Bab 36-Pasung

2158 Kata
Semoga saudara-saudara kita yang terdampak erupsi Semeru mendapat perlindungan dari Allah. Aamiin. Sebenarnya cukup mengejutkan karena erupsi kali ini karena menurut catatan PVMBG statusnya masih waspada tetapi erupsinya lumayan besar. Allah maha berkehendak, ya. Status gunung berapi itu dibagi menjadi empat seingat saya; normal aktif, waspada, siaga, dan awas. Saya jadi ingat kejadian tsunami Banten yang awalnya dilaporkan sebagai banjir pasang karena rob —fenomena air laut yang naik karena bulan purnama. Setelah itu direvisi jadi tsunami dengan dampak luar biasa. Sedih. Jadilah cerita ini. Huuu .... Sekali lagi mari sama-sama berdoa. Selamat membaca, semoga berkenan. Eh, part ini ada penampakan Opick lagi. Mau nggak mau ya mohon dibaca. Jangan bete, ya. ----------------------- Pada siang yang terik, matahari tepat di atas kepala menandakan separuh hari telah bergulir. Jama'ah yang keluar menyemut dari masjid menjadi pemandangan yang melegakan. Ari terkekeh sendiri, membuat gadis yang ada di sampingnya melirik lewat ekor mata dengan curiga bercampur sebal. Tertawa tanpa alasan jelas. Kan, edyan itu. "Tadi di menara mewek, sekarang ketawa enggak jelas! Ihh." "Mana ada aku mewek! Gini, lho. Kalau ikut GPS, kita harus muter jauh sekilo lebih. Ngawur, ya, nyebrang aja langsung masuk Jalan Buyut Kuning, dapat deh masjid?" "Abahku ada di situ?" "Embuh. Aku nyuruh nunggu di menara, eh, nggak muncul. Kali aja mampir tempat bini mudanya." Kenyo berdecak kesal. "Kamu berarti nggak kenal sama sekali, ya, sama bini muda abahmu?" Gadis itu bungkam tak menghiraukan pertanyaan absurd Ari. Baginya, pertanyaan itu hanya buang-buang ludah saja. Ari kemudian tersengih. Menara Cikoneng merupakan Titik Nol Kilometer Anyer. Ada bola raksasa besar dengan tulisan berwarna merah. Merah yang mungkin bisa juga dimaknai sebagai sesuatu yang muram, pilu. Prasasti bersejarah sebagai tonggak awal pencanangan kerja paksa era Gubernur Hindia Belanda Daendels yang hanya menjabat tiga tahun. Namun, dengan tangan besinya mampu mewujudkan Jalur Pos: Anyer-Panarukan sepanjang 1000 kilometer dalam kurun waktu kurang dari satu tahun. Dengan dua belas ribu nyawa yang menjadi mangsa. Saat pengerjaan jalan Anyer-Panarukan bukan hanya kamu laki-laki yang bekerja tetapi juga kaum perempuan. Saat itulah muncul istilah kutang. Di zaman Hindia Belanda, perempuan yang berjalan di muka umum tanpa mengenakan penutup d**a adalah hal yang biasa. Di masa tersebut, hal itu tak menumbuhkan berahi kaum laki-laki Indonesia karena dianggap hal yang biasa. Masalah berahi justru muncul di kalangan laki-laki Belanda yang melihatnya. Pernah ada cerita acara bongkar muat kapal Belanda yang tertunda satu jam, karena pelaut-pelaut Belanda terpesona pada pemandangan di atas perut perempuan itu. Remy Sylado punya imajinasi sendiri soal bagaimana orang Indonesia mengenal kutang. Dalam novelnya Pangeran Diponegoro: Menggagas Ratu Adil yang terbit tahun 2007, Remy menceritakan bangsawan berdarah Spanyol-Perancis, bernama Don Lopez Comte de Paris, melihat perempuan Jawa, yang ikut membangun jalan raya pos Anyer Panarukan. Atas perintah Deandels yang berkuasa dari 1808 hingga 1811, para perempuan itu hanya memakai pakaian yang menutup bagian bawah tubuh mereka saja. Tubuh atas mereka terlihat. Don Lopez lalu memberi sebuah kain pada perempuan pribumi yang tercantik diantara mereka dan menyuruhnya agar menutup bagian berharga di atas perut itu. “Coutant! Coutant!" perintah Don Lopez. Kebetulan dalam bahasa Perancis, berharga diartikan sebagai coutant. Belakangan orang Indonesia mengucapkannya sebagai kutang. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kutang dimaknai sebagai pakaian dalam wanita untuk menutupi bagian tubuh yang indah itu atau baju tanpa lengan. "Kenapa, woi? Jum'at jadi s***p, ya?" Gerutu si Kenyo risih dengan tawa Ari. "Nggak. Lagi mengingat soal menara ini juga peristiwa sejarah yang terekam bersamanya." Awalnya sambil menunggu Rahmadi, Ari ingin mengajak Kenyo menikmati panorama pesisir Anyer yang luput dari tsunami, sekaligus wisata edukasi. Namun, gadis itu bahkan enggan membersamainya naik ke atas mercu setinggi 75.5 meter itu. Kenyo lebih memilih rebahan sambil menyilangkan kaki dengan kudapan pasung dan cai kelapa muda. Geleng kepala Ari dibuatnya. Saat ini mereka berdua sampai di seberang jalan depan masjid. Ari masih berusaha menandaskan tawanya. "Dulu, guru agama di sekolah bilang, cari suami, lelaki yang suka mendatangi masjid. Padahal, siapa saja bisa mendatangi masjid, hatta pencoleng sekalipun." "Pencoleng?" "Maling, Nad." "Oh, jadi dapat, jodoh di masjid, Su? Atau, hanya berjumpa pencuri sendal?" Ari menggeleng sambil terkekeh. Lagi Mengingat pertemuannya dulu dengan Opick. Bukan di masjid. Bermula pertemuan dengan sosok pria paruh baya berwajah teduh dengan yayasan sosial Amanah Mulia yang konsen membangun sarana air bersih dan jamban bagi masyarakat Lebak. Satu kebiasaan di masa lalu adalah saling bertukar kartu nama. Rasa tersanjung karena seorang pengusaha sukses bernama Dadang Hairul Aman sudi menyimpan kartu namanya. Sekali lagi dipertemukan dengan pria tua itu yang menjadi pembicara seminar sehari kewirausahaan yang diadakan oleh anak Fakultas Ekonomi Menajemen (FEM) yang salah satu panitianya adalah Agusta. Dadang menawarinya untuk ikut cawe-cawe pada yayasan yang sedang membutuhkan seorang yang tahan banting, siap sedia berjibaku di lapangan, maupun berkutat dengan komputer di kantor. Saat itu Amanah Mulia masih merupakan yayasan milik keluarga Hairul Aman, belum bersifat pubik. Seberat-beratnya di kantor yayasan, tidak seberat mengambil data debit air. Seburuk apapun tugas lapangan, paling juga melihat perkampungan Baduy yang membuatnya tidur di rumah-rumah yang beratap rumbia. Menyusuri persawahan dan sungai. Menjadi mahasiswa lingkungan menempanya untuk menghadapi medan lumayan terjal. Naik turun gunung, masuk keluar hutan, sudah kelaziman. Tugas mendatangi, mendata, menyalurkan bantuan, tentu dengan bumbu kecakapan berbicara rasanya tidaklah sulit. Saat itu, seorang pria muda, tinggi seperti menara, berwajah menawan bak pangeran dari negeri dongeng muncul. Rasanya bukan relawan Amanah Mulia. Namun, kenapa membersamai rombongannya ke Lebak? Anehnya, Ari merasa mengenali pria itu entah di mana. Ari bukan satu-satunya perempuan dalam tim, tetapi pria itu membuka jendela hatinya lebar-lebar. Senyum itu jelas ditujukan untuknya. Dari sekedar mencuri kerlingan, sampai menghunus tatapan mendamba saat pengarahan. Sebuah kebetulan ketika selama tiga hari mereka berdua ditempatkan pada satu lokasi yang sama. Pria itu menyodorkan tangan dengan percaya diri, meski hanya ditanggapi anggukan oleh Ari. "Namamu, beneran Nares. Nareswari?" tanyanya sambil mencondongkan diri lebih dekat. Antara Ari yang terlampau pendek atau sosok itu terlampau jangkung. "Iya. Kenapa?" Opick langsung tengadah tangan, lalu meraup wajah seakan mendapat durian runtuh. Membuat Ari mengernyit keheranan. "Semua memanggilmu, Ari?" "Oh, biar enggak kepanjangan, Aa. Nareswari, jadi Ri ... Ari. Panggilan dari kecil, kebawa di sekolah, kampus, organisasi juga. Kalau nyari Nareswari, biasanya enggak akan ketemu." "Pantesan." Ari mengernyit, keheranan dengan prilaku pelik si jangkung itu. "Apanya yang pantesan?" "Mencarimu laksana jarum di tumpukan jerami. Laksana intan di padang pasir." "Ya Allah kamu gombal mukio apa pujangga, sih, Aa?" "Pujangga, dong." Biasanya, Ari selalu bersikap santai pada lawan jenis. Namun, saat