolek di akarnya, dia melempar gulma air itu ke tepian sungai. “Oh ya? Pantesan. Enggak banyak yang tahu tempat ini. Kuliah di mana dulu?” “Bogor, Pak. Lingkungan.” “Walah … kok sama, ya. Saya juga dari sana. Fahutan. Angkatan berapa?” Pak Dedi nampak berseri-seri ketika mengetahui Ari berasal dari kampus yang sama dengannya. “Saya 40. Kang Dedi sepertinya lebih senior ini.” Ari terkekeh. Tanpa dipinta mengganti panggilan formal dari Pak, menjadi Kang supaya lebih akrab. Sesekali pandangannya tertuju pada Kenyo yang asik mengambil gambar dari ponsel miliknya. “Kenyo, hati-hati ponselnya, jangan sampai jatuh. Nyawa kamu ada di situ kalau kamu masih mau ketemu kedua orang tuamu.” Kenyo hanya berdecak menirukan suara cicak. “Saya angkatan 34. Sudah tua banget ini.” “Ya nggak, beda enam angkatan ini. Berarti angkatanya, Pakde, ya. Awalnya Fahutan, terus pindah ke Faperta. Kenal, enggak?” “Si Agung yang dulu ketua Rohis, pakai kaca mata. Pernah satu kosan dulu zaman awal masuk, TPB.[ 1 ] Ari pasti kenalnya di organisasi, ya? Atau, masuk fans garis keras, Agung?” tawa Pak Dedi bergema. “Ya, Mas Agung yang ex-ketua rohis. Bukan fans garis keras. Saya, mah lurus ngaji nyari tsaqofah Islam. Heran sama anak ngaji yang lumer jadi fansnya,” ujar Ari sedikit geli. “Pakde sering ngasih kajian, masih beredar di sekitar kampus dan beliau sepupu saya.” “Oh, pantesan. Tahu sejarahnya Agung dari Fahutan ke Faperta, ya?” “Pastilah. Ngapunten, Kang Dedi asli Serang?” “Tasikmalaya. Sebelum ke sini sempat merantau ke Jambi, kerja di sawit. Akan tetapi, gitu, kurang sreg. Terus ada lowongan, kebetulan istri orang Serang sini.” Ari mangut-mangut. “Dulu, duh susah banget ambil judul ini. Saya enggak bisa ke lokasi karena pihak perusahaan melarang anak magang masuk sini. Bahaya katanya. Datanya juga terbatas, karena data dari BIOTROP entah udah tahun berapa.” “Data tahun 80an kalau nggak 90an. Awalnya perusahaan itu sub divisi pabrik baja. Kenal sama Pak Imam? Orang lama itu. Sekarang, hampir tidak pernah lagi main-main ke sini. Pak Rahmadi bahkan sudah entah ke mana.” Ari mengembangkan bibirnya. Ketika nama para pria itu muncul. “Kenal. Pak Imam kalau tidak salah orang Tasik atau mana, ya. Dulu, masa Ari magang, beliau mengampu Kabag Pengadaan Air kalau tidak salah.” “Pak Imam, orang Cirebon. Nyambung, ya kita.” Dedi mendayung lebih kuat karena riak air sedikit lebih deras. “Meski datanya masih terbatas untuk diakses, sekarang persoalan kelestarian cagar alam, alhamdulillah mengalami kemajuan pesat. Jadi ada imbal jasa lingkungan antara pemangku kepentingan air yang di hulu dan hilir yang digagas oleh FKDC (2) juga LSM. Kita sebagai orang pemerintahan ya di tengah, menjembatani. Antara masyarakat juga perusahaan yang mengelola air. Jangan sampai, air terus diambil tanpa menjaga keberlangsungannya untuk masa depan.” “Memang patut dilestarikan, Kang. Satu-satunya cagar alam pegunungan yang ada danaunya, di Pulau Jawa. Banyak, ya, yang studi banding sekarang ini? Ari sempat berselancar di web milik Cidanau Kita kemarin.” “Lumayan. Beberapa negara kawasan Asia, Timor Leste, dan Afrika juga ada. Eh, nanti kita turun di depan, ya, Kang Jamal. Kita naik dan menyusuri kawasan yang kering. Banyak yang ingin saya tunjukan ke Ari. Endemik dan keanekaragaman hayati tempat ini.” “Dosennya, Pak Unu dulu. Keanekaragaman hayati.” Ingatan Ari segera melayang pada dosen yang berpenampilan perlente, rambut berminyak juga senyum yang khas. “Sama, ya. Murah itu nilainya. Nggak ada yang bakal dapat D. Kecuali tidak datang ujian. Apalagi cewek-cewek bening. Haaa … iya, kan, Ari.” “Udah, ah. Rarasan dosen. Nanti kualat, perahu terbalik, lho.” Mereka merapat ke bagian tebing yang menjorok ke dalam. Kang Jamal menambatkan perahu lalu berjalan paling depan. Ari beberapa kali membidikan kameranya ketika melihat pergerakan bising yang ternyata monyet ekor panjang. Jeda beberapa meter giliran lutung jawa muncul dengan wajahnya yang khas. Sejauh mata memandang, endemik rawa seperti kuntul, blibis terbang bebas. Kantung semar juga menjadi sasaran untuk keisengannya. Menangkap belalang, kemudian ia masukkan dalam kantung. Merekam geliat kantung semar mengatup ketika mendapat mangsa. Itu tersaji di depannya, bukan lewat Nat Geo. Sesekali lensanya juga menjepret aktifitas Kenyo yang begitu khusuk menikmati panorama rawa meski cuaca mulai menyengat. Hampir menunjukkan pukul sebelas pagi. “Nyo, ini topi.” “Awas … sssttt …!” desisan Dedi membuat mereka tercekat, kecuali Kang Jamal. “Aawww …!” jerit Kenyo terjerembab, diikuti topi dan ponsel yang tercampak ke pada sebuah kubangan tanah yang tidak labil. Dua ekor anak babi hutan menerjang. Memang hanya menyengol kakinya, tetapi membuat gadis itu gemetar. “Stttt …! Tenang, ya, Nong. Biasanya kalau ada anak babi, pasti ada induknya di sekitar sini. Induknya biasanya nggak ramah sama pengunjung.” Pak Dedi membantu Kenyo berdiri. Tak urung Ari menenangkan dengan mendekap, setelah memakaikan topi. Kang Jamal yang cekatan langsung berusaha mendapatkan ponsel belogo apel sisa k*****t itu dan menyerahkan pada Ari. Perempuan itu memasukan ponselnya ke dalam tas, tidak berusaha untuk memeriksa keadaannya. Saat melirik ke depan, beberapa pacet dan lintah gembrot seukuran jempol berayun-ayun di atas mata kaki Kang Jamal. Terlihat puas menghisap darah. Ari hanya diam, tak ingin membuat Kenyo tambah menggigil. “Tadi ular di pohon. Terus ada acara berenang di air. Sekarang babi hutan. Indah, sih, banget, tetapi aku hampir kencing di celana ini,” sembur Kenyo sambil menghentak sepatunya beberapa kali. “Ini enggak akan kamu lupakan, sayang woi. Nanti kalau kamu jumpa sama abah dan mamamu, ceritakan tempat ini. Kalau abahmu, paling lihat dari atas sono.” Ari tak lagi memegang kameranya. Hanya mengalungkan di leher. Dia bersedekap memandang hamparan rawa yang menghijau. Dari jauh dia melihat mesin pengangkut gulma yang sedang berusaha meluaskan titik-titik air. Di masa lampau, Ari hanya mengantung mimpinya untuk sampai ke tempat ini. Melihat Rawa Danau dari puncak bukit dengan binokuler. Dia melihat luasan air yang semakin sempit karena gulma yang merajalela. Hoi, Moster Ijo, nih, Ari sampai juga di sini. Mana buayanya? Mana, ada buaya di sini? Bisiknya diikuti kekehan yang membuat Pak Dedi, Kenyo dan Kang Jamal memandangnya dengan pandangan mengeryit. Ari masih saja terkekeh. Ingin rasanya sampai saja di penginapan nanti mengirim gambar dirinya saat mengayuh perahu. Ari ingin tahu respons pria itu. Ia mengetuk kepalanya lalu merogoh ponsel di dalam tas. "Syukurlah. Hanya kotor." Lagi-lagi apa yang dilakukan Ari membuat tiga orang itu meringis. ----------- 1.Tingkat Persiapan Bersama (Kalau kampus lain enggak tahu namanya apa. TPB ini kesempatan mengenal mahasiswa lintas jurusan dan fakultas. Di laksanakan selama dua semester untuk menyamaratakan pelajaran semua jurusan). 2. Forum Komunikasi DAS Cidanau
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN