Bab 32-Labrador Retriever

1269 Kata
Selamat akhir bulan. Syukuri kalau hari ini cerah, ya. Yang banjir semoga segera surut. Selamat membaca, semoga berkenan. ------------ “Saya boleh menjenguk, Nadi?” ketika semuanya sudah duduk, tiba-tiba Pak Imam urung melabuhkan diri. “Nadi?” Ari tampak kebingungan. “Lha, tadi di awal gua tanya, b***k nama Kenyo?” Ari menggaruk kerudungnya, menoleh pada Bobby yang menyeringai lebar. “Bocah yang bersama kamu namanya, Nadi. Tirtanadi,” luah Pak Imam. “Jadi, Pak Imam ke sini, mau ketemu si Kenyo?” tiba-tiba Ari merasa malu, mukanya menjadi merah. “Bapak, tahu dan kenal keluarga Kenyo?” "Kenalah. Reuni kita memang aneh,” helah Pak Imam meloloskan tawanya. “Kamu sama Bobby. Terus Rahmadi juga.” Ari masih saja kebingungan, dengan tawa lebar Pak Imam. “Kita memang janjian, tetapi mobil pinjamannya mogok. Dia menumpang mobil rombongan kamu. Cerita tentang kamu juga yang jadi relawan, yah meski tidak banyak. Setelah itu tidak pernah keluar cerita tentang kamu lagi, dia fokus mencari anaknya. Tapi, saat melihat video Bobby di posko pengungsian, si Nadi sedang gelud nah, itu." Tidak mungkin. Kenyo nyebelin itu .... "Alhamdulilah, ternyata sosok Nadi selamat, sehat, hanya kesyukuran yang mampu saya ucapkan,” sambung Pak Imam. “Kenyo? Eh, jadi, Tirtanadi itu anaknya Pak Rahmadi? Monster Ijo!” jerit Ari tertahan. ‘Ini Dedek Nadi’. Lintasan saat Erlita mengenalkan putrinya langsung membekap Ari dalam kepingan masa lalu. Dede Nadi ... Dede Nadi .... Manusia dengan segala prasangka, sayangnya, Tuhan dan segala kuasa pena dan kitab-Nya, menulis lembaran-lembaran yang tidak sekalipun tanpa maksud. Pertemuan itu sudah dirancang pemilik-Nya. Ari teringat siang tadi dia berniat akan mengirim beberapa keping gambarnya, saat meneroka Rawa Dano. Tentu kelebat Kenyo selalu ada disekitarnya. Meski niatnya hanya iseng dan belum terlaksana. Sekedar basa-basi untuk bertanya tentang keluarga pria itu. Praktis sejak perpisahan di Koramil Cinangka, pria itu seperti hilang ditelan bumi. Takdir yang mengiringnya pada Kenyo. Sosok itu bahkan sudah bersamanya sejak lama. “Kenapa? Tingkahnya ajaib, ya?” tanya Pak Imam sambil terbahak. Ari menepuk jidatnya sendiri, “Duh Gusti, ini lelucon, 'kan?” Andri tergelak karena Ari masih ingat julukan Pak Rahmadi yang itu. Monster Ijo. “Jadi beneran, kamu tadi berenang ke Rawa Dano?” Andri dan Bobby langsung menyahut bersamaan. “Tadinya kita juga mau ikut.” “Kalau kalian ikut,” jeda Ari, menunjuk kedua sahabatnya, “terutama kamu, Bobb, bisa dipastikan perahu jukung kami akan karam.” “Njir! Gua nggak seberat paus sampai satu ton.” “Sttt! Paus enggak bisa hidup di rawa.” Andri dan Ari segera menyuruh Bobby merendahkan suaranya. Gila saja, dia misuh-misuh di hadapan atasnya. Pak Imam geleng-geleng kepala. “Nah, liat kelakuanmu. Pak Imam sampai dzikiran, asli ngajeplak, wae.” Ari memutar gagang pintu dengan hati-hati. Setelah merapikan isi kamar dan selimut Kenyo, dia kembali keluar kamar. “Mari, Pak. Silahkan masuk!” Pria paruh baya itu masuk ke dalam kamar. Kenyo masih tergolek dengan seenaknya. Dengkuran halus keluar masuk seirama. Biola yang sering dipeluknya juga tergeletak di lantai. Bantal yang dia jadikan tumpuan kakinya sudah melesat, terkapar di kaki tempat tidur. Mukenan juga sudah tercampak. Padahal Ari baru saja membereskannya, bahkan tidak sampai lima menit yang lalu. Pak Imam duduk di tepi tempat tidur. Merapikan sulur-sulur rambut gadis itu yang berantakan menutupi muka. Memang gadis yang terlelap itu, “Tirtanadi Saptarea.” Pandangannya menelusuri tubuh kurus itu. Seingatnya, gadis itu memang kurus, tetapi saat ini apa yang dilihatnya lebih mengenaskan. “Rahmadi bahkan tidak pernah lagi bertemu Nadi, sejak beberapa tahun ini.” Pak Imam berucap tanpa menoleh. Ari masih setia menjadi pendengar. “Dia hanya melihatnya lewat foto yang kami kirim. Atau mengamati Nadi dari jarak jauh.” Fakta itu tentu saja mengagetkan Ari. Meski dia pernah membaca coretan Kenyo. Perpisahan orang tuanya, bukan karena dirinya, ‘kan? Berawal dari salah paham, istri Pak Imam, lalu menyeret istri Rahmadi. Dahi Ari