Bab 34-Spion

1557 Kata
Rasanya kok hambar kek nasi goreng kurang bumbu. Huuu. Semoga tidak bosan, ya. Selamat membaca, semoga berkenan. ------------- “Buktinya Nadi mau jalan sama kamu, meskipun tahu kamu janda?” "Whats!" Rahmadi hampir menampar mulutnya yang celupar. Si Imam memang sialan kalau bawa hot new nggak kira-kira. Sedikit mengejutkan memang, ternyata perempuan di depannya seorang janda. Dia berpikir Ari kepala batu, sangat mungkin mengundurkan pernikahan, menikmati masa lajangnya. Atau belum laku karena jual mahal. Ternyata .... “Sorry," ujar Rahmadi menaikkan dua jarinya dengan pose victory mengajak Ari berdamai. "Astagfirullah, Pak Adi. Pasti ntar rambut saya rontok segenggam ini. Stres, saya!" "Apa yang buat kamu stress? Bersyukurlah, kamu, toh, tetap anak baik-baik yang lurus jalannya pada apapun keadaan." "Itu mah, wajib." Ari hanya berdehem. Sambil mengunyah, dia melarikan pandangannya ke segala arah, kecuali sosok di depannya. “Pak Imam yang ngasih tahu soal ...?” “Heem! Lebih tepatnya anak produksi yang katanya teman kuliah kamu.” Rahmadi menerbitkan senyum sekilas. “Awalnya, aku enggak tahu kalau kamu yang barengan Nadi.” "Pak Imam memang sering kumat gitu, ya? Suka ngaco! Perlu kalibrasi agaknya." Ari memberengut, membayangkan Pak Imam yang mangut-mangut menanggapi mulut nyinyir Bobby. “Kapan Pak Imam ceritanya?” “Sehari setelah saya numpang mobil rombongan itu. Kenapa? Jadi janda bukan aib, kok. Kecuali ….” Apakah mungkin Bobby juga menjual nama Opick? Malas sekali harus terseret-seret kasus yang sangat mengaibkan itu. Kalau orang suka sensasi mungkin menganggap perceraian dan skandal Opick itu biasa saja. Biasa orang kaya memang seperti itu. Jadi tahanan dan mengendalikan bisnisnya dari lapas wajar. Memasukkan harem, memakai narkoboy juga biasa. Bahkan hotel prodeo mereka punya fasilitas laik hotel bintang lima. Sultan mah bebas. “Baiklah … baiklah. Kita bicara soal Kenyo alias Nadi. Saya sebenarnya enggak berhak menanyakan ini, tetapi karena saya ngeyel, wajib nanya dan tahu juga. Jadi, sudah berapa lama, Bapak tidak pernah jumpa Nadi?” “Lupa. Mendingan ngitung berapa meter kubik kebutuhan air pengunjung penginapan ini di lihat dari tingkat huniannya.” “Pak Adi, ihh!” Ari melotot tak puas. “Oh, pada awalnya, aku masih sering mengunjungi mereka! Sampai, Nadi dan mamanya pindah ke Dili.” “Dili?” “Ya, gitu. Kamu sendiri?” Ari memejamkan mata sambil menyudahi acara makannya. Dia kesal, teramat kesal. Kenapa pria ini harus dan perlu menanyakan statusnya. Kata janda yang keluar dari mulut pria itu begitu memualkan kedengarannya. Ari biasa disindir oleh beberapa teman-temannya, bahkan perkataan yang menjurus pada pelecehan, tetapi tidak semenyakitkan ini. “PRIA itu kenapa, ya, sebelas duabelas otaknya? Harusnya ketika sudah ada yang memanggilnya, Bapak, Abah, atau how married men are calling. Harusnya, sih, lebih dewasa. Enggak tahu gimana, Bapak bisa memikat Bu Erlita yang cantik, jelita. Terus pakai nambah lagi, yang entah siapa perempuan itu. Ngadepin anak sendiri saja berbelit-belit.” “Hai, maksudmu berbelit-belit?” “Anak polah bapo kepradah![1]Ngerti? Maksudnya itu gini, lho, Pak. Datangi dia, peluk, elus rambutnya, cium ubun-ubunnya. Nad, Abah kangen sama kamu, Nak! Peluk Abah sini.” "Gitu, ya, caranya." Ari menaikkan tangannya ke udara. Benar-benar merasa kesal akan sikap Rahmadi yang di matanya terlihat b**o. Ini benar punya gelar Tukang Insinyur? “Kalau Nadi menolak, pepet terus, Pak!” Rahmadi