Pilih anaknya saja.
Enggak mau bapak e. Eh ....
Terkadang seperti itu juga bisa. Atau, mau bapaknya ogah sama anaknya. Wah, tidack bisa dibiarkan.
Selamat membaca, semoga berkenan.
----------------
Ari menyarungkan gamis warna hijau lumut, mematut pada cermin di depannya. Pandangan Kenyo yang mengekori sejak tadi membuatnya sedikit rimas. Sejak acara sarapan yang hambar tadi, gadis itu seperti menyimpan bara kecil pada matanya. Ari tak endah, dia segera merapikan tas dan segala isinya. Memilah mana yang punya Kenyo dan dirinya.
Beberapa kali mata mereka beradu secara tidak sengaja, Kenyo akan pura-pura menumpukan pandangan pada langit-langit kamar, atau pada biola yang dipanggulnya. Ada hal yang ingin dia luahkan. Akan tetapi, masih enggan disuarakan. Ari mengenakan bergo warna hijau cair, kembali mematut diri di depan cermin.
“Udah cantik, Su. Mau kencan sama Pak Tua tadi, ya?” tebak Kenyo akhirnya. “Wuidih, belum juga enam jam, sudah dua kali ganti baju!”
Ari menjuihkan bibir, hanya memandang lewat cermin. Tidak menunjukan riak terkejut. “Woi, Kenyo. Eh, Nad, aku tahu kok, apa yang bercokol di otak kecilmu itu!”
“Apa? Otak kecil itu fungsinya untuk keseimbangan. Otak besar kali. Namanya lobus frontal: otak besar bagian depan yang mengatur emosi juga intelektual pikir.”
Ari mengerjapkan mata seakan orang yang hampir pingsan. Sok jadi dosen, pula bocah!
“Kamu alih profesi menjadi dukun? Jadi, apa yang akan aku tanyakan?”
“Kamu mau tanya, kenapa, aku memakai baju berlapis. Benarkan?”
Ari tahu Kenyo ingin mengorek hubungan jenis apa antara dirinya dengan Rahmadi. Hanya saja, gadis itu belum sanggup berterus terang. Mungkin merasa jengah dengan interaksinya dengan sang ayah.
Kenyo menyeringai. Tebakan Ari meleset. Namun, mengerjai jiwa sok ustazah, sok jadi motivator perempuan di hadapannya pasti seru. Dia sendiri bingung kenapa Ari selalu merangkap bajunya.
“Kenapa Suhu selalu berpakaian berlapis? Biar kelihatan berisi? Pria matang memang suka hal-hal yang berisi. Berisi pada tempat yang tepat. Ada istilah, seksi itu manyun depan belakang. d**a dan pinggulnya besar!” Tangan Kenyo hampir mencengkram d**a kemudian terbahak. "Boobs dan ass. Satu langkah tiga goyangan."
"Astagfirullah, Kenyo!"
Ari membulatkan mata. Kosakata dari mana Kenyo tahu soal nafsu pria terhadap badan perempuan. Harus berisi di tempat yang tepat.
Dia menarik ujung jubahnya ke atas sampai pinggul, memperlihatkan celana pipa dan kaus berbahan adem itu. Saat dia mematut di depan cermin memang sedikit keheranan, dengan bajunya yang terasa lebih longgar. Ari sudah kehilangan beberapa kilogram berat badannya.
Ari menghela napas, “Ini namanya mihnah. Mihnah-hommy. Artinya baju rumahan. Aku lebih suka yang gini, celana dan kaos. Simple, fleksibel karena aku orangnya banyak gerak. Kalau, ini jubah, gamis atau jilbab.” Kenyo meletakkan biolanya pada tempat tidur. Mulai tertarik.
“Bukannya jilbab itu yang di kepala?" sautnya mulai tertarik.
“Khimar, kerudung itu penutup kepala. Kalau jilbab diartikan penutup kepala juga, bisa gelud mereka rebutan definisi.” Ari mengoyangkan jarinya. Tangannya melekap pada kepala. “Yang di dalam ini, ciput, biar kerudung atau khimar tidak merosot dan nyaman di kepala. Istilah itu ada dalam Al Quran, sayang.” Ari terdiam kemudian menarik Kenyo mendekat. Tinggi gadis itu hampir menyamainya.
“Aku enggak tahu bagaimana pola asuh keluargamu, dan tidak ingin mengungkitnya. Suhu merasa, banyak sisi ruhiyahmu kosong. Tarbiyah ruhiyah yang luput, bisa jadi karena ….” Ari mengaruk bibirnya, mencari ayat yang tepat. “Bukan berarti kamu buruk, bukan! Buktinya, tanpa disuruh, kamu salat tepat pada waktunya. Lebih mudah menyuruhmu salat daripada makan. Kita bisa belajar bareng-bareng, dengan syarat …. ”
“Pak tua itu, ‘kan?”
Ari ingin semuanya jelas. Namun, ada dari sisi hatinya berbisik ‘jangan’. Dia takut semua menjadi kusut. Setidaknya, dia ingin berdepan dengan Erlita. Apa mungkin perempuan itu masih mengenalinya. Bukan berburuk sangka, tetapi seandainya Erlita masih mengenalinya lalu menceritakan semua kesalahpahaman masa lalu itu, hubungannya dengan Kenyo pasti tinggal cerita.
Saat ini dia masih aman karena keengganan gadis itu mengungkit hubungan jenis apa yang dia jalin dengan abahnya. Kenyo jelas tahu, kalau bukan hari ini saja Ari mengenal Rahmadi. Sekali lagi dia menghela napas dalam. Sejujurnya mulai terbit rasa sayang pada Kenyo nyebelin itu.
“Dari apa yang aku curi baca, kamu menulis tentang kerinduan pada abahmu. Dia ada di sini, tak berjarak lagi. Jauh mencarimu dari hari pertama tsunami ke daerah Carita, Labuhan yang porak poranda. Memastikan kalian selamat dan baik-baik saja. Kamu dan mamamu, masih menjadi sosok yang terpenting dalam hidupnya.”
“Kamu begitu mengenalinya? Sampai berani memastikan semuanya. Atau kalian dulu ….” Kenyo melangkah pelan menuju jendela. Memandang hamparan hijau yang mulai memucat karena siang. “Dia sudah ada keluarga baru. Mungkin?”
“Suhu tahu. Abahmu sudah ada keluarga baru. Tadi malam, saat Pak Imam datang, kamu sedang pulas tidur. Yah, mungkin kamu juga mengenalnya dengan baik. Terus terang, aku syok saat tahu kamu anaknya Pak Rahmadi. Apalagi saat jumpa pertama, kesan kamu itu sengak, ndableg, nggak ada sopan-sopannya, dan yah ....”
“Om Imam? Kok, aku nggak dibangunkan? Apa sebenarnya rencanamu?”
“Itulah di pengungsian, kita panggil kamu Kenyo nyebelin.” Ari berkelit, malah memberi jawaban asal. “Kalian mirip. Sengaknya. Sengak ternyata genetis, ya?”
“Suhu!”
"Iya. Kenyo."
Ari sedang membayangkan galur DNA sambil cengengesan. XY+XX. X dari Rahmadi yang nyebelin digaul dengan X dari Erlita yang judes seperti banteng.Jadinya XX bernama Kenyo nyebelin.
Namun, Ari kembali menelan tawanya saat Kenyo berpaling dan bersedekap. Tatapannya berubah, seperti saat mereka pertama berjumpa. Terlihat berjarak dan mengintimidasi.
"Voldemort!"
"Eh, ngatain aku kek tukang sihir?"
"Yah! Kamu penyihir! Nenek sihir."
“Nad, tolong deh nggak usah ngegas! Turunin itu intonasinya, kupingku berdenging coba!”
“Ngegas juga nggak papa. Biar cepat sampai titik. Titik itu adalah kenapa tadi malam aku nggak dibangunkan? Seandainya kamu keberatan akan keberadaanku, aku bisa kok minta tolong Om Imam.”
“Aihhh, perlu bantuan orang juga?! Aku enggak tahu sedekat apa kamu sama Pak Imam. Juga sedekat apa abahmu sama yang kamu panggil, Om Imam itu. Selain mereka pernah kerja di perusahaan yang sama. Versi Om Imam, selama ini abahmu memantau keadaanmu. Kalau soal kenapa tidak menemuimu selama ini, itu urusan Abah sama mamamu.”
Ari mendengkus kesal karena justru Kenyo mencurigainya. Lelucon Imam Junaidi benar-benar menyebalkan membuat tensinya melompat naik. Harusnya dia membangunkan gadis bar-bar ini tadi malam.
Ari menyambar ponselnya, mencoba mencari nama yang sudah dia simpan baik-baik. Imam Junaidi, agar memberikan sedikit salam, prakata, sekapur sirih, atau apa yang mampu membuat bibir Kenyo yang sejak tadi mengerucut kembali melebar. Panggilan itu terabai begitu saja. Ari mencoba nomer lain, nomer Rahmadi, yang entah kenapa langsung menghilang ketika menyelesaikan sarapan tadi.
“Ini waktunya Jum’atan. Siapa yang kamu hubungi?” sambar Kenyo ketus.
Ari mengernyit, mengalihkan pandangan pada pergelangan tangannya. Pukul 9.00 WIB.
“Oh, iya kalau di Manokwari mungkin sudah persiapan. Mandi atau apa. Jumatan di Serang mah jam 12 lebih, Neng Kenyo!”
Ari berdecak kesal. Segera menulis pesan singkat. Tidak cukup itu, ketika ujung bibir Kenyo naik seakan meremehkannya, perempuan itu menekan tanda mikrofon lalu mulai bersuara: “Pak Adi, ini Ari. Saya berangkat ke Anyer dulu, rental mobil saya dari Cinangka, temui saya dan Kenyo di Menara Cikoneng!”
“Kamu ini, ya, nggak minta pertimbanganku. Menara Cikoneng itu, apaan?”
Ari menaikan dagu ketika melepas jempolnya pada tanda mikrofon, “Sekali lagi, panggil aku, kamu … kamu! Aku enggak segan-segan tendang b****g ratamu!”
“Berani, nendang aku depan abahku? Nanti citra baikmu lun … tu … aaauuuw!”
Kenyo tidak menyelesaikan perkataanya karena sebuah gerakan reflek tiba-tiba mendarat hingga membuatnya meringis terjerembab ke kasur.
“Itu namanya, jejag. Salah satu jurus silat. Sasarannya seharusnya perut, sengaja aku puter, jejag ke b****g kamu. Mantul, ‘kan? Sama orang tua enggak sopan!”
Kenyo bangun lalu menghentakkan kedua kaki. Kesal karena Ari melakukan KDRT padanya. Bagaimana mereka yang kadang saling berhadapan kadang saling membelakangi membuat Ari berhasil menyarangkan tendangan membuatnya terjungkal.
Dengan sisa kekesalanya Kenyo berlalu tanpa membantu Ari yang melanjutkan mengemas tas disertai omelan panjang juga ringisan tertahan karena melakukan tendangan spontan yang sudah lama tidak dia praktikkan. Kebawelan bocah itu membuatnya geram.
Kenyo sudah berpatah balik, berdiri menjulang di depan pintu.
“Ngomong-ngomong, kapan kamu,” dehamnya sambil memutar bola mata. “Kapan tepatnya Suhu kenal dengan Bapak Eko Rahmadi Widagdo itu?”
“Alhamdulillah, masih ingat aja nama orang tua sendiri, ya. Ini nggak penting."
"Aku ingin tahu."
"Begini, mamamu berhasil melewati masa kritikalnya. Jadi, semakin cepat kamu bersua mamamu, semakin baik.
"Kamu mungkin bukan epidural, selang infus, ventilator atau apapun alat bantu yang saat ini melekat pada dirinya. Kehadiranmu yang utama, obat untuknya tetap kuat bertahan. Itu yang dikatakan abahmu pada Pak Imam. Om, atau apalah kamu memanggilnya. Kamu adalah sugesti untuk membuat mamamu bangkit dan sembuh."
"Mama memerlukan aku? Sugestiku?"
"Ya. Kamu tahu, dalam dunia medis sugesti itu setara dengan 500 mg obat!”
“Aku lebih mengenalinya dari siapapun, termasuk abahku. Mama kebingungan dengan hidupnya sendiri. Kamu, jangan berkelit dengan pertanyaanku! Jadi jenis hubungan apa?”
“Beliau pembimbing dan aku anak bimbingannya,” sahut Ari tawar. Meninggikan suara saat Kenyo sedang dililit emosi tidak akan mampu membuatnya beranjak dari penginapan mungil itu.
Ari menyerahkan tas ransel milik gadis itu lalu menyambar miliknya sendiri. “Nanti, sambung di jalan. Aku akan cerita. Kita cabut dulu!”
“Nyebelin!” luah Kenyo bergetar.
“Suhumu yang manis ini pernah membaca sebuah buku motivasi. 'Ubah Lelah Jadi Lillah'. "
Ari berulangkali membaca pada bagian air. Pada sebuah kolom tertulis: dalam hidup lihatlah air. Lihatlah air yang terus mengalir meski banyak batuan yang menghalangi jalannya. Air itu berbelok ke kanan, kadang ke kiri, dan terus mengalir. Bahkan air tak sungkan-sungkan meresap dan menembus apa jua yang menghalanginya. Air terus mengalir memberi kehidupan bagi sekitarnya. Sebab air tahu, jika ia berhenti maka akan menjadi air yang mati, bau, kotor dan tidak bisa untuk bersuci lagi.
“Meskipun sedang merawat luka hatiku, aku ingin seperti air itu, Nyo. Namun, ada masanya kelokan itu harus aku tinggalkan untuk menuju destinasi yang baru. Kehidupan akan tetap berlanjut, lebih baik lagi."
"Apakah Mama salah? Atau Abah yang salah, aku tidak tahu."
"Kita hanya wajib belajar dari kesalahan terdahulu. Aku yakin setelah melewati badai ini, semua akan lebih baik. Menghargai kehidupan dengan lebih baik lagi. Kembalilah kepangkuan mamamu. Saat ini, beliau adalah keutaman bagimu. Ini jalannya. Ini lillah, Nad!”
Kenyo bergeming di tempat. Ketika rengkuhan itu datang, membelai punggung kurusnya seakan menawarkan lukanya agar pulih. Dia akur mengikuti langkah Ari dengan kepala tertunduk.