berkerut memikirkanya. “Bermakna, Pak Rahmadi pisah sama Bu Erlita?" Imam Junaidi tersenyum tipis. “Setahun pasca heboh-heboh itu, Rahmadi menikah lagi, dengan seorang teman lamanya, meski saat itu belum resmi berpisah dari mamahnya si Nadi. Tentu saja, Erlita terguncang. Rahmadi tipe lelaki yang lurus, dan Lita merasa dipecundangi. Kamu tentu sudah tahu banyak kasak-kusuk mengenai beliau. Bu Tutik pasti tidak membiarkan kepala kalian anak magang kosong dari gosip.” Ari mengangguk, meskipun masih tak paham. Rahmadi berpoligami? Tampang semacam Pak Adi, dengan istri cantik tiada tara seperti Bu Erlita yang juga rajin memasak, yang menurutnya luar biasa romantis. Dia juga mengalami perpisahan yang tragis. Meskipun selama ini baik Opick maupun dirinya hampir tak terpisahkan, kecuali saat pria itu menghadapi masalah hukumnya. Itu jua yang memisahkan mereka. Ari teringat perkataan Agus yang mengatakan bahwa Opick pasti kembali padanya. “Melamun, Ri?” tanya Pak Imam. Kepala Ari sedang mereka adegan kehidupan Rahmadi dengan istri lain yang bukan Erlita. Seperti apa agaknya? “Ingat yang dulu-dulu, Pak Imam,” bohong Ari. "Saya ada nggak dalam ingatan kamu?" Ari kembali merenungi pria paruh baya di hadapannya. Mulai main hati lagi, Pak Imam ini. Tiada kapoknya. “Yang saya tahu sedikit, Pak Adi tertekan dengan pernikahannya. Karena hutang budi beliau sama keluarga Bu Erlita sangat banyak. Dari zaman SMA, kuliah, sampai kerja. Kerja pun rekomendasi mertua. Meski beliau orang yang cemerlang, tetapi hal itu selalu diungkit.” Akhirnya apa yang dia simpan tercetus juga. Itu cerita yang Ari ketahui versi Bu Tutik penunggu laboratorium bawah. Pak Imam mengangguk. “Ya, gitu. Meski tidak sepenuhnya benar.” “Sebenarnya, itu bukan alasan syari untuk mendua. Beristri lagi. Luruskan pelan-pelan tulang rusuknya. Bagaimana perasaan perempuan yang lelakinya mungkin sedikit serong, meski masih sebatas niat dalam hati. Berapa derajatpun perubahannya, pasti terdeteksi. Pak Imam harus tahu, perempuan itu, punya penciuman seperti Labrador Retriever.” “Lah, kalau penciumannya seperti labrador, koyak tinggal tulang rangka.” Ari mencebikkan bibirnya meski dengan memalingkan muka lalu menemukan Bobby dan Andri yang sedang menjulurkan leher seperti berniat menguping. “Pak Adi bilang….” Ari terdiam, dia menghela napasnya satu-satu. Tidak seharusnya dia berbagi cerita ini dengan pria di hadapannya ini. Pria matang paling usil se-dunia. Dia sendiri dipecundangi Opick. Dirinya diselingkuhi. Apa beda dengannya. Erlita ditinggal kawin lagi. Apakah lebih nyaman di poligami, dari pada diselingkuhi? Ibaratnya obat dan jamu sama-sama pahit. Dia akan selalu ingat kata-kata Rahmadi, "Hidup cuma satu kali, kalau tidak bertemu cinta sejati, kamu tidak akan mati sampai dua kali. Hanya terasa hampa. Satu yang perlu kamu ingat, pria mampu berbagi apapun, tetapi tidak dengan egonya. Kamu akan paham kalau sudah dewasa nanti." Tiada cinta, tetapi bertahan sekian tahun? Bukankah hakikat cinta sejati itu hanya pada Tuhan. Allah yang maha membolak-balik hati hambanya. “Rahmadi bilang apa?” “Enggak usahlah saya bilang.” “Entah, ini hanya perasaanku atau apa, ya. Aku mengendus sebuah skenario indah yang akan berujung pada happy ending. Bukankah, itu takdir yang manis.” Pria itu menjatuhkan tatapannya pada Kenyo yang menggeliat. Dahi gadis itu mengkerut seperti ada yang menggangu dalam tidurnya. Lalu padangan Pak Imam bertumbukan dengan sepasang mata Ari yang menyiratkan sebuah kebingungan. “Maksud, Pak Imam?” “Kamu ngeliatin aku, seperti….” Pak Imam mengedikkan bahunya. Kemudian tersenyum sumir. “Seperti apa?” “Oh, ya, Rahmadi masih di jalan. Erlita selamat, meski kondisinya tidak terlalu bagus. Sekarang dirawat di rumah sakit Polri Kramat Jati. Aku barusan menghubunginya. Tapi …,” jeda Pak Imam yang membuat Ari berdeham. “Dia, tidak tahu dengan siapa Nadi tinggal. Sedikit memberinya kejutan tak dosa, 'kan? Malam Jumat harus dibuat sedikit horor,” imbuh Pak Imam terkekeh geli. "Saya kena banyak-banyak istigfar terus kalau ketemu Pak Imam," runtuk Ari.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN