Pagi-pagi ngantuk itu tanda apa, ya?
Khilaf!
Enggak punya duit.
Selamat membaca, semoga berkenan.
-------------
Setengah enam sore, mereka berdua baru menjejakkan kaki di penginapan setelah berpisah dengan Dedi. Ari memang sempat mengajak Kenyo ngalor ngidul tak tentu arah, sambil mencari makan dahulu ke Padarincang.
Seperti biasa, gadis itu hanya memesan camilan ala kadar, tetapi Ari memaksanya untuk makan. Belum juga setengah yang masuk ke dalam perut, Kenyo bergegas ke toilet. Ari ingin mengejar, tetapi itu akan membuat gadis itu makin terpojok, sekaligus mencipta jarak. Kedekatan mereka berdua yang baru terbangun bisa rekah seperti kawah Anak Gunung Krakatau.
Cadangan yang mungkin Ari pikirkan, membawa Kenyo pulang ke kampung halamanha, sambil menunggu kepastian status keluarganya. Sebenarnya masalah bisa cepat selesai apabila Kenyo sudi membuka mulut siapa nama orang tuanya. Entahlah, kenapa gadis itu masih enggan bicara. Bila ikut dengannya, Nyonya Suryati dipastikan gembira, karena mendapat lumbung baru menumpahkan wejangan. Yah, kawan bicara.
Apa si Kenyo bisa tahan dengan ibunya? Yang jadi masalah, tetangga kiri kanan. Atau, dia akan berdiam di D’Jinggo saja. Sepanjang jalan, semua opsi berputar serupa gangsing dalam otaknya.
Sekolah Kenyo?
Ari meruntuki kebodohannya. Kenapa tidak terpikir sama sekali. Ini tanggal 4 Januari, lalu kapan anak itu masuk sekolah? Merasa gagap, karena menjadi orang tua jadi-jadian dalam sekedipan mata. Dia mulai berpikir panjang, siapa yang harus ditanya. Pikirannya jatuh pada Kamila, sambil melirik sekilas pada Kenyo yang terkapar tengkurap.
Mungkin penat merayapinya, tak sampai hati untuk menahan gadis itu agar terjaga sampai masuk waktu Magrib yang sempit. Lagi pula tidur di waktu petang tidak elok. Baik secara medis, maupun pandangan fikih.
Bukan berlebihan percaya hal yang gaib, tetapi Ari pernah mengalaminya. Saat remaja dia akan ngeyel bila ibunya melarang tidur-tidur ayam menjelang Magrib. Sampai peristiwa itu terjadi. Mimpi hampir mati, sesak napas lalu terbangun dalam keadaan kebingungan. Ari mendapati dirinya berlari keliling rumah seperti sosok yang kemasukan setan.
Sejak kejadian itu, Ari akan menahan kantuknya saat senja memerah. Lebih baik menikmatinya sambil dzikiran atau baca buku. Menurut kajian medis disebut sleep inertia. Tidur saat senja, sebelum atau sesudah Magrib menjadikan tubuh mengalami kebingungan. Saat sebenarnya kinerja paru-paru tujuh belas persen lebih optimal, tubuh dalam keadaan sangat bugar karena pengaruh tarikan otot pada paru-paru. Bila performa tinggi tubuh ditukar dengan tidur, saat bangun akan mengalami sensasi lemas, pusing, uring-uringan, dan tak bertenaga. Resiko kolesterol dan diabetes juga mengancam.
Ari sadar, dia tidak muda lagi.
Handuk yang tadi sudah dia kalungkan di leher, kembali diletakkan. Ari mencari-cari ponsel yang tadi dijatuhkan Kenyo, yang memang belum menyalakan ponselnya lagi sejak insiden babi hutan. Sambungan data saat di kawasan cagar alam juga naik turun, hampir tiarap sehingga menguras batrenya. Ada beberapa pesan dan panggilan masuk.
Ari lebih memilih mendail nomer ibunya. Nyonya Suryati bisa mengomel katika kehilangan momen menjejalinya dengan banyak kabar berita di kampung.
Siapa yang baru saja pulang umroh di tahun baru. Juga hal remeh temeh lainnya.
"Ri, kamu tahun Ridwan. Itu temanmu yang jadi Kopasus. Sekarang katanya ternak sapi, lho. Kok, ya, hebat. Ganteng, sudah jadi tentara, eh, masih mau kerjaan bluput kotoran."
Bluput kotoran? Lha, si Ridwan itu intel. Pasti lagi penyelidikan. Dasar ibuk! "Sampaikan salam Ari buat Ridwan."
"Beneran? Iya, dia masih sendiri kenapa, ya?"
Tampaknya Ari akan menyusul Kenyo rebah bila tidak segera menyudahi telepon dari ibunya. Tidak ada yang penting, kecuali pesan terselubung: nyari suami nggak usah orang jauh-jauh, bisa kerja kampung, bertani sekaligus bisa benerin genteng bocor.
“Buk, sudah, ya. Ini Ari mau mandi. Tadi, habis mendaki gunung menuruni rawa. Assalamualaikum, Kanjeng Mami katresnanku, cintaku … muah.”
“Halah!”
Tak mengendahkan suara dari seberang, Ari cepat-cepat menutup talian. Sambil menjatuhkan diri ke ranjang, membuat panggilan pada Kamila. Beberapa kali dengungan tanpa jawaban membuat Ari menyerah. Dia menulis pesan singkat, berjanji untuk berjumpa di Menara Ayer.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk mandi. Untuk keseharian, dia penganut lima menit beres. Opick selalu memeriksa spon sabun yang kering, lalu meledeknya dengan sebutan Bidadari Jorok! Ah, makhluk itu lagi.
Sambil menggosok rambutnya, yang dituju Ari pertama kali adalah sosok yang masih bergelung dalam selimut seperti kepompong.
“Nyo, Magrib! Bangun!”
Kenyo mengeliat, mengelengkan kepala lalu terdengar embusan napasnya yang teratur.
“Nyo! Ayo dong. Kita salat bareng, nanti tidur lagi!”
Kenyo mengeliat lagi. Matanya berkedip-kedip menyesuaikan dengan suasana kamar yang terang benderang. Beberapa kali menguap, melakukan peregangan, persis seekor anak kucing. “Jam berapa, sih?”
“Jam 6.15 itu. Mandi terus salat bareng.”
“Sebenarnya, aku nggak tidur, kok, Su. Ibumu lucu, deh. Kamu udah tua, masih ditelepon terus-terusan. Cemen, banget.” Kenyo menepuk dadanya dengan mimik muka memelas. “Aku sungguh terharu dan iri.”
Ini anak sekalinya mau buka mulut nyelekit, batin Ari.
“Meski sudah tua, Suhu ini bungsu, cewe satu-satunya. Paling cantik, ya, mesti disayang-sayang.”
Kenyo menarik kembali selimutnya, mual mendengar bualan Ari, sekaligus menutupi ketelanjangannya. Dia tidur hanya dengan cawat dan singlet, membuat Ari geleng-geleng kepala. Banyak hal dari gadis ini yang harus diluruskan, untuk menjaga auratnya meski mereka sesama perempuan. Kenyo terjengit ketika ponsel Ari yang sedang menambah daya bergetar.
Kenyo melihatnya sekilas. “Aku mandi, ah …”
Ari tidak mengerti kenapa nomor asing itu tidak meninggalkan pesan. Bukankah akan lebih jelas kalau meninggalkan pesan untuk sebuah nomor asing.
“Ya…”
“Duh Gusti, dari Subuh juga gua talipon. Ka mana, wae?”
Suara lelaki dengan logat sunda kental. Ari mengernyit, “Eh, siapa, lo? Marah-marah!”
“Bobby, ieu!”
“Halah, kirain siapa. Salam kek. Beda suaranya di telepon. Apaan, Bobb?”
Terdengar suara Bobby kasak-kusuk dengan beberapa orang. “Sekarang, lo barengan si Kenyo itu? Masih di Banten?”
“Ck! Ada apa dulu ini? Capek tau dari mendaki gunung lewati lembah masuk belantara menuju Rawa Dano.”
“Hah, Rawa Dano! Eh, gini, gua pingin ketemu, lo. Hotel apa? Status darurat!”
Ari menyebutkan nama penginapan kecilnya. Bobby tidak mengatakan apa-apa atas keinginanya untuk bertemu. Kenyo yang bersiul sambil mengosok rambut cepaknya yang mencecah leher, tampak terheran-heran melihat Ari terpaku memandangi ponselnya lama-lama.
“Salatnya, jadi?”
“Eh, hayuk. Aku, ambil wudu dulu.”
Mereka salat hanya lima menit. Kenyo tanpa melepas bawahan mukena, kembali rebahan di kasur. Dia hanya memperhatikan Ari yang sedang menekuni Al Quran kecil. Lambat laun matanya kembali terpejam terlelap dalam tidur yang lena.
Dari arah depan kamar, terdengar suara ketukan pintu yang membuat Ari menghentikan aktifitasnya mengaji.
Dengan masih mengenakan mukena, dia meluru ke pintu. Seorang pria yang diketahui sebagai resepsionis penginapan menghampirinya.
“Mbak Nareswari, ada tamu di lobi.”
Ari mengangguk. “Nanti saya turun, Pak. Saya siap-siap dulu."
Sepeninggal pegawai penginapan, Ari merapikan diri. Dia kembali menoleh pada Kenyo. Sekali lagi dia memeriksa ponselnya. Sah, panggilan masuk dari nomer Bobby. Sebelum keluar dari kamar, Ari merapikan selimut gadis itu, mengelus pipinya tirus itu pelan.
Firasatnya, orang-orang itu membawa titik terang tentang kedua orang tua Kenyo.
***
Ada lima orang lelaki berlegar-legar di lobi. Memang, keadaan penginapan lumayan ramai. Selain liburan akhir tahun, kawasan tinggi menjadi tempat pengungsi bagi sebagian orang yang berduit lebih. Bobby berdiri sambil menyandar pada dinding menghadap pintu, segera melambai ketika melihat kehadiran Ari.
“Damang, Ari? Itu b***k nama Kenyo, mana?”
“Kamu bawa orang tuanya, Kenyo?”
Mata Ari seketika bergerilya, lalu butang matanya membesar, ketika dua orang mendekat. Dia masih mengenali sosok itu. Ari berpikir orang itu adalah orang tua Kenyo. Sepertinya, bukan. Justru sosok dari masa lalunya.
Mereka saling merenung, lidah Ari kelu dan suasana pun seketika berubah beku. Suara-suara napas mereka justru yang terlebih dahulu saling menyapa. Sampai pria paruh baya itu membuka kata.
"Damang, Nong. Long time no see. Tambah cantik saja."
"Bahasa Englishnya, Bapak, tambah bagus."
Pria itu tersenyum simpul. Senyumnya masih semanis belasan tahun lampau. Dari lisannya meluncur cerita, yang seakan sebongkah es yang menyiram ubun-ubun Ari.
Tentu saja, bagi Ari, ini adalah masa dan keadaan yang rawan baginya. Bahkan dia mengarahkan pandangannya ke langit-langit lobi sambil mendesis. Meski saat bertemu Bobby kemarin, dengan sedikit cengengesan, menitip salam pada Pak Imam, tetapi ketika bersemu muka langsung, ada hal yang bahkan tak mampu Ari luahkan.
Dia hanya mampu menganguk, sesekali menghapus air mata juga ingus yang tiba-tiba saling berlomba untuk melesak keluar.
Pria itu masih sama, wajah, dan suaranya. Aromanya juga. Ari seperti tersedot ke masa lalu, dan keberadaan dua orang lainnya seakan sirna, lebur, tak kasat mata.
“Harusnya, Bapak cerita jauh hari tentang ini, jadi kamu nggak merasa tersiksa karena memikirkan hal buruk. Soal Rahmadi hengkang dari perusahaan, tak ada kaitanya dengan kalian anak magang, atau masalah kamu dengan saya, atau kamu dengannya. Bobby sudah cerita. Keadaan kamu ketika kemarin bertemu saat di posko pengungsian. Lagi pula, Rahmadi pergi, setahun atau dua tahun setelah istri saya ngamuk, kok.”
Ari hanya mengangguk, menghapus air matanya.
Bobby terlihat prihatin, pada teman bawel yang suka dia isengi sejak masa kuliah itu. Ari terlihat lemas menghadapi kenyataan. Sebuah fakta yang harusnya membuat Ari bersorak gembira. Tidak ada perempuan yang rela dicap sebagai perempuan nakal, ‘kan?
“Saya dari awal enggak mikir macam-macam. Pak Imam bantu saya, supaya tidak terlalu malam sampai Bogor. Ibuk tidak apa-apa kan, Pak? Minggu lepas, ya, awal tsunami itu saya jumpa Pak Adi, dalam perjalanan ke pos pengungsian. Tapi tidak sempat tanya ini itu. Katanya ada keluarganya yang jadi korban tsunami.”
Pria muda dengan muka sedikit kaku itu hanya sesekali bergumam. Ketika mata sayu dan berair milik Ari menatapnya seakan meminta tolong.
“Semua baik-baik saja, Ari!” ujarnya menenangkan .“Kalau masalah Pak Adi, enggak usah kamu pikir. Aku kan sempat kerja di bawah beliau, meski hanya enam bulan. Sedikit banyak aku tahu posisi kita, saat sama-sama jadi anak magang. Kalau masalah dengan, Bu Erlita ….” Andri hanya mengedikkan bahu.
“Aku naif banget, ya, Ndri?”
“Iya. Padahal sudah ibu-ibu, naifnya jangan dikuadaratkan, napa.” Gurau Andri yang ditimpali tawa oleh yang lainnya.
“Dia belum membelah diri, Ndri.” Bobby menyela. “Masih, Embak lagi.”
Ari tahu candaan garing Bobby itu untuk menghindarkan dirinya dari sesak napas.
“Kita, ke dalam saja. Ada kursi di depan kamar. Kalau di sini, takut menggangu, dan pasti penat berdiri.”
Kursi yang ada di lobi telah di gunakan orang lain. Tingkat hunian penginapsn kecil itu memang lumayan.
“Kuat, Ri? Kita bertiga, lho.”
Ari melotot, Pak Imam berdehem, sedangkan Andri menoyor kepala Bobby yang mulai berbicara ngawur.
“Hee, becanda, Pak Imam.”
“Saya, boleh menjenguk, Nadi?” ketika semuanya sudah duduk, tiba-tiba Pak Imam urung melabuhkan diri.
“Nadi?” Ari tampak kebingungan.
“Lha, tadi di awal gua tanya, b***k nama Kenyo?” Ari menggaruk kerudungnya, menoleh pada Bobby yang menyeringai lebar.
“Bocah yang bersama kamu namanya, Nadi. Tirtanadi,” luah Pak Imam.
“Jadi, Pak Imam kesini, mau ketemu si Kenyo?” tiba-tiba Ari merasa malu, mukanya menjadi merah. “Bapak, tahu dan kenal keluarga Kenyo?”
"Kenalah."