jadi bingung dengan nasehat panjang lebar perempuan di hadapannya. Bukankah itu teknik laki-laki untuk meraih hati pasangannya yang sedang cemburu. Peluk, elus rambutnya, beri ciuman. Kalau masih ngeyel juga, pepet terus, rebahkan di sofa. Ah, otaknya seketika terdistorsi ke ranah berbahaya yang sudah lama tidak dia penuhi. “Iya, nanti aku coba,” kilahnya menutupi otaknya yang sudah bermigrasi. “Pak Imam bilang bukan kerena saya, kan, Bapak hengkang dari perusahaan padahal posisi sudah bagus. Wah, itu kalau tetap gawe di sana, sudah naik direksi itu. Bapak pilih hengkang, bermakna jauh dari Nadi. Tujuh tahun, Pak Adi dan Bu Erlita nunggu untuk dapat Kenyo, eh, Nadi. Hanya ingin lepas dari hutang budi sampai menyiksa diri sendiri. Demi Allah, enggak ada kaitannya dengan saya, ‘kan?” “Kamu jangan kegeeran, ya. Kalau niat, aku ada rasa, sudah aku lamar kamu sebelum wisuda. Udah enggak usah dipikir, nanti insomnia lagi.” Ari jadi glagaban sendiri mendengar jawaban Rahmadi yang ngawur. “Nah itu dia. Saya jadi mengeneralisir semau saya. Bapak, mah lihat momentum, langsung pasang alibi itu. "Saya merasa bersalah. Jadi korban juga. Sampai detik ini, dan tadi malam ketika Pak Imam cerita, yang Pak Adi menikahi perempuan lain, bahkan ketika belum berpisah dari Bu Erlita. Afwan, menurut saya, ini picik sekali. Itukah yang membuat Bapak tidak bisa berdepan dengan Kenyo. Pura-pura tidak mengenalinya? Merasa bersalah karena berkhianat? Mungkin." Rahmadi mengangguk. “Jago analisis, ya, kamu.” “Yah, jalas. Wong dulu dapat itu mata kuliah Analisis Lingkungan, Pak. Linkungan yang terpapar hazad harus disuci hama.” "Lupakan yang dulu-dulu. Toh, itu sudah lewat di belakang. Kata orang bijak juga, kehidupan manusia ibarat mobil yang kaca depannya pasti lebih besar dari kaca spion. Itulah sebabnya masa depan lebih penting dari masa lalu." Ari kembali duduk dengan menghamburkan senyum hambar. Dia pernah mendengar filosofi kaca spion yang hanya dilihat sesekali. Kalau terlalu sering menoleh ke belakang akan berbahaya jalan yang di depan. “Masalahnya, saya harus menanggung hinaan. Wadon s****l! Sakit, tahu!” jedanya sambil, menegak air minum dengan sekali teguk. “Saya bagi waktu sampai Dhuha. Terserah!” “Bocah … bocah.” “Saya bukan bocah lagi. Dan, ini kenapa kita berduaan saja. Jatuhnya khalwat, Pak.” Suasana memang sudah mulai sepi. Menyisakan gelas-gelas dan piring penghuni penginapan yang datang untuk sarapan. “Khalwat apanya? Paling mereka mikirnya, kita suami istri yang lagi gaduh.” Rahmadi mengelap bibirnya dengan tisu meja, kemudian berlalu meninggalkan Ari yang bengong sambil mengepalkan tinju ke udara. "Astagfirullah, dasar, Pak Tua!" jerit Ari. Kenapa tadi Ari harus tersentuh dengan mata merah lelaki itu saat menyuap nasi goreng sisa milik Kenyo. Kenapa? Perangainya tetap sama, seperti cuaca saat ini. Sekejap mendung sekejap panas. Untung tidak ada petir yang menyambar. *** Kenyo melihat semuanya. Interaksi kedua manusia dewasa itu. Dari sudut di mana dia berusaha menyembunyikan diri. Ada kilat cemburu pada matanya, juga sulur sembab di kedua pipi. Tangan kanannya menyilang memegang d**a, tangan kirinya mencengkram papan jari hingga senar biola itu bisa saja melukai telapak tangannya. Kenapa melihat sekilas senyum abahnya, seakan membuka luka tak kasat mata itu kian mengangga. Apa karena senyum itu bukan anugrah untuknya, atau mamanya? Ari, perempuan muda yang sering pasang badan untuknya, lalu sedikit mencuri hatinya, hakikatnya kenal dengan abahnya. Mereka tidak canggung berdebat, seakan mereka punya kisah di masa lampau. Andaian yang bergelayut dalam kepala Kenyo bergerak liar. Mereka berdua punya hubungan mendalam. Lalu, di manakah mamanya berdiri? Pria itu adalah lelaki yang begitu dirindui. Memilih mengikuti rentaknya. Saling mencelik, bahwa mereka berdua adalah kepingan yang sama-sama terpelanting. Menunggu sosok untuk memungut lalu memasangkan pada tempat yang tepat. Tidak ingat kapan kebersaman itu terakhir kali terelai. Setelahnya, gadis kecil bernama Tirtanadi tidak pernah menjumpainya. Yang dibisikkan Sang Mama, "Abahmu tak peduli lagi pada kita." Saat dirinya berhadapan dengan kue dan lilin berjumlah sepuluh biji. Ketika hari ini, tanpa permisi pria itu hadir, seperti hantaman ombak melecut punggung karang. Namun, Kenyo tak setegar karang. Dia hanyalah bocah labil yang membesar tanpa arah. Dia juga bukan laba-laba meski berbekal sulur rapuh, yang mampu memerangkap ilmu-ilmu dari para bijak pandai, guru yang dia temui di bangku sekolah. Dia hanyalah bocah pecundang yang selalu rebah oleh cemoohan. Semua berawal saat bulan November yang dikepung gerimis .… Hati Kenyo mendadak sayu dengan segala t***k bengek kemesraan. Kedengkian itu justru tumbuh, makin subur saat dia memasuki sekolah menengah pertama. Bak cendawan di musim hujan. Jauh setelah rasa rindu, ingatan terpendam untuk seorang yang dia panggil sebagai Abah lambat laun luntur terbawa arus hidupnya yang mengalir sampai jauh. Kenyo pias. Tentu saja, hari itu di sekolahnya mengadakan peringatan Hari Ayah. Hari yang tidak ditulis dalam kalender manapun. Bahkan sekolah tempat anjuran acara itu diadakan. Di mana dia harus menerima kenyataan, mamanya baru saja melajang lagi setelah berpisah dari suaminya yang kedua. Pria yang dipanggilnya, Papa Sandro. Gadis-gadis muda yang mengelendot manja pada lengan-lengan kuat dengan otot-otot pejal jelas membuat matanya silau. Tangan mereka saling bertaut. Kepala Sekolah dengan raut sumringah mengatakan, “Para Ayah, anak-anak kita akan memasuki gerbang baru kehidupannya. Masa puberitas. Setiap Ayah akan membantu putri kecilnya melewati jembatan masa remajanya. Menjadi sesosok gadis yang berdikari.” Kenyo tentu saja ciut nyali. Yang dia genggam, bukan tangan abahnya. Gengamannya boleh saja hangat, otot tangannya juga pejal. Tentu saja, Mang Diman biasa memangkas pohon dan rumput di kediaman keluarga besarnya. Sialnya, teman-temannya tahu, bahwa dia hanya mampu membawa sopir yang merangkap tukang kebun. Kenyo menangis dalam kesendirian. Setelah menumpahkan amarah, lagi-lagi menghajar satu persatu teman-temannya yang bermulut rombeng. Gadis malang serupa tokoh antagonis yang siap menjadi bom yang meledak. Lambat laun dia mengenali semua sudut ruangan bimbingan konseling, juga tempat-tempat yang dianggap sebagai ladang eksekusi. Toilet, kebun, taman, dan perpustakaan. Dirinya sudah menanam lebih dari 123 spesies tanaman, memasang sampul lebih dari 1220 buku. Dia hanya mengintip sedikit isinya. Hanya untuk menjawab pernyataan lanjutan guru BK. “Ada filosofi yang harus kamu sadar. Apabila ada spesies kembar yang kamu tanam, bermakna kamu serupa keledai yang jatuh pada lubang yang sama, Tirtanadi.” Kenyo berpaling. Pandanganya semakin mengabur. ------- 1. Kiasan dalam Bahasa Jawa yang berarti, apa yang dilakukan oleh seorang anak, akan menimbulkan dampak yang harus ditanggung oleh bapaknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN