Bab 38-Cantik Itu Relatif

1537 Kata
Selamat membaca, semoga berkenan. Stary sedikit error ini. Tidak apa-apa, Neng Ari tetep up. ----------- Awalnya, mereka akan menuruti kemauan Ari, makan siang di warung bakso yang letaknya tak jauh dari masjid, tinggal mengayun beberapa langkah, sampai. Namun, bakso bukan pilihan bijak untuk memuaskan perut yang mendadak membutuhkan asupan lebih pasca acara kangen-kangenan. Mereka memerlukan karbo lebih banyak. Lebih baik seperti ini, mengambil jalan sendiri-sendiri setelah acara makan. Rahmadi dan Kenyo ke Jakarta. Ari demikinan juga, dirinya akan bertolak ke Jakarta naik kereta dengan menyelipkan sejuta nostalgia. Namun, tiga kepala itu mengatakan Ari lebih baik menumpang mobil Rahmadi. Jadi, di sini lah mereka. Sebuah pondok sate. Sepertinya ada yang memerlukan doping sate kambing untuk menaikan stamina? Bergelut dengan kenyataan memang membutuhkan banyak kalori dan protein untuk menutrisi akal. Tidak mungkin Kenyo. Karena cacing di perut gadis itu memilih alpa dengan hal yang menyelerakan. Lagi pula gadis itu sudah menelan beberapa bungkus kue pasung. Ari terpaksa membebek, dengan sedikit uring-uringan, mengirim pesan pada Kamila akan perubahan tempat bersua mereka. Untung Kamila setuju. Dia mengatakan, Anyer terlampau jauh. Ari memang berencana menjumpai sahabatnya itu tanpa memberitahu bahwa dirinya bersama bapak-bapak keren dari Cidanau Tirta Industri. Pasti Kamila pingsan. Pondok sate dengan cita rasa yang begitu khas dan melegenda. Andalannya sate bebek, sate kambing dan sop buntut. Ada istilah, jangan ngaku sudah ke Cilegon kalau belum makan di sana. Akan tetapi, sudahlah, katanya ini adalah negera demokrasi, suara terbanyak menghendaki tempat itu. Namun, bayangan panas, sumpek dan tempat yang tidak begitu higienis membuat keringat Ari langsung berhamburan keluar sebelum sampai ke tujuan. Dia mengeluarkan sapu tangan. Ari memang lebih memilih sapu tangan untuk mengelap keringat dari pada tisu. Ramah terhadap lingkungan, perlu tindakan nyata. Perdebatan tidak hanya berhenti pada saat menentukan di mana akan makan. Saat masih di parkiran masjid, mereka juga berdebat hebat, soal siapa harus ikut siapa. Lucu tentunya, ketika Ari harus ikut mobil Rahmadi sedangkan Kenyo memilih bersama Imam Junaidi. Lha, yang anaknya Rahmadi siapa? Suasana tegang masih saja mendominasi ketika mobil mereka kembali harus berebut parkir. Mobil di jalanan yang rata-rata hanya berisi satu dua kepala saja. Kalau tujuannya menjamu selera, kenapa tidak membawa satu mobil untuk bersama. Mana dengungan slogan saving energy untuk efisiensi bahan bakar fosil? Ari mengomel dalam hati. Sabar. Janda penyabar yang di sayang Tuhan dan akan lekas mendapat jodoh. “Gimana, saya turun dulu, nih, nyari tempat duduk,” tanyanya pada Rahmadi. Pandangan Ari sudah nyalang ke dalam. Mencari tempat yang setidaknya bisa membuatnya bernapas sedikit lega ketika makan nanti. Ari adalah sosialita yang terbuang. istilahnya terpelanting dari kastanya. Yah, meski di tempat pengungsian juga bukan tempat yang nyaman, tetapi relawan dan penyintas merasa senasib sepenanggungan. Disitulah berkah dan nikmatnya jadi dia tidak merasa janggung. “Pak!” ulangnya, merasa Rahmadi tak endah pada panggilannya. “Sabar! Tuh, depan mau cabut.” “Cabut apaan? Cabut gigi?” Ari menggerutu sambil berusaha membuka pegangan pintu. “Eh, tukang parkirnya mana sih?” “Awas, sabuknya!” Ari terkekeh, membuka sabuk pengamannya. “Saya turun, ya, Pak!” Ari menepuk lengan Rahmadi yang sedang sibuk di atas setir. Pria itu sedikit tersentak, tetapi tanpa membantah, segera membuka lock pintu mobil. Dengan sedikit berlari kecil, perempuan dengan gamis hijau itu itu menepuk kaca pintu belakang mobil yang berusaha keluar dari parkiran. Dia memberi tanda dan aba-aba pada si pengemudi yang langsung dihadiahi seringai lebar. Bukan itu saja, sosok mengemaskan itu bahkan menyempatkan diri menanyakan nomer teleponnya. Ari hanya membalasnya dengan mengacungkan jempol pada mobil di belakangnya, yang mana itu adalah mobil Rahmadi yang siap masuk. Wajah Ari bertukar kesal, melihat ekspresi Rahmadi yang berusaha menahan senyuman. "Awas gondongan tahu rasa, Pak!" Ari sadar sesadar-sadarnya, sebentar lagi dia akan menjadi salah satu kudapan sepanjang makan siang. “Lemot banget?” “Kang Parkir masih training, Nad.” Pak Imam sengaja berbisik meski apa yang keluar dari mulutnya terdengar juga di telinga Ari. Persis seperti dugaannya, seloroh pasal Kang Parkir terbawa sampai meja makan. Tak urung Ari ikut tertawa garing, melihat Kenyo terlihat mulai bersuara menggodanya. Obrolan ringan mereka terjeda ketika ponsel Ari meraung. Padahal ia baru menyeruput sesendok supnya. Sedari tadi ketika banyak notifikasi berhamburan dia mendiamkan. Meski sedikit was-was akan ada teror pesan dari Pak Imam yang mengatasnamakan Rahmadi. Dia merasa rimas. Mau ditaruh mana mukanya kalau isi pesan memalukan itu terbaca si Kenyo. Papah calling .... “Su, Papah ….” “Jiahhh, Papah?” Pak Imam menjulurkan leher, ingin tahu. “Iya … Pah, rencananya gitu. Nggak, jadi naik kereta. Ada tumpangan mobil.” Ari mengeluarkan planner bersampul biru yang sedikit lusuh, mencorat-coret beberapa hal yang dirasa salah, lalu menulis hal baru. Apa yang dilakukanya menarik minat Rahmadi, terutama secarik kertas yang menjuntai keluar. Kertas dengan logo sebuah rumah sakit. “Tengok Opick, Geulis. Esok dia milad. Ingat? Dia tengah sakit juga. Kurus sekarang!” Harusnya herem mantan suaminya itu bisalah kirim ketering. Kenapa persoalan berat badan yang turun harus menjadi tanggung jawabku, batin Ari. “Sudah tua, umur berkurang juga, niat tiup lilin juga, Pah?” Ari ingin beranjak dari meja itu, mencari tempat yang lebih nyaman, tidak harus melihat tatapan horor dua pria tua itu. Pandangannya sesekali menyelidik Kenyo yang sedang asik melepas sate dari tangkainya. Daging-daging itu teronggok di piring. Gadis itu hanya menjilati sambal kacang dengan tusuk sate. Anaknya Monster Ijo adalah keajaiban dunia nomor 17. “Rencana ke Sulawesi lagi, jadi?” Dadang menghela napas keras, seakan segala kecewa itu ikut menghambur keluar. “Jangan paksa diri kamu, Geulis.” “Enggak, kok. Ini juga belum tahu, Pah. Ngurusi D’jinggo dulu. Ia seperti anak pungut saja,” desah Ari. Dadang terkekeh dengan guyonan menantunya. Suasana hatinya yang sempat mendung seketika kembali naik. Boleh dibilang saat menjadi istri Opick, Ari buka perempuan gila duit. Ketika mendapat jatah jajan bulanan melimpah, dia laburkan untuk usaha. Butik, bisnis properti, sampai rumah makan di pantura saat bisnis kuliner di sana sedang moncer. Meski sejak tahun lalu mulai redup karena jalan tol baru mulai beroperasi. “Oh, ya, Pah, bocah nyleneh yang Ari pernah cerita itu, sudah berjumpa sama orang tuanya. Ini ceritanya lagi ketemuan dan serah terima.” “Oh, Papa ganggu, ya, acaranya?” “Enggak, kok. Lagi makan saja ….” “Salam buat mereka, ya,” helah Dadang lirih. “Geulis, Papa nggak maksa kamu buat jumpa Opick di lapas. Kalau, soal Ende, takut waktunya tak lama lagi. Sempatkan datang, ya.” Dadang lagi-lagi berusaha menagih janji. Ari menutup salam sambil meringis meski mertuanya tidak akan melihat apa yang dia lakukan. Dia tercari-cari kertas hasil lab Opick yang sengaja di jejalkan Agus. “Ulang tahun, ya?” Pak Imam sambil mesem-mesem langsung mengajukkan pertanyaan. Membuat Ari urung lagi menyeruput supnya. “Sanes, Pak.” Ari menyangkal cepat. “Di, si Nong lagi ulang tahun, kasih transferan ngapa!” Pak Imam menyikut Rahmadi yang khusuk menekuni sop buntut di depannya. “Ehhh, mantan, yang ulang tahun. Tadi itu, mertua.” Entah buat apa Ari harus menjelaskan pada pria-pria itu. “Kurang kerjaan banget, perayaan milad ini itu.” “Silaturahmi, apa salahnya. Mertua masih ngarep kamu balik sama mantan. Eh, suami kamu itu anaknya siapa sih?” Pak Imam menyela ingin tahu. “Kata Bobby orang penting?” “Alhamdulillah, si Bobby enggak kasih tahu, ya?” Ari mendesah lega. “Pas ditanya, dia bungkam. Katanya terlanjur janji sama kamu. Siapa, Nong?” Meski nampak keheranan sekaligus bersyukur, Bobby menepati janjinya untuk tidak menjual cerita siapa dirinya. Kalaupun orang tahu, biarlah cerita itu keluar dari mulutnya. “Ketik aja, Taufik Hairul Aman, ada di Wikipedia, Linkedln. Prestasinya yang bikin dia beken, nama ayah juga kakeknya pasti keluar.” Ari menjawab dengan ogah-ogahan. “Ini, Suhu? Unch banget, beda kalau dandan pakai baju gini.” “Nad!” laung Rahmadi sedikit meninggi. Mengingatkan putrinya atas dasar kesopanan bertutur. Membuat gadis itu mendelik. “Emang, uncu, kok. Imut, Bah!” Rahmadi yang sesaat tadi memerah karena mengartikan lain apa yang dikatakan Kenyo kini mangut-mangut akur. Bahasa bocah zaman sekarang membuat ubannya bertambah saja. Kenyo yang sudah sibuk kembali dengan ponsel Ari menunjukkan hasil pencariannya. Yang tidak sampai hitungan menit. Halaman yang menampilkan kemesraannya dengan Opick. Ari memerah, dan memandangi dua pria yang makin ternganga mulutnya. Ck, bagaimana mungkin dia duhulu se-norak itu. “Kalau baju tempur gini, enggak cantik gitu?” Ari terkekeh menyembunyikan rasa malu yang menggunung. “Dahulu ada sih yang bilang bajuku ini baju tempur!” “Baju tempur? Ih, cantik, kok. Beda dikit, di gambar lebih elekhan.” “Gimana, ya, cara narik berita yang sudah lewat gini?” Ari mengerutu sendiri. Kenyo tertawa terbahak-bahak lagi, masih asik menekuni ponsel, seperti sengaja menantang abahnya. Matanya mengabsen antara Ari, lalu abahnya. Karena abahnya sempat terbatuk ketika Ari menyebutkan soal baju tempur. “Cantik, kok. Ya, Di. Ari cantik, ‘kan?” Pak Imam menyenggol Rahmadi yang entah mulai ikut sibuk dengan ponselnya. “Hmmm, cantik mah relatif.” Rahmadi menjawab dengan diplomatis. Umur berapa dia ditanya tentang perempuan cantik. Lagi pula, dia yakin Ari rasanya tidak butuh lagi sanjungan cantik, manis, imut. Namun, melihat tatapan horor Kenyo dan sahabatnya, dia dengan segera mengkoreksi yang baru saja diucapkan, “Manislah, iya … manis.” Pak Imam garuk kepala. Rahmadi seperti tidak berminat diajak bermain-main.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN