Karena terlalu asyik memantau update GN.Semeru juga diskusi tentang status waspada tetapi tiba-tiba mengalami erupsi yang luar biasa, saya salah upload bab. Bab kemarin saya pecah dua
dan versi revisi entah lupa di mana naruh. Gak papa. Masih nyambung, kok.
Semoga teman-teman senantiasa diberi kesehatan. Bantu doa untuk korban erupsi Semeru. Aamiin.
Selamat membaca, semoga berkenan.
-------------
Ari tidak lagi mengindahkan balasan itu. Bukan pertama ini Ari berbalas pesan dengan Rahmadi. Dahulu sekali, saat sms masih menjadi salah satu keajaiban dunia komunikasi dan informasi republik +62, dia pernah mengirim pesan singkat yang hanya di respon dengan satu huruf oleh si Monster Ijo: Y.
Zaman ketika setiap rupiah sms selalu dikonversikan dengan harga gorengan. Jauh sebelum kepala Rahmadi berdarah-darah tentu saja.
Jadi, siapa yang melakukan hal tidak masuk di akal dan sangat tidak terpuji ini. Sudah pasti Imam yang ini belum mendapat sertifikat halal dari MUI.
Benar saja, saat menuju serambi masjid yang dia lihat bukan hanya Rahmadi. Ada beberapa orang yang tampak sedang meluruskan punggung. Pria itu sendiri justru sedang rebahan sambil memejamkan mata. Sedangkan yang asik menekuni ponsel sambil bersandar dengan senyum tak jelas bagaikan kerang busuk adalah Imam Junaidi. Kerja setengah hari nampaknya bapak bertampang menyebalkan itu. Ingat, orang ganteng dan menyebalkan itu sebelas-dua belas.
Jum'at adalah hari besar. Hari bersejarah yang mencatatkan Ari sebagai pesakitan. Perusak rumah tangga orang. Bocah magang pengganggu. Wadon s****l! Dia tidak mau mengingatnya kembali semua julukan dan cercaan nista itu.
Keduanya sampai pada garis dengan tulisan batas suci-ikhwan. Ari dan Kenyo melaungkan salam bersamaan.
"Assalamualaikum, Pak.Om."
Pak Imam menegakkan badan. Lalu meletakkan ponsel yang tadi dipegangnya ke atas perut Rahmadi yang masih dalam posisi berbaring dengan satu lengan sebagai bantal, satu lagi menutupi kedua matanya. Kaca mata berada di atas tas laptop persis di sampingnya. Dari gerakan naik turun dadanya, Rahmadi benar-benar terlelap sampai-sampai apa yang dia miliki sudah disabotase dengan kejam oleh pria yang tengah terkikik sambil menjawab salam.
"Hmmm, duduk-duduk. Ya ukhti ya nur habibah."
Ya nur habibah? Ari geleng kepala melihat respons Pak Imam yang sangat santai. Sekali lagi bagaikan orang yang tidak punya dosa.
"Nyari tempat makan saja. Nadi belum sempat sarapan karena mendadak kenyang melihat penampakan, abahnya," usulnya. Ari melirik Kenyo yang kaku bagai tugu Monas di sampingnya. "Nad, coba gih bangunkan Abah kamu!"
Kenyo tampak maju mundur. Dia memang berjanji akan menuruti perkataan Ari. Namun, mandat untuk membangunkan abahnya serta merta membuatnya dililit kecanggungan.
"Coba, Nad!" Pak Imam turut memberinya semangat.
Kenyo menjatuhkan ranselnya ke paving. Menyerahkan biolanya pada Ari. Dia melepas sandal dan merapatkan diri pada kaki Rahmadi. Gadis itu duduk bersimpuh sambil mengamati abahnya yang begitu pulas tidur. Mungkin terlalu mengantuk karena setibanya di Jakarta langsung mendapat tembusan keberadaanya bersama Ari.
Tangan Kenyo terangkat mengambang di atas satu kaki pria itu ditekuk sedang yang lain terjulur bebas. Dia menarik kaus kaki itu hati-hati, lalu menekuk jempol kaki Rahmadi hingga berbunyi 'krek'!
Suara nyaring dari buku yang ditekuk mendadak, sontak saja membuat pria itu bangun dengan gerak reflek. Pandangan matanya yang masih berkabut segera saja bergulir terang benderang ketika yang dia lihat adalah kedua bola mata redup putrinya. Gadis kecilnya. Bibir mungil itu renyut oleh rasa canggung.
Dahulu, Rahmadi selalu berpura-pura tidak mendengar jika ada langkah kaki kecil yang mendekati tempatnya berbaring. Padahal dia akan menunggu aksi gadisnya untuk membangunkannya. Lalu pura-pura berteriak, "Aduh, jari kaki Abah putusss!"
Rahmadi kemudian meluru, berusaha menyergap gadis kecil yang berlari menjauh karena ketakutan akan dibalas dengan gelitikan di perut mungilnya. Mereka tergelak sampai berguling di karpet.
Kenyo menirukan apa yang tukang urut lakukan pada abahnya. Rahmadi sering mencuri kesempatan membawanya berjalan-jalan yang tujuan sebenar adalah mencari tukang pijat lalu menyodorinya dengan bionokuler. Diurut sambil menikmati pemandangan Rawa Dano dari puncak Padarincang itu adalah surga yang dirindukan.
Suasana serambi masjid yang lengang, menjadi saksi bagaimana Kenyo terpekur berusaha mengalihkan tatapannya dari mata tua itu. Dia jarang melihat bola mata itu secara langsung. Abahnya selalu memakai kaca mata, saat bangun tidur adalah momen di mana dia bisa melihat iris coklat itu.
Pria itu memangkas jarak, merengkuhnya erat. "Tirtanadi anak, Abah."
Pak Imam bangkit, menepuk pundak Kenyo yang rapuh terguncang. Dia melangkah, menyarungkan sepatu lalu menyambar ransel yang tadi dibawa gadis itu, memberi kode pada Ari yang sedang menatap langit siang yang memutih. Sedang berusaha membendung kolam matanya yang hampir jebol.
"Kalau mau nangis, ya udah keluarin aja, Nong. Nanti malah belekan, lho, nantang matahari siang-siang," bisik Pak Imam dekat telinga Ari dari jarak tak wajar yang membuat perempuan itu memiringkan badannya spontan.
"Nggak nyambung!" bidas Ari parau, hingga cairan bening itu tumpah jua. Jejak berkilau berlarian menuruni pipinya.
"Tadi malam, Rahmadi mesti mendelik melihat kamu, ya, Nong?"
"Enggak! Biasa aja. Kita jumpanya pas sarapan pagi. Jelas horornya malam Jum'atnya udah lewat. Expiry date!"
"Ck! Enggak seru, dong."
"Nabuh kentongan, Pak, biar seru." Ari bersedakep sambil menatap bengis. "Iseng banget, kirim pesan gituan. Pak Imam nggak ada kapoknya, ya, dari zaman purba dulu. Kalau istri Pak Adi baca, bisa kena sembelih lagi, nih."
Hamburan kata-kata Ari hanya dibalas derai tawa renyah oleh Imam Junaidi. "Kali ini, aman terkendali, Nong."
Ari mendengkus keras. Sekeras apapun dia berusaha memasang muka galak, Pak Imam terlihat biasa saja.
"Jangan mendengkus gitu. Kayak punya beban berat saja, Nong?"
Yah, siapa orang tua ini yang ingin tahu seberapa berat beban yang dia tanggung sebagai menantu keluarga besar Hairul Aman.
Semua gadis pasti menginginkan dirinya menjadi seorang Cinderela. Termasuk Ari kecil. Saat masih bocah dirinya terlalu terobsesi dengan cerita putri-putrian dengan kereta kencana berasal dari labu, ditarik kuda yang sebenarnya adalah tikus. Dongeng yang begitu merecoki isi kepalanya. Sampai-sampai Ari pernah membawa kaki kecilnya menuju dapur. Dengan membawa kursi dia dapat menjangkau rak piring dan mencari dua buah gelas kaca. Memasukkan kedua kaki kecilnya pada mulut gelas. Gelas-gelas itu meluncur ke lantai semen lalu hancur terkecai.
"Kenapa gelas-gelas itu Ari?"
"Ari ingin sepatu kaca, Bu. Ari ingin seperti Cinderela."
Apa yang diucapakan oleh bibir mungil itu membuat sang ibu terenyuh. Tubuh perempuan berbalut daster itu yang awalnya terengah menahan marah tiba-tiba surut lalu meluru memeluk putri kecilnya. Dengan hati-hati sang ibu mendukungnya sampai kamar.
"Itu hanya dongeng. Sebenarnya Ari hanya perlu berbuat baik, sabar seperti Cinderela."
"Tuhan sayang orang sabar, ya, Buk?"
"Iya. Sabar dan rajin belajar."
Bertahun kemudian nasibnya memang serupa Cinderela yang dinikahi pangeran tampan. Namun, kehidupannya yang bak negeri dongeng itu hanya ilusi. Ari sadar rumah tangga bukanlah cerita Cinderela. Selalu ada yang dengki meskipun dia berusaha menjadi sebaik-baik perempuan hijrah yang setidaknya pernah ngaji.
"Nong, marah, ya?"
"Nggak, kok, Pak Imam. Rugi saya marah-marah sama Bapak."
"Terima kasih, ya, kamu jaga Nadi dengan sangat baik."
"Yang jaga Nadi banyak. Kebetulan saja saya tidak banyak pekerjaan jadi bisa membagi waktu lebih."
"Selain jadi relawan, Ari kerja di mana?"
Tebakan Ari benar. Orang tua tampan ini tidak tahu siapa dirinya. Siapa mantan suaminya. Syukurlah Bobby benar bukan utusan lambe turah. Lagi pula kasus Opick memanglah tidaklah seedan Pangeran Banten yang terbukti menyuap Ketua Mahkamah Konstitusi. Menguasai hampir seluruh proyek satu provinsi. Namun, ibarat semakin kecil kasus dan pengaruh seseorang semakin besar pula hukuman yang di dapat.
Seorang nenek mencuri tiga biji buah kakao dihukum 1 bulan 15 hari. Seorang ibu mencuri kayu manis diancam hukuman lima tahun penjara. Hukuman sama yang ditimpakan pada Opick.
Ari mengalihkan pandangannya ke belakang, pada adegan nan kudus anak dan bapak yang masih terlihat canggung itu.
Rahmadi yang memeluk Kenyo, menyisir rambutnya juga mencium ubun-ubun gadis itu. Persis seperti yang Ari ajarkan. Gadis itu, meski sedikit melengkung kaku, tetapi terlihat dapat menerima abahnya.
Kerinduan-kerinduan itu tuntas sudah, terbayar lunas.