Opick, si pria jangkung itu membuka suara, selalu mengajaknya bicara, mau tak mau Ari harus bawel, hanya untuk melindungi mata dan hatinya. Setiap pria itu tertawa seakan Ari dipaksa menelan satu linting canabbis. Membuat dadanya berdesir. Takjub dengan wajah tampan, dan harus dia akui meski sesekali cengengesan, tutur katanya santun. Entahlah, Ari seketika d***u. "Aa, jangan dekat-dekat kalau ngomong!" "Takut enggak dengar, Neng." "Ya Allah jangan panggil, Neng! Ari. Nareswari, aja!" "Iya, Neng Ari." Cengiran Opick menyerlah. "Kita, jadi jalan-jalannya? Sambil nunggu kereta api ke Jakarta?" "Kita? Aa mau ikut?" "Iya lah. Nggak baik jalan sendiri atuh, Neng." Ari memegangi dagunya. Mencoba mencerna maksud terselubung pria bernama Opick. Ya, namanya Opick. Entah siapa nama lengkapnya. Aneh. Biasanya daftar relawan itu lengkap nama, nomor hape, dan alamatnya. Ari sebenarnya lebih nyaman sendiri. Kenapa dia harus bercerita dengan Opick. Bodohnya, siapa lagi yang harus dia ajak bicara kalau bukan pria itu. Pria itu membuatnya mampu mengobrol banyak dengan Kuwu yang punya logat Sunda kental. Sunda Bogor beda dengan di Lebak yang membuatnya gigit jari. Ari juga mendapat kasur, meski lembab, keras, dan apek, sedangkan pria itu hanya beralas karpet masjid selama tiga hari. "Pamali jalan seorangan, Neng! Aa temani." Ari langsung mendelik. Siang bolong apa yang mesti ditakutkan? "Ck! Sebenarnya Ari enggak enak jalan bereng cowok gini. Orang bisa salah paham." "Kalau gandengan iya, Neng. Eh, itu orang apa truk kok gandengan terus. Kalau jalan bareng mah biasa." "Eis, enggak lucu, Aa!" Opick nyengir. "Dasar, c******s!" Pria itu makin terbahak membuat mereka berdua menjadi pusat perhatian sepanjang menyusuri jalan di dekat pasar. Awalnya Ari akan mengajak Opick ke Musium Multatuli. Yah, sebagai ungkapan terima kasih, ternyata hari Sabtu museum tutup. Mereka akhirnya hanya duduk-duduk di tepian Balong Ranca Lentah, sebuah rawa di tengah kota Rangkas. "Aa tahu kenapa mobil yang tak diparkir benar di pinggir jalan, begitu juga dengan motor. Bukan satu atau dua, dari stasiun Rangkas?" Satu hal yang membuat Ari mengernyit heran, mobil yang tak diparkir benar di pinggir jalan, begitu juga dengan motor. Bukan satu atau dua, dari stasiun memang seperti itu yang ia jumpai. Mungkin kebiasaan warga. Ari tak memperhatikan saat pertama datang ke Lebak dahulu. "Itu adatnya mereka. Dari Aa kecil memang seperti itu," ujar Opick menepuk bibirnya karena keceplosan. "Aa tahu? Dari kecil itu maksudnya, Aa orang Rangkas?" Opick menggaruk rambutnya. Lurus dan terkesan lembut pada pandangan Ari. Gadis itu membuang pandangannya pada tengah rawa. Ada resah yang menyelinap, tetapi jadwal kereta menuju Jakarta memang tidak banyak. Bagaimana mungkin Ari duduk berdua dengan pria asing? Entahlah, semakin hari semakin futur saja. "Kakekku asli Rangkas." "Oh ...." "Kamu lupa sama aku? Padahal kita pernah berjumpa, lho." "Ah, masa? Di mana?" "Di ....eh, sudah lumayan sore ini. Ayo bergegas." Opick berupaya menutup ceritanya. Ari sendiri tidak berusaha mengejar cerita Opick soal pertemuan mereka. Buat apa, buat rusuh suasana hatinya saja. Menjelang sore mereka kembali ke stasiun. Dengan mengenggam oleh-oleh masing-masing. Ari bahkan sempat mampir ke toko emas. Mereka memakan oleh-oleh di atas gerbong menuju Stasiun Jakarta Kota sambil bercanda. Meskipun mereka duduk lesehan beralas koran. Ari menepel gerbong pada sisi kiri, sedangkan Opick berada pada sisi gerbong sebelah kanan. Terbentang jarak hampir 2.9 meter. Mereka berdua memakan pasung dalam suka cita sambil saling melempar senyuman dan pandangan seaakan paham apa yang sudah mengelora di jiwa. "Su?" Kenyo mengoyang lengan Ari. Meski satu tangan mereka bertaut, satu lagi