Assalamualaikum, jumpa Neng Ari. Habis cuti dia melemaskan leher yang kaku karena selingkuh di platform lain. Heee.
Selamat membaca, semoga berkenan.
-----------
Semalaman, setelah Imam Junaidi dan rombongan berpamitan, Ari tak mampu memejamkan mata barang semenit pun, meski penat mengelayuti raganya. Benar-benar menggagumkan. Dia pikir Imam Junaidi itu akan lebih bijaksana karena usia, ternyata keisengannya semakin berlipat ganda.
Mungkin ini yang dimaksud sedikit horror. Saat Ari turun sarapan dan melihat Rahmadi menoleh ke kiri lalu ke kanan dengan secangkir kopi dan nasi goreng. Ketika tatapan mata mereka beradu, riak terkejut pria itu tidak dapat disembunyikan.
Aku adalah penyambung lidah rakyat. Bung Karno yang memekikannya.
Aku adalah penyambung silaturahmi ayah dan anaknya yang sudah bertahun tidak bersua. Lalu, apa aku bagi mereka berdua?
Ari menyeringai sekedar basa-basi ketika telah berhasil memupus jarak. Sendainya itu terjadi tadi malam, dia tidak akan dibekap momen cangung seperti ini. Ada manusia jenis chili padi yang tak akan segan bersuara tak jelas semacam Bobby. Suasana pasti lebih hangat.
“Kamu lagi berkelah di sini? Simple banget, ya, piknik ala kamu. Lumayan juga buat Memulihkan tenaga. Atau lagi nyepi?” Rahmadi berbasa-basi terlebih dahulu. Sangat bukan gaya Monster ijo. “Mau gabung, atau yang lain mana, teman-temanmu?”
Ari tidak menjawab. Lalu melirik pada pergelangan tangannya. Toh, dalam hitungan menit pria itu akan tahu dengan siapa dia di sini.
Rahmadi masih seperti awal tadi Ari melihatnya, sedikit gelisah dan beberapa kali menimang ponselnya. Rahmadi yang ini memang lebih banyak bicara. Setidaknya ada empat butir pertanyaan yang meluncur begitu saja. Bahkan seperti tidak perduli seandainya itu tak terjawab. Dia menyuap nasinya tanpa menunggu jawaban Ari.
“Kenapa sih, mesti nasi goreng? Ini tidak baik bagi pencernaan. Suhu kemarin yang bilang gitu.”
Kenyo menarik kursi yang berada di dekat Ari. Berseberangan dengan tempat Rahmadi yang seketika terbatuk reflek menjatuhkan sendoknya.
“Kenapa, enggak bilang?” bisik Rahmadi serba salah. Melarikan tatapan pada Ari, minta penjelasan. Pria itu setidaknya mampu menahan diri dan tidak terkena serangan jantung.
“Lha, saya juga bingung. Pak Imam bilang, malam Jumat, biar sedikit horror,” bisik Ari nyaris tak terdengar. Giliran Kenyo yang melihat interaksi mereka berdua dengan tatapan menyelidik. “Nyo— eh. Nad, bagi salam, gih!”
Kenyo tercenung oleh panggilan Ari. Nad! Namanya terlafaz begitu saja dari bibir Ari. Meskipun tahu nama panggilannya Nadi, Ari tetap memanggilnya Kenyo untuk menebus rasa bersalahnya karena sudah menceroboh buku catatannya di posko pengungsian.
Masalahnya, dia juga tak menduga kehadiran pria itu. Jantung Kenyo hampir melompat dari tempatnya.
“Nad. Jadi, gini Pak Rahmadi ini. Ehmm, beliau pembimbingku di tempat aku magang dulu saat kuliah. Yah, kenalan lama ceritanya." Si Kenyo ngliatin abahnya kek lihat Izrail saja. Pakai acara bungkam lagi. "Masakah enggak salaman sama orang tua. Salaman, gih!”
Setelah mengucap salam dengan suara bergetar, gadis itu tunduk. Tangannya menguis nasi goreng dengan orak-arik telur itu. Mengambil butiran telur juga sayuran itu tanpa mengindahkan pria di seberang meja. Tidak ada sambungan atau pekikan kata, Abah Nadi rindu berat.
Rasanya lidah Ari seperti diplintir untuk mendeskrepsikan siapa Rahmadi. Pada pandangannya, Kenyo sendiri sebenarnya tahu kalau pria itu adalah abahnya. Gadis itu awalnya tergagap. Namun, fokusnya kini tetap pada sepiring nasi goreng di depannya. Bukan, abahnya.
Tidak seperti deskripsinya di buku. Nadi menulis agar abahnya tidak melupakan putrinya ini. Lalu, kenapa mereka seakan dua medan magnet yang saling tolak menolak. Tidak segera berpelukan ala Teletubis. Ari sungguh keheranan dengan respon keduanya. Begitu dingin. Tidak riak bahagia. Meski dia tahu, tatapan pria itu penuh kerinduan yang membuncah.
Si Kenyo sesekali mencuri pandangan lewat bulu matanya, dan ketika tatapan Rahmadi menguncinyan dia kembali menekuni nasi gorengnya seakan memilah pasir dalam periuk nasi.
Rahmadi juga, ngapain pakai acara nina ninu nggak jelas, batin Ari ikut tidak waras melihat kelakuan bapak dan anaknya di hadapanya kini.
Ari orang luar yang cukup jadi penonton.
“Suhu, aku ganggu, ya? Kok, jadi anteng gini?”
Bukan mengganggu, tetapi bikin hatiku ingin nyebut saja. Ari berkali-kali harus istigfar. “Nad, kamu ….”
Ari menatap Rahmadi meminta kerelaan. Nsmun, pria itu justru mengangkat tangannya, seraya menggelengkan kepala. Mencegahnya Ari membuka suara. Kenapa harus berbelit-belit? Harusnya, Rahmadi segera berdiri, memeluk erat Kenyo. Selesai. Terlerai semua kerinduan itu. Pria tua ini kenapa tiba-tiba jadi pecundang.
Ari yang sudah dilanda kekesalan akut sesekali memainkan reseliting switer rajut miliknya, memandangi kedua orang itu silih berganti dengan takjub. Pagi-pagi harus menghadapi guyonan tidak bermuta bapak dan anak.
“Kenyo, eh, Nadi ini, pintar ngesek biola, lho. Pak Adi gape main gitar. Mungkin kapan-kapan, kalian bisa kolaborasi, ya.”
“Ogah, ah! Tanganku, masih sakit. Aku masuk dulu.”
Kenyo memundurkan kursi. Nasi itu bahkan tak tersentuh barang sebutir. Dia hanya memisahkan orak-arik telur, kacang polong, jagung, wortel dan menyisihkan nasinya pada sudut lain menjadi dua gunungan.
“Nyo, mubazir ini. Kamu mau ke toilet, 'kan?”
Ari mencengkram lengan rapuh itu cepat. Rahmadi memegang pergelangan tangan Ari, memaksa perempuan itu untuk mengendurkan cekalannya pada lengan Kenyo. Gadis itu nampak meringis.
“Enggak ada yang aku muntahkan, Suhu. Tenang wae. Ini mau siap-siap kok. Katanya kita mau cabut?!”
Ari mengendurkan cekalannya. Lalu mengusap bahu Kenyo, “Iya, siap-siap sana!”
Mereka berdua melepas kepergian Kenyo dalam diam.
“Apa maksudnya tadi? Apa yang dimuntahkan?”
“Kenyo, bulimia. Nggak pasti lagi.” Ari kembali duduk, menekuni sarapannya yang tinggal dua suapan. “Harus ditangani ahli, lebih ke psikologis. Juga, tangan kanannya sempat terluka.”
“Aku benar-benar buta tentang, Nadi. Ayah macam apa aku ini.”
“Ayah enggak becus,” getus Ari tanpa perasaan. “Dalam sebuah perpisahan, anak selalu jadi korban yang tak berdaya. Meski fisiknya tak kasat ada luka, tetapi hati dan perasaanya meradang. Psikis! Psikis! Hancur! Kalau diperah, nanah semua isi hatinya, Pak!”
“Biar aku habiskan.” Tanpa menunggu jawaban, Rahmadi mulai memindahkan piring bekas Kenyo ke dekatnya. Dia menyuap satu persatu. “Bukankah tugas orang tua membereskan apa yang tidak mampu ditamatkan anaknya. Aku, bahkan sudah lupa kapan terakhir membantu Nadi menghabiskan nasinya, agar mamanya tak murka.”
"Itu mah kecil. Hanya sepiring nasi," dengkus Ari masih kesal.
"Kamu mau nambah?"
“Ck, kenapa, tidak terus terang saja? Saya nggak habis pikir. Sekarang, saya terjebak di antara hubungan gabir. bapak dan anak. Tahu gabir; kikuk.
"Pak Adi — Kenyo ingat beberapa moment krusial bersama, abahnya. Dia bahkan ingat sering diajak melihat hamparan Rawa Dano dari Padarincang menggunakan binokuler. Mustahil dia tidak kenal abahnya sendiri, meski itu sudah bertahun yang lalu.” Napas Ari terengah.
“Kenyataanya, memang saya yang salah.”
“Kami ke Rawa Dano karena punya memori yang sama. Bagaimana indahnya tempat ini. Bapak tahu?”
Rahmadi mengeleng. Dia terus menyuap nasi dari piring putrinya.
"Oh, enggak tahu?" Pikun rupanya, kesal Ari. "Jadi, selama dalam pengungsian, dia tidak pernah bicara. Dia hanya dekat dengan sedikit orang. Saya dan seorang relawan dari Malaysia. Akan tetapi, Kenyo semakin tertutup hanya karena Kak Fatimah seorang janda. Dengan tiga pernikahan sebelumnya. Dia trauma akan hadirnya orang baru di sekitar mamanya. Dia trauma akan perceraian, yang memisahkan dia dengan, abahnya. Kenapa Pak Adi harus diam dan terkesan menghindar?”
“Nadi mau bersamamu. Meskipun kamu janda?”
"Whats!"
Rahmadi hampir menampar mulutnya yang celupar. Si Imam memang sialan! Sedikit mengejutkan memang, ternyata perempuan di depannya seorang janda. Dia berpikir Ari kepala batu, sangat mungkin mengundurkan pernikahan, menikmati masa lajangnya. Atau belum laku karena jual mahal. Ternyata ....
“Sorry," ujar Rahmadi menaikkan dua jarinya yang membentuk huruf victory dan mengajak berdamai.
"Astagfirullah! Pasti rambut saya rontok segengam ini. Stres, saya!"