Gelap masih menyelimuti D’Jinggo, meski kumandang azan Subuh telah berlalu. Ari masih berteleku dengan berbalut mukena, memandang lepas ke luar jendela. Hamparan pinus hanya berupa bayang-bayang hitam. Aromanya segar menguar. Aroma cemara bersanding dengan sisa hujan di penghujung bulan Juni. Lereng-lereng bukit memutih diselimuti kabut. Pada setiap tarikan napasnya yang dirasai adalah dingin dan basah. Sebelum merapat pada beranda, Ari lebih dulu menyambar ponsel. Ponsel yang hanya ia letakkan di dekat kakinya. Ari melanjutkan berteleku, berusaha merapatkan kaki. Entahlah, ia menjadi kerap melakukannya akhir-akhir ini. Posisi duduk yang sangat dibenci Opick. Katanya, seperti orang yang tidak punya harapan. Ari seperti masuk pada dimensi lain. Yah, dimensi di mana ia melihat satu pohon