memainkan tali ranselnya. Pandangan Ari tiba-tiba kosong. Dia tergagap dalam sesaat. "Su!" ulangnya sekali lagi. "Aku enggak tahan melihatmu memakan pasung tadi," ujar Ari tiba-tiba. "Hah! Kenapa? Enak manis, lengit gitu. Enggak mual seperti biasa, kok." Kenyo menepuk perut datarnya. "Kenapa tadi nggak beli pasung buat bekal?" Ari menggeleng, tak mengatakan apa-apa setelahnya. Dia sempat menitikkan air mata saat melihat Kenyo memakan pasung tanpa memuntahkannya kembali. "Kita jadi salat?" Ari meringis memupus curiga. "Kita berdiri di sini lama, kupikir Suhu tidur, tadi." Ari kembali menelan senyumnya. Mereka berdua dengan ransel besar juga langkah terseok-seok menyebrangi Jalan Buyut Kuning, dan ketika kedua kaki sudah menapaki sekitar parkiran, langsung menyusuri halaman masjid. Harusnya rasa lega segera menyelinap, tetapi mata Ari hampir meloncat keluar ketika melihat apa yang dilewatinya. "Liat plat mobil itu!" teriak Ari dalam geraman. Ingatannya melayang pada malam itu. "Tebak, kenapa mobil ini ada di sini?" Ari berpaling pada Kenyo, menaikkan alisnya. Kakinya menyepak ban belakang mobil itu. Kekesalannya terakumulasi seketika, bisa jadi dipicu oleh terik matahari, ingatan akan Opick, sekaligus tingkah si pemakai mobil. Kenyo ikut menyepak ban depan. "Su, kita bisa dituduh sebagai vandalism!" "Weh, mobil abahmu ini!" suara Ari parau, giginya gemeletuk. "Dikasih pesan, enggak ngrespon!" Ari ngedumel tanpa melihat wajah Kenyo yang mulai tegang. Jemarinya kembali meraih tangan kiri Ari. "Aku ogah duaan sama, dia." "Dia? Woi Nadi si Kenyo. Kamu bukan aku sodorkan ke sarang penyamun. Mereka itu, Mamah Erlita dan Abah Rahmadi, adalah kedua orang tuamu. 350 juta s****a berenang-renang sekitar 15 sampai 45 menit untuk menembus cangkang sel telur. Kemudian jadilah zigot, lalu embrio bernama Nadi yang cantik penuh bakat." "Aku tidak butuh teori biologi. Lebay!" "Bukan, lebay! Udah, ah. Wudu, salat, Doa! Itu benteng terakhir seorang mukmin." "Memang aku sedang perang?" Kenyo mengetuk pelipisnya sendiri. "Yeah, ini memang perang. Benar sekali, aku butuh doa khusuk untuk menghadapi ini semua." Ari mengulum kembali senyumnya, menyingkirkan sisa-sisa kejengkelanya pada Rahmadi. Ia berbisik sambil menyeret Kenyo ke arah tempat wudu akhwat. "Untuk doa, namanya tawaduk. Berdoalah dengan tawaduk, artinya lepaskan segala kesombongan. Saat engkau tunduk, merendah, memohon apapun itu pada Rabb-Mu. Lalu, salatlah dengan khusuk." Kenyo mangut-mangut. Kepalanya penuh, tak mampu lagi menampung petuah dari perempuan di sampingnya. Saat meletakkan ransel dan segala perintilan bawaannya, Ari sempat melirik pesan yang masuk. Dari Rahmadi. Monster Ijo [Serambi] Ari [ ? ] Monster Ijo [ Nadi, oke?] [Manut sama kamu, ya] Ari [ Saya negosiator ulung, Pak] Monster Ijo [ Iya, deh ] [ Kamu memang juara ] Ari [Maksud ngana?] [Seketika mual mendera?] Monster ijo[ Aish ...] [ pembuahan tidak bisa berteleportasi lewat chat] [ Belum halal, Nong] Ari sangsi ini adalah Rahmadi yang dia kenal. Rahmadi tidak mungkin royal pada kata-kata m***m berbau pelecehan seperti ini. Tak pernah sekalipun pria itu memanggilnya dengan istilah, Nong! Pak Tua yang mendadak ramah dan kadar keganjenan meningkat drastis? Siapa yang mensabotase ponsel Rahmadi? Ari [Kentir!!!] Monster Ijo[ Haaaaa ...] [Jum'at barokah, Nong] Ari tidak lagi mengindahkan balasan itu. Bukan pertama ini berbalas pesan dengan Rahmadi. Dulu sekali, saat sms masih menjadi salah satu keajaiban dunia komunikasi dan informasi, dia pernah mengirim pesan singkat yang hanya di respon dengan satu huruf: Y. Zaman ketika setiap rupiah sms selalu dikonversikan dengan harga gorengan. Jauh sebelum kepala Rahmadi berdarah-darah tentu saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN